Di rumah megah keluarga Pramoedya, Nadia bukanlah siapa-siapa. Statusnya mengambang. Bukan sekadar pembantu, tapi juga tak sepenuhnya dianggap sebagai anak angkat. Demi bisa bertahan hidup dan membiayai kuliahnya, Nadia rela memeras keringat dari pagi buta hingga larut malam, mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tanpa mengeluh. Hingga malam jahanam itu tiba...Saat jam dinding menunjukkan tengah malam, Nadia yang baru sempat membersihkan kamar mandi akibat jadwal kuliahnya yang padat, dikejutkan oleh kepulangan Axel, putra tunggal sang majikan. Axel pulang dalam keadaan mabuk berat, kehilangan akal sehat, dan menyimpan amarah terpendam.
Dalam kegelapan malam dan di bawah pengaruh alkohol, Axel melompati batas yang tak seharusnya. Dia memaksa Nadia, menodai kesucian gadis itu dalam sebuah malam penuh tangis yang tak akan pernah bisa dimaafkan. Dan satu malam itu mengubah segalanya. Nadia hamil. Bukannya mendapatkan pertanggungjawaban, dia justru di campakkan dan diusir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 14. Hukum Jalanan
Kedua preman itu saling lempar pandangan. Preman yang memegang gembok rantai menelan ludah berat, nyalinya yang tadi setinggi langit mendadak rontok begitu mendengar nama Ubay. Di wilayah lingkar luar kota ini, siapa yang tidak tahu reputasi cowok gondrong penunggang RX-King hitam itu? Dia tipe orang jalanan yang tidak banyak bicara, tapi kalau sudah bergerak, bisa membuat lawannya pulang tanpa nama.
Namun, demi menjaga harga diri di depan Dika yang menonton, preman berkaus ketat yang satunya lagi mencoba memberanikan diri.
"O-oh... jadi lu yang namanya Ubay? Jangan mentang-mentang lu punya nama di wilayah barat, lu bisa seenaknya kuasain trotoar sini ya! Ini wilayah cari makan kita!" gertak preman itu, meskipun suaranya agak bergetar di ujung kalimat.
Ubay tidak membalas dengan bentakan. Ia justru melepas kacamata hitamnya perlahan, melipatnya, lalu menyelipkannya di kerah kaos oblong hitamnya. Tatapan matanya yang tajam dan sedingin es kini menghantam langsung ke biji mata kedua preman itu.
"Gue nggak pernah ngerasa menguasai trotoar ini," ucap Ubay, suaranya pelan namun sarat tekanan. "Anak buah gue disini cuma dagang es kopi sama teh keliling. Mereka cari uang halal, bayar retribusi ke dinas taman juga resmi. Terus... atas dasar apa lu berdua datang bawa gembok mau meras mereka?"
Ubay melangkah maju satu langkah lagi. Postur tubuhnya yang tinggi tegap membuat kedua preman itu otomatis mundur selangkah karena terintimidasi.
"Gini aja," lanjut Ubay, nadanya mendatar namun menusuk. "Kalau lu berdua emang ngerasa punya nyawa cadangan buat nyentuh gerobak biru ini... silakan kunci sekarang. Ayo, gembok depan mata gue."
Ubay menunjuk ke arah roda motor listrik Dika dengan dagunya. Sikap Ubay yang sangat tenang, bahkan menantang mereka untuk bertindak justru membuat kedua preman itu mati kutu. Mereka tahu betul, jika mereka berani menuruti tantangan itu, gembok besi itu kemungkinan besar akan berakhir menghantam wajah mereka sendiri.
Preman yang membawa gembok perlahan menurunkan tangannya. Ia mundur setengah langkah, mencoba mencari jalan selamat untuk urusan ini.
"Y-ya... ya udah! Kalau emang ini gerobak punya lu, kita nggak bakal ganggu lagi. Tapi jangan salahin kita kalau anak buah Bang Tato yang lain nanti datang ke sini!" ancam preman itu, sebuah ancaman kosong demi menutupi rasa malunya.
"Gue tunggu. Suruh Bang Tato lu itu datang bawa pasukan sekalian," sahut Ubay dingin. "Tapi sebelum dia datang, kalau gue sampai lihat muka lu berdua lagi di sekitaran taman ini..." Ubay menggantung kalimatnya, lalu tersenyum sinis yang membuat bulu kuduk kedua preman itu merinding. "...gue pastiin lu berdua pulang pakai mobil ambulans."
Kalimat terakhir Ubay menjadi titik mati. Tanpa sepatah kata lagi, kedua preman itu berbalik arah dengan langkah seribu, berjalan cepat-cepat meninggalkan area taman kota tanpa menoleh lagi ke belakang. Gembok rantai yang tadi dibawa dengan gagah kini disembunyikan di balik badan.
Dika yang sejak tadi menahan napas akhirnya bisa menghembuskan napasnya dengan lega. Ia menatap Ubay dengan mata berbinar penuh kekaguman.
"Wah... gila, Mas Ubay keren banget! Mereka langsung kabur dengar nama Mas," seru Dika kegirangan.
Ubay kembali meraih kacamata hitamnya, memakainya kembali dengan santai, lalu berjalan ke arah bangku taman untuk mengambil jaket usangnya.
"Nggak usah berlebihan, Dik. Preman modal gembok begitu mah cuma berani sama orang yang kelihatan takut," ujar Ubay lempeng, kembali ke mode cueknya. "Tetap jualan seperti biasa. Kalau ada apa-apa lagi, langsung hubungi aku."
"Siap, Mas Ubay! Terima kasih banyak ya, Mas!" sahut Dika mantap, kini mentalnya untuk berjualan kembali pulih seratus persen berkat jaminan keamanan dari bosnya.
**
Sementara Ubay tengah membereskan urusan jalanan di bawah terik matahari, sebuah pesta pertunangan super mewah sedang berlangsung di ballroom hotel bintang lima di Pusat kota.
Lantai marmer berkilat memantulkan cahaya lampu gantung kristal yang megah. Ratusan tamu dari kalangan pejabat, pengusaha kelas atas, dan sosialita ibu kota tampak hilir mudik dengan gaun dan jas mahal mereka.
Di panggung utama, Tuan Pramoedya dan Nyonya Sarah berdiri berdampingan. Wajah keduanya dihiasi senyum sumringah yang sangat lebar, sebuah senyum penuh kepalsuan demi memamerkan citra keluarga sempurna di depan kamera para awak media. Bagi mereka, kilatan lampu flash hari ini adalah simbol suksesnya kesepakatan bisnis bernilai ratusan miliar.
Namun, kontras seratus delapan puluh derajat berada tepat di samping mereka. Axel berdiri dengan jas tuksedo hitam yang melekat sempurna di tubuh tegapnya. Tampan, namun aura di sekitarnya terasa amat keruh. Tidak ada binar kebahagiaan sedikitpun di wajahnya. Tatapan matanya kosong, lurus menembus kerumunan tamu tanpa fokus yang jelas.
Larasati, sang tunangan, melangkah anggun mendekati Axel. Gadis itu tampil memukau dengan gaun brokat modern berwarna pastel, memegang segelas sampanye di tangannya. Ia menyadari keterdiaman Axel sejak acara dimulai.
Larasati menyentuh lengan Axel pelan, membuat pria itu sedikit terkesiap. "Cel," panggil Larasati, suaranya pelan namun bernada menuntut di balik senyum anggunnya. "Kamu dari tadi diam saja. Wajahmu keruh sekali. Apa kamu... tidak bahagia dengan pertunangan kita hari ini?"
Axel menoleh lambat, menatap wajah cantik Larasati yang dilapisi riasan tebal. Alih-alih tersenyum menenangkan, seulas senyum getir dan sinis justru terbit di bibir Axel.
"Bahagia?" sahut Axel setengah berbisik, nadanya terdengar dingin dan hambar. Ia melirik sekilas ke arah kedua orang tuanya yang masih sibuk tertawa palsu dengan kolega bisnis. "Laras, kita berdua tahu persis acara hari ini diadakan untuk apa. Ini bukan tentang aku atau kamu yang bahagia."
Larasati mengernyitkan keningnya, sedikit tersinggung. "Maksud kamu?"
Axel menghembuskan napas pendek, lalu menegak habis minuman di gelasnya hingga tandas. "Ini cuma panggung sandiwara, Laras. Perjanjian bisnis orang tua kita yang dibungkus pakai cincin pertunangan. Jadi, jangan tanya soal kebahagiaan sama aku. Tanyakan saja pada orang tua kita, berapa persen grafik saham perusahaan yang naik setelah acara ini selesai."
Mendengar jawaban dingin dan blak-blakan dari Axel, Larasati tertegun. Ia tidak bisa membantah karena di dalam lubuk hatinya, ia tahu ucapan Axel adalah kebenaran yang mutlak di kalangan mereka. Axel kemudian membalikkan badan, berjalan menjauh menuju sudut ruangan yang lebih sepi untuk meraih sebatang rokok, membiarkan Larasati berdiri sendirian di tengah gemerlapnya kepalsuan pesta.
**
Pintu ruang kerja kediaman Pramoedya berdentum keras, saat Tuan Pramoedya membantingnya dari dalam. Sisa-sisa kemegahan pesta pertunangan di hotel berbintang tadi masih melekat pada jas formal yang ia kenakan, namun wajahnya kini merah padam menahan amarah yang meledak-ledak.
Di tengah ruangan, Axel berdiri dengan santai. Ia sudah melonggarkan dasi kupu-kupunya dan membuka kancing teratas kemeja putihnya. Wajahnya tetap keruh, datar, dan acuh tak acuh. Sikap yang justru semakin menyulut minyak ke dalam api kemarahan sang ayah.
"Maksud kamu apa tadi di pesta, Axel?" bentak Tuan Pramoedya, suaranya menggelegar menghantam dinding-dinding ruangan. Ia menggebrak meja kerja kayunya dengan keras.
Brak!
"Kamu mau mempermalukan Papa di depan keluarga Larasati? Di depan rekan bisnis internasional kita? Hah?"
Nyonya Sarah yang baru masuk buru-buru menutup pintu rapat-rapat, wajahnya penuh kecemasan. "Iya, Axel! Mama benar-benar malu tadi. Sepanjang acara wajah kamu ditekuk seperti orang dipaksa ke pemakaman! Wartawan media bisnis sampai berbisik-bisik di belakang Mama, nanyain kenapa wajah calon pengantin pria tegang begitu!"
Axel mendengus pendek. Ia berjalan menuju sofa, mendudukkan dirinya tanpa permisi, lalu bersandar dengan angkuh. "Memang dipaksa, kan?" sahut Axel lirih namun terdengar sangat menantang.
"Axel! Kurang ajar kamu ya!" Tuan Pramoedya menunjuk wajah anak tunggalnya itu dengan jari yang gemetar. "Kamu pikir posisi kita sudah aman? Papa mempercepat pertunangan ini biar saham kita tidak anjlok kalau sampai ada rumor aneh-aneh di luar sana! Papa melakukan ini semua demi mengamankan masa depan kamu, masa depan perusahaan Pramoedya!"
"Masa depan perusahaan atau ego Papa?" potong Axel, matanya menatap tajam langsung ke netra ayahnya. Senyum sinis tersungging di bibirnya. "Jangan pakai nama Axel buat tameng bisnis Papa. Bilang saja kalau Papa takut kehilangan investasi ratusan miliar dari papanya Larasati kalau pertunangan ini batal."
Plakk!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Axel, membuat wajah pria muda itu terenggut ke samping. Ruang kerja itu seketika hening mencekam. Nyonya Sarah membekap mulutnya sendiri, terkejut melihat suaminya sampai main tangan.
Axel tidak meringis. Ia perlahan memutar kembali wajahnya menghadap sang ayah, menyeka setitik darah di sudut bibirnya dengan ibu jari. Matanya kini sedingin es.
"Dengar ya, Axel," desis Tuan Pramoedya, memajukan tubuhnya dengan napas memburu. "Papa tidak peduli kamu suka atau tidak dengan Larasati. Mulai hari ini sampai hari pernikahan kalian nanti, kamu harus pasang senyum paling bahagia di depan publik! Kalau sampai Papa lihat wajah keruhmu itu lagi dan membuat keluarga Larasati tersinggung hingga membatalkan kerja sama kita... Papa tidak akan segan-segan mencoret namamu dari seluruh daftar warisan Pramoedya. Kamu paham?"
Mendengar ancaman itu, Axel tidak gentar. Ia justru berdiri, merapikan jasnya yang sedikit kusut akibat gerakan mendadak tadi.
"Silakan ambil semua warisan itu kalau Papa mau," ucap Axel datar, suaranya pelan namun sarat akan pemberontakan yang mendalam. "Axel sudah mainkan peran Axel hari ini sebagai boneka bisnis kalian. Jadi sekarang... jangan atur bagaimana cara Axel berekspresi."
Tanpa menunggu balasan dari kedua orang tuanya, Axel berbalik dan melangkah lebar keluar dari ruang kerja, meninggalkan Tuan Pramoedya yang napasnya masih memburu karena murka.
****