Nyai Seruni, seorang dukun yang menghabiskan masa mudanya menghancurkan kebahagiaan orang lain lewat racun petunduk karena rasa iri, kini terjebak dalam tubuh yang membusuk namun menolak mati. Di ambang sakaratul maut yang abadi, ia harus menyeret tubuhnya yang lumpuh untuk bersujud di kaki para korbannya—orang-orang yang hidupnya ia curi—hanya demi satu hal : izin untuk meninggal dunia.
Assalamualaikum semua, aku datang dengan tulisanku.
Bantu ramaikan dengan Like, komentar dan bagikan jika suka.
Insya Allah besok pagi jika banyak peminat, 😉
Mohon maaf jika ada kesamaan nama dan tempat, 🙏
#cerbung
#cerpen
#ceritahoror
#hobimenulis
Cerita Hantu
Cerita Misteri , Mitos , Sejarah Di Dunia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 : Kawah Hyang Tempa dan Warisan Murni Pande Gunung
Pasir hitam yang berkilau bagaikan serbuk kaca obsidian bergemerutuk pelan di bawah pijakan kaki Marno dan Sari. Di belakang mereka, Kapten Wardana beserta para prajurit sibuk menambal lambung kapal Nusa Indah di tepi pantai telaga yang tenang. Angin sore ditiupkan dari puncak gunung, membawa kehangatan yang lembut serta harum getah kayu tua yang tak asing bagi penciuman Sari.
Langkah demi langkah, mereka bertiga—bersama Si Mbah yang melompat lincah dari satu batu obsidian ke batu lainnya—meniti tangga-tangga batu raksasa yang tertimbun lahar dingin purba. Pilar-pilar batu berukir gelombang dan lidah api berdiri gagah memagari jalan setapak menuju lereng pulau. Ukiran-ukiran itu bukan sekadar hiasan, melainkan pahatan sejarah dari para empu legendaris yang pernah mendiami tempat ini ratusan tahun lalu.
"Lihat ini, Marno," tunjuk Sari pada sebatang pohon rindang berdahan kokoh yang tumbuh di celah retakan batu vulkanik. Daunnya berwarna hijau gelap berkilat dengan bulir-bulir kristal putih yang menempel di sepanjang batangnya. "Ini Pohon Garam Hitam. Getah dan kristal garamnya persis seperti yang dijelaskan dalam pustaka kuno guruku."
Sari berlutut anggun, mengeluarkan pisau peraknya dan secara perlahan menyayat sedikit kulit pohon tersebut. Getah kental berwarna keemasan menetes lembut masuk ke dalam bumbung bambu yang disiapkannya. Getah inilah penawar murni yang sanggup menetralkan segala bentuk racun tanah dan bisa binatang purba. Sari tersenyum bahagia, menyadari bahwa perjalanan jauh menembus badai Selat Lintah Laut kini terbayar sempurna.
Sementara Sari mengumpulkan getah bertuah tersebut, Marno melangkah makin ke atas, ditarik oleh guncangan getaran yang kian kuat di balik dadanya. Di puncak lereng batu, terhampar sebuah pelataran luas melingkar yang berada tepat di celah kawah mati.
Di tengah pelataran tersebut, berdiri sebuah landasan tempa raksasa dari batu meteorit hitam murni. Di sekeliling landasan itu, empat saluran lava dingin meliuk bagaikan naga membeku, mengarah lurus ke pusat landasan. Inilah Kawah Hyang Tempa, jantung ilmu penempaan purba.
Marno mendekati landasan tempa meteorit itu. Di permukaannya, terukir sebuah lekukan berbentuk martil yang ukuran dan sudutnya sangat presisi—sama persis dengan martil besi yang selalu dipikulnya sejak meninggalkan Karang Tumpuk.
"Marno," panggil Sari yang baru saja menyusul ke atas bersama Si Mbah. Tangannya memegang erat bumbung berisi getah Pohon Garam Hitam. "Tempat ini... seolah-olah sudah menunggumu sejak lama."
Marno tidak menjawab. Ia melepas ikatan kain terpal di punggungnya, lalu mengangkat martil besi kesayangannya dengan kedua belah tangan. Tanpa ragu, Marno meletakkan kepala martil itu tepat di atas lekukan batu meteorit Kawah Hyang Tempa.
HUMMMMMMM...
Seketika itu juga, gema getaran lembut membahana dari dalam dasar bumi! Cahaya kemerahan yang hangat memancar dari celah-celah ukiran landasan tempa, merayap naik dan menyelimuti seluruh permukaan martil besi milik Marno. Serpihan karat tua, goresan pertempuran, dan cela tipis yang ada pada permukaan martil perlahan luruh, menyisakan baja murni yang berkilau bagaikan perak kehitaman yang membiaskan cahaya jingga senja.
Marno merasakan aliran hangat merayap masuk ke dalam kedua tangannya. Ia memahami pesan tanpa kata yang ditinggalkan oleh para empu pendahulunya: bahwa besi sejati tidak ditempa untuk menghancurkan, melainkan untuk melindungi dan menyatukan. Martilnya kini bukan sekadar perkakas tempa desa, melainkan sebuah warisan murni dari ketulusan hati seorang pemuda perbukitan.
Marno menarik martilnya kembali dari landasan batu. Logam itu kini terasa lebih ringan di tangannya, namun memancarkan wibawa dan kekuatan yang tak tertandingi.
"Perjalanan penempaanmu telah sempurna, Marno," bisik Sari lembut sambil menatap sahabatnya dengan penuh rasa bangga dan kehangatan.
"Bukan hanya milikku, Sari," sahut Marno berpaling menatap Sari dan Si Mbah yang kini melompat tegak di atas pundaknya. "Tanpa obat-obatanmu, keahlian racikanmu, serta kelincahan Si Mbah, martil ini hanyalah potongan besi mati di Karang Tumpuk. Kita menyelesaikan ini bersama-sama."
Si Mbah memekik gembira, menepuk-nepuk dadanya seraya menggosokkan kepalanya ke pipi Marno, memecahkan suasana hening dengan keceriaan yang manis.
Matahari perlahan tenggelam sempurna di ufuk barat, membiaskan rona warna emas dan ungu yang mempesona di atas samudra luas. Dari puncak Kawah Hyang Tempa, mereka bertiga menatap jauh ke arah garis pantai selatan tempat negeri mereka membentang.
Ancaman sekte ilmu hitam Mbah Jiwo Suro telah musnah, perompak pesisir Laba-Laba Rawa telah ditundukkan, bajak laut Ki Ranajaya telah berlutut di bawah hukum, dan racun Laksamana Reksapati telah terobati. Mereka telah membawa kedamaian dari gunung tinggi hingga ke ujung samudra.
Ketika fajar esok menyingsing, kapal *Nusa Indah* yang telah selesai diperbaiki akan membawa mereka berlayar kembali—bukan sebagai musafir yang melarikan diri dari luka, melainkan sebagai pahlawan dan pelindung yang membawa kedamaian, harapan baru, serta warisan abadi bagi tanah air tercinta.
---
Tamat.
jasad nyai seruni di ijin kan di makamkan di desa itu
🤣🤣🤣
ternyata di peroleh dari nyai pertiwi
karma dunia telah lebur
namun dosa di neraka blm menyapa nyai seruni
kera hutan langsung teler
pingsan krn bau busukk serunii
🤣
membuat celaka korban nya
blm lagi hukuman atas dosa perbuatan keji nya