Miskin dan buruk rupa, begitulah nasib yang dialami oleh Adara Ayunda. Hidup dalam bullyan dan perundungan yang selalu menyiksa batinnya.
Namun Dara, panggilannya, percaya jika suatu saat nanti kehidupannya akan berubah bahagia. Hingga suatu hari ia dihadapkan dengan keadaan yang mendesak. Yang membuat Dara justru terjerumus dalam sebuah pernikahan yang tidak dinginkan.
"Jadilah istriku! Aku akan membayarmu berapapun kamu mau." Ucap Sean dengan sorot mata tajam seperti elang. Dara tidak menyangka, jika si buruk rupa ini menjadi pilihan pangeran tampan untuk menjadi ISTRI BAYARANnya.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Yukk kepoin lika-liku kehidupan Dara.
**Follow Ig author @dydyailee536
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dydy_ailee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 Sarapan Bersama
''Dara, apa ini Tuan Sean yang kamu ceritakan itu?'' sahut Tommy.
''Iya, Tom. Oh ya kenalkan, Tuan. Ini adalah Tommy, dia adalah sahabat ku.'' Kata Dara.
''Halo Tuan, senang bertemu dengan anda.'' Ucap Tommy seraya mengulurkan tangannya dan Sean membalas uluran tangan Tommy.
''Sean! "
''Baiklah Dara, karena calon suami mu sudah datang, sebaiknya aku pulang saja.''
''Terima kasih ya Tom, sudah menemani aku sejak kemarin. Kamu sampai meninggalkan pekerjaanmu.''
''Tidak apa-apa, santai saja. Untuk Ayah, lekas sehat ya.''
''Terima kasih ya Tommy. Kamu hati-hati pulangnya.''
''Iya Ayah. Tuan, saya permisi.'' Tommy kemudian meninggalkan rumah sakit.
''Dara, apa kamu sudah sarapan?''
''Kebetulan belum, Tuan.''
''Tuan Sean juga belum sarapan jadi sebaiknya kalian berdua sarapan. Biar Pak Lukman, aku yang menemani.'' Sahut Reza.
''Iya Dara, kamu makanlah. Pasti gara-gara merawat Ayah, kamu lupa untuk makan. Temani nak Sean makan.'' Kata Pak Lukman. Sean melirik tajam kearah Reza, bukan apa-apa, Reza tahu kalau Sean tidak bisa di tempat keramaian. Sedangkan Reza sengaja melakukan itu supaya Sean terlatih dengan dunia luar.
''Iya Nona. Kasihan Tuan Sean, sejak kemarin selera makannya tidak teratur.'' Imbuh Reza.
''Pasti Tuan Sean banyak masalah karena aku. Baiklah aku akan menemaninya makan, '' gumam Dara dalam hati.
''Baiklah, mari Tuan kita sarapan bersama.'' Ajak Dara.
''Ba-baiklah.''
Dara dan Sean lalu meninggalkan rumah sakit. Kini keduanya sedang dalam perjalanan untuk mencari tempat sarapan.
''Kita mau sarapan dimana?'' tanya Sean.
''Kalau pagi seperti ini, enaknya sarapan di dekat GOR. Disana banyak pedagang kaki lima dan makanannya enak-enak sekali.''
''Pasti ramai ya disana?''
''Pastinya Tuan, apalagi ini hari Sabtu.''
''Mmmm bisa tidak sarapan di tempat lain? Direstoran mungkin?''
''Kalau restoran pasti bukanya jam 10an. Ini saja masih jam 8, Tuan. Apa anda tidak cocok ya makan di pinggir jalan?''
''Bukan begitu juga. Tapi tidak apalah di coba.'' Ucap Sean ragu-ragu.
''Tidak apalah. Kata Dokter aku harus lebih sering berada di keramaian. Semoga aku bisa.'' Gumam Sean dalam hati.
Sesampainya di GOR, tentu saja suasananya sangat ramai. Banyak sekali orang joging atau hanya sekedar jalan-jalan biasa bersama keluarganya.
''Ayo kita turun, Tuan.'' Ajak Dara. Namun Sean kecemasan dan rasa panik kembali menyerangnya.
''Tuan! " panggil Dara sambil menepuk pundak Sean. Sean sampai tercekat dan melonjak kaget.
''Tuan, baik-baik saja kan?'' tanya Dara yang melihat perubahan mimik wajah Sean.
''Iya.'' Jawabnya dengan gugup. Sean kemudian segera memakai topi dan maskernya kembali.
''Tuan, kita mau makan? Kenapa pakai masker?'' tanya Dara.
''Tidak apa-apa. Supaya aman dari debu.'' Jawab Sean. Dara hanya mengangguk saja. Mereka berdua kemudian turun dari mobil. Baru saja maju satu langkah, Sean merasa seolah-seolah semua orang ingin membullynya. Mengingatkannya pada sebuah kejadian beberapa tahun silam. Sementara Dara sudah melangkah jauh. Dara lalu menoleh dan melihat Sean masih berdiri di dekat mobilnya.
''Tuan Sean ini kenapa ya? Seharusnya kalau dia tidak makan di pinggir jalan, bisa bilang.'' Gumam Dara. Dara kemudian berbalik arah menghampiri Sean.
''Tuan kenapa?'' tanya Dara.
''Tidak apa-apa. Ayo jalan!" kata Sean. Dara lalu menyamakan langkahnya dengan Sean. Namun langkah Sean dan terasa ragu-ragu. Dara sampai di buat bingung, apalagi Sean selalu jalan menunduk. Dan tiba-tiba Sean merasa di peluk dan seperti di hindarkan oleh sesuatu. Nafas Dara terengah karena berusaha menghindarkan Sean dari sebuah gerobak penjual gorengan. Sean mengangkat wajahnya dan melihat wajah Dara hanya berjarak beberapa senti darinya.
''Tuan hampir saja menabrak gerobak penjual gorengan karena Tuan selalu jalan menunduk.'' Kata Dara seraya melepaskan pelukannya itu.
''Maafkan aku.'' Ucap Sean dengan terbata. Dara tersenyum, kemudian ia menggandeng tangan Sean. Sean terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Dara.
''Pasti Tuan tidak terbiasa di tempat seperti ini ya? Jadi aku akan menggandeng tangan Tuan. Kalaupun anda menunduk, aku yang akan mengarahkan Tuan untuk berjalan supaya tidak menabrak lagi.'' Ucap Dara. Dara merasakan keringat dingin saat menggenggam tangan Sean. Sean hanya menurut saja dan mengikuti kemana langkah kaki Dara melangkah.
Akhirnya Dara memilih untuk sarapan nasi uduk dengan ayam goreng. Mereka lalu duduk berdua lesehan. Dara pun segera memesan dua porsi makanan bersama minuman.
''Dara, aku mau makan dengan sendok. Aku tidak terbiasa makan dengan tangan.''
''Tenang saja Tuan, aku sudah meminta sendok kok. Karena aku tahu orang kaya seperti anda mana bisa makan menggunakan tangan langsung. Tapi masker dan topinya di lepas dulu, Tuan.''
''I-iya.'' Sean kemudian melepaskan maskernya namun tidak dengan topinya. Justru ia semakin membenamkan topinya lebih dalam ke kepalanya. Dara tidak memaksa dan membiarkan Sean memakai topinya karena Dara berpikir Sean takut terkena sinar matahari.
Dan pesanan datang. Mereka berdua segera makan bersama. Sean merasakan rasa nikmat saat memakan nasi uduk, bahkan Sean makan dengan lahap.
''Bagaimana? Enak Tuan?''
''Iya, ini enak sekali.'' Jawab Sean dengan mulut penuh makanan. Dara senang karena Sean ternyata sangat menyukai makanan kaki lima. Sean bahkan menghabiskannya sampai tidak tersisa.
''Kita kembali ke rumah sakit ya.'' Ucap Sean.
''Iya tapi sebentar dulu ya, Tuan. Kita nikmati dulu suasana paginya. Aku lelah sekali.'' Kata Dara. Sean hanya mengangguk saja.
''Tuan, terima kasih ya untuk semua kebaikan anda. Anda memenuhi semua janji anda padaku.''
''Aku hanya menjalankan sesuai kontrak yang kita sepakati. Oh ya aku ingin pernikahan kita di percepat. Aku sudah mengurus semua berkas pernikahan kita. ''
''Di percepat? Memangnya ada apa Tuan?''
''Tidak ada apa-apa. Aku ingin minggu ini pernikahan kita di lakukan.''
''Tapi kata Tuan bulan depan?''
''Aku tidak bisa menunggu lama Dara. Aku tidak ingin Papa mengacaukan semuanya.''
''Tapi Ayahku juga masih dalam masa penyembuhan.''
''Kita ijab qobul di rumah sakit saja. Yang penting sah dan tidak perlu hadirnya banyak orang. Termasuk kehadiran kedua orang tuaku karena ini juga pernikahan kontrak. Jadi kita tidak perlu melakukan persiapan yang formal. Aku nanti akan bilang pada Ayahmu. Kamu juga tetap bisa melanjutkan kuliah dan karirmu sesuai kesepakatan kita.''
''Apa semuanya berhubungan dengan masalah kemarin?''
''Iya. Jadi aku ingin mempercepat waktunya. Sebaiknya kita kembali ke rumah sakit dan aku akan bicara pada Ayahmu. Ayo!" kata Sean dengan terburu. Setidaknya sembari penyembuhan fobianya, ia harus sudah menikah dengan Dara. Karena Sean sama sekali tidak mau di jodohkan.
''Baiklah Tuan.'' Saat keduanya beranjak dari duduknya, tiba-tiba saja ada yang memanggil Sean.
''Hei Sean si cepirit! Itu elo kan?'' panggil seseorang yang seketika membuat langkah Sean terhenti. Jantungnya berdegup kencang dan ia tampak panik. Dara menoleh kearah sumber suara itu. Terlihat dua orang pria memanggil Sean.
''Tuan, itu temanmu?'' tanya Dara. Sean ingat betul siapa yang paling pertama membullynya di sekolah dan memberikannya julukan itu. Sean lalu menggenggam tangan Dara dan segera mengajaknya masuk ke dalam mobil tanpa menghiraukan kedua temannya itu. Dara merasa bingung kenapa Sean menjauh dan tidak menyapa teman-temannya.
...Bersambung... Sebenarnya apa yang membuat Sean mengalami fobia sosial??? ...
moga aja the geng Jessica kecebur got saat nguntit dara