Alysia percaya pernikahannya adalah jawaban atas doa setelah bertahun-tahun hidup sendiri. Saat Demian datang melamarnya, dia mengira akhirnya menemukan laki-laki yang memilih dirinya, bukan karena belas kasih, bukan karena keadaan, melainkan karena cinta.
Namun kenyataan yang menunggunya jauh lebih menyakitkan. Demian adalah duda muda dengan seorang anak kecil yang kehilangan sosok ibu. Dan Alysia baru menyadari satu hal setelah resmi menjadi istrinya. Dia tidak pernah benar-benar hadir sebagai perempuan yang dicintai. Dia hanya dipilih karena dianggap paling tepat menjadi ibu bagi anak Demian. Arkhasa.
“Aku menikahimu supaya anakku punya ibu.”
Kalimat itu mengubah segalanya.
Untuk pertama kalinya, Alysia memilih berhenti menunggu dicintai. Dia memutuskan pergi, meski harus meninggalkan anak yang sudah dia sayangi seperti darah daging sendiri.
Namun saat Alysia benar-benar menjauh, Demian mulai menyadari sesuatu yang terlambat dia pahami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alysia 19
Damian terpaku, tangannya yang semula hendak meraih tas sekolah Arkhasa menggantung di udara. Dia menatap ibunya dengan sorot mata yang sulit diartikan, campuran antara keterkejutan, ketakutan, dan sesuatu yang jauh lebih gelap.
"Perusahaan?" suara Damian terdengar parau.
"Mama tidak bisa bicara soal itu di sini, sekarang."
Bu Chintya menyilangkan kakinya dengan elegan, mengabaikan ketegangan yang merambat di udara. Dia menatap cucunya yang masih duduk terpaku di kursi.
"Arkhasa, sayang, sopir Oma sudah menunggu di luar. Pergilah. Oma perlu bicara hal orang dewasa dengan Papa dan Mamamu."
Arkhasa menatap Alysia dengan pandangan memohon. Alysia tahu, membiarkan anaknya pergi dengan sopir ibu mertuanya adalah sebuah kesalahan besar, namun suasananya sudah terlalu mencekam untuk menahan Arkhasa lebih lama di sini.
"Pergilah, Arkha. Mama akan menyusul nanti," ucap Alysia lembut.
Suaranya berusaha tetap tenang meski tangannya gemetar di balik meja. Setelah Arkhasa beranjak dengan langkah ragu, menyisakan keheningan yang menyesakkan, Bu Chintya memajukan tubuhnya. Tatapan matanya yang tajam kini sepenuhnya terkunci pada Alysia.
"Kamu pikir aku tidak tahu apa yang terjadi di perusahaan?" Bu Chintya tersenyum dingin.
"Damian, kamu terlalu naif untuk berpikir bisa menyembunyikan kalau Pak Kuncoro akan menarik modalnya!. Dan kamu, Alysia. kamu pikir dengan bersikap seperti istri yang tersakiti, perhatian orang-orang akan teralihkan dari fakta bahwa suamimu hampir menghancurkan warisan keluarga? Dan bahkan sampai sekarang kamu juga belum bisa memberikan keturunan untuk Damian! Apa kamu mandul?"
Alysia hanya menundukkan kepalanya. Bagaimana dia bisa hamil kalau suaminya dan tak pernah melakukan kewajibannya sebagai suami kepada dia. Nafkah lahir yang tak pernah dia dapatkan, dan sampai sekarang dia masih su-ci.
Pak Kuncoro adalah Ayah dari Berlian. Wanita yang sering meminta bertemu dengan Damian hingga membuat dia berbohong kepada Alysia. Namun menginap di salah satu kamar hotel itu setiap setelah makan malam dengan Berlian adalah alasan lain Damian. Alasan masa lalu yang belum bisa hilang dalam ingatan dan hatinya.
Kata-kata itu menghantam Alysia seperti cambuk besi yang tepat mengenai luka yang paling dalam. "Mandul." Tuduhan itu, yang selama ini hanya tersimpan sebagai bisikan sumpah serapah di hati Bu Chintya, akhirnya terlontar dengan begitu kejam di depan Damian.
Alysia merasakan dadanya sesak, bukan lagi karena kesedihan, melainkan karena kemuakan yang luar biasa. Dia menatap Damian, suaminya yang selama enam tahun ini tidak pernah menyentuhnya. Selama ini, Alysia selalu menyalahkan dirinya sendiri, merasa ada yang salah dengan fisiknya, merasa dia tidak cukup menarik, atau tidak cukup pantas.
Kini, kebenaran itu terpampang nyata. Dia masih suci. Dia adalah istri di atas kertas, sementara Damian sibuk mengejar bayang-bayang masa lalunya yang entah siapa itu dan wanita mana. Apakah ibunya Arkhasa atau siapapun dia tak tahu. Semalam dia juga tak mendengar dengan jelas.
Namun yang pasti dia berada di sini. Di nikahi hanya untuk menjadi ibu bagi anaknya, Arkhasa. Bukan sebagai istri dari Damian. Dan kini ibunya menyalahkan dia mandul, sebelumnya dia akan diam tapi setelah mengetahui alasan sesungguhnya Damian menikahi dia. Kini tak ada lagi alasan untuk menghormati Damian sebagai seorang suami yang tak akan pernah bisa melihatnya sebagai seorang wanita dewasa apalagi sebagai seorang istri.
Damian yang mendengar tuduhan ibunya justru terlihat seperti orang yang kehilangan jiwanya. Dia menatap Alysia dengan pandangan nanar, namun mulutnya terkunci rapat oleh rasa bersalah dan ketakutan akan ancaman ibunya.
"Sudah cukup, Ma," desis Damian akhirnya, meski suaranya tidak memiliki otoritas sama sekali.
Bu Chintya mendengus, bangkit berdiri dan berjalan mengitari meja hingga tepat berada di samping Alysia. Dia menunduk, membisikkan kata-kata yang membuat darah Alysia seolah membeku.
"Aku tahu Pak Kuncoro akan menarik modalnya, Damian. Dan itu semua terjadi karena kamu tidak becus mengurus perusahaan Dan kamu, Alysia..." Bu Chintya menatap Alysia dengan tatapan merendahkan yang sangat familiar.
"Selama enam tahun, aku sudah bersabar menunggu seorang pewaris. Tapi nyatanya? Rahimmu benar-benar tidak berguna. Kamu mandul, bukan?"
"Cukup Ma!"
"Kenapa? Aku bicara fakta! Kalau dia tidak bisa memberikan keturunan, buat apa dia masih di sini? Lebih baik kau ceraikan dia sekarang, Damian. Masih banyak wanita dari kalangan yang sepadan yang mengantre untuk..."
BRAK!
Damian menggebrak meja dengan satu tangan, membuat piring dan gelas bergetar. Damian berdiri dengan rahang yang mengeras, matanya menatap tajam ke arah ibunya dengan kilatan kemarahan yang belum pernah diperlihatkan sebelumnya.
"Cukup, Bu!" suara Damian menggelegar, memenuhi ruangan.
"Damian, kau membentak Ibu demi wanita ini?" tanya ibunya tidak percaya.
"Alysia adalah istri saya. Dan dia adalah ibu yang luar biasa bagi Arkha. Sesuatu yang bahkan tidak pernah Ibu lakukan dulu," Damian melangkah maju.
Dia berdiri tepat di antara Alysia dan ibunya, seolah menjadi perisai yang selama ini tidak pernah Alysia miliki. Namun dia tak berani mengakui kenyataan jika dirinya tak pernah menyentuh Alysia kepada ibunya.
Bu Chintya terkesiap, mundur selangkah karena tidak menyangka putranya akan berani menentangnya secara terbuka.
"Kau... kau berani membela dia setelah dia menghancurkan reputasimu di perusahaan? Kau sudah kehilangan akal sehatmu, Damian!"
"Reputasi saya hancur bukan karena Alysia, tapi itu adalah urusan pekerjaan. Tak ada kaitannya! Dan ibu juga tak tahu alasannya kenapa Pak Kuncoro menarik modalnya! Jadi tak usah bicara asal dan menuduh Alysia!" Damian memotong dengan suara rendah namun penuh penekanan.
Dia tidak menoleh ke arah Alysia, namun bahunya yang tegap kini menutup akses pandangan ibunya terhadap sang istri.
"Jika memang kehadiran saya di rumah ini menjadi alasan dan juga akar masalah yang terjadi. Maka saya akan pergi dari sini... Arkhasa juga sudah besar, dia tidak lagi menangis histeris dan sulit di tenangkan!" ujar Alysia di belakang punggung Damian dengan suara bergetar.
Kalimat Alysia itu terdengar seperti lonceng kematian bagi ketenangan Damian. Punggung suaminya menegang seketika, dan Damian berbalik dengan cepat, menatap Alysia dengan sorot mata yang panik. Sebuah tatapan yang sudah lama tidak dilihat Alysia, bukan tatapan dingin, melainkan tatapan pria yang takut kehilangan pijakannya.
"Jangan bicara begitu, Alysia. Kamu tidak akan pernah ke mana-mana," suara Damian kini terdengar mendesak, jauh dari nada otoriter yang biasa dia gunakan pada Alysia.
Bu Chintya tertawa sinis, suara yang terdengar tajam di ruangan yang kini terasa menyempit itu.
"Dengar itu, Damian! Bahkan istrimu sendiri sudah sadar bahwa dia hanyalah beban. Biarkan dia pergi. Bukankah itu yang kau inginkan selama ini?"
Ternyata Bukan hanya Arga saja yang tahu kalau Damian menikahi Alysia tanpa cinta. Melainkan juga ibunya yang sadar dengan rumah tangga dingin mereka selama ini.
"Ma! Diam! Dan tolong pulanglah! Aku juga harus segera ke kantor dan Alysia harus ke sekolah!"
Bu Chintya berdiri mematung, matanya menyipit tajam menatap putranya yang kini tampak seperti orang asing. Sedikit pun tidak ada rasa takut di wajah wanita paruh baya itu. Justru ada rasa jijik yang sangat nyata. Dia menyambar tas mahalnya di atas meja dengan gerakan kasar.
"Baik, Damian. Usir Mama demi wanita yang bahkan tidak bisa memberikanmu apa-apa ini," desis Bu Chintya. Dia berjalan mendekat ke arah Alysia, berhenti sejenak untuk membisikkan sesuatu dengan nada beracun.
"Jangan bangga dulu karena dia membelamu hari ini, Alysia. Dia hanya sedang berusaha mempertahankan asetnya, bukan mempertahankan dirimu. Ingat itu baik-baik."
lanjut lg thooorrrr🥳🥳🥳🥳
biar dy juga merasakan apa yg km rasakan Selama 6th Alysia ,,
cowok yg kayak gini nich...yg berpotensi menghancurkan rumah tangga sendiri,usia boleh dewasa tapi sifatnya yg masih belum dewasa....cerai aja sich alysia,di luar sana masih banyak laki-laki yg lebih dari si Damian,ngapain kamu masih mempertahankan laki laki yg masih belum selesai sama masa lalunya...cuman buang waktu juga nyakitin dirimu sendiri aja.
bukti kan dg tindakan mu
6th sia sia buang waktu.
cerai trus upgrade diri ntar semoga dpt jodoh yg lebih Dr Damian. yg penting gk di setir ortu plus laki yg terbuka dng masa lalu serta yg sdh moveon.
jika km tlah melihat kesungguhan serta bukti bahwa Damian bnr2 berubah ,, baru deh kesempatan mau km kasih atau gx ,,