NovelToon NovelToon
Supir Ketos Nona Manja

Supir Ketos Nona Manja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius / Action
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Kenalkan, namaku Arkan Jaya. Aku bekerja sebagai supir di salah satu rumah orang kaya yang ada di daerahku.

Kebetulan, putri dari orang kaya tempat saya bekerja adalah orang yang sering saya hukum di sekolah dulu karena suka membuat onar.

Awalnya aku ragu untuk bekerja di rumah anak ini. Namun, karena aku terlahir miskin, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus menerimanya.

Orang tuanya bernama Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia.
Pria itu adalah Pak Frans Sanjaya. Di sampingnya, pintu mobil lain terbuka dan muncul sosok wanita anggun yang tak lain adalah Bu Sofia, ibunya. Hari itu adalah kali pertama aku melihat langsung kedua orang tua Clara secara jarak dekat. Aku yang saat itu hanya seorang Ketua OSIS dari keluarga biasa, tentu tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian, Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia-lah yang akan membayar gajiku sebagai supir pribadi putri manja mereka ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Razia Balas Dendam dan Boneka Barbie

Sinar matahari pagi menyiram area gerbang sekolah dengan kehangatan yang lembut. Aku berdiri tegap di sudut gerbang dengan seragam OSIS yang rapi, memegang papan dada berisi lembar catatanku. Meskipun di dalam lubuk hatiku masih tersimpan rasa dendam yang cukup membara akibat aksi kejahatan Clara merobek kedua ban motorku semalam hingga hancur, aku tetap berusaha memasang ekspresi wajah yang sangat datar dan biasa saja.

Aku tidak ingin menunjukkan sedikit pun tanda-tanda kepanikan atau amarah. Seolah-olah insiden tragis di parkiran Restoran Nusantara semalam tidak pernah terjadi sama sekali dalam hidupku.

Tak berapa lama kemudian, sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti tepat di depan gerbang. Pintu belakang terbuka, dan sosok Clara Adelin melangkah keluar dengan gaya anggunnya yang khas, disusul oleh Pak Jhon yang mengawalnya dari belakang. Saat mata indah Clara menangkap keberadaanku yang sedang berdiri menatapnya, ekspresi wajahnya langsung memancarkan binar kemenangan yang teramat jelas. Sudut bibir cantiknya terangkat lebar, memamerkan senyuman mengejek yang sangat puas.

Clara mengayunkan langkahnya mendekatiku, berjalan dengan gaya sok polos seolah dia adalah manusia paling bersalah tanpa dosa di muka bumi ini.

"Pagi, Kak Ketos jahat!" sapa Clara dengan suara melengking yang renyah, sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah dalam gaya bicaranya. "Maaf ya semalam aku enggak sempat pamit pulang duluan. Gimana perjalanan pulang semalam? Menyenangkan, kan?"

Aku menghentikan pulpenku, menatap wajah cantiknya dengan pandangan tenang, lalu mengukir senyuman tipis yang sangat terkontrol.

"Pagi juga... gadis manja," balasku dengan nada suara yang sengaja dipelankan namun sarat akan penekanan pada setiap kata.

Sebuah panggilan yang sangat aku tahu pasti bakal langsung memancing amarah besar di dalam dadanya. Dan benar saja! Detik itu juga, senyum kemenangan di wajah Clara mendadak lenyap tanpa sisa. Matanya memelotot lebar, bibirnya dipanyunkan maksimal karena sangat tidak terima dengan julukan "gadis manja" yang baru saja meluncur mulus dari mulutku.

"Apa?! Kamu bilang apa tadi?!" dengus Clara kesal. Tanpa menunggu jawabanku, dia menghentakkan kakinya ke tanah dengan kasar, lalu berbalik cepat dan melangkah pergi meninggalkanku dengan wajah super judes dan ditekuk habis-habisan.

Aku yang berdiri menatap punggungnya dari belakang hanya bisa menggelengkan kepala pelan sambil tertawa kecil di dalam hati. Tapi entah kenapa ya... gadis ini kalau lagi memasang wajah judes dan marah-marah seperti itu, malah kelihatan jauh lebih cantik dari biasanya.

Teng... teng... teng...

Lonceng nyaring tanda jam pertama pelajaran dimulai akhirnya bergema keras. Seluruh siswa berhamburan masuk ke dalam kelas mereka masing-masing.

Clara yang baru saja tiba di dalam kelas 10-A langsung melemparkan tas mahalnya ke atas meja dengan gerakan kasar, lalu membanting tubuhnya di atas kursi kayu. Diana yang duduk tepat di sebelahnya tentu saja sangat terkejut melihat aura kegelapan yang melingkupi sahabat karibnya itu sejak pagi-pagi blind.

"Hai sayang... Kamu kenapa sih, kok pagi-pagi begini wajahnya sudah ditekuk super judes kayak gitu?" tanya Diana penasaran, mencoba mencari tahu penyebab kerusakan suasana hati temannya. "Ada masalah apa lagi sih, Ra?"

Clara memegang dadanya yang naik-turun menahan kesal, menoleh ke arah Diana dengan rengekan manja yang memelas.

"Itu loh, Di! Si Ketos jahat itu benar-benar menyebalkan banget hari ini! Masak tadi di gerbang dia berani-beraninya panggil aku 'gadis manja'?! Aku kan sama sekali enggak manja, Di! Sejak kapan aku manja coba?!"

Diana baru saja berniat membuka mulut untuk menenangkan dan mengelus bahu sahabatnya itu, namun sebelum sepatah kata pun sempat terucap, suara pintu kelas yang didorong terbuka lebar mendadak menyita perhatian seluruh isi ruangan.

Beberapa anggota OSIS berseragam lengkap dengan pita merah di lengan melangkah masuk dengan raut wajah sangat serius, dipimpin langsung oleh diriku yang berdiri tegap di barisan paling depan.

"Selamat pagi adik-adik semua!" sapaku dengan suara tegas bercahaya wibawa yang menggema di seluruh penjuru kelas.

"Hari ini, saya selaku Ketua OSIS bersama tim penegak kedisiplinan akan melaksanakan kegiatan razia rutin bulanan. Dan untuk kelas pertama yang menjadi sasaran pemeriksaan kami adalah kelas ini. Saya minta seluruh adik-adik tanpa terkecuali untuk berdiri dan segera maju berjalan ke area depan kelas, karena teman-teman tim OSIS akan melakukan pengecekan menyeluruh pada tas, laci, serta loker kalian masing-masing!"

Mendengar pengumuman mendadak itu, seluruh siswa kelas 10-A mulai berdiri dan berjalan teratur menuju area depan kelas. Dari sudut mataku, aku bisa melihat dengan sangat jelas raut wajah penuh kejengkolan dan kekesalan dari dua gadis konyol—Clara dan Diana—yang terpaksa ikut berbaris di depan dengan tangan terlipat di dada.

Proses pengecekan pun dimulai dengan sangat teliti. Anggota

OSIS mulai membongkar isi tas dan memeriksa loker pribadi para siswa satu per satu. Hingga akhirnya, giliran loker pribadi milik Clara Adelin yang diperiksa oleh salah seorang anggotaku.

Saat pintu loker nomor 12 itu dibuka, anggota OSIS tersebut merogoh bagian dalam laci, lalu menarik keluar sebuah benda berwarna merah muda terang yang tersembunyi di tumpukan paling belakang.

"Loh... ini benda apa ya di dalam loker kamu, Clara?" seru anggota OSIS itu cukup keras.

Seluruh penghuni kelas seketika menoleh, dan mata mereka langsung memelotot kaget! Di dalam cengkeraman tangan anggota OSIS itu, bertengger sebuah boneka Barbie bergaun merah muda lengkap dengan aksesoris sisir plastiknya!

BFFTTTT! HAHAHAHAHA!

Seketika itu juga, ledakan tawa riuh membahana memecahkan kesunyian kelas! Seluruh siswa-siswi kelas 10-A tertawa terbahak-bahak melihat temuan ajaib tersebut. Seorang anak konglomerat kaya raya yang dikenal sok keren dan galak ternyata masih menyimpan dan membawa boneka Barbie ke sekolah!

"Anjir! Clara masih mainan boneka Barbie dong!"

"Gila, anak SMA kelas satu masih bawa mainan anak TK ke sekolah!"

Pipi Clara mendadak memerah padam bagaikan udang rebus akibat rasa malu yang amat luar biasa dahsyat menyerang harga dirinya! Tubuhnya gemetar hebat, matanya berkaca-kaca menahan malu sekaligus amarah yang memuncak ke ubun-ubun!

"DIAM KANAN-KIRI KALIAN SEMUA!" jerit Clara melengking dengan satu kata ancaman yang sangat keras hingga sanggup menggelegarkan dinding ruangan. "SIAPA YANG BERANI KETAWA LAGI, GUE BIKIN BAPAK KALIAN DIPECAT DARI KERJAAN HARI INI JUGA!"

Sreet!

Hanya dengan satu ancaman telak dan mematikan mengenai kekuasaan ayahnya itu, seluruh gelak tawa di ruangan tersebut langsung terhenti seketika secara instan! Suasana kelas mendadak berubah menjadi hening cipta bagaikan pemakaman. Semua murid menundukkan kepala, mengatupkan bibir rapat-rapat karena takut akan ancaman nyata sang putri konglomerat.

Jujur saja... saat melihat ancaman itu keluar dari bibir Clara, ada sedikit rasa cemas yang menyenggol ulu hatiku. Aku agak khawatir jika Clara yang murka ini benar-benar akan melaporkan aksi razia konyol ini pada Pak Frans Sanjaya. Namun, aku cepat-cepat menenangkan pikiranku sendiri. Ah, ya sudahlah... Lagipula Pak Frans itu pria yang sangat bijaksana, tak mungkin beliau mau repot-repot mengurusi masalah kenakalan anak kecil di sekolah seperti ini.

Setelah suasana kembali terkendali dan barang bukti menyimpang berhasil disita, proses razia pun dinyatakan selesai. Sebelum aku memerintahkan tim OSIS untuk keluar melangkah menuju kelas berikutnya, aku sengaja berjalan perlahan melewati barisan tempat Clara berdiri.

Clara kembali menatapku dengan tatapan mata yang sangat merah dan menyala-nyala penuh dendam membara, seolah-olah ingin menelanku hidup-hidup.

Aku menghentikan langkahku tepat di samping tubuhnya, menundukkan kepalaku sedikit mendekati telinga indahnya, lalu berbisik halus dengan nada penuh kemenangan.

"Skor kita sekarang satu sama... gadis cantik tapi bodoh," bisikku pelan sebelum mengedipkan sebelah mata dan berjalan santai meninggalkan kelasnya bersama tim OSIS.

1
Alissia
hai thor🤭🤭🤭🤭
Markario Putra: malas nih,kok cerita aku nggak ada yang mau baca sih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!