Kisah tentang cinta yang dipisahkan oleh takdir, dipertemukan kembali oleh waktu, dan diuji oleh masa lalu yang belum selesai.
Di antara cinta, persahabatan, pengkhianatan, dan pengorbanan, mampukah Arga dan Putri membangun kembali keluarga yang pernah direnggut oleh keadaan? Ataukah kehadiran "dia" akan kembali menghancurkan kebahagiaan yang baru saja mereka temukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ahli Waris
Pagi kembali menyapa dan seperti biasa masing-masing orang kembali sibuk dengan aktivitas dan kegiatannya termasuk Putri.
setelah beberapa hari yang lalu Putri dan fandi memberikan kejutan ulang tahun untuk pak frenc entah kenapa fandi semakin intens mendekati Putri. sepertinya ia merasa telah mendapat lampu hijau dari pak frenc.
hari ini pak frenc akan berkunjung ke rumah sakit dan informasi ini pun sudah ketahui oleh seluruh dokter, tenaga medis dan semua orang yang bekerja di rumah sakit itu terkecuali Putri, anak pak frenc sendiri. Persiapan dilakukan mulai dari luar sampai kedalam.
Putri sudah tiba diruangannya, ia meletakkan ranselnya, menggunakan jas dan memakai stetoskop. Putri lalu menghadap ke cermin yang ada di ruangannya itu dan merapikan rambut.
Tari, asistennya pun masuk "selamat pagi Dok" sapa Tari,
"hey Tar" balas Putri sambil datang dan duduk dikursinya,
Tari menyodorkan kertas yang sudah berisi list tugas putri hari ini,
"oh ya Tar, nanti beberapa tugas dibawah ini kamu yang ambil kendali yah soalnya aku ada urusan nanti mau balik lebih awal" kata Putri sambil melihat listnya,
Tari sedikit heran, mengapa Putri pulang lebih awal sedangkan hari ini akan ada perkunjungan dari pemilik rumah sakit "Dok, hari ini kan akan ada kunjungan dari pak frenc" katanya langsung,
Putri kaget ia langsung menatap Tari "oh ya? kok aku nggak tau?" tanyanya heran,
"oalah.. saya pikir dokter tau. hehe.. semua orang rumah sakit juga tau dok" -,
"kok papa gak bilang ya? udah, makasih ya Tar. kita selesain tugas seperti biasa yah" ucap Putri yang langsung mencari handphonenya,
"baik dok, saya permisi" pamit Tari dan langsung keluar.
Putri langsung menelfon pak frenc,
"papa" sapanya setelah talfonnya diangkat,
"iya Put. bagaimana?" tanya pak frenc langsung,
"papa hari ini ke rumah sakit? kok gak bilang?" tanya Putri balik,
"hehe.. ternyata tidak jadi kejutannya. iya nak, papa dalam perjalanan ini, nanti kita bicara ya" jawab pak frenc,
"hehe.. baiklah. hati-hati yah" ucap Putri, yang lalu mematikan telfonnya.
Ia lalu keluar dan bersama dengan Tari melanjutkan aktivitas.
.
.
Sama halnya seperti Putri,
Arga dan Dikta juga sibuk dengan kegiatannya.
Hari ini akan ada meeting bersama klien di luar kota, dan Dikta akan menemani Arga.
Mereka berdua sudah dalam perjalanan,
"mampir ke kafe **** yah sarapan dulu" ajak Arga,
"siyappp pak bos" setuju Dikta.
selang hanya beberapa menit, dan mereka sampai di kafe yang di maksud Arga. mereka pun turun kemudian masuk.
.
setelah duduk di meja paling sudut,
"yang ringan-ringan aja" pinta Arga saat dikta akan memesan,
dan setelah itu, Dikta kembali ke tempat duduk mereka,
"sampai jam berapa kita Dik?" tanya Arga yang terus sibuk dengan handphonenya,
"gak lama Ar. paling jam sebelas selesai lah" jawab Dikta sambil menengok kiri kanan, seperti itu anaknya memang tidak pernah tenang, dan tentu saja matanya tidak salah melihat Elsa dari pintu masuk, "Ar, Ar, Elsa masuk tuh" tegurnya ke Arga,
Arga mengangkat wajahnya dan ternyata benar itu adalah Elsa,
"ngumpet cepetan" suruh Dikta,
belum juga Arga berdiri, pandangan Elsa mendapati mereka. tanpa sungkan, Ia langsung mendatangi Arga dan Dikta,
"tuhhh kan" kesal Arga,
"hayyyy" sapa Elsa tersenyum lebar,
"ha.. hayyy Elsa" balas Dikta yang juga tersenyum, dan Arga pun hanya tersenyum,
"bisa kebetulan yah kita ketemu disini" lanjut Elsa yang langsung duduk bergabung, "kalian udah mesen?" tanyanya,
"udah, udah, kita udah pesen. jangan repot-repot hehe" jawab Dikta,
Arga menyimpan handphonenya dan berusaha untuk tersenyum, entah kenapa pikirannya langsung beralih ke pertemuan nya dengan Putri malam itu,
"udah lama disini?" tanya Elsa,
"baru juga mampir" jawab Dikta lagi,
pesanan mereka pun datang,
"eh ayukkk" tegur Elsa,
Arga mengangguk,
"yaaa silahkan El" sambung Dikta.
mereka bertiga pun sarapan bersama,
"perasaan arah rumah sama kantor berlawanan, kalian suka makan disini?" tanya Elsa di sela-sela makan mereka,
"kita ada meeting diluar kota El makanya mampir sarapan dulu" jawab Dikta santai,
"oh yah.. baiklah" sambung Elsa sambil melirik ke Arga yang diam dari tadi, sebenarnya hal ini membuatnya canggung.
Dikta sudah menghabiskan makannya, "eh aku toilet bentar ya" katanya yang langsung bangun dan menuju toilet.
Arga yang baru saja menghabiskan makannya itu, mencoba tersenyum dengan Elsa
"Kenapa Ar, kok tiba-tiba senyum?" tanya Elsa heran namun sebenarnya mulai gugup,
"dihabisin dulu makannya baru ngomong" tegur Arga santai,
Elsa semakin gugup baru kali ini Arga perhatian sedetail itu dengan dirinya, ia hanya tersenyum dan kembali melanjutkan makan
Tiba-tiba pandangan Arga tertuju ke sosok yang baru masuk dan betapa kagetnya karna itu adalah pak frenc, Arga langsung panik takut pak frenc melihatnya, sentak ia langsung tunduk dan pura-pura sibuk dengan handphonenya berharap tidak di kenali,
"belum selesai yah?" tanya Dikta yang sudah kembali dari toilet,
dan Elsa baru saja menyelesaikan makannya, "maaf yah, dibuat nunggu" jawab Elsa,
"udah santai aja El, kan kebetulan kita ketemu disini" sambung Dikta,
Arga yang terus tunduk dan kelihatan seperti orang gelisah itu membuat Dikta bingung dan berusaha conecct apa yang sedang terjadi. Dikta menengok kiri kanan dan ia pun mendapati Pak Frenc sedang berdiri dan mungkin memesan makan. Dikta juga kaget, ia mulai berpikir harus melakukan strategi apa,
"abis dari sini kamu langsung kampus?" tanya Dikta ke Elsa,
Elsa mengangguk "iya Dik" -,
"nggak mau langsung jalan?" tanya Dikta lagi,
"ehehe.. gak barengan aja?" -,
"hah?kita? barengan?" tanya Dikta mulai panik,
Arga hanya menahan paniknya dan terus menunduk,
"iya.. atau kalian emang masih pengen duduk dulu?"-,
"duluan aja El. kita masih ada yang mau dibahas dulu" jawab Dikta kaku,
Elsa mengangguk dan menengok ke arah Arga sebenarnya Ia sedikit bingung mengapa Arga tunduk saja,
"nggakpapa kan?" tanya Dikta,
"oh yah, baiklah. kalau gitu, aku duluan yah.. see you" pamit Elsa yang lalu berdiri,
"by El. sampai jumpa" balas Dikta,
Elsa tersenyum dan menunggu Arga membalas salam,
"by El" sambung Arga namun terus menunduk,
Dikta langsung sengaja memberi kode ke elsa dengan menyilang jari artinya otak Arga sedang eror,
Elsa yang dipenuhi kebingungan itu pun hanya pasrah dan beranjak dari situ.
"haaaaaaaa satu claster aman" ucap Dikta sedikit lega sambil mengusap dadanya,
"belum stupid. om frenc nya belum pergi" bantah Arga yang masih gelisah,
Dikta membalikkan badannya dan melihat ke arah Pak Frenc, kaget bukan kepalang ternyata Elsa berpas-pasan dengan Pak Frenc dan mereka sedang berdiri berbincang,
"gawattttt.. salah strategi Ar" paniknya sampai melototkan mata,
Arga langsung mengangkat wajahnya, dan ia semakin panik melihat apa yang dilihat Dikta, sentak ia langsung memukul jidatnya "ngandalin damn people emang bakal gini" kesalnya ke Dikta,
"ngumpet cepetan Ar" suruh Dikta langsung, dan tanpa berlama-lama Arga langsung turun dari kursinya dan bersembunyi di balik kursi,
"kamu sama siapa kesini nak?" tanya pak frenc ke Elsa,
"ehehe Elsa sama..." jawab Elsa tiba-tiba berhenti saat melihat ke arah tempat duduk Arga dan Dikta yang sudah kosong,
Pak Frenc mengikuti arah jari Elsa yang akan menunjuk kemana,
"nggak jadi Om. Elsa sendiri" tambah Elsa dengan perasaan heran,
"om pikir sama temen. baiklah. mau lanjut ke kampus?" tanya pak frenc lagi,
Elsa mengangguk "iya Om. tadi cuman mampir sarapan sebentar. Om Frenc mau kemana? rumah sakit?" tanya nya kembali,
"oh ya, Om mau ke rumah sakit nyusul Putri ada urusan yang mau diselesaikan" jawab Pak Frenc santai,
"baiklah Om. sampaikan salam Elsa untuk Putri yah" sambung Elsa,
"Siap Nak. ya sudah Om duluan yah, kamu hati-hati" pamit pak frenc setelah menerima pesanannya,
"baik Om. Hati-hati" balas Elsa yang lalu menyalami Pak frenc,
setelah itu Pak Frenc pun keluar.
Elsa membalikkan badannya dan melihat ke arah tempat duduk tadi, ia masih dipenuhi rasa bingung kenapa Arga dan Dikta tiba-tiba menghilang. ia kembali melihat jam tanganya dan ternyata sudah waktunya pergi, dengan menyimpan rasa penasarannya Elsa lalu keluar dari kafe itu.
selang beberapa menit, Dikta sudah memastikan bahwa Pak frenc dan Elsa sudah pergi. Ia dan Arga lalu kembali duduk di kursi tadi, Dikta menghembuskan nafasnya karena merasa lega "hampir aja" cetusnya,
"maju kena mundur kena Dik" sambung Arga,
mereka lalu bergegas dan juga ikut keluar menuju ke tempat meeting.
.
.
Hampir dua puluh menit, Pak Frenc akhirnya tiba di rumah sakit.
Pak Tono turun dan membukakan pintu dan pak frenc disambut oleh semua profesor di rumah sakit itu dan semua pejabat tinggi yang menjabat disitu termasuk para dokter ahli terkecuali Putri. bersamaan dengan datangnya pak frenc, Putri sedang melakukan operasi terhadap pasien di ruang bedah.
Pak frenc menghampiri dan mereka saling bersalaman.
kemudian pak frenc diajak masuk.
selama perjalanan menuju lantai atas pun, Pak Frenc sangat di hormati, setiap kali bertemu dengan dokter semua tenaga medis mereka pasti membungkukan badan dan memberi jalan. Pak Frenc hanya memberikan senyum sebagai tanda balas menghargai.
Fandi juga ada dalam deretan para dokter ahli yang mengikuti dari belakang. sesekali ia menengok dan mencari Putri tetapi tidak juga melihatnya.
Pak frenc bersama beberapa petinggi rumah sakit menuju ruangan direktur yang memang diberikan hak oleh Pak frenc untuk mengelola rumah sakit itu.
Dokter yang lain kembali bertugas terkecuali Fandi karena ia juga di ajak oleh Pak Frenc.
"sejauh ini tidak ada kendala kan?" tanya Pak frenc ke teman sebayanya itu yang adalah direktur rumah sakit,
"selalu dalam pantauan tidak ada hambatan yang tidak bisa diselesaikan" jawab Pak direktur,
Pak frenc lalu duduk "surat-surat yang saya minta sudah kamu siapkan?" tanya nya lagi,
"tentu sudah. saya juga sudah menghubungi notarisnya dan beliau sedang dalam perjalanan" jawab pak direktur sambil menyodorkan sebuah map berisi beberapa surat penting.
Ternyata tujuan kedatangan pak frenc ke rumah sakit hari ini adalah ingin mengubah semua akte kepemilikan rumah sakit ke ahli waris satu-satunya yaitu Putri. Pak Frenc merasa sudah saatnya Putri menerima ini semua.
Fandi yang juga ikut duduk disitu hanya diam dan berusaha santai walaupun belum jelas tau maksud pak frenc mengajaknya untuk apa.
"jangan sampai kamu ada jadwal mendadak nak fandi?" tanya pak frenc,
"hehe aman om. eh pak" jawab fandi gugup,
"Putri kemana?" tanya pak frenc lanjut,
Fandi sedikit kaget karena Pak frenc menanyakan hal itu didepan pak direktur, ia dibuat semakin gugup "lagi... ahm belum tau om belum saya cek" jawabnya terbata-bata,
pak direktur hanya tersenyum tipis karena sudah merupakan rahasia umum rumah sakit tentang kedekatan fandi dan Putri. bahkan Fandi sudah menjadi bahan gosip bahwa akan menggantikan direktur rumah sakit.
beberapa menit mereka mengobrol santai akhirnya notaris yang mereka tunggu datang juga. Ia dipersilahkan masuk oleh sekretaris pak direktur.
"mohon maaf atas keterlambatannya" sapa notaris itu yang lalu menyalami Pak frenc, pak direktur, dan fandi.
"tidak apa-apa. silahkan duduk" balas pak direktur,
mereka kembali duduk,
"seperti yang sudah saya beritahu bahwa maksud kami meminta bapak kesini adalah untuk mengubah dan membuat akte hak ahli waris atas nama anak dari pak frenc, pemilik rumah sakit ini" jelas pak direktur langsung,
"baik saya mengerti, sebelumnya saya sudah beritahukan untuk apa saja persyaratan nya" sambung pak notaris,
"intinya saya terima beres ya pak. hehe.." sambung pak frenc,
akhirnya fandi tau alasan mengapa pak frenc ke rumah sakit hari ini.
setelah mencapai kesepakatan, akhirnya pak notaris itu pamit pulang dan pak direktur meminta ijin untuk mengantarnya sampai depan.
sehingga hanya tinggal pak frenc dan fandi saja diruangan itu,
"kira-kira Putri sampai jam berapa yah?" tanya pak frenc sambil melihat jam tanganya,
"mungkin saja sedang operasi om. soalnya dari tadi pagi juga saya belum liat" jawab fandi,
"kamu sudah sarapan belum?" tanya pak frenc lagi,
"oh sudah kok Om. Om belum sarapan ya? mau saya suruh antar kesini?" jawab fandi sekaligus menawarkan dengan nada tetap santun,
"baiklah. aman nak. urusan pertama sudah selesai dan Om harus ketemu Putri dulu" lanjut Pak Frenc,
"oh yah baik Om. apa nggak mau keliling dulu? liat-liat keadaan rumah sakit?" tawar fandi lagi,
"ide bagus nak. tapi sama kamu ya" setuju pak frenc.
Ia dan Fandi lalu keluar dan berjalan menuju taman belakang rumah sakit, seperti biasa banyak pegawai yang langsung heboh melihat mereka seakrab itu.
Mereka duduk di bangku taman dan mengobrol dengan santai
"kamu rencana mau lanjut studi nggak nak?" tanya pak frenc memulai obrolan,
"sempat kepikiran kesana sih om, tapi untuk skarang sepertinya aku mau menikmati pekerjaan dulu hehe" .-
Pak Frenc mengangguk "tidak terburu-buru yah, memang tidak takut dikejar umur?" tanyanya lagi,
"hehe.. soal rezeki kan sudah di tentukan, intinya skrang tu aku hanya ingin fokus ke pekerjaan dulu om" jawab fandi dengan santainya,
"padahal om berencana untuk menempatkan kamu di posisi direktur melanjutkan tugas pak direk setelah ia selesai. dan untuk mencapai itu kamu harus lanjut sampai profesor dulu" jelas pak frenc dengan serius,
akhirnya apa yang menjadi bulan-bulanan warga rumah sakit memang benar terjadi, pak frenc memang sudah lama menyiapkan posisi khusus untuk fandi. di luar dari fandi adalah anak sahabatnya dan fandi adalah orang dekat dari anaknya, pak frenc merasa yakin bahwa fandi punya kompetensi yang sangat baik.
Fandi terlihat kaget mendengar kalimat dari pak frenc "hehe.. masih banyak yang lebih baik dan lebih mampu dari aku Om. dan aku merasa bukan aku orangnya" tolaknya halus,
"baiklah nak Fandi, om harap kamu menikmati keputusan mu saat ini yah" sambung pak frenc tersenyum,
dan fandi pun ikut tersenyum,
lalu Putri muncul dari belakang dan menghampiri mereka
"mohon maaf apa saya mengganggu waktunya Pak" sapanya formal, Putri memang seperti ini anaknya, terlepas dari Ia adalah anak kandung pak frenc sekaligus pewaris tunggal keluarga Cahyani, Ia selalu membedakan posisi sesuai situasi.
"sini duduk sebelah Papa" sambut pak frenc sambil sedikit bergeser untuk memberikan tempat bagi Putri,
"maaf pak, saya berdiri saja" tolak Putri halus,
Pak frenc pun tersenyum begitu juga dengan fandi,
"Om frenc mau bicara penting sama kamu Put" lanjut Fandi,
"Papa sudah bertemu notaris tadi untuk pengalihan ahli waris atas nama kamu, semua sudah beres. soal penandatanganannya nanti Papa sampaikan yah nak" jelas pak frenc langsung,
Putri kaget karena Pak frenc tidak pernah membicarakan ini sebelumnya, ingin sekali melontarkan banyak pertanyaan namun ia kembali sadar bahwa ini masih di rumah sakit dan statusnya hanya sebagai tenaga dokter. Ia menarik napas panjang lalu menghembuskannya pelan-pelan, "baik pak" sambungnya,
"gitu amat responya, nggak setuju yah?" tanya Fandi yang merasa aneh,
"hehe ada baiknya untuk urusan seperti itu kita bahas di ranah privasi saja" sambung putri yang tetap formal,
"anak Om memang sekeras itu kepalanya Fan" sambung pak frenc menahan tawa,
Fandi langsung terkekeh, dan putri pun ikut tersenyum.
"baiklah kalian lanjutkan kerjanya, saya pamit dulu. tolong kerja dengan baik yah" lanjut pak frenc yang lalu berdiri,
Fandi juga ikut berdiri di samping Putri "baik om hati-hati di jalan" ucap fandi dengan sedikit membungkukan badannya sebagai bentuk penghormatan,
begitu juga dengan Putri "trimakasih sudah berkunjung pak" sambung Putri,
Pak frenc mengangguk dan tersenyum, kemudian Putri dan Fandi mengantarnya sampai mobil.
sepanjang perjalanan mereka benar-benar dibicarakan seisi rumah sakit.
'bisa jadi mereka ngomongin konsep prewed di taman belakang sih' bisik salah satu perawat saat mereka lewat,
'kalo nggak berarti mereka sepakat pergantian direktur' tambah yang lainnya.