Hai readers sekalian, ini novel author yang selanjutnya.
Season 1
Novel ini mengisahkan seorang gadis desa yang merantau ke kota mencari kehidupan yang lebih baik, tapi naas sebelum sampai ke kota dia beserta adiknya mengalami kecelakaan sayangnya pula dia meninggal di tempat sedang sang adik tak sadarkan diri.
Beralih ke tempat lain yaitu di tengah hutan terdapat dua orang pria sedang membawa satu jasad yang sudah tak bernyawa.
Kembali ke tempat kecelakaan sang gadis desa yang mulanya tak bernafas perahan membuka matanya.
Terdapat juga sebuah sistem transparan dan hanya terlihat oleh si pemilik.
Dea yang di wajibkan untuk menjalankan misi-misi yang semakin sulit membuat Dea merasakan sedih, senang bercampur aduk.
Ayo ayo penasaran...
Baca ya...
Gambar cover bersumber dari Pinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nor Laila Rahmah Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1.22
Dea berusaha melepas kan cengkeraman Fresia dengan menggenggam tangan Fresia. Mulanya sih gak ada niatan mematahkan tangannya, tapi karena dia berani menyakiti fisik, Dea pun tak tinggal diam, kalau di biarkan nanti bakal banyak korban lainnya.
"Arghh, apa yang kau lakukan ja**ng," teriak Fresia berusaha menarik tangannya yang di genggaman Dea.
The geng Fresia mencoba membantu, tapi tangan mereka pun kena imbasnya.
Semua nya terduduk lemah di lantai ada yang tak dapat duduk akibat lemas, karena kena tinju Dea.
"Jika kalian masih suka membully murid lain, jangan salah kan aku jika mengeluarkan kalian dari sekolah ini," ancam Dea tanpa berbalik dan langsung keluar gudang.
Fresia and the geng tak menyangka akan akhir dari mereka yang terkenal suka membully murid lain, tapi sekarang mereka yang habis-habisan kena bully, hanya dengan satu orang saja? Apa kata orang jika mengetahui hal demikian, yang ada mereka tak ingin ke luar rumah lagi.
...
Keesokan harinya Dea masih melanjutkan patrolinya, hanya tinggal beberapa hari lagi dia berada di sekolah itu, dia harus memberantas semua masalah di sekolahnya itu, kalau tidak akan banyak korban lainnya.
Fresia and the geng tak terlihat sama sekali, mungkin malu.
Sekarang giliran para pemalak. Seperti informasi yang di dapatnya Dea akan pergi menuju tempat perkumpulan murid pemalas yang di ketahui letak nya di atap sekolah, yang mana jarang di datangi, bahkan mungkin tak pernah lagi di datangi oleh murid lain setelah geng pemalak ini menguasai atap sekolah.
Seperti biasa, Dea jarang masuk kelas, bisa di katakan sering bolos, tapi itu wajar, kan emang tujuan Dea itu patroli bukan belajar.
Saat datang ke atap sekolah, tak terlihat satu murid pun di sana, mungkin karena jam masuk dan para geng pemalak itu beruntung tak bertemu Dea yang tangannya lagi gatal mau mukul orang.
Dea berbaring santai di sofa yang memang sudah ada di tempat.
Dea tahu para murid pemalak ini merupakan orang kaya, tapi mungkin karena terlalu boros dan menghabiskan uang jajan mereka alhasil tidak mendapatkan uang jajan lagi dari orangtua mereka dan karena hidup yang tak terbiasa dengan tidak memegang uang di tangan jadinya malak deh, mungkin, itu sih menurut Dea.
"Ahhh, akhirnya tinggal sebentar lagi patroliku selesai dan masalah juga setidaknya akan berkurang. Misi dari sistem sudah juga ku kerjakan, jadi lebih dekat dengan tujuan utama hidupku," gumam Dea.
Ting
Layar monitor tampil di hadapan Dea menandakan adanya misi, bertepatan setelah misi muncul Zon juga muncul.
"Bos ada misi lagi," ucap Zon senang.
"Iya aku tahu, tapi kenapa kamu sangat senang setiap aku mendapat misi?" selidik Dea.
"A anu bos, t tentu saja aku senang, k karena...,"
"Ayo karena apa?" semakin memicingkan matanya ke arah Zon.
Zon sangat gugup. "B bos bukan saat nya aku menjelaskan tentang itu, sekarang aku hanya bisa membantu bos dengan mengarahkan saja dan tentu saja aku senang karena setelah bos melaksanakan misi-misi yang telah di tentukan maka bos akan mendapat jawaban dari semua pertanyaan bos," jelas Zon terlihat gelisah.
"Ok baiklah akan ku tunggu sampai waktunya," ucap Dea. "Sudah ah aku tak mau memikir kan itu sekarang, sekarang misi apa lagi yang harus ku kerjakan?" ucap Dea beralih melihat layar monitor.
Dibayar monitor terpampang tulisan 'Bantu sadarkan geng pemalas SMA internasional'
"Hah? kenapa misi yang menyangkut laki-laki juga ada?" tanya Dea.
"Kemungkinan waktu nya sebentar lagi akan tiba," batin Zon. "Memang misi mu tidak mesti melulu membantu perempuan bos, semakin lama misi akan semakin meluas ke umum bukan ke hal khusus lagi," jelas Zon.
"Oh begitu," ucap Dea hendak rebahan lagi, tapi tidak jadi karena geng pemalaknya sudah dekat.
Wajarlah indra pendengaran Dea sekarang lebih peka dan tajam, akibat peningkatan kekuatan dan profesi rahasianya.
"Bos gak sembunyi gitu," ucap Zon yang melihat Dea masih santai bersandar di sofa.
"Buat apa sembunyi, agar lebih cepat lebih baik lawan secara langsung," ucap Dea santai.
Zon menghilang kembali karena kesal dengan tuannya itu, entah kemana perginya, Dea juga malas menanyakannya.
Tap tap tap
Langkah kaki yang banyak terdengar lebih mendekat dan suara-suara percakapan juga terdengar di telinga Dea.
"An, kemarin kita banyak dapat uang palakannya,"
"Benar An, mau di pakai pake apa uang ini, lo aja gak kekurangan bukan,"
"Apa boleh buat kita-kita,"
"Simpan aja seperti biasanya," jawab yang di panggil An.
"Baiklah lo bos nya,"
Mereka sudah di atap dan tak menyadari keberadaan Dea yang dengan sangsinya duduk di sofa mereka, tetapi berbeda dengan An, dia berhenti dan menatap tajam Dea.
Bukannya takut Dea Malah menatap balik An.
"Siapa lo?" suara dingin mencapai pendengaran Dea.
"Ah aku?" tunjuk pada dirinya sendiri. Dea berdiri dari sofa. Dengan santai berjalan mendekati para geng pemalak yang berjumlah 10 orang tersebut.
Dea sampai mendongakkan kepalanya menatap wajah orang yang memberikan pertanyaan.
"Wah tampan juga ternyata, tinggi banget lagi, kenapa gak masuk para pangeran sekolah ya?" batin Dea.
"Eh siapa lo? beraninya ke wilayah kami," ucap salah satu bawahanan An.
Dea tak memperdulikannya dan masih menatap An.
Para bawahan An mulai kesal dan marah. Mereka mulai akan main tangan, tapi di tahan oleh An dengan mengangkat tangannya.
"Siapa lo? Mau apa lo ke sini?" tanya An.
"Cuman mau ngingetin kalau mau sok jadi pahlawan bukan dengan cara malak," sindir Dea.
Dea sudah tahu tujuan dari An memalak. Dia mengumpulkan uang untuk membantu sebuah panti asuhan yang akan di gusur jika tidak membayar sewa tanah. Oleh karena tidak ada cara lain selain begini fikirnya apa boleh buat. Minta ke orang tua nya tidak bakal di kasih kalau tidak dengan alasan yang masuk akal. Karena sikap dan sifat An yang tertutup dan selalu menampilkan perilaku nakalnya, kedua orang tuanya tidak akan percaya tanpa bukti. Untuk mencari bukti An orang nya tak mau repot, jadi dia hanya bisa memalak.
"Maksudmu?" tanya An.
"Ya, maksudku itu kalau mau nolong orang jangan pake uang dari hasil gak bener dong, cari kerja kek apa kek," ucap Dea.
"Tahu apa lo?"
"Emmm, aku tahu kalau kamu mau bantu sebuah panti asuhan yang mau di gusur," ucap Dea sambil bersedekap.
Wajah An nampak terkejut. "Dari mana lo tau?" selidik An.
"Kamu gak perlu tahu aku tahu dari mana, yang penting sekarang kamu mau ku bantu gak?" ucap Dea.
An nampak berfikir.
"Tapi hal ini memiliki syarat," lanjut Dea.
"Apa syaratnya?" tanya An yang nampak mulai tertarik.
"Cuman satu, berhentilah memalak," ucap Dea santai.
"Bos, apakah benar kalau bos ngumpulin uang itu untuk membantu panti asuhan?"
"Ya,"
"Kenapa bos gak bilang dari awal, kan kami bisa bantu gak mesti malak, kami kira bos malak buat senang-senang,"
Bawahan An atau bisa di katakan teman sekelasnya ini sebenarnya murid baik, tapi karena masih anak labil jadi cepat terpengaruh akan hal-hal menarik buat mereka.
^
^
^
Happy Reading