NovelToon NovelToon
Cinta Tulus Sang Penguasa

Cinta Tulus Sang Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Risnawati

Annisa, seorang TKI dari Indonesia, merantau ke Tiongkok untuk mencari nafkah. Ia bekerja sebagai pembantu di kediaman Chensi—seorang pengusaha kaya raya, pemimpin perusahaan raksasa, dan dikenal sebagai sosok yang kejam, dingin, serta tak ada yang berani menentangnya. Hidup Annisa terasa penuh ketakutan hingga suatu malam, Chensi pulang dalam keadaan mabuk berat dan melakukan perbuatan keji yang merenggut kehormatannya. Kejadian itu membuat Annisa hamil, memaksanya menghadapi pilihan sulit: bertahan atau kembali pulang dengan membawa beban yang tak terbayangkan. Akankah sang tiran yang dingin itu akhirnya berubah, atau justru menambah penderitaan bagi Annisa dan janin di dalam kandungannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perasaan tak menentu

Langkah mereka terhenti sejenak saat angin dingin menerpa wajah. Chensi baru saja akan melangkah kembali ke mobil, ketika Annisa tiba-tiba membuka suara dengan nada malu-malu:

“Tuan… bolehkah saya meminta satu hal lagi?”

Chensi menoleh, matanya menatap gadis itu dengan penuh perhatian. “Apa itu? Katakan saja.”

Annisa menunduk, jari-jarinya memutar ujung syal yang melingkar di lehernya. “Saya… saya ingin makan rujak. Yang asam, pedas, dan segar rasanya.”

Mendengar permintaan itu, dahi Chensi langsung berkerut bingung. Ia menatap cuaca di luar—salju terus turun, suhu udara terasa menusuk tulang, dan jalanan sudah mulai memutih.

“Rujak? Di cuaca sedingin ini kau ingin makan makanan yang asam dan pedas?” tanyanya dengan nada heran. “Bahkan di kota ini, hampir tidak ada orang yang menjualnya. Makanan seperti itu bukan kebiasaan orang sini.”

Annisa mengangguk paham, wajahnya terlihat sedikit kecewa namun berusaha tersenyum lemah. “Saya tahu, Tuan. Saya hanya teringat makanan dari kampung halaman. Kalau tidak ada yang menjualnya, tidak apa-apa. Saya bisa mencarinya sendiri bahannya saja, nanti saya buat sendiri di dapur. Atau… lebih baik kita pulang saja, tidak perlu repot-repot.”

Ia sudah bersiap untuk berbalik, merasa permintaannya memang terlalu aneh dan menyusahkan. Namun tiba-tiba Chensi mengulurkan tangannya, lalu dengan lembut mengusap puncak kepala Annisa yang masih tertutup rapat oleh hijab. Sentuhannya terasa hangat, berbeda dengan udara dingin di sekitar mereka.

“Siapa bilang ini menyusahkan?” ucapnya sambil tersenyum tipis, senyum yang semakin sering terlihat akhir-akhir ini. “Kalau kau ingin membuatnya sendiri, berarti kita harus mencari bahannya, bukan? Aku tidak tahu apa saja yang dibutuhkan, tapi kau yang tahu. Ayo, kita cari tempat yang menjualnya.”

Tanpa menunggu jawaban lagi, Chensi membukakan pintu mobil untuk Annisa, lalu melangkah ke sisi kemudi. Ia menyalakan mesin dan melajukan kendaraannya menuju pusat perbelanjaan terbesar di kota itu, tempat yang menjual berbagai jenis barang termasuk kebutuhan makanan dari berbagai negara.

Di dalam mobil, suasana terasa hangat dan tenang. Chensi sesekali melirik ke arah Annisa yang duduk di sampingnya, masih terlihat sedikit malu.

“Kau tahu, ini pertama kalinya aku mendengar nama makanan itu,” ujarnya memecah keheningan. “Sepertinya benar-benar enak sampai kau menginginkannya di cuaca sedingin ini?”

Annisa tersenyum tipis, perasaan gugupnya sedikit berkurang. “Rasanya memang unik, Tuan. Perpaduan asam, manis, dan sedikit pedas. Saat saya masih di rumah, ibu sering membuatkannya untuk saya. Belakangan ini lidah saya terasa hambar, dan tiba-tiba saja teringat rasa itu.”

Chensi mengangguk mengerti, meski dalam hatinya masih merasa ada yang aneh. Perubahan selera makan yang tiba-tiba, rasa lemas, dan sering melamun—semua itu membuatnya semakin bertanya-tanya, namun ia memilih untuk tidak menekan Annisa dulu. Ia ingin gadis itu merasa nyaman dan mau bercerita dengan sendirinya.

Sesampainya di pusat perbelanjaan yang luas dan hangat, mereka berjalan beriringan. Chensi membiarkan Annisa memimpin jalan, mengikuti arah mana pun yang dituju gadis itu.

“Kita cari di bagian sayuran dan buah-buahan dulu, Tuan,” ujar Annisa sambil menunjuk arah lorong tertentu.

Chensi hanya mengangguk, menatap setiap gerak-gerik Annisa dengan perhatian. Ia melihat bagaimana gadis itu memilih mangga muda, bengkuang, timun, jambu air, lalu mencari cabai, gula merah, dan kacang tanah. Setiap kali Annisa mengambil barang, Chensi langsung mengambilnya dan memasukkan ke dalam keranjang belanja, seolah itu adalah tugasnya sendiri.

Beberapa orang yang lewat menatap mereka dengan pandangan penasaran—seorang pria tampan, berwibawa, dan jelas-jelas orang kaya, berjalan mengikuti perintah seorang wanita asing dengan penampilan tertutup. Namun Chensi tidak memedulikan pandangan orang lain. Baginya, saat ini keinginan Annisa adalah hal yang paling penting.

Setelah semua bahan terkumpul, mereka menuju kasir. Chensi segera membayar semuanya tanpa membiarkan Annisa mengeluarkan uang sepeser pun.

“Sudah lengkap?” tanyanya sambil mengangkat kantong belanjaan itu dengan mudah.

“Sudah, Tuan. Terima kasih banyak,” jawab Annisa dengan rasa syukur yang tulus.

“Baiklah. Sekarang kita pulang. Nanti kau bisa membuatnya sesuka hatimu. Kalau rasanya enak, aku juga ingin mencobanya,” ujar Chensi sambil tersenyum, lalu melangkah membukakan jalan untuk Annisa.

Di sepanjang perjalanan pulang, Annisa duduk dengan perasaan yang semakin kacau. Ia merasa semakin sulit untuk menyembunyikan rahasia ini. Sikap perhatian Chensi yang semakin hari semakin tulus membuatnya merasa bersalah, seolah ia sedang menipu lelaki itu. Namun rasa takut akan reaksi Chensi masih menghantui pikirannya—apakah ia akan marah, menganggapnya beban, atau justru menerima kabar ini dengan hati terbuka?

Sesampainya di rumah, Annisa segera menuju dapur. Dengan hati-hati dan gerakan yang terbiasa, ia mengupas, memotong, dan meracik bumbu rujak sesuai cara yang diajarkan ibunya. Aroma asam, manis, dan sedikit pedas mulai tercium memenuhi ruangan, mengingatkan pada suasana rumah di kampung halaman.

Chensi berdiri di ambang pintu dapur, mengamati diam-diam. Ia melihat betapa fokus dan tenangnya Annisa saat bekerja, seolah membuat makanan ini adalah cara gadis itu menenangkan hatinya sendiri.

Setelah selesai, Annisa menata rujak itu di piring yang rapi, lalu membawanya ke ruang makan. Ia meletakkan piring itu di tengah meja, lalu menatap Chensi dengan wajah sedikit gugup.

“Silakan dicoba, Tuan. Rasanya mungkin tidak persis sama seperti di kampung saya, tapi saya sudah berusaha semampu saya,” ucapnya pelan.

Chensi duduk di hadapannya, mengambil sedikit menggunakan sendok, lalu memasukkannya ke mulut. Matanya terbelalak sejenak—rasa asam yang segar, manis yang pas, dan pedas yang menyengat namun nikmat, benar-benar berbeda dari semua makanan yang pernah ia cicipi selama ini.

“Rasanya… luar biasa,” ujarnya jujur, senyumnya melebar. “Tidak heran kau sangat menginginkannya. Ini memang memiliki rasa yang khas.”

Annisa tersenyum lega, lalu ikut mencicipinya. Untuk sesaat, rasa cemasnya sedikit hilang, namun setelah beberapa suapan, tangannya mulai berhenti bergerak. Jantungnya berdebar kencang, dan ia tahu—saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkan semuanya. Ia tidak bisa lagi menyembunyikan rahasia yang semakin berat itu.

Dengan napas panjang untuk menenangkan diri, Annisa meletakkan sendoknya, lalu menatap mata Chensi dengan pandangan yang tulus namun penuh kekhawatiran.

“Tuan Chensi… ada hal penting yang harus saya sampaikan. Hal yang sudah lama saya pendam, dan rasanya tidak adil jika saya terus menyembunyikannya dari Tuan.”

Chensi segera meletakkan makannya, menyadari perubahan suasana. Ia menatap Annisa dengan perhatian penuh, nadanya menjadi lebih serius namun lembut. “Apa itu? Katakan saja apa pun yang ada di hatimu. Tidak perlu takut.”

Annisa menggenggam kedua tangannya di atas pangkuan, suaranya bergetar namun jelas terdengar.

“Selama ini saya merasa lemas, sering mual, dan selera makan saya berubah-ubah… itu bukan hanya karena lelah atau cuaca dingin. Saya sudah memastikannya sendiri. Tuan… saya sedang mengandung. Ada janin Tuan yang tumbuh di dalam rahim saya.”

Keheningan menyelimuti ruangan seketika. Chensi tertegun, matanya terbelalak seolah tidak percaya mendengar kalimat itu. Wajahnya berubah, terlihat campuran antara kaget, terkejut, dan perasaan yang sulit dijelaskan. Ia terdiam lama, membuat jantung Annisa terasa seolah terhenti berdetak.

Setelah beberapa saat, Chensi mengumpulkan kembali kesadarannya, lalu bertanya dengan suara yang masih sedikit kaku: “Kau yakin? Benar-benar yakin akan hal ini?”

“Saya yakin, Tuan. Saya sudah memeriksanya sendiri dengan alat tes, dan semua tanda-tandanya juga jelas,” jawab Annisa sambil menahan air mata yang ingin mengalir. “Karena itulah saya ingin bicara. Saya tahu situasi kita sangat sulit, dan saya tidak ingin membebani Tuan lebih dari ini.”

Ia menarik napas dalam, lalu melanjutkan dengan tegas namun lembut:

“Saya mengerti posisi kita. Kita memiliki keyakinan dan adat yang berbeda, sehingga pernikahan antara kita tidak mungkin dilakukan. Saya tidak ingin memaksakan ikatan yang tidak bisa dijalani, apalagi jika itu akan melanggar prinsip hidup saya maupun Tuan.”

Annisa menunduk sejenak, lalu mengangkat wajahnya kembali:

“Karena itu, saya punya permintaan. Jika Tuan mengizinkan dan bersedia, saya ingin pulang ke kampung halaman saya. Saya akan membesarkan anak ini sendirian, menjaganya dengan baik, dan tidak akan pernah mengganggu kehidupan Tuan lagi. Saya hanya memohon satu hal—jika Tuan berkenan, berikanlah biaya yang cukup untuk kebutuhan saya selama mengandung dan membesarkan anak nanti. Itu saja yang saya minta.”

Ia berhenti sejenak, suaranya semakin lirih namun penuh keteguhan:

“Saya juga berjanji tidak akan memberitahu siapa pun tentang asal-usul anak ini, termasuk ibu dan adik saya. Mereka tidak perlu tahu apa yang terjadi. Saya akan menjaga nama baik keluarga saya, dan juga tidak akan menodai nama baik Tuan. Saya hanya butuh jalan keluar yang terbaik untuk anak ini, dan untuk diri saya sendiri.”

Annisa menatap Chensi dengan pandangan memohon, siap menerima jawaban apa pun yang akan diberikan lelaki itu—entah itu persetujuan, penolakan, atau bahkan kemarahan.

1
Kasih Bonda
next Thor semangat
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Jalanilah hubungan kalian berdua seperti ini dulu, sambil terus berdoa suatu saat jika Tuhan sudah berkehendak kalian untuk bersatu selamanya.
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Chensi saat ini mulai tertarik untuk mempelajarinya, siapa tahu suatu saat nanti atas ijin Yang Maha Kuasa Chensi tidak hanya mempelajari saja namun juga memperdalam ilmunya serta meyakini apa yang sudah ditegaskan di dalam setiap ayat-ayatnya.
Naufal Affiq
semoga chensi mendapat hidayah
Naufal Affiq
bagus chensi
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
lanjut kak dewi
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
seiring berjalannya waktu semoga hubungan kalian.bisa menemukan jalan yang baik
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
asingkan aliin keluar pulau terpencil biar tidak bisa balik lagi 🙄
Kasih Bonda
next Thor semangat
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
chensi mana mau dengar wong calon cucu sendiri mau di lenyapkan
Naufal Affiq
bagus chensi,buat mereka jera seumur hidup
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Rukun-rukun ya kalian berdua 🥰👍
Kasih Bonda
next Thor semangat
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋𝐦ͬ𝐨ᷲ𝐨ᷯ𝐧ᷲ three
hukuman yg pantas buat kalian bertiga mk nya mikir sebelum bertindak
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋𝐦ͬ𝐨ᷲ𝐨ᷯ𝐧ᷲ three
memang pengawal bodo hrsnya konfirmasi dl sm tuanmu , trima sj hukumnya nya skrg
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Akhirnya Aulin menerima hukuman dari Chensi, semoga saja dia benar-benar tak akan mengganggu kehidupan Annisa di kemudian hari 👍
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
kasiann Annisa semoga dia tidak apa apa dan Chensi cepat datang menolong 😟😟
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
bego banget penjaganya mudah percaya ditambah iming iming uang lagi harusnya konfirmasi sendiri sama Chensi mengenai kedatangan Ailin🤧😤
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
huaa senangnya mendengar pengakuan kalian sekarang jangan galau lagi Annisa nanti Chansi pasti pulang
Naufal Affiq
chensi cepat pulang,annisa di bawa ailin pergi dari rumah mu,alasan kau yang menyuruhnya.tolong annisa vhensi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!