Diusir dari desa karena fitnah kemiskinan, Bumi terdampar di kerasnya ibu kota sebagai kuli panggul pasar yang kerap. Satu-satunya alasan ia bertahan hidup adalah Alya, gadis sederhana yang tulus merawat luka-lukanya.
Nasib Bumi berubah total setelah ia di beri ramuan ajaib oleh kakek misterius yang membuat perubahan pada tubuh dan otaknya. Terbangun dengan kecerdasan mutlak sekelas superkomputer, Bumi bertransformasi menjadi The Ghost Trader—raja saham baru yang ditakuti di dunia bisnis. Ia bahkan berhasil menyelamatkan perusahaan milik Kirei, seorang CEO wanita dingin yang akhirnya jatuh hati pada harga diri Bumi.
Namun, berdiri di puncak takhta berarti mengundang badai. Adrian, konglomerat kejam sekaligus rival asmaranya, siap menghancurkan Bumi lewat sabotase berdarah. Di tengah perang bisnis yang mematikan, hati Bumi juga terkoyak dalam dilema pelik antara ketulusan Alya dari masa lalunya, atau pengorbanan Kirei yang mempertaruhkan nyawa demi masa depannya.
Mampukah mantan ku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Kerja Terus dan Kerja
Semburat fajar mulai menyinari langit ibu kota, menyelinap di antara celah gedung-gedung tinggi dan membangunkan para penghuni emperan ruko. Bumi membuka matanya yang masih terasa agak berat. Badan dan punggungnya terasa kaku dan pegal karena tidur di atas semen keras tanpa alas semalaman, ditambah sisa memar akibat pukulan warga desa yang belum sepenuhnya hilang. Namun, alih-alih mengeluh, Bumi langsung duduk dan meregangkan otot-otot lengannya.
Ia menengok ke kanan dan ke kiri, para pemulung dan pengemis di sekitarnya juga mulai bersiap-siap. Bumi segera memeluk tas karung goninya, memastikan uang di dalam saku celananya masih aman. Setelah yakin semuanya lengkap, ia berdiri dan melangkah mencari tempat untuk membersihkan diri.
"Permisi, Bang. Kalau mushola atau masjid terdekat dari sini lewat mana ya?" tanya Bumi pada seorang tukang sapu jalanan yang sedang mengumpulkan sampah daun.
Tukang sapu itu berhenti sejenak, lalu menunjuk ke arah gang di seberang jalan. "Oh, itu kamu lurus aja ke depan, masuk gang sebelah warung kopi itu. Di dalam ada Masjid Al-Ikhlas. Ada kamar mandi umumnya juga di samping."
"Wah, makasih banyak ya, Bang," jawab Bumi sopan.
Bumi berjalan cepat menuju masjid tersebut. Sesampainya di sana, ia langsung menuju kamar mandi umum di samping area suci masjid. Dengan air keran yang dingin, Bumi membasuh wajahnya, menyikat gigi dengan jari, dan membasuh badannya agar kembali segar. Setelah selesai membersihkan diri dan merapikan pakaian lusuhnya, perut Bumi mendadak berbunyi sangat nyaring. Suara keroncongan itu mengingatkannya pada satu kenyataan pahit.
"Aduh, lapar banget ya. Dari kemarin pas diusir sampai semalam bongkar muatan fuso, belum ada sebutir nasi pun yang masuk ke perut," bisik Bumi sambil mengusap perutnya yang kempis.
Bagi Bumi, menahan lapar seperti ini sebenarnya sudah menjadi hal biasa sewaktu hidup serabutan di Desa Sukamaju. Namun, karena hari ini ia butuh tenaga ekstra untuk bekerja lagi, ia harus mengisi perutnya. Bumi berjalan keluar gang mencari warung makan yang paling murah. Matanya tertuju pada sebuah gerobak bubur ayam gerobakan di pinggir jalan raya.
"Permisi, Cak. Bubur ayamnya satu porsi berapa ya?" tanya Bumi ragu-ragu.
"Satu porsi sepuluh ribu, Mas. Pakai kerupuk banyak," jawab si penjual bubur dengan logat khasnya.
"Anu, Cak... kalau saya beli nasi tiwul atau ada nasi putih polos pakai kuah sama tahu aja, ada gak yang lima ribu? Uang saya lagi pas-pasan banget buat modal nyari kerja," tanya Bumi jujur, agak sungkan.
Penjual bubur itu menatap kaos lusuh Bumi dan bekas memar di wajahnya, lalu menghela napas iba. "Walah, Mas, di sini saya cuma jual bubur. Ya sudah, ini saya buatkan bubur ayam satu porsi penuh, tapi kamu bayar lima ribu aja wis, gak apa-apa. Biar kamu ada tenaga buat nyari kerja."
Bumi terkejut sekaligus sangat bersyukur. "Beneran, Cak? Gak apa-apa nih? Saya gak mau ngerepotin Cak."
"Gak apa-apa, anggap saja sedekah pagi hari. Ini, silakan dimakan, Mas," kata si penjual sambil menyodorkan semangkok bubur ayam hangat yang mengepulkan uap.
"Alhamdulillah... terima kasih banyak ya, Cak. Semoga dagangannya makin laris dan berkah," ucap Bumi tulus. Ia langsung menyantap bubur itu dengan lahap. Meskipun hanya bubur, bagi perutnya yang kosong sejak kemarin, makanan itu rasanya luar biasa nikmat dan sangat mengenyangkan.
Setelah perutnya terisi dan tenaganya pulih, Bumi bergegas kembali ke pasar induk tempat ia bekerja semalam. Tujuan utamanya adalah menemui Mandor Badrun untuk meminta pekerjaan bongkar muat lagi. Ia ingin mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya hari ini agar bisa segera menyewa kamar kontrakan yang layak, supaya tidak perlu tidur di emperan ruko lagi.
Sesampainya di gudang 'Sinar Jaya', suasana pasar ternyata sangat berbeda dengan malam hari. Area yang semalam penuh dengan truk fuso kini didominasi oleh mobil-mobil pikap kecil dan aktivitas jual beli eceran. Meja tinggi tempat Mandor Badrun mencatat semalam tampak kosong melompong.
"Permisi, Kang. Bang Badrunnya mana ya?" tanya Bumi kepada seorang pekerja yang sedang menata keranjang tomat.
Pekerja itu menoleh. "Hah? Mandor Badrun? Jam segini mah mana ada dia di sini, Tong. Mandor Badrun itu shift-nya cuma malam sampai subuh aja buat megang bongkar muat truk besar. Kalau pagi sampai siang begini dia pulang, tidur di rumahnya."
Bumi langsung lemas mendengarnya. "Oh, jadi siang begini Bang Badrun gak ada ya, Kang?"
"Gak ada. Dia baru ke sini lagi nanti malam jam delapanan. Kenapa emangnya?"
"Gak apa-apa, Kang. Saya cuma mau nyari kerjaan panggul lagi. Ya sudah, makasih ya, Kang," kata Bumi dengan nada kecewa.
Bumi berjalan keluar dari gudang dengan bingung. Langkahnya kembali luntang-lantung menyusuri lorong-lorong pasar induk yang becek. Ia tidak bisa menunggu sampai malam tanpa melakukan apa-apa. Waktu berjalan terus, dan uang untuk sewa kontrakan tidak akan datang sendiri kalau ia hanya berdiam diri.
"Aduh, gimana ini ya? Kalau nunggu nanti malam baru kerja, siang ini gua gak dapet pemasukan dong. Harus nyari kerjaan lain pagi ini," gumam Bumi dalam hati sambil terus melihat ke sekeliling, berharap ada toko atau lapak yang membutuhkan tenaga bantuan.
Saat Bumi sedang berjalan dengan kepala tertunduk bingung di dekat blok sayuran basah, sebuah tepukan keras mendarat di pundaknya, membuat Bumi agak terperanjat.
"Oi, Bumi! Anak baru yang semalam, kan?" seru sebuah suara akrab.
Bumi menoleh dan melihat Kang Bendot, kuli panggul senior yang semalam sempat memujinya saat membongkar muat truk fuso di bawah arahan Mandor Badrun. Kang Bendot sedang memegang sebuah pengait besi besar dan kaosnya sudah basah oleh keringat.
"Eh, Kang Bendot. Pagi, Kang," sapa Bumi, wajahnya langsung cerah melihat orang yang dikenalnya.
"Pagi, Bum. Lu ngapain luntang-lantung di sini siang-siang begini bawa karung goni? Nyari Mandor Badrun ya?" tanya Kang Bendot tebakannya tepat.
"Iya, Kang. Tadi saya ke gudang Sinar Jaya, kata orang sana Bang Badrun baru datang nanti malam. Padahal saya butuh kerjaan pagi ini, Kang," tutur Bumi jujur.
"Hahaha, ya jelas lah. Si Badrun mah jam segini lagi ngorok di rumahnya," tawa Kang Bendot renyah. "Terus sekarang lu gak ada kerjaan nih?"
"Belum dapat, Kang. Ini masih muter-muter nyari kalau ada toko yang butuh kuli angkut harian. Saya butuh uang banget buat nyari kontrakan secepatnya."
Kang Bendot mengangguk-angguk paham, lalu menunjuk ke arah barisan truk-truk engkel yang baru masuk di blok sebelah barat. "Nah, kebetulan banget, Bum. Di blok barat itu lagi banyak truk engkel pembawa sawi sama kubis dari daerah Bogor baru masuk. Kuli panggul di sana lagi keteteran karena barangnya datang barengan. Lu mau join sama tim gua gak? Kerjanya jadi kuli panggul harian pasar bawah. Sistemnya per karung langsung dihitung duitnya."
Bumi langsung mengangguk dengan sangat antusias. "Mau banget, Kang! Mau banget! Saya siap kerja kasar apa aja, yang penting halal dan langsung menghasilkan."
"Ya sudah, ayo ikut gua ke sana sekarang. Nanti gua kenalin sama kepala bloknya biar lu bisa langsung turun kerja. Tapi siap-siap ya, kerja siang begini panasnya minta ampun, beda sama semalam yang adem," peringatan Kang Bendot.
"Gak takut panas saya mah, Kang. Sudah biasa waktu di desa dulu kerja serabutan di ladang siang bolong," jawab Bumi santai.
Kang Bendot membawa Bumi ke blok barat. Setelah mendapatkan izin dari kepala blok, Bumi langsung menggulung lengan kaos lusuhnya dan mulai bekerja. Tugasnya kali ini adalah memanggul keranjang-keranjang bambu berukuran besar berisi sawi putih dari dalam bak truk engkel ke lapak-lapak pedagang di dalam pasar.
"Bum! Ini satu keranjang beratnya hampir lima puluh kilo, lu kuat gak langsung sendirian?" teriak Kang Bendot dari atas bak truk saat hendak menurunkan keranjang pertama.
"Kuat, Kang! Taruh aja di pundak saya, selow!" sahut Bumi penuh percaya diri.
Begitu keranjang berat itu mendarat di pundak kirinya, Bumi sedikit menekuk lututnya untuk menyeimbangkan beban, lalu melangkah dengan pasti membelah keramaian pasar yang padat. Keringatnya langsung bercucuran deras, membasahi kaosnya hingga basah kuyup dalam waktu singkat. Sinar matahari siang yang terik menembus atap seng pasar, membuat suhu di dalam area bongkar muat terasa seperti panggangan.
"Ayo, Bum! Semangat! Tinggal lima truk lagi nih yang antre!" seru kepala blok memberi komando dari jauh.
"Siap, Pak! Lanjut!" jawab Bumi tanpa menghentikan langkah kakinya.
Bumi bekerja dengan sangat giat, tanpa mengenal lelah dan tanpa banyak mengeluh. Di saat kuli-kuli lain sudah beberapa kali meminta jeda untuk merokok atau minum es teh di warung, Bumi tetap konsisten bolak-balik mengangkut beban. Sifat tekun dan sabarnya dari desa benar-benar terbawa ke ibu kota. Ia tahu betul setiap tetes keringatnya siang ini adalah batu bata pertama untuk membangun kembali hidupnya yang sempat dihancurkan oleh fitnah di Desa Sukamaju.
Waktu terus berjalan, hingga tak terasa matahari sore mulai condong ke barat, menandakan aktivitas bongkar muat untuk kloter siang itu telah selesai seluruhnya. Bumi duduk selonjoran di atas lantai semen yang agak kering di pinggir blok, napasnya masih terengah-engah, namun wajahnya memancarkan kepuasan yang luar biasa.
"Nih, Bum. Minum dulu es tehnya, gua yang bayarin," kata Kang Bendot sambil menyodorkan sebungkus es teh plastik dengan sedotan.
Bumi menerimanya dengan tangan yang agak bergetar karena lelah. "Wah, makasih banyak ya, Kang Bendot. Segar banget rasanya."
"Gua perhatiin kerja lu bener-bener gila, Bum. Rajin banget. Kepala blok tadi sampai muji-muji lu terus. Katanya kalau besok lu mau kerja lagi di sini siang-siang, lu langsung datang aja ke dia," kata Kang Bendot sambil menepuk pundak Bumi.
"Alhamdulillah kalau kerjaan saya memuaskan, Kang. Saya cuma berusaha ngelakuin yang terbaik aja," jawab Bumi rendah hati.
Tak lama kemudian, kepala blok berjalan menghampiri mereka berdua dengan membawa dompet hitam besarnya.
"Bumi, Bendot. Ini upah kerja kalian dari pagi sampai sore ini. Tolong dihitung dulu ya," kata kepala blok sambil membagikan beberapa lembar uang kertas kepada mereka.
Bumi menerima uang hasil kerja kerasnya dari pagi hingga sore hari itu. Saat menghitung jumlahnya, matanya berbinar. Ditambah dengan sisa uang borongan semalam dari Mandor Badrun, celengan di kantongnya kini sudah mulai menebal.
"Terima kasih banyak ya, Pak. Ini pas kok jumlahnya," ucap Bumi dengan tulus.
"Sama-sama, Bum. Besok datang lagi ya jam delapan pagi," kata kepala blok sebelum berlalu.
Bumi memasukkan uang itu ke dalam saku celananya dengan sangat hati-hati, menepuknya pelan untuk memastikan posisinya aman. Meskipun tubuhnya rasanya sudah mau rontok karena bekerja terus tanpa henti dari semalam hingga sore ini, hati Bumi dipenuhi rasa optimisme yang membuncah. Langkahnya untuk bisa menyewa sebuah kamar kontrakan kecil dan memulai hidup baru yang mandiri di ibu kota kini terasa makin dekat dan nyata di depan mata.