Saat ajalnya tiba di tengah kobaran api dan puing Suku Serigala, Yana diberi kesempatan kedua oleh Dewa Binatang.
Ia terbangun di usianya yang ke-16—tepat dua bulan sebelum tragedi berdarah itu merenggut nyawa ayahnya dan meratakan tanah kelahirannya.
Namun, ancaman terbesar bukanlah monster, melainkan seorang gadis dari dunia lain yang mengaku sebagai "Wanita Suci". Berkedok kemajuan modern, ide-idenya justru merusak keseimbangan alam dan memicu perang antarsuku.
Siapakah sebenarnya sang Wanita Suci pilihan Dewa Binatang yang sesungguhnya? Mampukah Yana menyembunyikan identitasnya demi menyelamatkan sukunya tepat waktu?
Ikuti perjuangan Yana menembus batas takdir dan selamatkan dunia binatang sebelum semuanya terlambat! Baca selengkapnya sekarang di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Roditya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 — Jejak di Hutan Utara
Fajar menyingsing di atas pegunungan utara saat rombongan Suku Serigala bersiap meninggalkan pemukiman Suku Elang. Lima puluh mata tombak besi dan dua puluh pelindung dada besi—hasil Perjanjian Besi dan Darah yang dicapai Yana—terikat rapi di atas dua orang suku elang.
Aron berdiri di depan benteng batu, bertukar jabat tangan hangat dengan Panglima Vargas.
"Kirimkan pasokan obat-obatan dari Lembah Bintang pekan depan, Aron," ujar Vargas tegas. "Pandai besi kami akan mulai menempa sisa pesanan senjata besi milik kalian."
"Pasti, Vargas," jawab Aron penuh wibawa. "Aliansi ini akan menjaga kita berdua melewati musim dingin."
"Yana..." panggil Luka pelan, suaranya hampir tertelan angin pagi. "Soal perkataanku kemarin... aku—"
Yana membalikkan badan, menatap Luka dengan mata abu-abu kehijauannya yang dingin. "Simpan permintaan maafmu, Luka. Kita punya perjalanan panjang untuk kembali ke suku. Simpan tenagamu untuk menjaga kereta senjata ini."
Luka terdiam, menggigit bibirnya rapat-rapat saat Yana meninggalkannya begitu saja untuk berjalan di barisan depan bersama ayahnya dan Paman Bimo.
Perjalanan kembali ke pemukiman Suku Serigala menempuh waktu sehari penuh. Namun, kebanggaan dan kelegaan melingkupi para prajurit.
Membawa kembali aliansi kuat dan senjata besi mutakhir adalah pencapaian terbesar yang belum pernah terjadi dalam sejarah Suku Serigala.
Ketika matahari mulai condong ke barat dan garis pemukiman Suku Serigala terlihat di balik bukit, gema sorak-sorai warga suku menyambut mereka.
Nenek Greta, Tetua Gordon, dan Bibi Nora berdiri di depan gerbang kayu utama. Warga berkumpul riuh saat melihat peti-peti berisi senjata besi diturunkan dari kereta.
"Dewa Binatang melindungi kita!" seru Bibi Nora gembira saat melihat Aron dan Yana kembali tanpa luka. "Kalian berhasil membawa aliansi dari Suku Elang!"
Tetua Gordon melangkah mendekati Yana dan Aron. Mata kelabu sang tetua tertuju pada kilatan senjata besi di dalam peti, lalu beralih menatap Yana dengan rasa takjub yang makin tebal.
"Kamu benar-benar membawa perubahan besar bagi suku kita, Yana," gumam Tetua Gordon pelan.
Namun, sebelum perayaan kepulangan mereka meluas, dua orang pemburu patroli berlari kencang dari arah hutan utara dengan wajah pucat pasi dan napas terengah-engah!
"Kepala Suku! Paman Bimo!" teriak salah satu pemburu patroli bernama Dirga.
Aron langsung berbalik, memasang wajah siaga. "Dirga? Ada apa? Kenapa kalian berlari seperti dikejar binatang buas?!"
Dirga berhenti di tengah lapangan, memegang lututnya yang gemetar. "Kami... kami baru saja menemukan hal aneh di batas hutan utara, dekat area pohon cemara perak!"
Seluruh warga yang tadinya bersorak mendadak hening seketika. Suasana di lapangan desa berubah tegang.
Paman Bimo melangkah maju. "Jelaskan yang jelas, Dirga! Apa yang kalian temukan? Beruang Es atau kelompok penyamun?"
"Bukan, Paman!" potong pemburu kedua. "Bukan binatang buas! Kami menemukan jejak orang asing!"
Mendengar itu, gumaman cemas langsung menyebar di antara warga suku. Yana tersentak hebat di tempatnya berdiri. Tangannya di dalam mantel kulit mengepal rapat hingga buku-buku jarinya memutih.
'Jejak manusia asing... di utara?' batin Yana, jantungnya berdegup kencang berpacu dengan rasa panik yang membakar.
"Jejak seperti apa?" pangkas Aron cepat dan tegas.
Dirga merogoh kantong kulit di pinggangnya, lalu mengeluarkan sepotong kain kecil dan meletakkannya di atas meja batu.
"Kami menemukan bekas pijakan kaki yang sangat kecil di atas es. Dan sepotong kain ini... tersangkut di rimbun semak berduri," jelas Dirga.
Tetua Gordon mengambil potongan kain itu. Kain tersebut berwarna putih bersih, terasa sangat halus, dan terbuat dari serat sintetis modern—jenis kain yang sama sekali tidak ada di dunia binatang ini!
Yana membelalakkan matanya saat melihat kain itu. Itu adalah kain dari pakaian wanita modern! Pakaian yang dikenakan oleh gadis transmigrator itu di kehidupan pertamanya!
'Tidak mungkin... Kenapa dia datang sekarang?!' jerit Yana di dalam hatinya.
Di kehidupan sebelumnya, gadis asing itu ditemukan 5 pekan lagi. Namun sekarang, berkat perubahan takdir dan aliansi yang dibuat Yana, rentetan peristiwa bergeser lebih cepat! Sang musuh utama telah menginjakkan kaki di perbatasan tanah mereka!
"Jejak itu mengarah lurus ke dalam celah Hutan Hitam di utara," tambah Dirga.
Paman Bimo menghentakkan kakinya. "Ini tidak wajar! Berjalan sendirian di Hutan Hitam saat sore hari sama saja dengan bunuh diri! Bisa jadi ini mata-mata dari suku asing!"
Aron menatap potongan kain putih itu dengan raut wajah yang sangat serius. Sebagai Kepala Suku, ia tidak boleh membiarkan ancaman tak dikenal mendekati benteng mereka.
"Bimo, Dirga, dan tiga pemburu terbaik!" perintah Aron lantang, suaranya menggema di seluruh lapangan. "Siapkan obor dan senjata besi baru kita! Kita akan membentuk kelompok pencari. Kita akan menyisir Hutan Hitam sebelum malam makin pekat!"
"Siap, Kepala Suku!" balas Paman Bimo tegas.
Mendengar ayahnya akan memimpin langsung kelompok pencari untuk memburu jejak gadis transmigrator itu, Yana langsung melangkah maju dan berdiri tepat menutupi jalan ayahnya.
"Ayah! Biarkan aku ikut dalam kelompok pencari itu!" seru Yana dengan nada memohon.
Seluruh orang di lapangan terkejut.
Luka yang berdiri di dekat peti senjata melotot kaget.
"Yana! Kamu baru saja pulang dari perjalanan jauh dari Suku Elang!" tegur Luka keras. "Hutan Hitam di utara sangat berbahaya saat malam! Kamu tidak bisa bertindak sesuka hatimu!"
Yana sama sekali tidak melirik Luka. Matanya menatap lurus pada ayahnya. "Ayah, aku tahu tanaman obat dan rute celah batu di utara! Jika orang asing itu terluka, pengetahuanku sangat dibutuhkan di sana!"
Yana tahu betul, jika ayahnya menemukan gadis transmigrator itu sendirian di hutan dalam keadaan terdesak, kebaikan hati Aron akan membuat ayahnya merawat gadis itu dan membawanya masuk ke dalam pemukiman Suku Serigala! Yana harus ada di sana untuk menghentikan kebohongan gadis itu sejak detik pertama!
Aron menatap Yana dengan alis berkerut rapat. "Tidak!"
"Tapi Ayah—"
"Aku bilang TIDAK, Yana!" pangkas Aron penuh wibawa seorang pemimpin suku, ia menepuk bahu putrinya pelan. "Bantu Bibi Nora merapikan senjata besi ini. Ini perintah Kepala Suku."
Aron segera berbalik, tidak memberi ruang sedikit pun untuk perdebatan lagi.
Yana berdiri mematung di tepi lapangan. Ia menyaksikan bayangan obor ayahnya perlahan melenyap ditelan kegelapan rimba cemara.
'Aku tidak boleh membiarkan Ayah tertipu oleh raut wajah polos gadis itu...' batin Yana. 'Gadis transmigrator itu adalah racun yang akan menghancurkan suku ini dari dalam. Jika Ayah melarangku... maka aku akan berjalan di balik bayang-bayang!'
Yana membalikkan badan dengan cepat, melangkah masuk ke dalam guanya dengan tenang agar tidak memicu kecurigaan warga lain.
Di dalam kegelapan guanya, Yana mengambil belati berburu dari besi yang baru ia dapatkan dari Suku Elang, menyematkannya di pinggang, lalu mengenakan mantel kulit berbulu serigala hitam yang tebal.
Ia menyelinap keluar melalui celah tebing belakang pemukiman—rute rahasia yang terhindar dari pengawasan para penjaga gerbang.
Yana mengencangkan ikatan mantelnya, memfokuskan pandangan mata abu-abu kehijauannya di dalam kegelapan malam, lalu melompat menuruni bebatuan es.
Dengan tekad bulat dan keberanian baja, Yana mulai membuntuti kelompok pencari ayahnya secara diam-diam menuju jantung Hutan Hitam!