NovelToon NovelToon
Ages Sabiru,Duda Kaya Itu Ayahku

Ages Sabiru,Duda Kaya Itu Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: R²_Chair

Sejak istrinya memilih pergi demi pria lain, hidup Ages Sabiru hanya memiliki satu tujuan yaitu membesarkan putra semata wayangnya, Kalandra Sabiru. Dengan kasih sayang yang tak pernah berkurang, Ages berusaha menjadi ayah sekaligus tempat pulang terbaik bagi anaknya.
Tahun demi tahun berlalu. Kalandra tumbuh menjadi remaja yang ceria, sementara Ages menjelma menjadi sosok ayah yang selalu mengutamakan putranya di atas segalanya. Di balik candaan, sarapan sederhana, dan perjalanan pulang bersama, tersimpan ikatan yang tak tergantikan.
Namun, ketika masa lalu yang telah lama mereka tinggalkan kembali muncul, hubungan ayah dan anak itu akan diuji. Mampukah cinta dan kepercayaan yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun bertahan menghadapi kenyataan yang selama ini disembunyikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kalandra dan kebahagiaannya

Malam nya, rumah keluarga Sabiru dipenuhi suasana hangat.Makan malam keluarga digelar untuk merayakan kelulusan Kalandra sekaligus mempersiapkan langkah barunya menuju SMA Orion,sekolah yang sama dengan Sean.

Meja makan dipenuhi berbagai hidangan kesukaan Kalandra.Ada ayam panggang, pasta, kentang, sampai kue cokelat yang sengaja dibuat Tamara.

Kalandra duduk di antara Ages dan Sean.

Sementara Arsen dan Tamara berada di seberang mereka.

"Untuk Kalandra." Ages mengangkat gelasnya."Selamat atas kelulusanmu.Semoga sekolah baru nanti menjadi awal yang lebih baik."

Semua ikut mengangkat gelas. "Selamat,adek!"

Kalandra tersenyum lebar. "Terima kasih semuanya."

Sean langsung menyela. "Jangan senang dulu lo,dek.SMA nanti tugasnya lebih banyak."

Kalandra melirik kakaknya. "Bang Sean ngomong kayak yang pernah rajin ngerjain tugas aja.."

"Hei! dasar adek ngeselin lo!"

Semua tertawa,perdebatan kaka adik itu memanglah sebuah hiburan bagi ketiga orang dewasa itu.

Setelah makan malam selesai, Ages berdiri. "Sebelum kue dipotong, ada sesuatu buat kamu."

Kalandra mengernyit. "Apalagi?"

Ages memberi isyarat kepada salah satu staf keluarga.

Tak lama kemudian, pintu garasi terbuka.Dari kejauhan terlihat sebuah mobil sport baru terparkir rapi.

Mata Kalandra langsung membesar. "Pap..."

Sean bersiul pelan. "Wow."

Arsen tertawa. "Adikmu naik level. Bang."

Kalandra berjalan mendekati mobil tersebut. "Pap,ini..."

Ages tersenyum. "Hadiah kelulusan."

"Serius?" Tanya nya memastikan.

"Iya."

Kalandra mengitari mobil itu dengan wajah tidak percaya."Untuk aku?"

"Untuk siapa lagi?"

Kalandra tertawa lebar."Makasih, Pap!" Ia langsung memeluk Ages.

Namun Arsen segera mengingatkan. "Mobilnya boleh,tapi tetap ada aturan.Enggak boleh ugal-ugalan."

Ages mengangguk. "Dan untuk sementara jangan bawa sendiri tanpa izin."

Kalandra langsung menghela napas."Pap...katanya hadiah tapi kok banyak syaratnya."

Tamara tertawa. "Namanya juga orang tua,selalu ingin melindungi anaknya.

Sean berdehem bahkan pura-pura batuk membuat semuanya langsung menoleh. "Apakah aku hanya anak tiri " Ucapnya sedih.

Arsen merotasi matanya,ia tau akan seperti ini.Namun ia tidak ingin ikut campur.Masalah mobil itu keputusan adiknya,jadi biarkan adiknya lah yang menyelesaikannya.

Kala tertawa. "Lo anak pungut,bang!"

Sean langsung melotot. "Kala kampret! Mulut lo ya...nistain abang sendiri."

Kala semakin tertawa keras,begitupun para orangtua.

"Gak adakah reward buat abang " Tanyanya pada Ages dan Arsen.

Ages mengusap kepala Sean. "Om belum beli buat kamu,soalnya om bingung kamu suka model seperti apa.Jadi besok kamu bisa pilih sendiri modelnya yang kamu suka."

Sean terkejut mendengarnya. "Serius Om Pap? Gak prank kan?"

Ages mengangguk. "Sebagai hadiah karena Abang selalu jaga Kala."

Sean langsung melompat senang dan memeluk Ages. "Makasih Om Pap,abang janji akan selalu jaga adek."

Arsen mendelik. "Ada mau nya aja,bapak lo di lupain."

"Sorry Pak Arsen,saya realistis.Siapa yang menguntungkan maka dia lah yang saya sayang."

Kala kembali tertawa mendengarnya,apalagi melihat wajah kesal Arsen.

Tamara dan Ages hanya bisa menahan senyum melihat perdebatan ayah dan anak itu.

Beberapa saat kemudian, suasana kembali serius.Kalandra duduk sambil memegang gelasnya.

"Pap."

"Hm?"

"Aku mau ngomong sesuatu."

Ages langsung memperhatikan."Apa?"

"Pas masuk SMA nanti..."

Kalandra menatap Arsen, Tamara, Sean, lalu kembali kepada Ages. "Aku mau identitasku tetap disembunyikan."

Semua terdiam.

"Disembunyikan?" tanya Arsen.

Kalandra mengangguk. "Aku enggak mau orang-orang tahu aku anak Papa.Apalagi soal perusahaan Sabiru."

Ages memahami maksudnya."Kenapa?"

Kalandra menarik napas. "Aku pengen punya teman yang benar-benar tulus.Aku enggak mau ada orang yang mendekat karena tahu aku anak pemilik perusahaan besar."

Kala menyandarkan punggunggnya."Aku juga enggak mau mereka tahu kalau suatu hari nanti aku yang mungkin menjadi penerus dari Sabiru Cyber Tech."

Sean tersenyum kecil. "Mirip gue banget."

Kalandra mengangguk. "Makanya aku juga minta tolong sama Bang Sean.Kalau ada yang nanya tentang keluarga, jangan cerita."

Sean mengangkat dua jempol.

"Tenang.Gue sudah pengalaman,mereka juga gak tau gue anaknya Bapak Arsen Sabiru pemilik Sabiru Digicorp."

Tamara tersenyum bangga."Bagus.Kalian harus tahu kapan nama keluarga digunakan dan kapan tidak."

Kalandra menatap Ages."Boleh kan,pap?"

Ages diam beberapa detik.Kemudian tersenyum."Tentu.Selama kamu tidak menggunakan nama keluarga untuk mendapatkan keuntungan.Tapi sekolah tetap tahu data resmi yang memang wajib mereka ketahui, Papa tidak akan memaksamu memperkenalkan diri sebagai anak Papa,tapi kamu tenang saja walaupun pihak sekolah tau identitasmu tapi tidak semua mengetahuinya,mungkin hanya kepala sekolah dan komite saja yang tau,untuk para tenaga pengajar dan staf mereka tidak akan tau karena sekolah mu nanti berada di bawah naungan yayasan mami mu yang otomatis semua bisa di atur."

Kalandra tersenyum lega."Serius?"

"Serius."

"Keren! Ternyata Mami Kala sultan ya."

Sean menoyor kepala Kala. "Kaya bokap lo bukan sultan aja."

Kala tertawa mendengarnya.

Ages menepuk bahu putranya. "Papa justru bangga karena kamu ingin dikenal sebagai Kalandra bukan sebagai anak Ages Sabiru."

Kalandra tersenyum. "Itu yang aku mau."

Arsen kemudian bersandar di kursinya. "Kalau gitu...di SMA nanti kamu mau jadi apa?"

Kalandra berpikir sebentar. "Jadi murid biasa."

Sean tertawa. "Mustahil."

"Kenapa?"

"Lu tinggi, tengil, otak lumayan, terus wajah juga—"

"Bang."

"Apa?"

"Jangan mulai rese ya."

Semua tertawa.Kalandra ikut tersenyum.Namun di balik tawanya, ia benar-benar memiliki satu harapan.Ia ingin memulai kehidupan baru.

Tanpa nama besar.Tanpa pengaruh keluarga.Tanpa orang-orang yang mendekatinya karena harta.

Ia ingin menemukan teman yang mau tertawa bersamanya ketika dirinya tidak punya apa-apa untuk ditawarkan.Dan jika suatu hari mereka mengetahui siapa dirinya sebenarnya Kalandra ingin mereka tetap mengenalnya sebagai Kala yang biasa bukan Kala anak Ages Sabiru."

Ages memandang putranya dengan penuh bangga.Ia tahu anaknya bukan hanya sedang mempersiapkan diri memasuki sekolah baru.

Kalandra sedang belajar menemukan siapa dirinya sendiri.Dan untuk itu Ages tidak ingin menentukan jalan itu untuknya.Ia hanya ingin berdiri di belakang putranya.Menjadi tempat pulang ketika Kala membutuhkan rumah.

.

.

Dua hari sebelum masuk SMA, Ages akhirnya menepati janjinya untuk menemani Kalandra membeli perlengkapan sekolah.

Pagi-pagi, keduanya pergi ke sebuah pusat perbelanjaan.

Kalandra berjalan di samping Ages sambil membawa daftar panjang yang dibuat Tamara.

"Seragam."

"Cek."

"Sepatu."

"Cek."

"Tas."

"Belum."

"Alat tulis."

"Belum."

Kalandra melirik daftar itu. "Ini daftar sekolah apa daftar pindahan?"

Ages tertawa kecil. "Mami mu yang bikin."

"Pantesan,Mami nulisnya komplit banget."

Mereka memasuki toko perlengkapan sekolah.Kalandra langsung menuju bagian tas.

Ia melihat beberapa pilihan, lalu mengambil sebuah tas berwarna hitam sederhana.

"Yang ini."

Ages memperhatikannya. "Enggak mau yang lain?"

"Enggak."

"Yakin?"

"Iya."

Ages tersenyum. "Kalau kamu suka, ambil."

Setelah itu mereka mencari sepatu.Kalandra mencoba beberapa ukuran.Saat menemukan yang paling nyaman, ia berdiri dan berjalan beberapa langkah.

"Gimana?"

Ages mengamati langkahnya. "Nyaman?"

"Nyaman."

"Kalau begitu ambil."

Kalandra tersenyum. "Papa tuh ya jawabannya cuma 'ambil'."

"Kan Papa lagi senang lihat kamu sudah bisa jalan keliling toko begini."

Kalandra terdiam sebentar.Ia tahu maksud ayahnya.Beberapa bulan lalu, berdiri saja merupakan perjuangan.Sekarang mereka bisa berjalan bersama seperti dulu.

"Pap."

"Hm?"

"Makasih ya..."

Ages menoleh."Untuk apa?"

"Karena selalu nemenin,adek."

Ages tersenyum. "Memangnya Papa mau nemenin siapa lagi?"

Kalandra terkekeh.

Setelah semua perlengkapan selesai, mereka berjalan menuju lantai berikutnya.Kalandra tiba-tiba berhenti di depan sebuah toko makanan.

"Pap."

"Apa?"

"Ada es krim."

Ages menatap papan menu. "Kamu masih kecil?"

"Enggak."

"Terus?"

"Tapi kan aku masih anak-anak...anak Papa."

Ages langsung tertawa."Ya sudah lah terserah kamu."

Mereka membeli dua es krim lalu duduk di sebuah meja dekat jendela.Kalandra menyendok es krimnya perlahan. "Pap."

"Iya?"

"Nanti kalau aku sudah masuk SMA..."

Ages langsung tahu arah pembicaraan itu.

"Masih soal identitas?"

Kalandra mengangguk."Aku agak takut."

"Takut apa?"

"Takut enggak punya teman."

Ages meletakkan sendoknya.

"Kala.Jangan terlalu memikirkan apakah orang lain akan menerima kamu."

"Jadilah dirimu sendiri."

"Teman yang benar akan menyukai kamu karena siapa kamu."

Kalandra mengangguk."Kalau ternyata enggak ada yang cocok?"

"Berarti kamu belum bertemu orang yang tepat." Ages tersenyum. "Dan kalau suatu hari kamu menemukan sahabat yang benar-benar tulus..."

"Jaga mereka."

Kalandra tersenyum kecil."Iya."

Selesai makan, mereka kembali berjalan.Kalandra membawa beberapa kantong belanja.

Ages mengambil sebagian."Kasih sini."

"Aku bisa."

"Pap tahu."

"Tapi Papa mau bawa juga."

Kalandra menyerahkan beberapa kantong.Mereka kemudian berjalan berdampingan menuju tempat parkir.

Sebelum masuk mobil, Kalandra tiba-tiba berhenti. "Pap."

"Hm?"

"Kayaknya aku senang kita pergi berdua."

Ages tersenyum."Kenapa?"

"Enggak tahu.Rasanya kayak dulu."

Ages terdiam sebentar.Lalu mengusap rambut putranya."Kalau begitu, nanti kita lakukan lagi."

"Kapan?"

"Kapan saja kamu mau."

Kalandra tersenyum lebar."Janji?"

"Janji."

Di perjalanan pulang, Kalandra sibuk memeriksa satu per satu perlengkapan sekolahnya.Sementara Ages sesekali melirik putranya melalui kaca spion.

Lusa, Kalandra akan memulai kehidupan baru.

Dan Ages tahu...

Tidak peduli seberapa jauh anaknya tumbuh nanti, ia akan selalu menjadi ayah yang siap mengantarnya membeli perlengkapan sekolah, menjemputnya ketika hujan, dan menjadi tempat pulang kapan pun Kalandra membutuhkannya.

.......

.......

.......

...♡Sabiru♡...

🦋 Jangan lupa tinggalkan jejak readersku..🦋

1
Puji Hastuti
duh.. jadi makin penasaran aja.
Puji Hastuti
ada apa di masa lalu
Puji Hastuti
gimana ceritanya itu cewek,anaknya ages?ngaco
Puji Hastuti
kak kenapa di cerita baru,bukanya susah ya??
Puji Hastuti: bab 2
total 2 replies
Puji Hastuti
semangat Nay,kamu gak sendiri
Puji Hastuti
akhirnya kala kembali ke setelan awal 😍
Puji Hastuti
untuk teman² kala,tolong jangan tinggalin kala
Puji Hastuti
nay/Sob//Sob/
Puji Hastuti
lanjut kk
Aisyah Suyuti
good
Puji Hastuti
kala belum paham hati perempuan 🤣
Puji Hastuti
walah siapa lagi ini
Puji Hastuti
cie cie kala
Puji Hastuti
lanjut kk
Puji Hastuti
😍😍😍😍😍
Puji Hastuti
congrats kala
Puji Hastuti
semangat kala , banyak cinta yang mendukung mu 💪💪
Puji Hastuti
Alhamdulillah akhirnya kala pulang
Puji Hastuti
papa keren😍😍😍😍😍
Puji Hastuti
eh pak tua,jaga ya bicaranya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!