NovelToon NovelToon
Menepis Dekapan Tuan Dewangga

Menepis Dekapan Tuan Dewangga

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Ibu Tiri / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:44.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Aku tidak akan bersaing dengan masa lalumu. Sebelum kamu mendepakku, aku yang akan berjalan keluar."

Nayara tahu posisinya di kediaman Dewangga hanya sebatas hitam di atas putih. Melalui pernikahan kontrak dua tahun, ia menjadi tameng bagi Arkananta Dewangga untuk mempertahankan hak asuh anaknya, Kenzie, dari kejaran mantan istrinya, Saskia. Naya menjalani perannya dengan profesionalitas tinggi, sembari mengunci rapat hatinya di balik dinding es yang tebal.

Namun, situasi memanas saat Gisella—cinta pertama Arka—kembali dalam kondisi hancur. Dalih tanggung jawab membuat Arka kerap berpaling, memicu kelicikan Clarissa (saudara Saskia) untuk menjebak Arka hingga skandal kemesraannya dengan Gisella viral di media sosial. Foto viral ini menjadi senjata maut Saskia untuk merebut Kenzie kembali di sidang banding. Di depan mertua yang murka, Naya tampil anggun membela Arka demi menuntaskan tugas kontraknya.

Namun di balik layar, Naya menampar ego suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1. Batasan di Balik Pintu Kamar

Suara engsel pintu jati yang bergeser pelan terdengar seperti dentang lonceng kematian di telinga Nayara.

Gaun pengantin putih berbahan brokat mewah yang melekat di tubuhnya mendadak terasa seberat timah. Kamar utama kediaman Dewangga begitu luas, megah, dan wangi aromaterapi melati yang menenangkan. Namun bagi Naya, ruangan ini tidak lebih dari sebuah sangkar emas yang pengap.

Di depan cermin besar, Arkananta berdiri. Pria itu baru saja melepas jas hitamnya, menyisakan kemeja putih yang kancing teratasnya sudah dibuka. Tidak ada binar bahagia di wajah tampan berahang tegas itu. Hanya ada gurat lelah dan tatapan sekeras batu es.

Naya masih berdiri mematung di dekat ranjang berukuran king size yang bertabur kelopak mawar merah. Jemarinya saling bertautan, meremas kain gaunnya sendiri untuk meredam gemetar.

"Duduk, Nayara."

Suara Arka bariton, datar, tanpa riak emosi sedikit pun. Ia berbalik, memegang sebuah map kulit berwarna hitam di tangan kanannya.

Naya menelan ludah yang terasa menyumbat tenggorokan. Ia melangkah pelan, lalu duduk di tepi sofa beludru. Arka menyusul, mengambil posisi di sofa tunggal yang berseberangan dengan Naya. Jarak mereka hanya terpisah oleh sebuah meja kaca kecil, namun rasanya seperti membentang ribuan kilometer.

Plak.

Map hitam itu diletakkan di atas meja kaca dengan tekanan yang sengaja diperkuat.

"Buka dan baca," perintah Arka dingin.

Naya menatap map itu, lalu beralih ke mata elang Arka. "Apa ini, Mas Arka?"

Arka mendengus sinis, menyandarkan punggungnya ke sofa sambil bersedekap. "Jangan panggil aku dengan sebutan itu jika kita sedang berdua. Terlalu menggelikan untuk didengar."

Naya tertegun. Detak jantungnya kian berpacu liar. "Lalu ... saya harus memanggil apa?"

"Tuan Arka, atau Arka saja. Terserah kamu," sahutnya acuh tak acuh. "Sekarang buka map itu. Itu adalah alasan kenapa kamu bisa berdiri di rumah ini dan memakai gaun mahal itu malam ini."

Dengan tangan yang masih gemetar, Naya membuka simpul tali map tersebut. Lembar demi lembar kertas putih bersih di dalamnya memuat barisan tulisan formal. Di bagian atas halaman pertama, tercetak tebal sebuah judul: Surat Perjanjian Kesepakatan Rumah Tangga.

Naya membaca lembar pertama dengan cepat, dan seketika wajahnya pias. "Kontrak ... Pernikahan?"

"Ya. Pernikahan kontrak. Lebih tepatnya, sebuah transaksi bisnis yang saling menguntungkan," ucap Arka, nadanya santai seolah sedang membicarakan cuaca. "Pernikahan yang tadi siang disaksikan ratusan orang itu murni di atas kertas. Hanya untuk publik, dan terutama untuk keluarga besarku."

Naya mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam manik mata pria yang kini sah menjadi suaminya secara hukum dan agama. "Jadi, semua kemesraan yang kamu tunjukkan di pelaminan tadi ...?"

"Sandiwara," potong Arka cepat. "Dan aku harap kamu adalah aktris yang baik, karena mulai besok, kamu harus memerankan posisi 'Nyonya Dewangga' dengan sempurna di depan media dan ibuku."

Naya mencengkeram pinggiran map. "Kenapa harus dengan cara seperti ini? Kalau kamu hanya butuh istri pajangan, ada banyak wanita dari kalanganmu yang antre untuk posisi ini, Arka. Kenapa harus saya?"

Arka memajukan tubuhnya, menumpukan kedua siku di lutut. Tatapannya menajam, mengunci pergerakan Naya. "Karena kamu yang paling aman, Nayara. Kamu butuh uang dalam jumlah besar untuk melunasi utang mendiang ayahmu dan membiayai pengobatan ibumu yang sakit sakitan, bukan? Dan aku, butuh seorang ibu yang tulus untuk Kenzie, tapi tidak punya hak atau ambisi untuk menguasai harta Dewangga."

Kata-kata itu menghantam hulu hati Naya. Menyakitkan, tapi kenyataan itu tak bisa ia bantah. Ibunya membutuhkan operasi besar bulan depan, dan tanpa dana dari Arka, Naya tidak tahu harus mengemis ke mana lagi.

"Aku memilihmu karena kamu tidak punya kekuatan untuk melawanku jika suatu saat kamu berniat macam-macam," lanjut Arka tanpa belas kasihan. "Sekarang, perhatikan poin-poin penting di halaman kedua."

Naya membalik halaman dengan jari yang mendingin. Ia membaca poin demi poin yang tertulis di sana secara lantang dengan suara yang agak bergetar.

"Poin pertama," ucap Naya, menjeda sejenak. "Pernikahan ini berlangsung selama dua tahun. Setelah dua tahun, kedua belah pihak sepakat untuk berpisah secara baik-baik dengan alasan ketidakcocokan."

"Betul. Dua tahun sudah lebih dari cukup untuk menstabilkan kondisi psikologis Kenzie dan mengamankan hak asuhnya dari tuntutan luar," timpal Arka. "Lanjut."

"Poin kedua ... Tidak ada hubungan fisik atau hubungan selayaknya suami istri dalam arti yang sesungguhnya." Naya menghentikan bacaannya, menatap Arka dengan perasaan campur aduk. Ada rasa lega, namun juga ada rasa terhina yang samar.

Arka tersenyum tipis, sebuah senyuman yang lebih mirip seringai meremehkan. "Kamu tidak perlu takut aku akan menyentuhmu. Kamu bukan tipeku, Nayara. Kamar kita akan terpisah. Kamarmu ada di sebelah kamar Kenzie, lewat pintu penghubung di dalam. Kamar ini adalah teritoriku. Kamu hanya boleh masuk ke kamar ini jika ada ibuku atau situasi darurat yang mengharuskan kita terlihat tidur bersama."

Naya menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya yang terasa mulai diinjak-injak. "Baik. Saya mengerti. Lalu bagaimana dengan urusan rumah tangga?"

"Itu ada di poin ketiga," jawab Arka tegas. "Tugas utamamu adalah mengurus Kenzie. Pastikan dia tidak kekurangan kasih sayang seorang ibu. Untuk urusan dapur dan kebersihan rumah, sudah ada pelayan. Kamu tidak perlu repot-repot bertingkah seperti istri yang berbakti dengan menyiapkan bajuku atau memasak untukku, kecuali di depan ibuku. Paham?"

"Dan poin keempat ini ...." Naya membaca baris terakhir yang dicetak dengan huruf miring. "Kedua belah pihak dilarang keras melibatkan perasaan pribadi atau jatuh cinta."

"Itu poin paling krusial," sela Arka, suaranya mendadak berubah menjadi sangat berat dan penuh penekanan. "Jangan pernah melintasi batas itu, Nayara. Jangan pernah berharap sepeser pun bahwa pernikahan kontrak ini akan berubah menjadi pernikahan sungguhan karena cinta. Hubungan kita adalah profesional. Aku adalah bosmu, dan kamu adalah pekerjaku yang dibayar mahal untuk merawat anakku."

Keheningan malam langsung menyergap kamar itu setelah Arka menyelesaikan kalimatnya. Udara terasa makin dingin, menusuk hingga ke tulang. Naya memejamkan mata sesaat. Bayangan wajah ibunya yang pucat di bangsal rumah sakit terlintas di benaknya. Demi ibunya, ia harus kuat. Demi masa depan adiknya, ia harus bertahan.

Naya membuka matanya kembali. Sorot matanya yang semula cemas dan penuh ketakutan, kini berubah menjadi tegas dan dingin. Ia menegakkan punggungnya, menatap Arka tanpa rasa gentar sedikit pun.

"Jika ini adalah sebuah transaksi bisnis, maka saya juga punya hak untuk mengajukan syarat, bukan ... Tuan Arka?" tanya Naya dengan penekanan pada nama pria itu.

Arka sedikit menaikkan sebelah alisnya, agak terkejut dengan perubahan sikap Naya yang mendadak berani. "Syarat? Silakan. Apa yang kamu mau? Uang tambahan?"

Naya tersenyum tipis, sebuah senyuman tenang yang sarat akan harga diri yang terluka namun menolak untuk menyerah. "Tidak semua hal di dunia ini bisa dinilai dengan uangmu, Tuan Arka."

"Lalu?"

"Pertama, di dalam rumah ini, di depan para pelayan, kita harus tetap menjaga sopan santun. Saya tidak ingin mereka melihat saya sebagai wanita murahan yang bisa kamu bentak atau perlakukan semena-mena hanya karena kamu membayar saya," ucap Naya dengan suara yang tenang namun menusuk.

Arka mengangguk pelan. "Adil. Aku tidak akan merendahkanmu di depan publik atau pelayan. Itu juga demi menjaga nama baik keluarga Dewangga. Ada lagi?"

Bersambung...

Assalamu'alaikum, met pagi Kakak semuanya. Hari ini mau cek ombak nih dengan karya terbaru. Temani ya, kalau ramai ceritanya lanjut dan semoga retensinya bagus. Aamiin.

Seperti biasa tinggalkan like dan komentarnya ya. Makasih banyak

1
Mutaharotin Rotin
🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Sugiharti Rusli
sekarang tinggal nanti Arka saja sih yang buat keputusan besar tentang hubungan dirinya dan Naya, apa akan seperti tertera dalam kontrak yang seperti mereka sepakati dulu,,,
Laila Umroh
baru ngerti kalau kaka author punya karya baru...
Sugiharti Rusli
dan bagaimana Naya mendidik dan merawat Kenzie dengan pemahaman" baru tentang hidup dan Kenzie bahagia kala bersama Naya,,,
Sugiharti Rusli
dan Kenzie begitu cepat hatinya terpaut pada Naya tanpa pdkt sebelumnya kan,,,
Sugiharti Rusli
apalagi bisa terlihat dengan kasat mata bagaimana Naya memperlakukan Kenzie selayaknya ibu teehadap anaknya,,,
Sugiharti Rusli
pada waktunya kertas kontrak itu akan kalah oleh tatapan polos Kenzie sih yah,,,
Sugiharti Rusli
entah kalo suatu saat Kenzie tahu kalo sanga mama ga akan bersama mereka lagi karena sebuah kesepakatan yah, kasihan sih dengan mentalnya nanti,,,
Sugiharti Rusli
tapi beriring berjalannya waktu, malah Kenzie mendapat nilai baru dan juga sangat mencintai dan menerima Naya sebagai ibunya,,,
Sugiharti Rusli
kalo yang jadi istri Arka bukanlah seorang Nayara, mungkin kedok pernikahan kontrak mereka sudah terbongkar sejak awal yah,,,
Sugiharti Rusli
apalagi si Clarissa memiliki dugaan kalo Arka menikahi Naya bukan karena cinta, dan itu betul sih tujuan utamanya hak asuh putranya,,,
Sugiharti Rusli
meski dia memang melakukan pernikahan kontrak dengan Naya demi hak asuh Kenzie, tapi di perjalanan malah banyak hal tak terduga,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya di sini si Arka yang sangat diuntungkan dengan memperistri Naya yah
dyah EkaPratiwi
Naya 😍
NAYLA DWI
ok
Nandi Ni
dibalik kesulitan terbentang kemudahan,semoga ketulusan hatinya mampu menghantarkan pada kebahagiaan.
Nandi Ni
emang diluar nurul pemikiran Naya ini
Herman Lim
ga sabar lihat kehancuran mereka
Naufal Affiq
buat clarisa gak bisa ngomong lagi ya mommy,buat mereka kalah dalm persidangan,dan naya penenangnya
Mamah Nisa
di depan kenzie kok manggilnya tuan arka....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!