Park Soo-jin, siswi baru yang pindah ke SMA Haneul di Seoul, menghadapi beban berat: biaya sekolah dan pengobatan ayah yang terus menumpuk. Saat kehabisan pilihan, ia menemukan sebuah lowongan dengan bayaran tinggi—namun tugasnya tak terduga: menjadi pemburu hantu sekolah.
Di siang hari, ia adalah siswi biasa yang berusaha mengikuti pelajaran. Di malam hari, ia menyusuri koridor sepi, ruang kelas terbengkalai, dan lorong gelap untuk menenangkan arwah yang belum tenang. Awalnya hanya demi uang, perlahan Soo-jin menyadari tugas ini mengajarkannya lebih dari sekadar keberanian: setiap bayang memiliki kisah, dan setiap perjuangan punya makna.
Akankah ia mampu bertahan menyeimbangkan kehidupan sekolah dan rahasia kelam yang tersembunyi di balik tembok sekolahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechie kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan di Gudang Tua
Hari berikutnya terasa berjalan sangat lambat bagi Soo-jin. Sepanjang jam pelajaran, pikirannya tak pernah lepas dari janji yang dibuatnya semalam. Ia berusaha fokus mendengarkan penjelasan guru, tapi bayangan gudang tua dan peringatan Min-woo terus melintas di kepalanya. Ketika jam sekolah berakhir, ia pulang sebentar untuk berganti pakaian yang nyaman dan menyiapkan senter kecil, lalu kembali berjalan menuju sekolah saat langit mulai berubah warna menjadi keunguan.
Pukul sembilan malam tepat, Soo-jin berdiri di depan pintu kayu besar yang sudah lapuk dan tertutup lumut. Itulah gudang tua yang jarang dikunjungi siapa pun, terletak di pojok paling belakang sekolah, jauh dari gedung utama dan lampu penerangan. Suasana terasa sunyi sekali, hanya terdengar suara jangkrik dan angin yang berdesir di antara pepohonan.
Dengan tangan gemetar, ia mengetuk pintu itu tiga kali sesuai firasatnya. Tak lama, pintu terbuka perlahan mengeluarkan bunyi berderit yang memekakkan telinga di keheningan malam.
“Masuklah.”
Suara berat yang sama seperti di telepon semalam terdengar dari dalam. Soo-jin melangkah masuk hati-hati, lalu pintu tertutup rapat kembali di belakangnya. Di dalam ruangan yang remang-remang itu, hanya diterangi cahaya lilin dan satu lampu minyak yang tergantung di langit-langit rendah. Di sana sudah ada empat orang yang menunggunya.
Salah satunya adalah seorang pria berusia sekitar dua puluh lima tahun, berpakaian rapi meski agak sederhana—dia yang sepertinya memimpin. Di sampingnya berdiri dua siswa laki-laki lain, dan satu lagi sosok yang membuat jantung Soo-jin terasa berhenti berdetak sejenak: Lee Min-woo.
Min-woo menatapnya dengan pandangan terkejut sekaligus marah dan khawatir. Ia menggeleng pelan, seolah berkata: “Sudah kubilang jangan datang.”
“Jadi kau benar-benar datang,” ucap pemimpin itu sambil melangkah mendekat. Namanya Kang Joon-ho, guru bimbingan konseling di sekolah itu, meski jarang terlihat di kelas. “Kau tahu tugas apa yang akan kau emban jika resmi bergabung?”
Soo-jin menarik napas dalam-dalam, menatap satu per satu wajah mereka dengan tegas. “Saya tahu ini berkaitan dengan hal-hal yang tidak biasa. Saya juga tahu bayarannya sangat tinggi. Saya datang karena saya sangat membutuhkan uang untuk biaya sekolah dan pengobatan ayah saya. Saya siap menerima tugas apa pun asalkan sesuai janji.”
Kang Joon-ho tersenyum tipis, tanpa kehangatan. “Baiklah. Kami tidak menerima orang yang setengah hati. Tim ini bernama Penjaga Ketenangan, tapi orang-orang menyebut kami Pemburu Hantu Sekolah. Tugas kami bukan sekadar mengusir, tapi menenangkan makhluk yang terjebak dan mengganggu keseimbangan di lingkungan ini. Resikonya nyata—bisa membuat kau sakit, ketakutan, bahkan terjebak seperti mereka jika lengah.”
Ia menyerahkan selembar kertas perjanjian dan sebuah kotak kecil berisi garam halus, jimat, serta senter khusus.
“Setelah menandatangani ini, kau tidak bisa mundur sembarangan. Gaji akan dibayarkan setiap minggu di muka. Keputusan ada di tanganmu sekarang.”
Soo-jin melirik sekilas ke arah Min-woo yang masih menatapnya dengan tatapan cemas, lalu kembali menatap kertas itu. Tanpa ragu lagi, ia mengambil pulpen dan menuliskan namanya di tempat yang disediakan.
“Saya siap,” ucapnya lantang.
Malam itu juga, Park Soo-jin resmi menjadi anggota tim tersebut. Ia baru menyadari—mengapa Min-woo begitu berusaha melarangnya, karena ia sendiri sudah lama menjadi bagian dari dunia ini.
Kang Joon-ho mengangguk pelan melihat tanda tangan Soo-jin, lalu melipat kertas perjanjian itu dan menyimpannya di dalam map cokelat. Wajahnya yang datar sedikit melunak, seolah menghargai ketegasan gadis itu.
“Baik. Karena kau baru pertama kali bergabung, malam ini belum ada tugas berat untukmu. Kamu boleh membantu mereka atau hanya mengamati apa yang dilakukan. Pelajari dulu cara kerjanya, rasakan situasinya, dan pahami aturan mainnya.”
Ia menoleh ke arah dua orang siswa di sampingnya, lalu menunjuk satu per satu.
“Kau akan berangkat bersama Lee Min-woo dan satu lagi temanmu, Choi Seung-hyun. Seung-hyun sudah setahun lebih di tim ini, dia paham seluk-beluk setiap sudut sekolah. Min-woo juga sudah cukup berpengalaman. Ikuti mereka, jangan bertindak sendiri, dan ingat apa yang sudah kukatakan tadi.”
Seung-hyun, siswa laki-laki berperawakan tegap dengan rambut sedikit berantakan dan tatapan tajam, melambaikan tangan santai sambil tersenyum tipis. “Santai saja, Soo-jin. Malam ini hanya patroli rutin. Kau cukup lihat dan catat dalam hatimu.”
Min-woo yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara, nadanya terdengar campur kesal dan khawatir. “Sudah kubilang ini bukan jalan mudah… tapi karena kau sudah memutuskan, setidaknya jangan buat kami kewalahan. Tetap di belakangku dan jangan berisik.”
Soo-jin mengangguk cepat, merasa sedikit lega karena tidak langsung ditugaskan menghadapi hal yang tidak diketahui. “Baiklah, saya mengerti. Saya hanya akan mengamati dan belajar malam ini.”
Mereka segera bersiap. Seung-hyun membagikan peralatan: senter dengan cahaya yang lebih terang dari biasa, sebotol garam halus, dan selembar kertas jimat yang diberinya pesan agar tidak dibuka sembarangan.
“Mulai sekarang, kita masuk ke wilayah yang berbeda,” ucap Seung-hyun sambil membuka pintu gudang. “Tetap waspada, meskipun terasa sepi, bukan berarti kita sendirian.”
Mereka bertiga melangkah keluar menembus kegelapan malam, meninggalkan cahaya remang gudang tua. Di depan mereka terbentang koridor panjang dan gedung-gedung sekolah yang tampak sangat berbeda di malam hari—lebih sunyi, lebih dingin, dan menyimpan banyak rahasia yang tak terlihat di siang hari.
Mereka bertiga melangkah menyusuri lorong belakang sekolah. Cahaya senter hanya menerangi jalan di depan kaki mereka, menyisakan bayangan panjang yang bergerak mengikuti langkah. Suasana terasa sangat sunyi—hanya suara langkah kaki dan angin yang berdesir di sela jendela.
Belum sampai ke ujung gedung lama, tiba-tiba Soo-jin mengerutkan hidungnya. Ia berhenti sejenak, tangannya secara refleks memegang lengan baju Min-woo.
“Kenapa berhenti?” tanya Min-woo menoleh, suaranya rendah.
“Aku… aku mencium sesuatu,” jawab Soo-jin dengan nada bingung. “Aroma seperti bunga yang sudah layu, bercampur dengan hawa lembab dan dingin yang menusuk hidung. Rasanya sangat kuat, semakin terasa saat kita berjalan ke depan.”
Min-woo dan Seung-hyun saling berpandangan terkejut. Seung-hyun mengangkat senternya lebih tinggi, mengamati sekeliling tanpa menemukan sesuatu yang aneh secara kasat mata.
“Kau yakin menciumnya?” tanya Seung-hyun. “Bahkan kami saja belum merasakan perubahan suhu atau tanda apa pun.”
“Bukan hanya itu,” lanjut Soo-jin, matanya menyipit mencoba melihat ke dalam kegelapan. “Aku juga merasakan ada sesuatu yang ada di dekat sini. Seolah ada pandangan yang mengawasi dari segala arah, dan hawa di sekitar tiba-tiba terasa lebih berat dan dingin. Tapi… aku tidak bisa melihat wujudnya dengan jelas. Hanya ada bayangan samar yang terus bergerak menghindari cahaya senter.”
Kali ini wajah Min-woo benar-benar terkejut. Ia menatap Soo-jin dengan pandangan yang tidak percaya sekaligus penuh pertimbangan.
“Di luar dugaan…” gumam Min-woo pelan. “Ternyata kau punya indra yang jauh lebih peka daripada kami duga. Bisa merasakan kehadiran mereka, bahkan mencium aroma khasnya—itu adalah kemampuan alami yang jarang dimiliki orang biasa, apalagi tanpa latihan sama sekali.”
Seung-hyun mengangguk setuju, wajahnya kini terlihat lebih serius tapi juga kagum. “Benar. Setiap arwah atau makhluk gaib memang meninggalkan aroma khas dan perubahan suhu, tapi hanya sedikit orang yang bisa menangkapnya sejelas ini. Bahkan kau bisa merasakan keberadaannya meski belum bisa melihat wujudnya—itu modal yang sangat besar untuk pekerjaan ini.”
Soo-jin menelan ludah, perasaannya campur aduk antara takut dan heran. “Jadi… apa yang aku rasakan itu nyata? Bukan hanya perasaan atau imajinasiku sendiri?”
“Nyata sekali,” jawab Min-woo sambil mengeluarkan selembar jimat dari saku dan menggenggamnya erat. “Itu artinya indramu sudah terbuka sejak awal, mungkin tanpa kau sadari. Malam ini kau tidak hanya belajar melihat apa yang kami lakukan, tapi juga mulai mengenali kemampuan yang ada di dalam dirimu sendiri.”
Mereka melanjutkan langkah lebih hati-hati. Soo-jin menyadari satu hal: kebutuhan uanglah yang membawanya masuk ke sini, tapi ternyata ia memiliki hubungan tersendiri dengan dunia yang tidak terlihat itu—sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak ketahui sebelumnya.
Di kejauhan, aroma itu semakin kuat, dan bayangan samar yang ia rasakan pun perlahan terasa semakin dekat.