Namanya Anya Dia baru pindah ke rumah kontrakan lama di riau. Murah banget sewanya. Cuma ada 1 yang aneh: cermin gede di kamar.
Malam pertama, Anya iseng selfie depan cermin jam 12 malam. Pas diliat hasilnya... di foto dia senyum. Tapi di pantulan cermin, dia nunduk.
Dia kira cuma efek cahaya. Besoknya dia dandan buat kerja. Ngaca biasa.
Tiba-tiba lampu kedip. Pas nyala lagi, di cermin dia udah nunduk duluan. Padahal Sari masih natap cermin....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Beberapa hari setelah kejadian itu. Anya kembali ke aktivitas kerjanya. Layar laptop menyala. Logo Windows muncul, disusul dengan halaman desktop yang bersih.
"Anya, Serra, ke ruangan saya. Sekarang." Suara berat, berwibawa datang dari belakang. membuat keduanya tersentak. Pak Arif berdiri di pintu ruangan, memegang map. Kacamata bertengger di hidung. Wajahnya datar.
Anya dan Serra saling lirik. Jantung Anya berdegup kencang. Serra memberikan isyarat mata kecil, seolah berkata. "Tenang! Aman! Ikuti skenario."
Mereka merapikan pakaian sekilas, mengekor di belakang Pak Arif menuju ruangannya. Pintu kaca besar ditutup rapat. Pak Arif duduk di kursi kerjanya, meletakkan Dokumen di atas meja dengan suara plak!. Cukup tegas.
Hening. Pak Arif menatap mereka berdua bergantian dari balik kacamatanya. "Kemarin, kenapa kalian berdua tidak masuk?" tanya Pak Arif langsung tanpa basa-basi.
Serra berdehem kecil, mengambil alih posisi bicara. "Kemarin Anya sakit, Pak."
"Sakit?" Pak Arif menaikkan sebelah alisnya. Pandangannya langsung bergeser dari Serra ke Anya. "Sakit apa, Anya? Kenapa tidak ada kabar sama sekali ke HRD atau minimal kirim pesan ke saya?"
Tenggorokan Anya seakan tercekat. Isyarat mata Serra menyuruhnya ikuti skenario tadi pagi di atas motor langsung berputar di kepalanya. Ia harus berbohong demi menyembunyikan kenyataan konyol sekaligus mengerikan yang mereka alami di kosan kemarin
"M-maaf, Pak," Anya buka suara, menahan getaran di jarinya. "Kemarin saya mendadak demam tinggi dan vertigo parah. Benar-benar tidak bisa bangun untuk pegang HP."
Pak Arif terdiam. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi kerja, mengetukkan pulpennya ke atas meja. Tuk... tuk... tuk...
Setiap ketukan pulpen itu entah kenapa membuat dada Anya berdesir ngilu, mengingatkannya pada suara ketukan misterius di cermin kamar mandinya.
"Demam tinggi sampai tidak bisa kirim pesan?" Pak Arif mengembuskan napas. Wajah tegasnya tak terbaca. "Dan kau, Serra. Apa hubungannya Anya sakit dengan kau tidak datang? Kalian berdua ini staf andalan di divisi ini. Kalau kalian menghilang tanpa kabar beberapa hari ni. pekerjaan satu tim bisa hancur. Lain kali, sekritis apa pun situasinya, tolong kabari."
"Maaf, Pak," Serra buru-buru menyahut, ia langsung menunduk. "Kemarin Anya menelepon saya pakai sisa tenaganya, suaranya udah lemas banget. Pas saya ke kosnya, Anya sudah menggigil parah dan sempat pingsan. Saya panik, Pak. Fokus saya cuma mencari taksi, membawa dia ke klinik terdekat, HP saya sendiri lowbat dan ketinggalan di motor. Benar-benar murni kelalaian saya."
Anya melirik Serra. temannya luar biasa pintar mengarang cerita. Tapi kalau diingat-ingat lagi, kepanikan Serra kemarin saat menghadapi mahkluk itu memang nyata, jadi emosi ketakutan yang terpancar dari wajah Serra saat ini terasa sangat organik di mata Pak Arif.
Pak Arif menatap Serra tajam. Beberapa detik. sebelum akhirnya mengalihkan pandangan kembali ke map dokumen di mejanya. Suasana ruangan terasa sangat menekan.
"Baiklah," Ujar Pak Arif. suaranya yang berat. "Tapi profesionalisme tetap nomor satu. Di divisi ini, kita kerja sebagai tim. Satu link putus, semuanya hancur. Untung saja staf yang lain bisa back-up beberapa data krusial, kalau tidak, kita bisa kena teguran dari direksi."
"Baik, Pak. Kami benar-benar minta maaf," bisik Anya.
"Kali ini alasan kalian bisa saya terima. Kembali ke pekerjaan kalian masing-masing," Pak Arif melambaikan tangannya, memberi isyarat agar mereka keluar. "Selesaikan semua draf yang tertunda. Saya tunggu laporannya sebelum jam makan siang. Jangan ada alasan lemot lagi."
"Baik, Pak. Terima kasih," jawab mereka berdua.
Mereka melangkah keluar dengan cepat. Begitu pintu kaca tertutup rapat, Serra langsung mengembuskan napas panjang seolah baru saja lolos dari lubang jarum.
"Gila, tensinya lebih horor dari hantu kos kemarin." bisik Serra sambil berjalan cepat menuju meja mereka.
Anya tak menyahut. Ia langsung duduk di kursi. Menarik napas dalam-dalam. Ia membuka laptopnya, bersiap menenggelamkan diri dalam tumpukan angka agar pikirannya teralih.
Anya melirik ke arah Serra. Sahabatnya sudah sibuk memakai earphone, bersiap mengetik dengan kecepatan penuh demi mengejar tenggat waktu jam makan siang dari Pak Arif. Anya menghela napas panjang, mencoba fokus pada barisan angka di layar Excel. Jari-jarinya mulai menari di atas keyboard. Setidaknya, kesibukan ini bisa menjadi benteng pertahanan sementara dari rasa takut yang masih tersisa di sudut kepalanya.
Satu jam berlalu dalam keheningan yang produktif. Ruang kantor dipenuhi suara kecipak papan ketik dan gemerisik kertas. Anya mulai tenang. Efek horor interogasi Pak Arif perlahan luntur, digantikan oleh rasa kantuk ringan akibat kurang tidur.
Ia meraih mug di meja. Anya meminum kopinya untuk mengusir kantuk. Tiba-tiba Serra menarik napas panjang, lalu menggenggam tangan Anya di bawah meja. Dingin dan gemetar.
"Shhh... Nya," bisik Serra. "Jam makan siang. Kita makan nasi uduk, ya."
Anya menoleh ke arah Serra yang sudah terlihat lebih tenang. Senyumnya lebar dan hangat.
Anya mengangguk pelan. "Iya." Suaranya masih agak serak.
Klik.
Serra mematikan laptopnya. "Tutup dulu. Istirahat. Otak kita juga butuh rehat."
Mereka berdua berdiri bersamaan. Serra sengaja tidak melepas rangkulannya dari lengan Anya saat mereka berjalan beriringan ke pantry.
Pantry lantai 8 cukup ramai. Ada sekitar 5-6 orang yang sedang menghangatkan bekal, mengobrol, dan tertawa. Bau sambal, sayur asem, dan aroma kopi bercampur menjadi satu. Normal, ramai, dan aman.
Bu Indah dari HRD menyapa, "Lho Anya, Serra. Sudah mendingan? Kemarin kok tidak masuk?"
Serra langsung menjawab duluan sambil menyendokkan nasi uduk ke piring Anya. "Alhamdulillah sudah sehat, Bu. Kemarin cuma sakit doang."
Anya hanya tersenyum kecil. "Iya, Bu, udah baikan."
Mereka duduk di meja pojok dekat jendela. Serra duduk tepat di sebelah Anya hingga paha mereka menempel. "Nih, makan." Serra menyodorkan nasi uduk, tempe, ayam, lengkap dengan sambal. "Makan yang banyak biar kuat."
Anya menyuap sendok pertama. Pedas dan nikmat. Perutnya yang dari tadi mulas karena ketakutan perlahan mulai terasa enakan. Suara obrolan kantor bersahutan di sekitar mereka; ada yang membahas target kerja, ada juga yang asyik membicarakan drakor. Tidak ada suara keran bocor ataupun suara tertawa yang aneh. Untuk 20 menit itu, dunia rasanya kembali normal.
Jam menunjukkan pukul 12.05 saat notifikasi di grup kantor berbunyi.
“Rapat dadakan divisi di ruang meeting 2. 10 menit lagi ya. Wajib hadir.” - Pak Arif
Serra mengelap sudut mulut Anya dengan tisu. "Nah, kan. Lihat? Jam 12 lewat. Kita masih di sini. Masih aman."
Anya mengangguk. Napasnya terasa lega. "Makasih ya, sudah nemenin."
"Apaan sih." Serra menyubit lengan Anya pelan. "Kita kan teman. Masa ditinggalin."
Mereka membereskan piring bersama, lalu berjalan ke ruang rapat. Di lorong, lampu menyala terang dan AC terasa dingin. Banyak orang lalu lalang. Ruang rapat pun sudah penuh; ada Pak Arif, tim lain, dan proyektor yang sudah menyala.
Anya duduk paling pinggir di dekat pintu, dengan Serra di sebelahnya. Rapat berjalan selama 30 menit membahas target dan revisi. Tidak ada yang aneh. Tidak ada lampu yang berkedip-kedip atau notifikasi ganjil lainnya.
Pas rapat bubar pada pukul 12.45, Anya mengembuskan napas yang dari tadi tertahan. Serra berbisik di telinganya, "Tuh kan, kita bisa lewatin."
Anya tersenyum tipis untuk pertama kalinya setelah kejadian mencengkam di kosnya.
atau Anya kerja sambil kuliah thor?