"Aku tidak akan bersaing dengan masa lalumu. Sebelum kamu mendepakku, aku yang akan berjalan keluar."
Nayara tahu posisinya di kediaman Dewangga hanya sebatas hitam di atas putih. Melalui pernikahan kontrak dua tahun, ia menjadi tameng bagi Arkananta Dewangga untuk mempertahankan hak asuh anaknya, Kenzie, dari kejaran mantan istrinya, Saskia. Naya menjalani perannya dengan profesionalitas tinggi, sembari mengunci rapat hatinya di balik dinding es yang tebal.
Namun, situasi memanas saat Gisella—cinta pertama Arka—kembali dalam kondisi hancur. Dalih tanggung jawab membuat Arka kerap berpaling, memicu kelicikan Clarissa (saudara Saskia) untuk menjebak Arka hingga skandal kemesraannya dengan Gisella viral di media sosial. Foto viral ini menjadi senjata maut Saskia untuk merebut Kenzie kembali di sidang banding. Di depan mertua yang murka, Naya tampil anggun membela Arka demi menuntaskan tugas kontraknya.
Namun di balik layar, Naya menampar ego suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3. Akting Nayara
Kalimat sindiran itu meluncur begitu saja di depan wajah Naya. Arka melirik Naya, bersiap melihat wanita itu menangis atau ketakutan seperti kebanyakan orang yang menghadapi ibunya. Namun, Arka salah.
Naya tetap berdiri tegak dengan senyuman tipis yang menawan. Matanya menatap Ibu Ambar tanpa rasa minder sedikit pun.
"Terima kasih atas perhatiannya, Mama," sahut Naya dengan nada bicara yang sangat teratur. "Saya tahu saya masih banyak kekurangan, karena itu kehadiran Mama pagi ini sangat saya harapkan untuk membimbing saya menjadi istri yang diinginkan keluarga Dewangga."
Ibu Ambar agak tertegun mendengar jawaban Naya yang begitu dewasa dan tidak defensif. Sementara Arka diam-diam memajukan tubuhnya, sedikit terpukau dengan cara Naya mengendalikan situasi.
"Ehem," Arka berdeham, langsung memasang topeng sandiwaranya. Ia bangkit, melangkah mendekati Naya, lalu dengan sengaja melingkarkan tangannya di pinggang Naya. Sentuhan mendadak itu membuat tubuh Naya sempat menegang semata wayang, namun ia berhasil menguasai diri dalam hitungan detik.
"Mama jangan khawatir," ucap Arka, suaranya berubah menjadi begitu hangat dan penuh kasih sayang yang dibuat-buat. Ia menatap Naya dengan pandangan mata yang seolah-olah penuh cinta. "Naya ini luar biasa. Semalam saja, dia menemani Kenzie sampai tertidur, lalu pagi-pagi sudah menyiapkan semuanya untukku. Aku sangat bahagia memilih dia, Ma."
Naya menoleh ke arah Arka, membalas tatapan pria itu dengan senyuman yang tak kalah manis. Ia bahkan dengan berani mengangkat tangannya untuk merapikan kerah kemeja Arka yang sebenarnya sudah rapi.
"Mas Arka ini terlalu memuji, Mama. Sudah kewajiban saya sebagai istri," sahut Naya, suaranya terdengar begitu manja namun tetap elegan di telinga Ibu Ambar. Di dalam hati, Naya ingin sekali mencakar wajah pria di sebelahnya yang berbohong tanpa berkedip.
"Oma!" Kenzie menyela, melompat dari kursinya dan memeluk Ibu Ambar. "Mama Naya baik sekali. Kenzie disuapin, dimandiin, dipeluk juga!"
Melihat cucu kesayangannya begitu lengket dengan Naya, pertahanan Ibu Ambar sedikit goyah. Ia duduk di kursi yang ditarik oleh pelayan. "Ya sudah, kalau Kenzie memang nyaman. Tapi tetap saja, Naya, kamu harus belajar banyak protokol keluarga kita. Siang ini ada arisan keluarga besar, dan Mama mau kamu ikut."
Arka langsung menimpali, "Tentu saja, Ma. Naya pasti datang." Arka mengecup pelipis Naya sekilas—sebuah tindakan spontan yang membuat jantung Naya mencelos, bukan karena baper, melainkan karena terkejut dengan totalitas sandiwara pria ini. "Jaga dirimu baik-baik nanti siang ya, Sayang," bisik Arka di telinga Naya, menyisakan sensasi menggelitik yang dingin.
"Pasti, Mas. Aku tidak akan mengecewakanmu," balas Naya dengan senyum manis yang mengunci pandangan Arka.
Ibu Ambar yang melihat interaksi kemesraan itu akhirnya mengangguk-angguk puas, mengira putranya benar-benar telah menemukan tambatan hati.
Beberapa saat kemudian, setelah Ibu Ambar sibuk mengobrol dengan Kenzie di ruang tengah, Arka menarik Naya sedikit menjauh ke sudut lorong dekat tangga, memastikan ibunya tidak mendengar.
Seketika, wajah hangat dan penuh cinta di wajah Arka lenyap, berganti dengan topeng datarnya yang semula. Ia melepaskan cengkeramannya di pinggang Naya dengan kasar.
"Akting yang bagus, Nayara," desis Arka rendah. "Kamu tahu persis bagaimana cara menjinakkan ibuku."
Naya menghapus senyum palsunya, menyisakan wajahnya yang dingin dan tenang menghanyutkan. Ia merapikan blusnya yang agak kusut akibat pelukan Arka tadi.
"Saya hanya melakukan bagian dari pekerjaan saya, Tuan Arka," jawab Naya, suaranya kembali formal dan datar. "Bukankah Anda membayar saya mahal untuk menjadi aktris yang baik?"
Arka menyipitkan matanya, merasa tertantang oleh ketenangan wanita di hadapannya yang sama sekali tidak goyah oleh gertakan atau perubahan sikapnya yang drastis.
"Nanti siang di rumah keluarga besar, konfliknya tidak akan semudah ini. Clarissa dan Tante Sandra pasti ada di sana. Mereka tidak akan seramah ibuku," ancam Arka, mencoba menguji mental Naya.
Naya menatap lurus ke dalam manik mata Arka, memberikan senyuman tipis yang sarat akan keteguhan hati.
"Anda tidak perlu khawatir tentang mental saya, Tuan Arka. Khawatirkan saja bagaimana Anda menjaga rahasia kontrak kita, karena dari apa yang saya lihat tadi ... Anda jauh lebih pandai berbohong daripada saya."
Setelah mengatakan itu dengan nada tenang tanpa intonasi tinggi, Naya berbalik dengan anggun, meninggalkan Arka yang terpaku di tempatnya dengan perasaan campur aduk—antara kesal karena disindir, dan takjub karena menyadari bahwa wanita kontraknya ini ternyata memiliki cakar yang tersembunyi di balik kelembutannya.
***
Deru mesin mobil Mercedes-Benz milik Ibu Ambar perlahan menjauh, meninggalkan keheningan yang kembali mencekik di dalam kediaman mewah Arkananta. Sandiwara pagi itu resmi berakhir begitu gerbang besi setinggi tiga meter itu tertutup rapat.
Naya mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di dadanya. Bahunya yang tegap sedikit mengendur, melepas ketegangan yang menguras energinya. Ia berbalik, bermaksud menemani Kenzie kembali ke ruang bermain. Namun, sebuah suara dingin memotong langkahnya tepat di undakan tangga pertama.
"Ke ruang kerjaku sekarang, Nayara."
Arka berdiri di ambang pintu ruang kerjanya yang bernuansa gelap dan maskulin. Tanpa menunggu jawaban, pria itu berbalik dan masuk terlebih dahulu.
Naya menatap punggung tegap itu sesaat. Wajahnya kembali berubah menjadi topeng yang tenang, datar, dan menghanyutkan. Ia tidak takut. Dengan langkah anggun yang teratur, ia mengikuti perintah sang tuan rumah.
Begitu pintu ruang kerja ditutup, atmosfer ruangan terasa begitu pekat. Arka sudah duduk di balik meja kerja mahoni besarnya, memegang selembar kertas hvs putih yang baru saja dicetak. Ia melemparkan kertas itu ke tengah meja.
"Itu daftar aturan harian yang harus kamu patuhi selama di rumah ini," ujar Arka, suaranya datar, sedingin dinding es yang memisahkan kamar mereka.
Naya melangkah mendekat, namun ia tidak langsung mengambil kertas tersebut. Ia memilih berdiri tegak, menatap Arka dengan pandangan mata yang jernih namun tajam. "Aturan baru lagi? Bukankah semalam kita sudah menandatangani kontrak utama?"
"Ini berbeda. Ini detail teknis sehari-hari agar keberadaanmu tidak mengacaukan ritme hidupku," sahut Arka, menyandarkan punggungnya sambil mengetukkan jemarinya di atas meja. "Baca."
Naya mengambil kertas itu, matanya menyapu barisan poin yang tertulis rapi.
"Poin pertama," Naya membaca dengan suara yang tenang, tanpa intonasi tinggi yang menunjukkan kekesalan. "Dilarang menyentuh, merapikan, atau memasuki ruang kerja dan kamar tidur Arkananta tanpa izin tertulis atau lisan."
"Aku tidak suka barang-barangku dipindahkan. Pelayan pribadi yang sudah bekerja denganku selama lima tahun tahu persis letak setiap berkasku. Kamu tidak perlu sok rajin membersihkan ruanganku," sela Arka angkuh.
Naya mengangguk pelan, wajahnya tak berekspresi. "Baik. Lagipula, saya tidak punya waktu luang untuk mengagumi ruangan Anda. Lanjut, poin kedua ... segala bentuk keperluan makanan, pakaian, dan jadwal harian Arkananta adalah tanggung jawab kepala pelayan. Nayara dilarang keras ikut campur."
"Betul. Seperti yang kukatakan semalam, jangan bertingkah seperti istri tradisional yang menyambut suaminya dengan membawakan tas atau membuatkan kopi, kecuali jika ibuku ada di rumah. Di luar itu, kita adalah orang asing yang kebetulan berbagi atap."
Bersambung...