"Bagaimana jadinya kalau gadis nakal harus takluk menghadapi anak dari pemilik pesantren?"
Tsabita Azzahra, sebagai bentuk protes karena selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya, Safira, yang nyaris sempurna, Bita memilih hidup bebas: nongkrong di lounge elite, pulang subuh, dan akrab dengan kehidupan malam.
Puncaknya, setelah mabuk berat akibat patah hati, Bita membuat kekacauan terbesar dalam hidupnya. Di area parkir remang-remang, ia mengira seorang cowok jangkung yang sedang duduk tenang di atas moge hitamnya adalah tukang parkir. Dengan lancang, Bita memaki-maki cowok itu, menarik kerah bajunya, dan... muntah tepat di atas sepatu sneakers mahal si cowok sebelum akhirnya pingsan.
Sepanjang insiden itu, si cowok hanya diam, menatap Bita dengan pandangan dingin yang tidak terbaca, lalu menolongnya dengan tenang.
Kehabisan kesabaran, orang tua Bita memberikan hukuman final: Bita dijodohkan dengan anak pemilik salah satu Pesantren.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elma Grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Perjalanan pulang menuju rumah pribadi mereka di Jakarta dilalui dalam keheningan yang mencekam. Ibra fokus mengemudikan mobil membelah kemacetan sore, sementara tangannya yang sebelah kiri tidak pernah melepaskan genggaman pada jemari Bita. Di sebelahnya, Bita hanya memaku pandangan ke luar jendela, membiarkan air matanya mengering begitu saja di pipi.
Begitu mobil memasuki garasi rumah mereka, Bita langsung melepas sabuk pengaman dan turun tanpa menunggu Ibra. Ia melangkah cepat masuk ke dalam rumah, melempar tasnya ke atas sofa ruang tengah, dan berdiri membelakangi pintu dengan bahu yang naik turun menahan emosi.
Ibra menyusul masuk, menutup pintu rapat-rapat, lalu berjalan mendekat. "Bita, sekarang kita sudah di rumah. Tolong bilang sama Mas, apa yang kamu dengar di pondok tadi?"
Pertanyaan lembut itu justru menjadi pemantik bensin pada api yang sejak tadi berkobar di dada Bita. Wanita itu berbalik dengan cepat, matanya merah menyala menatap Ibra.
"Kenapa gak Mbak Safira aja sih, Mas?!" teriak Bita, suaranya pecah memenuhi ruangan yang sepi.
Ibra tertegun, langkahnya terhenti. "Maksud kamu apa?"
"Kenapa dulu bukan Mbak Safira aja yang dijodohin sama kamu? Kenapa harus aku?!" Air mata Bita kembali luruh deras. "Mbak Safira itu pinter, lulusan universitas Islam, bahasa Arab-nya bagus, auranya ustazah sejati dari lahir! Cocok banget bersanding sama Gus Ibra yang terhormat! Gak kayak aku!"
Bita memukul dadanya sendiri dengan frustrasi.
"Aku ini cuma cewek biasa yang tersesat di pesantren kamu, Mas! Di mata santri-santri kamu, aku ini gak punya kelas! Aku gak pantes jadi istri kamu!"
Ibra tidak memotong. Pria itu justru melangkah lebar, mengikis jarak di antara mereka, lalu menangkap kedua pergelangan tangan Bita yang sedang memukuli dadanya sendiri. Cengkeraman Ibra kuat namun sama sekali tidak menyakiti.
"Lepasin, Mas! Lepas!" pemberontakan Bita melemah, digantikan oleh tangisan pilu yang keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam. "Aku capek dibanding-bandingin... Dari kecil selalu Mbak Safira yang paling bener, dan sekarang di rumah tangga aku sendiri pun, orang-orang tetap menganggap dia yang lebih layak."
"Tsabita, lihat saya!"
Suara bariton Ibra naik satu oktav, terdengar begitu tegas dan menggelegar, seketika membungkam tangisan Bita. Pria itu memaksa Bita menatap lurus ke dalam manik mata elangnya yang kini memancarkan kesungguhan yang mutlak.
"Saya tidak menikahi sebuah gelar, saya tidak menikahi lulusan universitas Islam, dan saya tidak peduli dengan apa yang disebut orang sebagai 'aura ustazah'!" ucap Ibra dengan penekanan di setiap kalimatnya.
"Pria yang berdiri di depanmu sekarang ini adalah Ibra, suamimu. Bukan Gus Ibra milik para santri. Dan Ibra yang ini, hanya memilih Tsabita Azzahra untuk menjadi makmumnya. Lahir dan batin."
Ibra menarik Bita ke dalam dekapan dadanya, mengunci tubuh wanita itu erat-erat seolah takut istrinya akan menguap jika ia lepaskan.
"Mas tidak pernah melihat ke belakang, Bita. Mas tidak peduli seberapa hebatnya Safira di mata orang lain. Di mata Mas, hanya kamu wanita yang Mas inginkan untuk menemani Mas sampai ke surga. Tolong, jangan pernah ragukan itu lagi," bisik Ibra lirih, suaranya bergetar penuh emosi, menumpahkan seluruh rasa cintanya yang teramat besar.
Bita terpaku di dalam pelukan hangat itu. Kata-kata Ibra perlahan masuk ke dalam relung hatinya, mengobati luka insekuritas yang sempat menganga lebar. Sentuhan kokoh suaminya berhasil meruntuhkan dinding pembatas egonya. Tangan Bita yang semula terkepal, perlahan terbuka dan membalas pelukan Ibra dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu.
Malam harinya, jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Suasana rumah pribadi mereka sudah kembali tenang dan damai. Bita sedang duduk di konter dapur, menyesap secangkir cokelat hangat yang baru saja dibuatkan oleh Ibra untuk menenangkan pikirannya.
Ibra berdiri di sampingnya, mengusap lembut rambut Bita yang terurai bebas tanpa jilbab—sebuah hak istimewa yang hanya bisa dinikmati di dalam rumah mereka ini. Rumah yang lokasinya bahkan tidak diberitahukan kepada publik maupun santri demi menjaga privasi mereka.
"Sudah lebih baik?" tanya Ibra lembut.
Bita mengangguk kecil, menatap suaminya dengan tatapan bersalah. "Maaf ya, Mas... Tadi sore aku emosional banget sampai teriak-teriak sama kamu."
Ibra tersenyum tipis, lalu mengecup sekilas pucuk kepala Bita. "Gak apa-apa. Mas justru senang kalau kamu menumpahkan semuanya ke Mas, daripada dipendam sendiri."
Baru saja Bita hendak meletakkan cangkirnya untuk membalas senyuman Ibra, tiba-tiba keheningan malam itu pecah oleh sebuah suara yang sangat asing di rumah mereka.
Ting Tong! Ting Tong!
Suara bel gerbang depan berbunyi nyaring, disusul ketukan pintu utama yang terdengar sangat tergesa-gesa dan keras dari luar.
Tok! Tok! Tok!
Bita dan Ibra seketika saling lempar pandang. Dahak Bita mendadak tercekat. Di jam sepuluh malam seperti ini, di rumah pribadi mereka yang lokasinya sangat rahasia dan hanya diketahui oleh keluarga inti, siapa yang bisa datang?
"Kamu tunggu di sini, Mas biar cek ke depan," perintah Ibra, wajahnya langsung berubah waspada dan dingin. Pria itu berjalan cepat menuju pintu depan.
Rasa penasaran sekaligus cemas membuat Bita tidak bisa tinggal diam di dapur. Ia menyambar jilbab instannya yang tergeletak di kursi, memakainya dengan cepat, lalu melangkah perlahan mengekor di belakang Ibra dari jarak aman.
Ibra membuka pintu utama kayu jati rumah mereka.
Angin malam Jakarta yang dingin langsung berembus masuk, membawa serta aroma parfum familiar yang sangat tajam. Di ambang pintu, di bawah temaram lampu teras, berdiri seorang wanita dengan napas memburu dan jilbab syar'i yang sedikit berantakan terkena rintik gerimis.
Itu Safira.
Kakak kandung Bita itu berdiri di sana sambil memeluk sebuah tas pakaian besar di dadanya. Wajahnya yang biasa tampak teduh dan anggun kini dipenuhi oleh air mata yang mengalir deras, dengan ekspresi ketakutan yang teramat sangat.
Namun, begitu pintu terbuka dan mata Safira menangkap sosok Ibra, wanita itu langsung menjatuhkan tasnya ke lantai. Tanpa memedulikan batas kesopanan, Safira maju satu langkah dan langsung memegang erat kedua lengan kemeja koko Ibra.
"Gus Ibra... tolong saya, Gus..." tangis Safira histeris, suaranya bergetar hebat memecah kesunyian malam. "Pondok putri... ada kekacauan besar, dan saya... saya gak tahu harus lari ke mana lagi selain ke rumah Gus Ibra!"
Dari balik bayangan ruang tengah, Bita mematung sempurna. Matanya membelalak menatap pemandangan di depan pintu rumah pribadinya sendiri. Pertanyaan besar langsung menghantam otaknya, Bagaimana bisa Safira tahu alamat rumah rahasia ini? Dan kekacauan apa yang sedang terjadi di pondok putri?
😈😤😡😡😡
slm hidup bita diprlakukn tak adil.... sll di anggp ank sialan... 🙄🙄
org tua yg slm ini sll mmprlakukn bita tak adil.... demi ank emasnya🙄🙄🙄
🙄🙄
harus mnambh sabar bita.... kelak saat smuanya trbongkar.... g msLah harus putus hubungan keluarga....
trkadang org lain adalah sbnrnya keluarga... wloupun tnpa ada ikatan darah....