NovelToon NovelToon
Menjalani Cinta Terlarang

Menjalani Cinta Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyelamat / Dunia Masa Depan
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Virgo kelabu

Seorang ayah angkat yang secara terpaksa menikahi putri angkat nya. Dia melakukan hal itu karena memenuhi janjinya kepada almarhumah sahabat nya untuk melindungi nya.
Sebenarnya dia telah gagal memenuhi janjinya karena nasib malang yang menimpa Artika. Ternyata masih memiliki hubungan darah dengan nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MCT 35

Usai sarapan mereka bertiga ngobrol bersama melepas kangen sambil menunggu jadwal periksa dibuka.

"Bagaimana keadaan ibu saya, Dok?"

"Tidak ada masalah serius. Kemungkinan sistem imun beliau sedang drop makanya mudah tertular batuk atau flu. Saat ini memang lagi musim yang sakit batuk, pilek dan flu. Saya kasih resep obat nanti diminum semoga saja ada perubahan." Aldri tersenyum.

"Terima kasih, Dok."

"Sama-sama, Pak."

"Bu, Saya ingin bertemu Vino sebentar. Apa Ibu juga mau ikut?"

"Tidak usah, Al. Ibu tunggu di sini saja sambil menunggu resep."

"Baiklah kalau begitu, Bu. Saya pamit sebentar. Tika aku titip ibu, ya , sayang." Antika pun duduk di samping Ibu mertuanya.

"Hai, Bro. Apa kabar? Tumben ingat sama aku?"

"Pasti lah ingat. Kapan aku lupa sama kamu. Walaupun jarang telepon. Oh, ya ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu, Bro."

"Apa itu? Duduk dulu, Bro." Aldri mengangguk.

"Masalah Tika. Vin apa orang yang amnesia akan selalu mengalami mimpi buruk?"

"Kenapa tiba-tiba tanya begitu? Apa Antika juga mengalami mimpi buruk tiap malam?"

"Ya, bahkan hampir tiap hari. Apa itu memang yang dialami orang amnesia? Apa ada cara untuk hilangkan kebiasaan mimpi buruk yang datang tiap malam?"

"Setiap orang akan berbeda tergantung kondisi masing-masing. Kemungkinan hal ini juga ada hubungannya dengan trauma yang dialami Tika. Terkadang mimpi buruk itu bisa jadi adalah bagian peristiwa hidup yang dia alami, tapi berusaha untuk dilupakan. Justru malah tersimpan di alam bawah sadarnya terkunci di sana. Ada dua kemungkinan jika ini terus berlanjut." Dokter Vino menjeda kalimatnya.

"Apa itu?"

"Pertama kemungkinan ingatan masa lalunya akan segera kembali atau mempercepat proses kembalinya ingatan. Dan yang kedua.., ini kebalikannya akan menyebabkan depresi karena ketakutan yang berlebihan."

Ekspresi Aldri menunjukkan keterkejutan. Pria itu sama sekali tak menyangka hanya sebuah mimpi mampu berdampak luar biasa.

"Aku sarankan kamu bawa ke psikiater. Atau bisa kamu ajak komunikasi Tika. Tanyakan tentang mimpinya atau kalau dia tidak mau cerita pelan-pelan saja kamu pancing dengan sesuatu."

"Yang terpenting satu hal yang harus kamu pegang. Jangan pernah memaksa atau membuatnya semakin takut."

"Aku mengerti. Baiklah kalau begitu. Aku pamit dulu, Bro. Pasti pasien mu sudah pada nunggu. Ingat istri. Jangan tergoda yang bening-bening."

"Geblek. Edan. Sejak kapan aku begitu? Kalau mau sudah lama aku lakukan, Bro." Aldri tersenyum.

"Aku pamit dulu." Aldri berdiri. Tangan nya menggenggam dan memukul pelan pundak dokter Vino. Dokter Vino hanya mengedikkkan dagu.

"Aku antar sekalian menyapa Tante dan Tika."

"Oke."

"Selamat pagi, Tante." Dokter Vino mencium punggung tangan ibu Aldri.

"Eh, dokter Vino. Apa kabar? Lama tidak ketemu."

"Tante jangan panggil dokter lah. Panggil saja Nak Vino seperti dulu. Rasanya seperti asing kalau Tante yang panggil begitu." Indira tersenyum.

Dokter Vino Bastian memang selalu rendah hati meskipun telah sukses menjadi dokter. Bahkan sejak dulu mereka mengenalnya padahal dia dari kalangan orang atas.

"Puji Tuhan, Tante. Saya sehat. Padahal baru sebulan lebih sepertinya, Te. Kayak sudah lama banget ya? Bagaimana dengan kabar tante? Kenapa sampai berkunjung kemari?"

"Ah, itu. Mereka berdua saja yang melebih-lebihkan lha wong tante baik-baik saja ini loh."

"Ya, itu tandanya mereka terlalu sayang sama tante kan?"

"Iya betul. Alhamdulillah." senyum sumringah ditunjukkan wajah Indira.

"Lalu kamu bagaimana kabarnya Tika?"

"Dokter Vino. Alhamdulillah aku baik." Antika tersenyum tulus.

"Kalian tak mampir dulu?"

"Ah, tidak usah kami juga sudah selesai menebus obat. Nanti ganggu aktivitas kamu."

Dalam perjalanan Aldri lebih banyak diam. Antika dan Indira merasa ada yang aneh.

"Al, kamu kenapa? Apa yang sedang kamu pikirkan?"

"Ya, sejak tadi darling diam aja?"

"Ah tidak kenapa-napa hanya ada kepikiran satu hal, tapi bukan masalah penting sih."

Bagaimana caranya aku membahas masalah ini dengan Tika. Dia satu sisi aku bahagia seandainya ingatannya kembali, tapi di sisi lain aku.,...... Ah Gusti apa yang harus aku lakukan?

Aku ingin sekali Antika kembali seperti dulu ceria dengan semua ingatannya. Tapi.... aku juga takut seandainya ingatannya kembali. Apa yang akan terjadi? Apakah dia akan bisa menerima dirinya apa adanya? Atauuu.... dia akan kembali melakukan hal bodoh? Tidak! Ya Allah aku tidak akan sanggup untuk kehilangan Antika.

**

Seorang pemuda mondar-mandir di depan rumah Aldri di Jakarta. Sesekali dirinya berhenti sejenak lalu menatap pagar besi rumah tersebut. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celana. Ini salah satu caranya untuk menghilangkan rasa gugup.

Pak Slamet, seorang satpam penjaga rumah akhirnya mendekati sang pemuda. Sejak tadi Pak Slamet memperhatikan gerak-gerik sang pemuda dari balik gerbang. Ada rasa penasaran dengan tingkah laku orang yang sedang diawasinya itu. Akhirnya ia memutuskan mendekat dan bertanya.

"Maaf, Mas mau cari siapa?"

Anggara yang terkejut sempat blank sejenak. Barulah ia mencoba menjawab yang sekiranya menurutnya adalah jawaban yang tidak membuat curiga.

"Oh, ini, Pak. Saya mau tanya tadi, tapi ragu-ragu. Apa benar ini rumah Pak Aldri Vigoro?"

"Benar, Mas. Tapi beliaunya masih keluar kota. Masih belum balik, Mas."

"Luar kota? Kemana, Pak?"

" Ke Surabaya, Mas. Ke rumah ibunya. Katanya beliau sedang sakit."

"Surabaya?"

"Iya, Mas. Kampung halamannya Pak Aldri."

Oh, jadi mereka ke rumah itu? Sial banget, sih, aku ke sana Mereka ada di sini. Aku ke sini, eh, mereka balik ke sana. nasib- nasib.

"Mas. Mas! Kok, malah bengong."

"Eh, iya, Pak maaf. Terus kira-kira kapan mereka baliknya, Pak?"

"Waduh kalau soal itu saya tidak tahu, Mas. Saya kan hanya satpam di sini."

"Baiklah kalau begitu, Pak. Terima kasih banyak, Pak."

"Iya, sama-sama, Mas."

"Saya permisi, Pak "

Anggara berlalu pergi. Percuma saja melanjutkan rencananya Karena yang bersangkutan tidak di tempat. Ia mempunyai ide gila. Hari ini juga dirinya berencana terbang ke Surabaya. Sama saja seperti mengejar cinta sampai ke ujung dunia.

Setelah meminta izin papa dan mamanya, anggaran segera mengurus tiket untuk perjalanan menuju kota Pahlawan. Apa pun yang diinginkan Anggara selalu saja dituruti papa dan mamanya.

"Tunggu aku, Tika."

Di rumah Indira.

"Ibu habis ini minum obat lekas istirahat."

"Iya, Al padahal cuma batuk, kok, jadi seperti orang sakit parah."

"Bu jangan bicara seperti itu, Bu."

"Iya, iya maaf, Nak."

"Ini, Bu obat nya. Moga lekas sembuh ya, Bu." Antika tersenyum.

"Terima kasih, Sayang." Ibu mengelus tangan Antika.

Alhamdulillah, ya Allah Engkau anugerahkan anak-anak yang berbakti terima kasih banyak

1
Tulisan Pena
bagus
Ar-Rasyid Fikri
semangat berkarya Thor 🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!