Keana Aluna, seorang anak perempuan yang di angkat oleh keluarga Hardian. Ditemukan tak berdaya oleh sepasang suami-istri saat keana duduk termenung sendirian didepan ruangan rawat kedua orang tuanya yang telah dinyatakan meninggal dalam insiden kebakaran.
Keana menjadi adik bungsu di antar kedua kakak laki-laki angkatnya.
Kakak keduanya_Gavin Reynald Hardian sangat dekat dengannya. Bersikap jahil, tapi sangat menyayanginya. Gavin sangat senang dengan kehadiran Keana di tengah keluarganya.
Berbeda dengan kakak pertamannya_Elvan Dewangga Hardian yang selalu bersikap dingin. Keana dan Elvan memang jarang bersama, karena Elvan yang sedang menyelesaikan studinya di luar negeri.
Elvan selalu memasang tembok tinggi jika bersama denganya dan sering memarahinya hingga membuat Keana merasa takut.
Namun siapa sangka, di antara kedua kakak beradik itu, menyimpan rasa yang berbeda selain sebagai seorang kakak.
Bagaimana tanggapan orang tua mereka atas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yaya haswa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Paman?
Sambil meluruskan kakinya di atas rerumputan taman, Gavin menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku kayu. Di sampingnya, Keana masih sibuk mengipasi wajahnya yang memerah menggunakan telapak tangan, mencoba meredakan sisa rasa lelah setelah aksi lari maraton mereka dari rumah.
"Gila, Kak Gav... sumpah, kaki Kea rasanya mau lepas!" keluh Keana, suaranya terdengar serak.
Ia menarik selembar tisu dari kantong bajunya untuk menyeka hidungnya yang mulai mampet lagi.
"Kalau tahu bakal secapek ini, mending tadi Kea pura-pura pingsan aja."
Gavin tertawa renyah, menoleh ke arah adiknya dengan sisa coretan lipstik yang masih membekas samar di pipinya.
"Dih, lemah kamu. Tapi seru, kan? Coba lihat muka Bang Elvan tadi pas kita terobos pintu. Syok banget pasti si robot medis itu. Baru kali ini ada yang berani ngebangkang perintah mutlaknya."
"Seru sih seru, tapi sekarang kita mau pulang lewat mana nanti? Kea gak mau ya kalau sampai dikurung di kamar mandi atau disuruh ngerjain soal matematika seratus nomor," cicit Keana, mendadak membayangkan tatapan menusuk kakak sulungnya yang super dingin itu. Nyalinya yang tadi sempat meledak-ledak langsung menciut setengah.
"Tenang aja, ntar kalau kita pulang, kita pasang tameng," sahut Gavin santai, melipat kedua tangannya di belakang kepala.
"Kita tunggu Papa sama Mama pulang dulu. Bang Elvan gak bakal berani macam-macam kalau ada Mama. Paling banter kita cuma dikasih ceramah anatomi tubuh atau pentingnya masa depan."
Keana mendengus pelan, menatap ujung sendalnya dengan bimbang.
"Ih, Kak Gav mah gampang ngomong. Yang sering kena sasaran mata las-nya Kak Elvan kan Kea. Mana kemarin Kea ketahuan makan es krim lagi di rumah sakit."
"Hah? Serius kamu?" Gavin langsung menegakkan posisi duduknya, menatap Keana tak percaya lalu tertawa terbahak-bahak.
"Lah, nekat banget kamu! Udah tahu hidung kayak selang air gitu malah nyari penyakit. Pantesan pas sarapan tadi aura Bang El udah kayak mendung mau badai. Ternyata kamu biang keroknya!"
"Ih, Kak Gav, jangan kencang-kencang ketawanya!" Keana mencubit lengan Gavin kesal, membuat abangnya itu mengaduh pelan.
"Kea kan bosen di ruangan Mama. Lagian es krimnya baru dimakan dua suap udah direbut terus dibuang sama Kak El ke tempat sampah. Rugi banget tahu gak."
Gavin menggeleng-gelengkan kepalanya, menyandarkan kembali badannga.
"Kamu itu emang cari mati, Kea. Udah tahu Bang El paling gak suka dibantah, apalagi soal kesehatan. Tapi gapapa, hari ini kamu sukses jadi partner kriminal kakak yang paling keren."
Keduanya menghabiskan sisa hari itu di taman, menunggu Mama dan papanya pulang.
Sementara itu di rumah sakit tempat Papa Arland dan Mama Soraya bekerja.
Di ruang kerjanya yang bernuansa klinis, Papa Arland baru saja meletakkan berkas pasien terakhir saat pintu ruangannya diketuk dari luar.
"Maaf dokter Arland, ada seseorang yang ingin bertemu dengan dokter" ucap seorang perawat.
"Suruh dia masuk!"
Seorang pria paruh baya yang penampilannya sangat kontras dengan lingkungan rumah sakit melangkah masuk. Pria itu terlihat seumuran dengannya. Sebelum dipersilakan pria itu sudah duduk lebih dulu.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Papa Arland dengan duduk di kursinya.
"Benar, ada dokter Arland?"
"Benar?"
"Saya dengar anda mengadopsi seorang anak perempuan enam tahun lalu. Yang mana orang tuanya meninggal karena kebakaran yang terjadi di rumahnya sendiri"
Papa Arland mendengar itu mengerutkan keningnya. Ia heran kenapa pria di depannya itu membahas tentang putri angkatnya.
"Maaf, anda siapa? kenapa anda menanyakan tentang hal itu?" tanya Papa Arland.
Pria paruh baya itu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, lalu menyilangkan satu kakinya dengan santai. Sebuah senyum tipis yang terkesan dipaksakan terbit di wajahnya, namun sorot matanya tetap terasa dingin dan penuh kalkulasi.
"Perkenalkan, saya Imran" ucap pria itu, mengulurkan tangannya yang langsung diabaikan oleh Papa Arland.
Imran tidak tersinggung, ia menarik kembali tangannya dan melanjutkan dengan nada suara yang teramat tenang.
"Saya adalah paman kandung dari anak perempuan itu. Kakak kandung dari mendiang ayahnya."
Jantung Papa Arland berdesir tajam mendengar pengakuan itu. Ingatannya langsung berputar mundur dengan kejadian enam tahun lalu. Kejadian dimana Keana tengah duduk termenung seorang diri di depan ruang perawatan kedua orang tuanya yang telah dinyatakan meninggal setelah dirawat selama tiga hari, karena tubuh keduanya melepuh karena terbakar oleh api.
Menyisakan gadis kecil itu seorang diri di dunia, trauma, terluka, dan sebatang kara tanpa ada satu pun kerabat yang datang untuk melihat.
"Paman?" Papa Arland meletakkan kedua tangannya di atas meja, mencondongkan tubuhnya ke depan dengan tatapan yang seketika berubah tajam dan penuh selidik.
"Lucu sekali. Ke mana saja Anda selama enam tahun ini? Saat anak itu menangis ketakutan di ruang ICU, saat dia berjuang melewati masa-masa kritisnya, tidak ada satu pun orang yang mengaku sebagai 'keluarganya' datang menjenguk. Bahkan untuk sekadar menghadiri pemakaman orang tuanya pun, Anda tidak ada."
Imran menghela napas pendek, memasang wajah menyesal yang terlihat sangat palsu di mata Papa Arland.
"Saat itu saya sedang mengurus bisnis di luar pulau, Dokter Arland. Akses dan komunikasi kami terputus, dan saat saya kembali, saya baru tahu kalau keponakan saya sudah dibawa oleh Anda," jawab Imran.
Ia kemudian menegakkan posisi duduknya, menatap lurus ke dalam manik mata Papa Arland.
"Tapi sekarang saya sudah di sini. Saya datang jauh-jauh untuk menjemput keponakan saya, Keana. Bagaimanapun juga, dia adalah darah daging keluarga kami. Dia masih memiliki keluarga kandung, dan sudah sepatutnya dia kembali bersama kami."
Mendengar kalimat 'menjemput Keana' meluncur begitu saja dari mulut pria asing ini, amarah Papa Arland yang terendam mendadak tersulut hingga ke ubun-ubun. Rahangnya mengeras seketika.
"Menjemput, Anda bilang?" Suara Papa Arland merendah, namun sarat akan penekanan yang begitu mengintimidasi.
"Dengar ya, Tuan Imran. Keana bukan barang yang bisa Anda telantarkan begitu saja saat kesusahan, lalu Anda klaim kembali saat Anda menginginkannya. Secara hukum, negara, dan agama, Keana sudah resmi tercatat sebagai putri kandung saya. Segala hak asuh dan kedudukannya di mata hukum adalah mutlak milik keluarga saya."
Iman tidak gentar. Pria itu justru terkekeh pelan, sebuah kekehan meremehkan yang membuat atmosfer di dalam ruang kerja dokter itu semakin tegang.
"Hukum bisa saja digugat, Dokter Arland. Hubungan darah tidak akan pernah bisa dihapus oleh selembar kertas adopsi," sahut Imran dengan nada menantang.
"Jika saya membawa hal ini ke ranah hukum, Keana tentu akan menjadi milik saya, karena saya adalah keluarganya"
"Dia anak kandung adikku," sahut pria itu keras kepala. "Secara hukum, keluarga sedarah lebih berhak daripada orang asing yang tiba-tiba mengadopsinya."
"Keana bukan anak orang asing!" suara Arland meninggi, memenuhi ruangan.
"Dia anakku. Dia adalah putriku. Aku yang merawatnya dari puing-puing trauma, aku yang membiayai hidupnya, dan aku yang memberinya kasih sayang yang tidak pernah kalian berikan. Jangan pernah berani menginjakkan kaki di dekat Keana atau mencoba mempengaruhinya."
Pria itu berdiri, menatap Arland dengan seringai meremehkan. "Kita lihat saja nanti, Arland. Garis keturunan punya cara tersendiri untuk menarik pulang apa yang menjadi miliknya."
"Keluar dari ruangan saya," usir Papa Arland tanpa toleransi lagi, tangannya menunjuk langsung ke arah pintu.
"Jangan pernah berani menampakkan wajah Anda di depan putri saya, atau saya sendiri yang akan memastikan Anda berurusan dengan pihak kepolisian atas tuduhan pelecehan hukum dan kenyamanan keluarga saya. Keluar!!"
Setelah pria itu pergi, Arland terduduk lemas di kursinya. Hatinya diselimuti rasa cemas yang luar biasa. Ia tahu paman Keana tidak akan berhenti di sini. Ia teringat Keana yang saat ini sedang berada di rumah, mungkin sedang asyik bermain dengan Gavin tanpa menyadari bahwa ada bayang-bayang masa lalu yang datang untuk merenggut ketenangannya.
"Ini tidak boleh di biarkan"