Menikah karena keadaan bukanlah akhir dari segalanya. Bagi Arkana Najendra dan Hanifah Shafiqa, itu justru menjadi awal dari kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.
Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, mereka membeli sebuah rumah tua di ujung jalan. Rumah tusuk sate. Murah, tetapi dipenuhi cerita yang membuat orang enggan mendekat.
Saat kehilangan terbesar menghancurkan keluarga kecil mereka, satu per satu masalah mulai berdatangan. Tekanan keluarga, luka yang belum sembuh, hadirnya orang ketiga, hingga berbagai kejadian ganjil yang membuat mereka bertanya...
Benarkah rumah itu membawa kutukan?
Ataukah, kutukan sesungguhnya adalah ketika dua hati yang saling mencintai perlahan berubah menjadi asing di bawah atap yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 - Kami Sudah Berusaha
Mobil pikap yang dikendarai Pak Hadi berhenti mendadak di depan Instalasi Gawat Darurat. Ban mobil mendecit keras di atas aspal.
"Perawat! Tolong! Pasien hamil mengalami pendarahan hebat!" teriak Pak Hadi histeris.
Beberapa perawat segera berlari membawa brankar dorong. Mereka membanting pintu mobil dan mengangkat tubuh Hanifah yang tak sadarkan diri.
"Dokter... tolong selamatkan putri saya..." ratap Bu Sulastri dengan suara bergetar hebat sambil memegangi tangan salah satu perawat.
"Bapak dan Ibu tunggu di luar ya! Biar kami yang ambil alih!" seru perawat itu cepat sambil mendorong brankar masuk ke dalam.
Pintu putih ruang tindakan langsung tertutup rapat. Lampu merah bertuliskan 'Sedang Dilakukan Tindakan' menyala seketika.
Bu Sulastri tak kuasa lagi menahan kakinya yang lemas. Ia terduduk di kursi ruang tunggu sambil terus mengusap air matanya. "Astaghfirullahal'adzim... Ya Allah, selamatkan Hanifah..."
Pak Hadi berjalan mondar-mandir di lorong dingin itu dengan wajah sangat tegang. "Tenang, Bu. Kita berdoa..." bisiknya, meski tangannya sendiri gemetar hebat.
...----------------...
Di tempat lain, rapat kantor baru saja selesai. Arkana mengemas berkasnya lalu mengambil ponsel yang sejak tadi ditaruh dalam mode hening di atas meja. Diwajah nya penuh dengan senyum semangat, setelah ia keluar dari ruang rapat.
Kini matanya membelalak melihat layar. Belasan panggilan tak terjawab dari Bu Sulastri tertera di sana.
Dadanya mendadak terasa sesak luar biasa. Dengan jari gemetar, ia segera menekan tombol panggil kembali.
Klik.
Telepon langsung diangkat pada dering pertama.
"Bu... ada apa? Kenapa menelepon belasan kali?" tanya Arkana panik, suaranya mulai meninggi.
Suara tangis pecah dari seberang sambungan. "Arkana... cepat ke rumah sakit... sekarang..."
"Ada apa?! Apa ada yang terjadi dengan Hanifah, Bu?! Bicara yang jelas, Bu!" bentak Arkana refleks, panik setengah mati.
"Hanifah pendarahan hebat... cepat ke sini, Nak!" jerit Bu Sulastri di balik telepon.
Ponsel di tangan Arkana nyaris terlepas. Tanpa mematikan sambungan, ia berlari kencang menerobos lorong kantor, menyambar helm di parkiran, dan memacu motornya gila-gilaan membelah jalan raya.
"Ya Allah... jangan ambil mereka... tolong..." bisik Arkana terus-menerus di balik kaca helmnya.
......................
Sekitar dua puluh menit kemudian, Arkana tiba di rumah sakit. Ia berlari menerobos pintu kaca IGD dengan napas memburu dan wajah pucat pasi.
"Bu! Pak!" teriak Arkana saat melihat Bu Sulastri dan Pak Hadi di depan ruang tindakan.
Bu Sulastri langsung berdiri limbung. Arkana menyambar kedua bahu wanita paruh baya itu.
"Hanifah mana, Bu?! Bagaimana kondisi Hanifah?!" cecar Arkana dengan mata memerah.
"Di dalam, Nak... dokter masih menangani..." tangis Bu Sulastri kembali pecah. "Darahnya banyak sekali..."
Arkana langsung berbalik dan hendak menerobos pintu ruang tindakan. "Hanifah!"
"Eh, Pak! Nanti dulu, Pak!" seru seorang perawat pria yang dengan sigap menghadang tubuh Arkana.
"Lepaskan! Saya suaminya! Saya mau masuk!" berontak Arkana sambil mendorong dada perawat itu.
"Maaf, Pak! Dokter sedang melakukan tindakan darurat! Bapak harus menunggu di luar demi keselamatan pasien!" tegur perawat itu dengan suara tegas namun menenangkan.
"Tapi itu istri dan anak-anak saya!" teriak Arkana frustrasi.
"Kami mengerti, Pak! Tolong percayakan semuanya pada tim medis kami!" balas perawat tersebut sebelum kembali masuk dan mengunci pintu dari dalam.
Arkana perlahan melepaskan tangannya dari gagang pintu. Ia mundur dua langkah dengan napas tersengal, lalu luruh terduduk lemas di atas lantai dingin ruang tunggu.
Waktu terasa berhenti. Lima belas menit berlalu. Tiga puluh menit. Hampir satu jam lebih berlalu tanpa kepastian.
"Banyak-banyak istigfar, Nak Arkana..." bisik Pak Hadi sambil menyodorkan segelas air mineral yang tak tersentuh.
Arkana hanya menggeleng pelan, enggan bersuara. Tatapannya terkunci lurus pada lampu pintu ruang tindakan.
Klek.
Pintu putih itu akhirnya terbuka. Seorang dokter keluar sambil melepas masker bedahnya yang ternoda sedikit darah.
Seketika mereka bertiga meloncat berdiri. Arkana menjadi orang pertama yang memburu dokter itu.
"Dokter! Bagaimana istri saya, Dok?!" tanya Arkana menuntut jawaban, mencengkeram lengan baju medis dokter tersebut.
Dokter itu mengusap wajahnya yang lelah, lalu menatap Arkana dalam-dalam. "Pasien atas nama Ibu Hanifah berhasil kami stabilkan. Pendarahannya sudah berhasil dihentikan."
Arkana langsung mengembuskan napas panjang, mengusap wajahnya yang basah oleh keringat. "Alhamdulillah... Ya Allah, terima kasih..."
"Tapi, Pak..." panggil dokter itu cepat, menghentikan kebahagiaan singkat Arkana.
Senyum lega di wajah Arkana perlahan memudar. "Tapi... tapi kenapa, Dok?"
Dokter menatap Arkana penuh rasa iba, lalu menggelengkan kepalanya pelan. "Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya... Kami sudah berusaha semaksimal mungkin dengan seluruh tim..."
"Maksud Dokter apa?!" potong Arkana dengan suara gemetar, mulai mencium ketakutan besar.
"...tetapi kami tidak berhasil menyelamatkan ketiga bayi di dalam kandungan istri Bapak," sambung dokter itu lirih namun sangat jelas.
Brak.
Dunia Arkana seolah runtuh saat itu juga. Kalimat itu terngiang berulang kali di kepalanya bagai petir yang menyambar.
"Gak... Gak mungkin..." bisik Arkana menggelengkan kepala, air matanya menetes tanpa bisa ditahan. "Dokter bercanda, kan? Eka... Dwi... Tri... mereka masih ada, kan?!"
"Kondisi pendarahan dan pelepasan plasenta sudah terlalu parah saat tiba di sini. Janin tidak bisa diselamatkan, Pak..." jelas dokter itu pelan.
"Dokter bohong!" jerit Arkana histeris.
Kedua lutut Arkana kehilangan seluruh tenaganya. Ia ambruk dan terduduk lemas di atas lantai hospital yang dingin.
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un..." tangis Bu Sulastri terdengar pecah di belakangnya, dipeluk erat oleh Pak Hadi yang ikut meneteskan air mata.
Arkana mencengkeram dadanya yang terasa begitu sesak, seolah pasokan udaranya dicabut paksa. Tatapannya kosong menatap lantai.
"Eka... Dwi... Tri..." bisik Arkana hancur, meratapi ketiga calon buah hatinya yang kini telah pergi untuk selamanya.