Karin mengabdikan seluruh hidupnya untuk mendukung suaminya Dimas menuju kesusksesan. Setelah berada di puncak kesuksesan, Suaminya justru mengkhianatinya dengan membawa pulang wanita muda dengan berniat untuk di jadikannya istri kedua. Lebih menyakitkan nya lagi keluarga suaminya ikut mendukung dan bahkan merendahkanya. Seolah pengorbanannya selama bertahun-tahun tidaklah berarti.
Saat nyawanya berakhir karena ulah sang pelakor. Karin terbangun kembali di masa lalu tepat saat Suaminya membawa wanita itu kerumahnya. Di beri kesempatan kedua Karin berubah menjadi wanita kuat dan bersumpah akan membalas rasa sakitnya di kehidupan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Tak lama kemudian, terdengar tiga ketukan pelan di pintu kamar.
"Masuk."
Pintu perlahan terbuka. Seorang pria melangkah masuk dengan sikap tegap. Ia mengenakan kemeja sopir di kediaman itu, berwarna biru tua dengan lengan pendek yang dipadukan dengan celana bahan hitam. Penampilannya sederhana, tetapi tetap rapi.
"Permisi, Nyonya. Bi Darmi bilang Nyonya sedang mencari saya."
Karin yang semula sedang memandang ke luar jendela spontan menoleh.
Seketika ia terdiam.
'Dia... sopir baru?' batinnya.
Entah kenapa, Karin sempat mengira sopir baru itu pasti seorang pria paruh baya seperti para sopir yang pernah bekerja di rumah ini sebelumnya.
Namun, pria yang berdiri di hadapannya jauh dari bayangannya.
Usianya masih muda, mungkin seumuran dengannya Tubuhnya tinggi dan proporsional, bahunya bidang, dengan wajah yang tampan dan berkarisma. Pembawaannya tenang, sementara sorot matanya terlihat tajam, tetapi tetap sopan.
Kalau bukan karena seragam yang dikenakannya, Karin pasti akan mengira pria itu adalah seorang direktur muda atau pewaris perusahaan besar.
Pria itu bahkan lebih pantas disebut majikan daripada seorang sopir.
Melihat Karin yang tak kunjung menjawab, pria itu kembali membuka suara.
"Maaf, Nyonya. Apa ada yang bisa saya bantu?"
Karin segera tersadar dari lamunannya.
"Ah... iya."
Ia berdeham pelan, berusaha menyembunyikan keterkejutannya.
"Siapkan mobil. Aku ingin pergi ke rumah orang tuaku."
Pria itu mengangguk hormat.
"Baik, Nyonya."
Tanpa bertanya lebih jauh, ia berbalik dan keluar dari kamar.
Tatapan Karin masih tertuju ke arah pintu yang baru saja tertutup.
'Ternyata... sopir baru itu masih sangat muda.'
Karin memandangi pintu yang baru saja tertutup. Wajah pria itu masih terbayang jelas di benaknya.
Perlahan, ingatannya kembali pada kehidupan sebelumnya.
Ia baru teringat bahwa dulu memang pernah ada seorang sopir baru yang bekerja di rumah ini. Namun saat itu dirinya sedang terbaring sakit dan hampir setiap hari dikurung di dalam kamar. Ia tidak pernah sekalipun melihat wajah sopir tersebut.
Yang Karin ingat, pria itu hanya bekerja selama beberapa bulan. Setelah itu, Bu Ratna memecatnya dengan alasan sopir baru itu tidak bisa diatur dan terlalu banyak membantah perintahnya.
Saat itu Karin tidak terlalu memedulikannya. Hidupnya sendiri sudah berantakan. Ia bahkan nyaris tidak memiliki tenaga untuk mengurus dirinya sendiri, apalagi memperhatikan keluar-masuknya para pekerja di rumah itu.
'Jadi... pria tadi adalah sopir yang dulu?' batin Karin.
Entah mengapa, firasatnya mengatakan bahwa pemecatan pria itu di kehidupan sebelumnya bukanlah sesederhana alasan yang diucapkan mertuanya.
Karin menggeleng pelan.
'Sudahlah. Itu bukan urusanku saat ini.'
Yang terpenting baginya sekarang adalah menemui kedua orang tuanya secepat mungkin.
Ia segera meraih tas tangan yang tergeletak di atas sofa, lalu memeriksa ponsel dan dompetnya. Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, Karin melangkah keluar dari kamar.
Sesampainya di halaman depan, sebuah sedan hitam telah terparkir rapi di depan teras.
Arga berdiri di samping mobil dengan kedua tangan terlipat di depan tubuhnya. Begitu melihat Karin keluar, ia segera membukakan pintu belakang.
"Silakan, Nyonya."
Karin mengangguk pelan.
"Terima kasih."
Ia masuk ke dalam mobil, sementara Arga menutup pintu dengan hati-hati sebelum berjalan menuju kursi kemudi.
Tak lama kemudian, mesin mobil menyala. Mobil perlahan meninggalkan halaman rumah keluarga Dimas.
Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil begitu hening. Arga fokus mengemudi tanpa berusaha mengajak majikannya berbincang. Sesekali ia hanya melirik kaca spion untuk memastikan kondisi Karin.
Sementara itu, Karin terus menatap keluar jendela. Pemandangan kota yang berlalu cepat membuat kerinduannya kepada kedua orang tuanya semakin tak terbendung.
Tanpa sadar, matanya mulai berkaca-kaca.
'Ayah... Ibu...' batinnya lirih. 'Di kehidupan ini, aku bersumpah akan melindungi kalian. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkan keluarga kita lagi.'
Di depan, Arga menangkap pantulan wajah Karin melalui kaca spion. Ia melihat mata wanita itu memerah seolah sedang menahan tangis.
Namun, ia memilih tetap diam. Baginya, tugas seorang sopir bukanlah mencampuri urusan majikan, melainkan mengantar mereka sampai tujuan dengan selamat.
Mobil terus melaju membelah jalanan kota. Keheningan di dalam mobil tetap terjaga. Yang terdengar hanya suara mesin dan sesekali klakson kendaraan dari kejauhan.
Arga sesekali melirik kaca spion. Dari pantulan kaca itu, ia melihat Karin masih memandang ke luar jendela. Wajah wanita itu tampak tenang, tetapi kedua matanya menyimpan kesedihan yang begitu dalam.
Beberapa kali Arga ingin mengatakan sesuatu, tetapi niat itu ia urungkan. Ia memilih kembali memusatkan perhatian pada jalan.
Tak lama kemudian, mobil memasuki kawasan perumahan elite yang dipenuhi pepohonan rindang.
"Sebentar lagi kita sampai, Nyonya," ucap Arga pelan.
Karin mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari luar jendela.
Semakin dekat mobil menuju rumah orang tuanya, jantung Karin semakin berdebar.
Rumah-rumah yang mereka lewati terasa begitu familiar. Ia masih mengingat jalan ini dengan sangat jelas.
Di sinilah dulu ia tumbuh, tertawa, dan menghabiskan masa kecil bersama kedua orang tuanya.
"Sudah sampai, Nyonya." ujar Arga tepat di depan gerbang.
Mobil sedan hitam yang dikendarai Arga perlahan memasuki halaman rumah keluarga Wijaya.
Begitu melewati gerbang besi otomatis, hamparan halaman yang luas langsung menyambut pandangan. Di tengah pelataran berdiri sebuah air mancur marmer bertingkat dengan semburan air yang berkilauan diterpa sinar matahari. Rumput hijau terpangkas rapi berpadu dengan deretan pohon palem dan tanaman hias yang tertata simetris, menciptakan kesan megah sekaligus hangat.
Di hadapan Karin berdiri sebuah mansion tiga lantai bergaya klasik modern. Dinding berwarna krem dipadukan batu alam abu-abu membuat rumah itu tampak elegan. Pilar-pilar tinggi menopang balkon di lantai dua, sementara jendela-jendela kaca besar membiarkan cahaya alami masuk ke setiap sudut rumah.
Di sisi kiri halaman berdiri garasi luas yang mampu menampung beberapa mobil mewah.
Tatapan Karin seketika berhenti pada sebuah mobil sport merah yang terparkir rapi di salah satu ruang garasi.
Bibirnya perlahan membentuk senyum tipis.
Mobil itu...
Mobil itu adalah hadiah ulang tahun dari kedua orang tuanya saat usianya menginjak dua puluh dua tahun, jauh sebelum ia menikah dengan Dimas.
Dulu, ia sangat menyayangi mobil itu. Hampir setiap akhir pekan ia mengendarainya bersama ayahnya, sementara sang ibu selalu mengomel karena mereka sering pulang terlalu malam.
Namun setelah menikah, mobil itu tak pernah lagi ia gunakan.
Dimas selalu mengatakan bahwa sebagai istri seorang direktur, ia harus lebih sering menggunakan mobil keluarga yang dikemudikan sopir agar terlihat lebih berwibawa.
Tanpa disadari, sedikit demi sedikit ia meninggalkan semua hal yang dulu ia cintai.
Kini, melihat mobil merah itu masih terawat dan terparkir rapi di tempat semula, dada Karin kembali terasa sesak.
'Untungnya... di kehidupan ini semuanya masih ada.'
'Ayah... Ibu... bahkan mobil kesayanganku pun masih menungguku pulang.'
Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya. Kali ini bukan karena kesedihan, melainkan rasa syukur karena Tuhan masih memberinya kesempatan untuk memperbaiki semua yang pernah ia sesali.