Keira Liem cuma mau hidup tenang.
Setelah dikhianati mantan pacar dan dijebak rekan kerja, pilot muda ini nyaris kehilangan segalanya—karier, reputasi, bahkan harga diri. Satu-satunya jalan keluar? Nikah siri dengan pria asing yang ditemuinya di parkiran bawah tanah SCBD di malam terburuk hidupnya.
Pria itu bilang namanya Kai. Katanya pengangguran. Senyumnya menyebalkan, mulutnya pedas, tapi entah kenapa... Keira merasa aman di dekatnya.
Yang tidak Keira tahu: "Kai" adalah Kaizan Tanujaya—CEO Nusantara Airlines, pewaris konglomerat Tanujaya, dan legenda penerbangan yang fotonya sudah ditempel Keira di dinding kamar sejak SMA.
Setiap hari, Keira memuja Kapten Kaizan Tanujaya di kantor.
Setiap malam, Keira memarahi "suami kontrak pengangguran"-nya di rumah.
Mereka adalah orang yang sama.
Dan Kaizan? Dia menikmati setiap detiknya.
Tapi rahasia tidak bisa bertahan selamanya. Ketika topeng terbuka, ketika masa lalu yang kelam menyerang, ketika satu-satunya orang yang pernah membuatnya jatuh cinta berbalik pergi—Kaizan harus membuktikan bahwa cinta yang dimulai dari kebohongan bisa menjadi hal paling nyata di hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 34
Lift
Satu minggu setelah kotak makan pertama kembali kosong, Keira mulai percaya kantor dapat terasa normal lagi.
Kaizan tidak muncul di jadwalnya. Tidak ada bunga di meja, tidak ada mobil menunggu di parkiran, dan sarapan selalu sudah ditinggalkan sebelum dia membuka pintu. Kadang dimakan, kadang tidak. Kaizan tidak pernah menanyakan.
Pagi itu, Keira masuk lobi NusAir bersama Dito Pratama. Dito baru dipindahkan ke tim operasi rute domestik dan akan menjadi pasangan kru Keira untuk dua penerbangan pekan depan.
"Aku sudah membaca laporan FK980," katanya. "Bagian komunikasi kalian rapi."
"Laporan final belum keluar. Jangan percaya semua potongan berita."
"Aku baca laporan internal, bukan media."
"Lebih baik."
Dito menempelkan kartu di gerbang. "Kalau aku salah callout saat terbang denganmu, apakah langsung masuk laporan?"
"Kalau kamu memperbaiki, masuk debrief. Kalau kamu berdebat dan mengulang, baru masuk laporan."
"Mengerikan."
"Kamu masih bisa mengundurkan diri."
"Tidak. Aku ingin hidup berbahaya."
Di dekat gerbang, dua pegawai menoleh kepada Keira lalu berbisik tentang acara pembukaan. Dito menunggu sampai mereka lewat.
"Kalau ada orang bertanya, aku tidak tahu apa-apa," katanya.
"Memang kamu tidak tahu."
"Benar. Tapi orang kantor suka mengira duduk satu briefing membuatku tahu kehidupan semua pilot."
Keira menatapnya lebih lama. "Terima kasih."
"Aku suka berita, bukan mengganggu orang. Ada bedanya."
Sikap itu membuat Keira tidak keberatan berdiri satu lift dengannya. Dia belum tahu beberapa menit lagi Dito akan menjadi satu-satunya saksi percakapan yang paling ingin dia sembunyikan.
Mereka sampai di deretan lift bersama beberapa pegawai lain. Pintu terbuka. Keira melangkah masuk, menekan lantai dua puluh dua, lalu berbalik.
Kaizan berdiri di luar.
Jas abu-abu, kartu akses hitam, jam anak-anak biru.
Seluruh percakapan di sekitar lift mati.
"Pak Kaizan," sapa beberapa pegawai.
Kaizan mengangguk. Ada lift eksekutif di sisi lain lobi, tetapi pintunya sedang dipakai tamu komisaris. Dia bisa menunggu. Dia juga bisa masuk dan membuat Keira berpikir pertemuan itu diatur.
"Silakan," kata Keira datar. "Ini lift perusahaan."
Kaizan masuk.
Dito bergerak ke sudut, tiba-tiba menyesali seluruh lelucon yang dibuat selama berjalan dari lobi. Dua staf lain berdiri di depan. Tidak ada yang berani melihat layar ponsel.
Pintu menutup.
Lift berhenti di lantai tujuh. Dua staf keluar begitu cepat hingga hampir lupa mengucapkan permisi. Seorang pegawai dari luar hendak masuk, melihat direktur utama di dalam, lalu memilih lift sebelah dengan alasan menunggu temannya.
Keira menatap angka lantai.
Kaizan menatap pantulan Keira di dinding logam.
Dito menatap sepatu sendiri.
"Sarapan tadi terlalu asin?" tanya Kaizan akhirnya.
Mata Dito terangkat.
Keira tidak menoleh. "Saya tidak tahu."
"Berarti tidak dimakan."
"Atau saya tidak berkewajiban memberi laporan."
"Benar. Maaf."
Kaizan langsung berhenti bertanya. Dito melihat permintaan maaf itu dengan rasa ingin tahu. Tidak banyak orang di NusAir yang pernah mendengar Pak Kaizan meminta maaf karena satu kotak sarapan.
Lift berhenti di lantai dua belas. Dua orang terakhir keluar. Kini hanya Keira, Kaizan, dan Dito.
Dito mencoba menyelamatkan suasana. "Cuaca Jakarta bagus pagi ini."
Tidak ada yang menjawab.
"Saya seharusnya diam," gumamnya.
Sudut bibir Keira bergerak sedikit. Kaizan melihatnya.
"Laporan rute domestik sudah dikirim?" tanya Kaizan kepada Dito, memberi pria itu jalan kembali ke topik aman.
"Sudah, Bos. Ada tiga rekomendasi soal waktu rotasi dan satu temuan gerbang sempit."
"Kirim juga ke keselamatan, jangan hanya operasi."
"Siap."
Lift terus naik. Dito mulai memahami bahwa ketegangan ini bukan rumor satu arah. Pak Kaizan mengubah posisi tubuh agar tidak menghalangi Keira menuju pintu. Keira menjaga jarak, tetapi jemarinya memegang tali tas dengan cara seseorang yang berusaha menahan terlalu banyak hal.
Di lantai delapan belas, lift bergetar kecil dan berhenti lebih lama dari biasanya. Suara sistem mengumumkan pemeriksaan pintu otomatis.
Dito memandang panel. "Kita tidak terjebak, kan?"
"Indikator bergerak normal," jawab Keira.
"Tim gedung sedang menguji sensor," kata Kaizan. "Kalau lebih dari satu menit, gunakan interkom."
Pintu membuka sepuluh detik kemudian. Tidak ada keadaan darurat, hanya satu troli dokumen yang terlalu dekat dengan sensor luar. Petugas menariknya menjauh dan meminta maaf.
Keira hampir tertawa melihat Dito mengembuskan napas lega, tetapi menahannya ketika Kaizan kembali melihat.
"Aku tidak akan mengatur pertemuan seperti ini lagi," kata Kaizan pelan.
Dito pura-pura tertarik pada daftar kapasitas lift.
Keira tetap memandang angka. "Pertemuan ini memang kebetulan."
"Aku tahu. Aku cuma ingin kamu percaya bahwa kebetulan bisa benar-benar terjadi di dekatku."
"Kepercayaan tidak kembali karena kamu mengucapkan hal yang benar satu minggu."
"Aku tidak mengharapkannya."
"Kamu masih mengirim sarapan setiap hari."
"Kalau kamu meminta berhenti, aku berhenti."
"Kalau aku tidak pernah membalas?"
"Makanan akan berhenti saat enam bulan kontrak awal selesai. Setelah itu aku tidak punya alasan memakai kebiasaan lama sebagai izin."
Keira tidak menyangka dia menetapkan batas untuk dirinya sendiri.
"Kenapa enam bulan?"
"Karena itu waktu yang pernah kamu setujui untuk berbagi rumah. Aku merusak persetujuan itu. Aku tidak akan mengubahnya menjadi akses tanpa akhir."
Dito membaca angka kapasitas lift untuk ketiga kali. Percakapan tersebut menjelaskan terlalu banyak dan tetap tidak memberi satu fakta yang pantas dia sebar.
Kalimat itu tidak meminta maaf dan tidak menuntut jawaban. Justru karena sederhana, pertahanan Keira bergeser sedikit.
"Rumah pribadiku bukan apartemenmu," lanjut Kaizan. "Tidak ada kontrak dan tidak ada kamar yang harus kamu isi. Tapi kalau suatu hari kamu butuh tempat aman, bantuan, atau hanya ingin bicara, pintunya akan selalu terbuka untukmu."
Keira akhirnya menoleh.
"Aku tidak memintamu masuk," kata Kaizan. "Aku hanya tidak akan menutupnya."
"Kadang orang menutup pintu untuk merasa aman."
"Aku tahu. Karena itu aku tidak akan mengetuk pintumu tanpa izin. Pintu yang kubicarakan ada di sisiku. Kamu bebas tidak pernah melewatinya."
Keira menggigit bagian dalam pipi. Jawaban itu seharusnya tidak membuat dadanya hangat. Kaizan hanya melakukan hal yang seharusnya dipahami sejak awal: membiarkan pilihan tetap berada di tangannya.
Pintu lift terbuka di lantai dua puluh dua.
Keira melangkah keluar. Wajahnya tetap dingin, tetapi warna merah sudah mencapai ujung telinga.
Dito melihatnya jelas.
Itu bukan wajah perempuan yang benar-benar sudah tidak peduli. Namun Dito cukup waras untuk menyimpan kesimpulan itu di kepalanya sendiri.
"Briefing sepuluh menit lagi," katanya sambil menyusul.
"Aku tahu."
Langkah Keira semakin cepat hingga menghilang di belokan koridor.
Pintu mulai menutup. Dito menahan tombol dan menoleh kepada Kaizan yang masih berdiri dengan senyum tipis, menatap tempat Keira menghilang.
"Bos... itu Keira?"