Bayangan orang-orang untuk status putri tunggal keluarga pengusaha ternama, adalah gadis anggun yang penuh pesona dan wibaya seorang penerus tahta.
Tapi nyatanya, itu tidaklah berlaku untuk Larissa Moretti. Meskipun ayahnya seorang pengusaha kaya raya yang tersohor di Kolombia, serta memiliki ibu yang anggun dan lemah lembut.
Gadis itu sama sekali tidak mewarisi sikap ibunya, gadis itu adalah gambaran gadis jalanan yang urakan, suka membuat masalah hingga membuat sang ayah menggeleng-gelengkan kepalanya yang hampir pecah.
Puluhan bodyguard yang di sewa ayahnya selalu mengundurkan diri bahkan sebelum mereka bekerja satu Minggu mengawal gadis urakan itu.
Hingga untuk terakhir kalinya, sang ayah menyewa bodyguard melewati agensi terbaik di Kolombia, dan menyewa seorang bodyguard yang memiliki reputasi terbaik disana.
Gavin Kingsley, pria berumur 30 tahun dengan perawakan super atletis dan yang paling membuat Larissa tertegun adalah wajahnya yang tampan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Hari Pertama Ujian Untuk Gavin
...Pusat perbelanjaan Centro Andino yang terletak di kawasan elite Zona Rosa, Bogota, siang itu dipadati oleh hiruk-pikuk manusia....
...Di bawah langit-langit kaca raksasa yang meneruskan cahaya matahari Kolombia, ratusan orang berlalu-lalang di antara gerai-gerai busana mewah internasional, menciptakan labirin manusia yang bising....
...Di tengah keramaian itu, Larissa Moretti melangkah dengan kecepatan yang tidak wajar bagi seorang wanita yang mengenakan sepatu hak tinggi....
...Hari ini dia mengenakan gaun mini berwarna kuning cerah yang sangat pas di tubuh rampingnya, membuat kulitnya yang seputih susu tampak kian bersinar di bawah lampu-lampu mal....
...Rambut cokelat bergelombangnya terayun seiring langkah kakinya yang sengaja dibuat tergesa-gesa....
..."Ayo cepat, Bianca! Toko kosmetik di ujung sana sebentar lagi mengadakan diskon kilat!" seru Larissa sambil menoleh ke belakang, melambaikan tangannya dengan ceria....
...Bianca, yang setengah berlari di belakangnya sambil memegangi tas belanjaan, terengah-engah....
..."Larissa! Pelankan langkahmu! Kakiku rasanya mau copot!"...
...Larissa tidak memedulikan keluhan sahabatnya....
...Fokus utamanya siang ini sebenarnya bukan belanjaan, melainkan sosok pria yang berjalan di belakang mereka....
...Larissa sengaja berbelok tajam di antara kerumunan, mempercepat langkah, lalu tiba-tiba berbalik arah menembus barisan pengunjung mal....
...Semua manuver cepat itu dia lakukan demi satu tujuan, membuat pengawal pribadi barunya kewalahan, tersesat di tengah kerumunan, dan kehilangan jejaknya....
..."Rasakan itu, Patung Lilin. Mari kita lihat apa kamu bisa mengejarku di tengah lautan manusia ini" batin Larissa bersorak licik....
...Setiap kali berhasil melesat melewati sekelompok orang, Larissa akan menoleh ke belakang dengan senyum kemenangan yang tertahan....
...Namun, setiap kali dia menoleh, senyum itu langsung luntur digantikan oleh dengusan kesal....
...Gavin Kingsley selalu ada di sana....
...Pria berusia 30 tahun itu bergerak dengan langkah yang menakutkan, seperti macan tutul yang mengintai mangsanya di tengah hutan belantara....
...Setelan jas tiga potong hitam mahalnya tetap terpasang sempurna tanpa kerutan....
...Sepatu pantofelnya mengetuk lantai marmer mal dengan ritme yang stabil dan teratur, seolah kerumunan manusia di sekelilingnya hanyalah rintangan hologram yang tidak berarti....
...Gavin tidak pernah berlari, dia tidak pernah terlihat terburu-buru, namun jarak maksimal dua meter yang dia tetapkan dalam peraturannya tidak pernah bergeser satu sentimeter pun dari posisi Larissa....
...Wajah Gavin tetap datar dan kaku bak pahatan batu, sepasang mata biru cerahnya bergerak secara teratur memindai setiap sudut, setiap celah, dan setiap wajah manusia yang berada dalam radius bahaya di sekitar Larissa....
...Aura dingin yang dipancarkannya begitu pekat, bertindak seperti perisai tak kasatmata yang secara tidak sadar membuat orang-orang yang berjalan berlawanan arah langsung menepi karena merasa terintimidasi....
...Larissa yang merasa usahanya gagal total, akhirnya menghentikan langkah di depan sebuah etalase toko perhiasan....
...Dia berbalik, melipat tangan di dada, dan menatap Gavin yang langsung berhenti tepat dua meter di depannya dengan posisi siap sempurna....
..."Kamu ini manusia atau hantu, sih?" protes Larissa, mata hazelnya mengerjap kesal....
..."Aku sudah berjalan memutar seperti labirin, tapi kamu tetap saja menempel seperti perangko kotor. Apa kamu tidak punya rasa lelah?"...
...Gavin menurunkan pandangannya sedikit, mengunci mata hazel Larissa dengan tatapan biru dinginnya....
..."Tugas saya adalah menjadi bayangan Anda, Nona. Bayangan tidak pernah tertinggal oleh pemiliknya," jawab Gavin dengan suara baritonnya yang rendah dan kaku, tanpa intonasi emosi sedikit pun....
...Sebenarnya, di balik topeng batu itu, Gavin sedang menahan gemuruh di dadanya....
...Gengsi tingginya menolak memperlihatkan bahwa setiap kali Larissa menoleh dan melemparkan tatapan menantang padanya, jantung Gavin berdegup dua kali lebih cepat....
...Ditambah lagi, gaun kuning cerah yang dikenakan Larissa hari ini mengekspos kaki jenjangnya yang mulus seputih susu, memicu naluri posesif yang ekstrem di dalam diri sang bos mafia....
...Gavin merasa ingin sekali membungkus tubuh gadis itu dengan mantel tebal agar mata pria-pria di mal ini tidak berani meliriknya....
...Setiap kali ada pengunjung pria yang menatap Larissa terlalu lama, Gavin akan membalas tatapan itu dengan pandangan membunuh yang begitu gelap dan tajam, membuat pria-pria tersebut langsung memalingkan muka dengan leher berkeringat dingin....
...Larissa mendengus melihat kekakuan Gavin....
..."Membosankan sekali. Aku mau ke toilet. Jangan bilang kamu juga mau ikut masuk ke dalam?"...
..."Saya akan menunggu di depan pintu masuk, Nona," balas Gavin ketus....
...Larissa memutar bola matanya dan berjalan menuju koridor belakang mal yang menuju ke arah toilet privat....
...Koridor ini jauh lebih sepi dan temaram dibandingkan area utama mall....
...Bianca memilih menunggu di luar koridor sambil menjaga tas belanjaan....
...Saat Larissa sedang berjalan santai di koridor yang agak lengang itu, dari arah berlawanan muncul seorang pria asing berbadan tegap yang sedang berjalan terburu-buru sambil sibuk mengetik di ponselnya....
...Pria itu berjalan tanpa melihat jalan ke depan....
...BRUK....
...Bahu pria asing itu menyenggol bahu Larissa dengan cukup keras hingga tubuh ramping Larissa sedikit terhuyung ke samping....
...Gaun kuningnya bergeser sedikit di bagian bahu....
..."Ah," Larissa meringis kecil, memegangi bahunya yang sedikit nyeri....
...Pria asing itu menghentikan langkahnya, mendongak dari ponselnya, dan menatap Larissa....
...Bukannya meminta maaf, pria itu justru menatap kulit seputih susu Larissa dengan pandangan mata yang tidak sopan, lalu mendecitkan lidahnya....
..."Jalan pakai mata, Nona!" ketusnya dengan nada kasar sebelum berniat melanjutkan langkahnya....
...Larissa baru saja akan membuka mulutnya untuk membalas dengan omelan bar-barnya, namun gerakannya terhenti....
...Sebuah bayangan hitam besar tiba-tiba melesat melewati tubuh Larissa secepat sambaran kilat....
...Sebelum pria asing itu sempat melangkah maju satu kali lagi, sebuah tangan kekar bersarung tangan kulit hitam milik Gavin sudah mencengkeram kerah baju pria itu dengan kekuatan yang luar biasa....
...Wajah Gavin saat itu benar-benar berubah....
...Kekakuan robotiknya lenyap, digantikan oleh ekspresi psikopat murni yang mengerikan....
...Mata birunya menggelap, memancarkan aura kematian yang pekat....
...Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Gavin menyeret tubuh pria tegap yang mendadak ketakutan setengah mati itu menjauh dari pandangan Larissa, membawanya masuk ke dalam sebuah belokan sudut gelap koridor yang menuju pintu keluar darurat....
...Larissa tertegun selama satu detik, sebelum akhirnya rasa penasarannya yang besar membuat dia melangkah cepat mengikuti arah Gavin....
...Begitu Larissa sampai di belokan sudut gelap tersebut, pemandangan di depannya membuat napasnya tertahan....
...Gavin sedang menyudutkan pria itu ke dinding beton. Tangan kiri Gavin mencengkeram leher pria itu hingga kakinya sedikit terangkat dari lantai, sementara tangan kanan Gavin memelintir pergelangan tangan pria asing itu ke belakang dengan sudut yang tidak wajar....
...KRETEK....
...Suara ngeri dari tulang yang bergeser atau retak bergema di sudut koridor yang sunyi itu, disusul oleh jeritan tertahan dari pria asing tersebut sebelum Gavin membekap mulutnya dengan kasar....