"Tinggalkan putraku, maka aku akan membantu biaya pengobatannya."
Di malam hujan itu, Alina akhirnya memilih pergi. Pergi sejauh mungkin tanpa tau jika saat itu ia tengah mengandung.
Empat tahun berlalu. Takdir kembali mempertemukan keduanya.
Kebencian itu terlihat jelas dari manik mata itu. Sakit. Tapi demi biaya pengobatan sang buah hati, ia pun rela menurunkan harga dirinya.
"Tidak apa-apa. Sakiti hatiku sesukamu sampai kamu puas. Ini semua kesalahanku. Aku sadar akan itu. Hingga saatnya tiba, aku berharap kamu akan tau, jika aku sangat mencintaimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reinata Ramadani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penuhi Janji Anda
"Tapi dia putri mas Leon, Ma." Suara Alina rendah, sarat akan keputusasaan yang kentara.
Membuat nyonya Airish seketika menyunggingkan senyum skeptis. "Putri Leon katamu? Leon yang mana yang kamu maksud? Jangan-jangan yang kamu maksud itu Leon yang sering meminta-minta di jalanan?"
Alina menggeleng kuat. "Tidak, Ma. Al serius. Marsha benar-benar putri mas Leon, darah daging mas Leon. Cucu mama."
Tawa sarkas kembali lolos dari bibir Nyonya Airish. "Sebenarnya, peran apa yang sedang kamu mainkan sekarang, hmmm... ."
"Ma, Alina tidak berbohong." Isaknya pecah. "Marsha... putri Alina sedang sakit leukemia. Waktunya tidak banyak lagi, Ma. Alina mohon, tolong bujuk Mas Leon untuk menyelamatkan Marsha. Bukankah dulu Mama yang meminta Alina pergi? Alina sudah menuruti semua kemauan Mama. Dan sekarang Mas Leon membenci Alina karena kesalahpahaman itu... Mas Leon mengira jika Alina berselingkuh. Padahal Mama tahu kebenarannya. Tolong jelaskan sama Mas Leon, Ma. Alina mohon... ."
Nyonya Airish menatap Alina dengan kilat mata penuh kemuakan. Tak ada sedikitpun rasa iba yang tersisa. "Sudah selesai sandiwaramu?" desisnya. Nyonya Airish kemudian menoleh ke arah security. "Bawa perempuan ini keluar. Dan jangan pernah izinkan dia menginjakkan kaki disini atau kalian semua saya pecat!! !"
"Ma, tolong percaya sama Al. Al mohon... Al tidak tau harus bagaimana lagi. Mungkin, mungkin saja Marsha tidak bisa bertahan sampai akhir bulan ini..." Rintihan itu terdengar begitu menyayat, membawa kepedihan yang menyiksa bagi siapapun yang mendengarnya.
"Al janji, Al akan pergi setelah ini. Bahkan jika mama menginginkan Marsha untuk bersama kalian, Al tidak masalah. Al akan pergi sejauh mungkin. Al tidak akan kembali. Al tidak akan mengusik kalian lagi apapun kondisinya."
Namun malang, bahkan pengorbanan sebesar itu pun tak mampu mengetuk pintu hati Nyonya Airish yang terlanjur tertutup. Wanita itu tetap berbalik, berniat melangkah pergi.
"Atau, mama menginginkan nyawa Alina sebagai gantinya?!" Teriakan histeris itu seketika menghentikan langkah nyonya Airish.
"Baiklah. jika itu yang mama inginkan."
Nyonya Airish terhenyak di tempatnya.
Apakah Alina benar-benar serius dengan ucapannya?
Tidak. Itu tidak mungkin. Tidak mungkin perempuan gila harta itu sampai sudi mempertaruhkan nyawanya.
"Tapi, anda harus janji untuk menyelamatkan Marsha secepatnya. Dia... dia sudah tidak memiliki banyak waktu lagi." Isakan itu semakin dalam menyayat saat bayangan kepergian Marsha kembali berputar dalam kepalanya.
Tidak. Ia tidak bisa hanya tinggal diam saja.
Jika kepergiannya adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan gadis kecilnya, maka ia pun rela untuk mengorbankan nyawanya sendiri untuk putri kecilnya.
Digerakkan oleh keputusasaan yang menggila, Alina meronta sekuat tenaga. Cekalan para penjaga di kedua tangannya itupun terlepas seketika, membuat ia kemudian berlari ke arah ruang tamu.
Melihat hal itu, nyonya Airish tampak murka."Dasar perempuan gila." Makinya.
Dengar amarah yang membuncah dada, nyonya Airish melangkah lebar, berniat menjambak perempuan yang sudah kurang ajar di rumahnya.
Namun langkah itu seketika terhenti.
Pranggg... .
Suara pecahan yang memekakkan telinga menggema di seluruh penjuru ruangan. Nyonya Airish ternganga, matanya membelalak tak percaya, menatap pada Alina yang baru saja menghantamkan vas kaca ke kepalanya sendiri.
Darah merah segar mulai merembes, mengalir melewati pelipis dan menyamarkan air matanya. Namun tatapan Alina masih terkunci pada sosok itu. "Anda harus menepati janji." Lirihnya, nyaris berbisik.
"Kamu sudah gila Alina." Nyonya Airish menggeleng tak percaya jika Alina akan bertindak senekat ini, bahkan sampai mengorbankan nyawa sendiri demi menguras harta bendanya.
"Bukankah... ini yang anda inginkan selama ini?"
Kepala Alina terasa berputar hebat. Detik berikutnya, tubuhnya ambruk, tersungkur di atas serpihan kaca yang tajam. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya, namun hatinya jauh lebih mati rasa saat ini.
Dengan sisa kesadaran yang kian menipis, jemarinya yang gemetar memungut salah satu pecahan kaca yang paling tajam. "Penuhi... janji Anda..."
Sreettt!
Tanpa ragu sedikit pun, Alina menggoreskan kaca itu dalam-dalam ke pergelangan tangannya. Darah segar seketika menyembur, merembes cepat ke lantai marmer yang putih bersih.
Nyonya Airish memekik ketakutan, melangkah mundur dengan wajah pucat pasi. "Kamu benar-benar sinting! Demi harta, kamu sampai rela mati?!"
Mengabaikan makian itu, Alina menggerakkan tangannya yang bersimbah darah untuk merogoh saku celana. Dengan napas yang satu-satu, ia mengeluarkan secarik kertas lusuh yang kini ternoda merah. Di sana tertera nama sebuah rumah sakit dan nomor kamar rawat.
"Saya mohon... tolong dia..."
Kalimat itu menggantung di udara. Kesadaran Alina runtuh sepenuhnya, matanya terpejam seiring dengan tubuhnya yang mendadak tak berdaya.
Menyaksikan genangan darah yang kian meluas, pertahanan Nyonya Airish runtuh. Ia berteriak histeris, "C-cepat! Cepat panggil ambulans!"
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Annyeong
Happy Reading
Saranghaja
tapi tunggu up nya harus bersabar