Sebuah misi yang di emban oleh dua saudara kembar tak identik. Namun, mereka memegang misi yang berbeda-beda. Bahkan, mereka pun terpisah oleh sebuah tragedi yang menimpa mereka semasa kecil.
Lalu, akankah mereka kembali di pertemukan oleh takdir yang saling berkaitan?
Apa jadinya bila seorang kakak kandung mencintai kembarannya sendiri?
Semua itu akan tersaji dalam sebuah kisah 'Misi Rahasia Si Kembar'.
Selamat membaca!
Terima kasih atas idenya pembaca setiaku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria Diana Santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berkabut Duka Berselimut Luka
Bukan ingin mengabaikan, bukan pula ingin menjauhkan diri dari pertemuan. Hanya saja, Mi Kyong tak mau membuat dirinya semakin terlena dan dilema.
“Eum ... alasseo. Ihaehabnida. Appa na ajig bakk-e issdago malhaji maseyo. God galge.” ucap Mi Kyong dengan seseorang di balik layar ponselnya.
{Emm ... baiklah. Aku mengerti. Jangan bilang pada ayah kalau aku masih di luar. Aku akan sampai sebentar lagi.}
“Alasseo, Agassi. Hajiman, ibeon-eneun dasineun geuleoji mal-ajuseyo! Hal su issjyo, Agassi?” tanya Do Hyun yang tak mendapat jawaban dari si lawan bicaranya.
{Baik, Nona. Tapi, mohon kali ini jangan seperti tadi lagi! Bisa, ‘kan, Nona?}
Mi Kyung sengaja menutup sepihak teleponnya. Terlalu panjang dan ia sungguh muak di minta untuk meng-iyakan, permintaan Do Hyun padanya.
Dulu sudah lama sekali, Mi Kyong telah mendapatkan ilmu beladiri. Akan tetapi, semenjak ia menentang titah sang ayah. Ia pun melupakan semua ilmu yang telah ia kuasai.
“Sigan-eul doedollil suman issdamyeon... naega geuui Appaneun adeul-ilaneun neukkim-eul badgo sipji anhseubnida. Jeongmal pigonhago gaseum-i dabdabhaejineun neukkim-eul cham-eul su eobs-seubnida. Modeun geos-i naleul neomu goelobge mandeubnida.” sesalnya yang tiada berguna.
{Andai ... saja, waktu bisa ku ulang kembali. Tak ingin rasanya aku menjadi anaknya ayah. Aku sungguh lelah dan tak kuasa menahan rasa di dada. Semuanya begitu membuatku tersiksa.}
Namun, sejak ia berpikir ulang akan ucapannya yang baru saja terlontar. Dengan tanpa perasaan, bibirnya pun berujar.
“Migyeong... jeongsin nagass-eo?! I bulsunjonghaneun aiya! Geuneun seuseuloleul kkujij-eossda. Meolileul ttaelineun bansa dongjagdo ij-ji anhgo lieolhage mandeul-eossda.”
{Mi Kyong ... apa kau sudah tidak waras, hah?! Dasar anak durhaka!} hardiknya pada diri sendiri. Tak lupa pula gerakan refleks memukul kepala, ia wujudkan dengan nyata.}
Sesekali ia melihat ke belakang, barangkali Habib masih setia mengikuti. Kendatipun ia sebenarnya tak ingin lari. Tapi, mau bagaimana lagi? Semuanya harus terjadi seperti ini.
Jalanan kota Seoul yang cukup padat. Tak sekalipun menyurutkan rasa keingintahuan Habib. Lelaki itu terus menelusuri jalan yang dilalui oleh sosok gadis yang ia yakini bahwa, itu adalah Mi Kyong.
Akan tetapi, hasil pencariannya itu, "nihil" sebuah kata yang menggambarkan tak adanya hasil.
“Mi Kyong ... kenapa aku jadi teringat akan dirimu? Seharian ini otakku selalu di penuhi oleh bayangan wajahmu. Astaghfirullah ... ampunilah hamba yaa, Allah ...!” ucap sesal Habib akan pemikirannya, yang telah porak-poranda karena seorang wanita.
Habib merotasi ‘kan pandangan matanya, tepat ke arah jam yang melingkar sempurna di pergelangan tangan. Ia sontak berujar, “Aku hampir terlambat. Sudah waktunya untuk bekerja.” ucapnya tergesa-gesa.
Langkah panjang pun ia terapkan, agar tak tertinggal kendaraan umum yang sering di gunakan.
...----------------...
Kembali dengan hati yang telah coba ia kuatkan. Mi Kyong kali ini mengajak Do Hyun untuk adu serangan dan strategi.
“Ibeon-eneun dangsin-ege jinjeonghan ssaum-eul jul geos-eul yagsoghabnida. Geuleoni gyeong-gyeleul neujchuji masibsio. Gyeong-gyeleul neujchumyeon. Geuleoni simhage dachyeossdago tashaji maseyo.” ucap sarkas Mi Kyong tanpa memandang lawan bicaranya.
{Kali ini aku berjanji akan memberikanmu perlawanan yang sesungguhnya. Jadi jangan sampai kau lengah. Jika kau lengah. Maka jangan salahkan aku bila nanti kau terluka parah.}
Gadis itu tampaknya sudah memakai mode seriusnya. Kali ini dia tak terlihat menyedihkan seperti tadi.
Apakah ini efek dari pertemuannya dengan seorang anak manusia?
Lebih tepatnya, seorang anak manusia yang berwujud sebagai seorang pria.
Mi Kyong sibuk mengencangkan sabuknya. Sementara, Do Hyun hanya memperhatikan tingkah nona mudanya.
“Najung-e gyeoltuhal ttae geuege gulboghaeya habnikka? Geuga ibeon-eneun jeongmal nawa ssaul geos-inga? A andwae! Yejeoncheoleom tto dachindamyeon? Geuleom eotteohge haeya halkkayo?” batin Do Hyun berkecamuk dengan beragam pertanyaan di dalam pikirannya.
{Haruskah, aku mengalah saja padanya nanti saat kami berduel? Apakah kali ini dia akan bersungguh-sungguh melawanku? Ah, tidak! Bagaimana bila nanti dia terluka lagi seperti tadi? Lalu, apa yang harus aku lakukan?}
“Junbihala Dohyeon-a ...! Kkeutnaejulge!” pekik Mi Kyong sebelum ia menerjang Do Hyun.
{Bersiaplah Do Hyun...! Akan ku habisi kau!}
Wanita bila sudah berkabut ‘kan amarah. Maka siapapun pasti akan celaka bila menghadapinya. Jika tidak terluka, ya mungkin itu karena Dewi Fortuna masih melindunginya.
Akankah Do Hyun pasrah?
Atau ... apakah dia lebih memilih melarikan diri saja? Ketimbang meladeni permainan sang nona yang sedikit menggila.
“Agassi... han nun-e dohyeon-eulo jeoleul bwajuseyo! Nun kkamjjaghal saie jug-yeoya haneun geos-eun jeog-i anibnida.” Lolos sudah kalimat yang menggambarkan ketakutan Do Hyun pada Mi Kyong. Ungkapan hati yang sejak tadi dipendamnya.
{Nona... setidaknya lihatlah aku sebagai Do Hyun sekilas saja! Bukan musuh mu yang perlu kau bunuh dalam satu kedipan mata.}
Tanpa ampun Mi Kyong menghajar Do Hyun. Sorot matanya yang berkabut duka dan hatinya yang berselimut luka. Mampu menghajar si pengawal setia.
Bugh ....
Bugh ....
Bugh ....
Beberapa pukulan yang Mi Kyong layangkan, memberikan cap stempel warna yang mengerikan. Wajah tampan Do Hyun berhasil ia hancurkan dengan tiga kali pukulan saja.
Bayangkan bila Mi Kyong tak dapat menghentikan aksinya. Bagaimana nasib Do Hyun selanjutnya, ya?
Entahlah!
Mungkin Do Hyun akan berbaring di rumah sakit untuk waktu yang cukup lama.
“Dohyeon-i... ssauji anh-eullae, eung? Naega neomu gwahan geolkka? Igeo jeongmal apeunayo? Malhaebwa dohyeon? Chimmughaji ma!” tanya Mi Kyong panjang lebar. Ketika melihat Do Hyun terkapar.
{Do Hyun... kenapa kau tidak memberikan perlawanan, hah? Apakah aku sangat keterlaluan? Apakah ini sangat sakit? Katakanlah sesuatu padaku Do Hyun? Jangan diam saja!}
Panik!
Ya, tentu saja gadis itu amat panik.
“Uhuk ... uhuk ... uhuk ...!” Tak menjawab, Do Hyun malah terbatuk-batuk, melihat raut panik nona mudanya.
“Dohyeon-a ... mwohae? Mwo ... gwaenchanh-a? Joesonghabnida! nan jeongmal dangsin-eul dachige hal uidoga ani eoss eo yo. jinjja!” sesalnya dalam posisi yang menunduk karena rasa bersalah.
{Do Hyun... kau kenapa? Apa ... Apa kau baik-baik saja? Maaf! Aku sungguh tidak bermaksud mencelakai mu. Sungguh!}
“Geugeos-eun jung-yohaji anhseubnida. Jal jinaeyo. Yaggan hyeongijeung-i nanda. Geu ttae dangsin-eun hullyunghaessseubnida, Agassi. Geu neunglyeog-eul jikyeojuseyo, Agassi. Miseuui abeojiwa ssaugo sip-eohaneun jeogdeul-i manh-eul geos-ida. Geuleoni deo yeolsimhi gongbuhaseyo. Igeos-eun aju joh-eun sijag-ibnida.
{Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Hanya sedikit pusing. Tadi itu, kau sungguh luar biasa, Nona. Pertahankan kemampuanmu itu, Nona. Akan ada banyak musuh yang ingin melawan ayah Nona. Jadi, belajarlah lebih giat lagi. Ini awal yang sangat bagus.}
Mi Kyong masih tertunduk dan menyesali perbuatannya terhadap Do Hyun.
Do Hyun menelusuri pipinya dengan jari-jemarinya. Menapaki wajahnya yang lebam dengan jempol dan telunjuknya. Jari jempol ia letakkan pada bibirnya yang berdarah. Sedangkan telunjuknya ia gunakan untuk meraba lebam pada bagian pipinya.
“Yeogiwa! Dowajuseyo, Agassi. Jeo ... jeoleul delyeoga juseyo. Gwaenchanh-euseyo, Agassi?”
{Kemarilah! Bantu aku berdiri, Nona. Aku... Ingin kau memapah ku. Apakah kau keberatan, Nona?}
“Gwaenchanh-a. Hajiman, geuleon siseon-eun geuman! Dangsin-i nal geuleohge chyeodaboneun ge silh-eoyo. Almyeon jjajeungnanda!”
{Baiklah. Tapi, berhentilah menatapku seperti itu! Aku tidak suka kau menatapku begitu. Menyebalkan tahu!}
...----------------...
yang terakhir adalah Aku Mencintaimu dan Menyukai Semua Bab Awal-Akhir 😍😘😘👌🏻
sama donk kitaa😅