Kerap kali persahabatkan akan menumbuhkan ras cinta, terlebih jika persahabatan antara laki - laki dan perempuan.
Seperti yang aku alami, aku dan Arjuna sudah bersahabat sejak lama tepatnya sejak SMP. Usiaku memang lebih muda dua tahun darinya. Tapi karena keenceran otakku aku bisa tinggat dengannya.
Dan ini kisahku dengan sahabatku Arjuna, yang terpaksa menikah karena suatu alasan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri sulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tambah mesra.
Beberapa minggu ini, aku disibukan banyak kegiatan dikampus. Beberapa mahasiswa bimbingan skripsi pun sudah mulai mengajukan judul skripsi yang mereka ambil. Pengalaman pertama menjadi dosen pembimbing. Cukup memusingkan tapi excited.
Siang itu Gina mengajakku kerumah makan milik Umi Hajjah. Maklumlah, kemarin lusa Gina dilamar oleh Aby putra kedua Umi. Gak nyangka tuu anak bisa mendapat jodoh laki - laki soleh kayak Aby.
Harus aku akui Aby sosok laki - laki yang tampan dan sopan. Pantas Gina jatuh cinta. Perfect, kisah cintanya. Ngrasain gimana rasanya dilamar sama orang yang dicintai.
" Yang udah dilamar, sekarang mulai pakai hijab nii ceritanya.!" godaku.
Gina mendelik, tapi dia terlihat salah tingkah dan malu karena disana ada Umi dan Sofia adik Aby, putri bungsu Umi.
" Bentar lagi, punya kakak perempuan dirumah seneng deh.!" celetuk Sofia.
Aku tersenyum sambil membantu Umi memetiki sayuran didepan meja.
" Oyaa, nak Hana. Gimana sih ceritanya bisa jadi pengantin pengganti.?" tanya Umi yang sepertinya memang belum tahu kisah sebenarnya dari Mama Shinta.
Aku menghela nafas dalam, kulirik Gina yang mengangguk agar aku bercerita. Walau bagaimanapun, inu adalah aib keluarga.
Aku menceritakan kronologis pernikahan ku yang terjadi sekitar lebih dari dua bulan yang lalu.
Pengantin perempuan yang tak kunjung datang, hingga saat ini menghilang bak ditelan bumi. Sampai sekarang pun kami tak tahu alasannnya. Dan lagi aku juga tak pernah tahu apa alasan Arjuna waktu itu memilihku untuk mengantikannya.
" Oo, jadi itu sebab kejadian kemarin.!" Umi mengangguk mungkin baru paham.
" Pernikahan yang tidak punya komitment diawal. Umi mau tahu, Farhana menikah niatnya untuk apa?"
Niat? Aku merenung, untuk apa aku menerima pernikahan ini saat itu?
Karena Arjuna sahabat ku yang selalu ada untukku. Juga untuk balas budi pada papa Aryo yang dulu membantu kasus bapak yang difitnah korupsi dua tahun lalu.
" Niatkan untuk ibadah, Nak. Karena Allah. Jadi saat terjadi hal yang tidak diinginkan tetap ikhlas. Tidak berfikir untuk berpisah."
Hatiku terhenyuh mendengar nasihat Umi, niatku sudah salah dari awal. Pantas saja, saat menjalaninya terasa berat.
Ponsel yang berdering membuyarkan lamunanku. Segera aku mengecak ponsel panggilan dari Arjuna. Kugeser icon berwarna hijau, lalu meletakkan ponsel ditelinga. Kemudian beranjak pergi menjauh. Merasa tak nyaman, menganggu obrolan Gina dan calon mertuanya itu.
" Sayang, masih ditempat Umi kan?" tanya Arjuna karena tadi aku memberitahunya pergi kewarung makan Umi menemani Gina.
" Kebiasaan banget sih, Assalamualaikun dulu kek!" protesku.
" Iya, walaikumsalam. Pulang sekarang yaa, aku udah didepan nii!"
" Haah, seriusan udah didepan?"
" Iya, bawel.! Aku tunggu gak pake lama!"
" Hhmm " telepon langsung diputus sepihak setelah aku bergumam. Dia ini kebiasaan banget.
Setelah pamit pada Umi dan Gina masih pingin disana, aku pun pulang bersama Arjuna.
****
Saat dijalan Arjuna tak banyak bicara seperti biasanya, aku merasa ada sesuatu.
" Han, buatin minum yang seger yaa!" titahnya saat sampai dirumah dan dia berlalu masuk kamar. Sementara aku langsung menuju dapur membuat orange jus untuknya. Karena ingin menjadi istri solehah aku pun menurutinya.
Aku masuk kekamar dan meletakkan segelas orange jus dinakas.
" Kunci dulu pintunya.!" perintahnya sambil meraih minumannya itu. Aku mengerutkan kening, heran dengannya.
" Sini deh!" Arjuna menepuk kasur disebelahnya. Dia duduk bersandar diheadboard tempat tidur.
Setelah mengunci pintu, lalu aku menuruti perintahnya. Duduk disampingnya.
" Ealah, sini lagi! Masih malu - malu aja.!" Kata Arjuna mengekeh.
" Ah, Jun!" rengekku. Lalu sedikit beringsut mendekatinya. Dua bulan lebih menikah masih kaya pengantin baru aja. Benar - benar konyol.
" Bukain, gerah!" Arjuna mengulurkan lengannya kehadapanku. Memintaku melepaskan kancing lengan kemejanya. Lagi aku hanya menuruti perintahnya.
" Ini juga!" sekarang dia menunjuk dasinya.
" Manja banget, biasanya juga buka sendiri." Aku meracau sambil membuka dasi yang menggantung dilehernya.
Aku melirik sekilas, saat ini dia menatapku lekat sangat intens. Dijarak sedekat ini, jantung rasanya seakan meledak karena debaran yang begitu kuat.
" Nggak lagi datang bulan kan sayang.?" tanya Arjuna mengerling nakal. Aku mendongak, saat dia mengedipkan sebelah matanya, menggoda.
" Dasar, tukang modus!"
" Modusin istri, salah. Modusin janda lebih salah lagi.!" Dia memutar bola matanya malas.
" Apa Jun?" Aku mendelik kearahnya.
" Boleh nggak?"
Aku hanya mengangguk. Bukannya istri itu harus siap, kapanpun suami mendatanginya.? Dari pada dia malah modusin janda.? Walau sebenarnya aku pun juga suka dimodusin, Eh..?
*****
" Jam segini kok udah pulang, Jun?" tanyaku masih berbaring, berbantal lengan Arjuna. Sedikit mendongak menata lekat manik mata hazel milik suamiku ini.
" Ada masalah dikantor."
" Apa.? " tanyaku penasaran, sekarang masih jam 11.00. Tak biasanya dia pulang jam segini.
" Hanya masalah kecil."
Aku mengalihkan pandangan kelangit kamar.
" Berasa gak berguna banget akunya, saat suami punya masalah tapi gak mau cerita. Meskipun gak bisa kasih solusi, setidaknya dari dulu aku kan jadi pendengar saat kamu curhat, Jun."
" Nanti kamu marah lagi, yang ada malah nambahin masalah." kata Arjuna seakan memberi pengertian.
" Mending aku tahu sekarang kan, dari pada nanti denger dari orang lain.!"
Terdengar helaan nafas panjang.
" Lisa.... bikin ulah. Karena jaga jarak, dia sekarang malah banyak tingkah."
Aku hanya diam mendengarkan, walau sebenarnya hati panas mendengar nama itu disebut lagi.
" Hari ini dia kekantor pake pakaian kurang bahan."
Allah apa - apaan ini.
" Jadi kamu jam segini pulang, nyari aky karena tergoda sama dia." sentakku sambil meremas selimut yang menutupi dada.
Arjuna mendesah pelan, " tuu kan gak cerita salah, sekarang cerita tambah salah. Kapan laki - laki dipihak yang benar.?"
Aku ingin tertawa mendengar Arjuna meracau, tapi ku tahan setengah mati. " Bener kan Jun?" Aku menegaskan.
" Kalau aku mau sama dia gak mungkin aku nyari kamu." Kata Arjuna mengetok kepalaku, pelan.
" Terus apa namanya kalau bukan tergoda, liat aurat yang terekspose, lalu nyari aku. Jangan - jangan tadi kamu bayangin dia yaa.?" Aku mendelik kearahnya, sambil beringsut bangun dengan tangan memegang selimut didepan dada menutupi tubuh yang masih polos.
" Allahu Akbar!" Arjuna meraup wajahnya kasar. " Malah saat liat gituan aku ingat kamu, dodol.!"
Aku membuang nafas kasar, ' Allah. Bahkan aku belum berani genitin Arjuna. Dan sekarang aku kalah cepat dari si Lisa itu.
***
" Lho, mas kok udah pulang?" tanya mama yang sepertinya baru pulang dari belanja itu
" Tadi gak enak badan ma." kilah Arjuna sambil menyuap nasi kemulutnya. Aku terkiki geli mendengarnya.
Mama hanya mengangguk, " nih, mama beliin buat kamu." kata mama memberikan paper bag warna coklat padaku.
Penasaran aku membukanya, tercengang sekaligus melongo saat aku mengeluarkannya. Sedangkan Arjuna sampai - sampai tersedak dibuatnya. Tak ayal membuat mama tertawa pelan. Sebuah baju sangat transparan dan amat sangat pendek, Lingerie.
" Ma, kok beliin Farhana baju ginian sih? protes Arjuna setelah menengguk minuman di sampingnya
" Biar tambah mesrah!" mama mengulum senyum, lalu pergi meninggalkan kami berdua.
Cepat aku memasukkan lagi baju itu kedalam paper bag. Aku menggeleng, memakai ini dihadapan Arjuna? Ah... nggak - nggak.
Terdengar helaan nafas Arjuna panjang. " Simpan aja, gak usah dipakai.!"
Seketika aku ingat pesan mama waktu itu. Manjain anunya, yaa genitin.! Mungkin karena itu mama membelikan aku baju kurang bahan ini. Lalu aku teringat Lisa, yang tadi kata Arjuna berani mengoda dan genitin dirinya.
Apa aku harus pakai baju, transparan itu.?
Terima kasih sudah mampir dan membaca.
Semoga suka.
Untuk special part. Arjuna. Tentang perasaan Arjuna sebenarnya, ditunggu aja yaa. Soalnya naskahnya belum siap. Jadi beberapa bab masih menceritakan dari sudut pandang Farhana dulu.
Sehat selalu semua.