Saat ujian SMA, Rio menjadi bahan tertawaan satu sekolah karena mengontrak seekor monyet kurus dekil tingkat Warrior (Trash-Rank). Semua orang menganggap masa depannya hancur, namun sebuah panel gaib tiba-tiba muncul di hadapannya:
[Ding! Sistem Push Rank Immortal Aktif!][Target: Monyet Lumpur (Identitas Asli: Sun Wukong - Segel Dewa)][Status Pengguna: SSS-Rank Hidden Power]
Di saat murid lain sibuk pamer kekuatan di sekolah, Rio memilih "mabar" di Dungeon terlarang bersama lima hewan mitologi miliknya: Sun Wukong, Serigala Kegelapan, Qilin, Phoenix, dan Ratu Laba-laba. Ketika gerbang bencana dunia jebol, Rio melangkah maju membawa squad top globalnya yang sudah berada di tier MYTHICAL IMMORTAL!
Siapa bilang dia salah kontrak?
#System #SunWukong #Overpowered #HiddenPower #Evolution #Mythology
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tujuh Pesan
Rio pulang dari kafe itu dengan benda logam di kepalan tangan kanannya.
Bukan di saku. Bukan di tas. Di kepalan tangan, karena melepaskannya ke tempat yang tidak bisa ia rasakan secara langsung terasa seperti opsi yang tidak tersedia malam ini.
Angkot. Gang sempit. Tangga berderit di tiga titik yang sama.
Ia membuka pintu kontrakannya, masuk, dan menutup pintu di belakangnya tanpa menyalakan lampu dulu.
Berdiri sebentar di kegelapan.
Serigala mendekatinya dari pojok jendela — langkah yang sudah ia kenali dari bunyinya — melakukan pemeriksaan dua detik dengan hidung yang menyentuh punggung tangan Rio yang tidak mengepal. Menemukan sesuatu yang berbeda dari biasanya, berhenti lebih lama dari dua detik, kemudian mundur dan berbaring kembali.
Memberikan ruang.
Wukong tidak turun dari kursi meja belajarnya. Hanya menatap Rio dari sana dengan mata yang sudah menyesuaikan diri dengan gelap jauh lebih baik dari mata manusia manapun.
Tidak ada yang bertanya apapun.
Rio menyalakan lampu, duduk di tepi kasur, dan membuka kepalan tangannya.
Benda logam itu tergeletak di telapak tangannya di bawah cahaya lampu kamar.
Permukaan kusam yang memantulkan cahaya dengan cara yang tidak terlalu berkilap dan tidak terlalu redup — seperti benda yang sudah lama hidup di antara dua kondisi dan sudah berdamai dengan tidak menjadi sepenuhnya salah satu dari keduanya.
Ukiran yang tidak bisa ia identifikasi sebagai simbol apapun.
Dan di sisinya, dua huruf kecil yang cara pengukirannya persis sama dengan cara ia mengukir inisialnya sendiri di bawah laci meja belajar kontrakan lama.
*R.A.*
Rio menatap benda itu selama hampir satu menit penuh tanpa melakukan apapun.
Kemudian panel sistem menyala sendiri — bukan dengan warna emas, bukan merah, bukan putih. Biru tua yang sama dengan warna dua hari lalu.
**[Kunci Memori Tersegel Terdeteksi — Kontak Fisik Terkonfirmasi]**
**[Fragment 3/7 hingga 7/7 siap dibuka]**
**[Peringatan Terakhir Sistem: Membuka seluruh fragment sekaligus tidak bisa dibatalkan setelah dimulai.]**
**[Lanjutkan? Y/N]**
Rio menatap pilihan itu.
Y atau N.
Dua huruf yang sudah pernah ia hadapi sebelumnya dan sudah tahu bahwa sekali ia memilih Y, tidak ada tombol kembali yang bisa ditekan.
Ia melirik ke pergelangan kiri — kain jaket yang menutupi Abyssal Goddess Weaver yang sudah ada di sana sejak pagi. Melirik ke Wukong yang masih menatapnya dari kursi meja. Melirik ke serigala yang sudah menutup matanya tapi dari cara telinganya yang sedikit terangkat, jelas tidak tidur.
Tiga makhluk yang masing-masing membawa ingatan tentang seseorang yang sama.
Rio mengetik satu huruf.
**Y.**
Yang terjadi berikutnya tidak menyerupai apapun yang pernah ia alami dengan panel sistem selama ini.
Tidak ada teks yang muncul satu baris per satu baris. Tidak ada notifikasi yang berkedip berurutan. Tidak ada loading yang bertahap.
Semua fragment terbuka sekaligus — seperti seseorang membuka pintu yang sangat besar yang sudah lama terkunci, dan udara dari sisi seberang yang sudah lama tidak bergerak mendadak masuk semuanya dalam satu waktu.
Fragment 3 — teks singkat, tulisan yang lebih tergesa dari dua pesan sebelumnya:
**["Sistem ini bukan warisan. Ini titipan. Bedanya — warisan bisa kamu tolak. Titipan tidak bisa, karena titipan berarti ada seseorang yang sangat mempercayaimu untuk menyimpannya."]**
Fragment 4 — lebih panjang, lebih rapi, seperti ditulis di waktu yang berbeda ketika tangan yang menulisnya sudah lebih tenang:
**["Hana Soekarno bukan musuh yang sederhana. Ia bukan orang jahat dalam artian yang mudah dipahami. Ia percaya bahwa apa yang ia lakukan benar — dan itu membuatnya jauh lebih berbahaya dari seseorang yang tahu ia salah. Jangan hadapi ia dengan kekuatan sebelum kamu mengerti cara berpikirnya. Kekuatan tanpa pemahaman hanya akan memberinya amunisi untuk membenarkan dirinya sendiri."]**
Fragment 5 — sangat singkat, hampir terasa seperti catatan pinggir yang ditambahkan belakangan:
**["Wukong sudah mengenalmu sejak sebelum kamu mengenalnya. Percayai instingnya lebih dari instingmu sendiri dalam situasi yang tidak familiar."]**
Fragment 6 — informasi yang padat dan terstruktur, seperti briefing:
**["Ada lima orang yang tahu keberadaanku sebenarnya. Satu sudah meninggal. Satu berpihak ke Hana. Satu tidak tahu ia tahu. Satu menunggumu — kamu sudah menemukannya. Dan satu lagi ada di dalam sistem hunter tingkat paling atas yang bahkan Raymond tidak tahu keberadaannya. Nama kodenya: Langit Ketujuh."]**
Rio membaca fragment keenam itu dua kali.
*Satu menunggumu — kamu sudah menemukannya.*
Raymond.
Ia sudah menduga itu. Yang membuat tangannya berhenti sebentar di antara membaca fragment keenam dan membuka yang ketujuh adalah baris sebelumnya.
*Satu tidak tahu ia tahu.*
Siapa.
Fragment 7.
Yang terakhir.
Terbuka dengan cara yang berbeda dari enam sebelumnya — bukan teks yang muncul di panel sistem dengan warna biru tua, melainkan sesuatu yang sama sekali tidak Rio perkirakan dari sistem yang selama ini berkomunikasi hanya melalui tulisan.
Suara.
Bukan suara yang keluar dari speaker atau ponsel atau perangkat apapun di kamar ini.
Suara yang muncul langsung di dalam kesadaran Rio — bukan di telinga, bukan di kepala dalam artian fisik, melainkan di tempat yang lebih dalam dari keduanya, tempat yang tidak punya nama anatomis tapi setiap manusia tahu persis di mana letaknya karena suara yang paling penting dalam hidup mereka selalu datang dari sana.
Suara laki-laki.
Tidak tua, tidak terlalu muda. Tenang dengan cara yang tidak dibuat-buat, jenis ketenangan yang terbentuk bukan dari tidak pernah mengalami hal yang menakutkan melainkan dari sudah terlalu banyak mengalaminya dan menemukan cara untuk tetap berdiri sesudahnya.
Dan sangat familiar.
Familiar dengan cara yang tidak bisa dijelaskan oleh logika apapun karena Rio tidak memiliki satu pun memori tentang suara ini — tidak ada rekaman, tidak ada video, tidak ada apapun yang pernah ia dengar sebelumnya yang bisa menjadi referensi untuk otak mengenali suara ini sebagai suara yang sudah dikenal.
Tapi tubuhnya mengenalinya.
Dengan cara yang bekerja di tingkat yang jauh lebih dalam dari memori.
*"Rio."*
Satu kata.
Namanya.
Diucapkan dengan cara seseorang yang sudah lama ingin mengucapkannya dan akhirnya menemukan kesempatan, dengan kesabaran yang tipis di ujungnya — bukan tipis karena tidak cukup, melainkan tipis karena sudah menunggu terlalu lama dan tidak ingin membuang satu detik pun dari waktu yang ada.
Rio duduk sangat diam di tepi kasurnya.
Nafasnya masih ada — ia bisa merasakannya, teratur, keluar masuk — tapi seluruh perhatiannya sudah tidak ada di kamar ini lagi.
*"Kalau kamu mendengar ini, berarti Raymond sudah menemukanmu. Dan kalau Raymond sudah menemukanmu, berarti situasinya sudah cukup serius untuk kamu ketahui semuanya."*
Jeda singkat.
*"Aku tidak punya banyak waktu waktu merekam ini. Jadi aku akan langsung ke intinya."*
*"Sistem yang aktif di dalam dirimu bukan warisan keluarga biasa. Ini adalah sistem yang aku bangun selama dua puluh tahun — bukan dengan kemampuan yang aku punya dari lahir, melainkan dengan sesuatu yang jauh lebih membosankan dari itu. Kerja keras, kesalahan yang terlalu banyak untuk dihitung, dan satu keyakinan sederhana bahwa dunia ini bisa menjadi tempat yang lebih baik dari yang ia tampilkan sekarang."*
*"Hana Soekarno mengambilku dari dunia bukan karena ia takut padaku. Ia takut pada apa yang akan terjadi kalau dunia tahu bahwa sistem setingkat ini bisa ada. Bahwa batas antara tier normal dan tier yang seharusnya tidak bisa dicapai manusia — bisa ditembus. Bukan dengan bakat. Bukan dengan darah. Tapi dengan cara yang tidak bisa ia kendalikan dan tidak bisa ia jual."*
Suara itu berhenti sebentar.
Ketika kembali, ada sesuatu di dalamnya yang sedikit berbeda dari tadi — sedikit lebih pelan, sedikit lebih berat.
*"Aku menitipkan sistem ini kepadamu bukan karena kamu anakku. Aku menitipkannya kepadamu karena dari semua kemungkinan yang aku perhitungkan, kamu adalah orang yang paling tidak akan menggunakannya untuk hal yang salah. Bukan karena kamu sempurna — kamu pasti jauh dari sempurna, aku sudah cukup mengenali diriku sendiri untuk tahu itu."*
Sesuatu yang terdengar hampir seperti tawa singkat — sangat singkat, sangat pelan.
*"Tapi karena cara kamu berpikir. Cara kamu mengambil keputusan. Cara kamu memperlakukan makhluk-makhluk yang dunia ini anggap tidak berguna."*
*"Wukong sudah bersamamu. Aku tahu itu karena sistem tidak akan aktif sepenuhnya tanpa kontrak pertama terbentuk. Dan kalau Wukong memilihmu — itu konfirmasi yang lebih valid dari apapun yang bisa aku tuliskan di sini."*
Di pundak Rio, Wukong turun dari kursi meja belajar dengan sangat pelan.
Berjalan ke tepi kasur.
Duduk di samping Rio dengan jarak yang sangat dekat — lebih dekat dari biasanya, jarak yang dalam dua minggu ini tidak pernah Wukong ambil secara sukarela karena si kera selalu menjaga sedikit ruang di antara mereka.
Malam ini tidak.
Malam ini Wukong duduk dengan bahunya hampir menyentuh sisi kaki Rio, menatap ke depan ke arah yang sama dengan Rio menatap, diam dengan cara yang bukan keheningan kosong melainkan kehadiran yang sangat penuh.
Rio tidak bergerak.
Suara ayahnya kembali — dan kali ini ada sesuatu di paling ujungnya yang berbeda dari semua yang sebelumnya. Lebih tipis. Lebih manusiawi dalam artian yang paling sederhana dari kata itu.
*"Ada satu hal yang ingin aku katakan yang tidak ada hubungannya dengan sistem, dengan Hana, dengan misi apapun yang mungkin sedang kamu hadapi sekarang."*
*"Aku minta maaf karena tidak ada."*
*"Bukan karena pilihan. Aku ingin kamu tahu itu dengan jelas — bukan karena aku memilih untuk tidak ada. Tapi kenyataannya tidak mengubah fakta bahwa kamu tumbuh tanpaku. Dan untuk itu, tidak ada justifikasi yang cukup."*
*"Kamu mungkin marah. Kamu berhak marah."*
*"Tapi kalau kamu bisa — dan aku tidak memaksamu untuk bisa — percayai Raymond. Ia bukan orang yang sempurna dan ia punya keputusan-keputusan masa lalu yang ia sendiri tidak bangga padanya. Tapi dari semua orang yang pernah aku kenal, ia adalah satu-satunya yang tidak pernah sekalipun berbohong kepadaku tentang hal yang penting."*
Satu jeda terakhir.
Lebih panjang dari yang sebelumnya.
*"Jaga dirimu, Rio. Jaga squad-mu."*
*"Dan kalau suatu hari kamu bisa — temukan aku."*
Suara itu berhenti.
Tidak memudar, tidak ada efek akhir apapun. Hanya berhenti, seperti seseorang yang selesai berbicara dan meletakkan mikrofon dengan sangat tenang di atas meja.
Panel sistem menutup dirinya sendiri.
Biru tua hilang.
Kamar kembali ke kondisi normalnya — lampu yang sama, dinding yang sama, langit-langit yang retak di sudut kiri atas, kipas angin di meja yang berputar dengan ritme yang tidak konsisten.
Semuanya persis sama dengan dua puluh menit lalu sebelum Rio membuka kepalan tangannya dan memilih Y.
Kecuali satu hal.
Di pergelangan kiri Rio, melalui kain jaket yang sudah ia turunkan sejak pulang dari kafe, ia merasakan tekanan yang sangat berbeda dari biasanya.
Delapan kaki yang biasanya menekan dengan sentuhan ringan seperti benang — malam ini menekan dengan berat yang masih ringan tapi memiliki kesengajaan yang tidak pernah ada sebelumnya.
Seperti seseorang yang sedang memegang tanganmu bukan karena membutuhkan pegangan, melainkan karena mengerti bahwa kamu mungkin yang membutuhkannya.
Rio menatap pergelangan kirinya.
Kemudian menatap Wukong yang masih duduk di sampingnya tanpa bergerak.
Kemudian ke serigala di pojok jendela yang matanya sekarang terbuka, menatap Rio dengan cahaya kuning pucat yang tenang.
Tiga makhluk yang masing-masing, dengan caranya sendiri yang sangat berbeda satu sama lain, sedang melakukan hal yang sama — hadir. Hanya hadir, tanpa kata-kata, tanpa gestur yang berlebihan, tanpa mencoba mengisi keheningan yang mungkin memang tidak perlu diisi.
Rio menarik napas panjang.
Menghembuskannya pelan.
Benda logam di telapak tangan kanannya masih terasa berat dengan cara yang tidak proporsional dengan ukurannya, tapi berbeda dari berat tadi — bukan berat yang menekan ke bawah, melainkan berat yang terasa seperti sesuatu yang nyata. Sesuatu yang bisa dipegang. Sesuatu yang tidak akan hilang kalau ia tidak menggenggamnya cukup kuat.
Pukul sembilan malam Rio berdiri dari tepi kasur.
Berjalan ke meja, membuka laci paling bawah, dan meletakkan benda logam itu di sana — di antara buku catatan lama dan satu set baterai AA yang belum dibuka karena tidak ada yang butuh baterai di kamar ini.
Menutup laci.
Mengambil ponselnya. Membuka percakapan dengan Raymond.
Mengetik satu kalimat dengan ibu jari kiri karena tangan kanan masih tidak terasa sepenuhnya miliknya malam ini.
*Tujuh pesan sudah dibuka semua. Besok saya punya pertanyaan.*
Kirim.
Jawaban dari Raymond datang dalam empat puluh detik — kecepatan yang menunjukkan bahwa pria itu sedang menunggu kabar ini.
*Saya siap. Kapanpun.*
Rio meletakkan ponselnya, berbaring di kasur, dan menatap langit-langit.
*Temukan aku.*
Dua kata dari pesan terakhir yang masih bergema di tempat yang lebih dalam dari telinga.
Di mana seseorang yang sudah tiga belas tahun disembunyikan oleh orang paling berkuasa di dunia hunting negara ini sedang menunggu — entah di mana, entah dalam kondisi apa, dengan kesabaran yang mungkin sudah sangat tipis tapi belum habis karena masih ada sistem yang ia titipkan dan sistem itu baru saja menemukan orang yang harus membawanya.
Rio menutup matanya.
Di pergelangan kirinya, tekanan delapan kaki yang ringan masih ada.
Masih menekan dengan kesengajaan yang sama.
Masih di sana.
**[Abyssal Goddess Weaver — 58.4%]**
Rio membaca angka itu di balik kelopak mata yang tertutup — panel sistem yang muncul tanpa diminta, seperti pengingat bahwa di tengah semua yang baru saja ia proses, ada juga hal-hal yang terus bergerak maju dengan ritmenya sendiri tanpa peduli apakah pemilik sistemnya sedang siap atau tidak.
Dunia tidak berhenti untuk memberi seseorang waktu memproses berita besar.
Dan Rio — yang sudah sangat lama terbiasa dengan fakta itu — memutuskan bahwa malam ini tidak apa-apa kalau ia tidak langsung siap.
Besok masih ada.
Besok ia akan punya pertanyaan untuk Raymond. Besok panel sistem akan menampilkan update baru. Besok Kevin mungkin melakukan sesuatu, Arinda mungkin selangkah lebih dekat, Hana Soekarno — nama yang baru tiga jam lalu menjadi wajah konkret dari ancaman yang selama ini hanya berbentuk kabut di tepi kalkulasinya — mungkin sudah bergerak ke arah yang belum bisa ia prediksi.
Semua itu ada di besok.
Malam ini hanya ada satu hal yang perlu Rio lakukan.
Tidur.
Dan mungkin, di antara tidur dan terjaga, membiarkan suara yang baru saja ia dengar untuk pertama kalinya dalam hidupnya itu tinggal di tempat yang dalam tadi — tidak didorong keluar, tidak terlalu dipegang erat.
Hanya dibiarkan ada.
Seperti hal-hal yang memang milikmu dari awal tapi baru kamu temukan sekarang — tidak perlu terburu-buru dimengerti, tidak perlu langsung ditempatkan di suatu tempat yang tepat.
Cukup diakui.
Bahwa ia ada.
#Sistem #Action #Pet #Urban #Rebirth #Overpowered #Fantasy
semangat upnya thor
semangat dah tak krim kopinya👍
klo bsa up besok 2 chpter🤣