Tujuh tahun lalu, Kirana Ayu Pradipta ditinggalkan tanpa penjelasan oleh kekasihnya, Raditya Alamsyah Wibowo. Kirana pergi tanpa tahu kebenaran, membangun hidup dan kariernya dari nol, tumbuh jadi perempuan tegar yang tak lagi percaya cinta. Tujuh tahun kemudian, mereka bertemu kembali. Bukan sebagai sepasang kekasih, tapi sebagai rival bisnis dalam tender proyek properti terbesar di Jakarta. Radit yang dingin berusaha merebut kembali hati Kirana, sementara Kirana harus memilih antara membalas dendam, melindungi perusahaannya, atau membuka hatinya lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
XVIII - Dua Sisi
Kirana terbangun berkali-kali sepanjang malam, pikirannya berputar antara dua emosi yang begitu bertentangan hingga terasa seperti dua versi dirinya sendiri sedang berebut kendali.
Menjelang subuh, ia menyerah mencoba untuk tidur. Ia bangkit, menyalakan lampu meja, mengeluarkan sebuah buku harian lamanya dari laci yang jarang ia sentuh.
Ia membuka halaman kosong dan meraih pena yang ada di stationary box di atas meja, ia duduk diam beberapa menit sebelum akhirnya membiarkan tangannya bergerak menulis.
Aku menemukan kebenaran yang selama tujuh tahun ini kucari tanpa pernah benar-benar berani untuk mengejarnya. Hartono Wibowo menghancurkan Ayah. Bukan karena kegagalan bisnis, bukan karena nasib buruk, tapi karena rencana yang disusun dengan perhitungan, demi ekspansi bisnis semata.
Aku seharusnya membenci semua yang berhubungan dengan Wibowo sekarang. Seharusnya… aku bisa memutuskan semuanya dengan mudah — kerja sama proyek, hubungan apa pun yang tersisa dengan Radit, membalas dendam atas segala yang telah mereka renggut dari keluargaku.
Tapi aku tidak bisa.
Kirana berhenti, menatap setiap kata yang baru saja ia tulis, ia merasakan betapa sakitnya kejujuran dan kebenaran itu.
Karena setiap kali aku memikirkan Radit, aku tidak memikirkan nama keluarganya. Aku memikirkan tangannya yang menggenggam tanganku. Aku memikirkan kejujuran di kedua manik matanya dan kerapuhan yang jarang ia perlihatkan pada siapa pun.
Aku memikirkan bagaimana beratnya hidup Radit… ia sudah lama menanggung beban ini sendirian, terjebak antara cinta pada ayahnya dan rasa bersalah pada keluargaku.
Bagaimana bisa aku mencintai seseorang yang darah dagingnya telah menghancurkan hidupku?
Ia meletakkan penanya, lalu menatap keluar jendela ke arah langit yang mulai berubah warna menyambut fajar. Bayangan ayahnya bergantian muncul dengan bayangan Radit, dua kenangan yang seharusnya tidak pernah hidup berdampingan, keduanya sama-sama memiliki arti yang dalam baginya.
Ia teringat masa kuliah dulu, ketika cinta terasa sesederhana berbagi payung di tengah hujan.
Radit saat itu bukan pewaris kerajaan bisnis seperti yang dikenal semua orang sekarang. Ia cuma seorang mahasiswa yang gemar membaca puisi, yang selalu sabar mendengarkan setiap kali Kirana bercerita tentang mimpinya, yang selalu membelanya di depan teman-teman yang meremehkan mimpinya sebagai perempuan muda di industri yang didominasi oleh lawan jenis.
Ia ingat satu momen, ketika Radit rela basah kuyup berjalan kaki setengah jam cuma untuk mengantarkan payung untuk Kirana yang terjebak hujan di kampus. Waktu itu, Kirana bertanya kenapa dia repot-repot melakukannya. Radit cuma tersenyum dan bilang, “Karena aku nggak mau kamu kehujanan sendirian, aku ngak apa-apa kalau harus kehujanan gantiin kamu.” Kalimat sederhana yang, di titik ini, terasa begitu ironis mengingat siapa yang sebenarnya membiarkan keluarganya “kehujanan” tanpa pertolongan.
Ia kembali meraih penanya.
Cinta lama ini tidak pernah mati. Tapi sekarang, ada dendam baru yang tumbuh di sampingnya, dan aku tidak tahu mana yang akan menang.
Kirana menutup buku hariannya, menekan kedua tangan ke wajahnya, ia menahan air mata yang mendesak keluar. Ia dipaksa untuk mencintai dan membenci sesuatu yang terkait erat, yang tidak bisa dipisahkan antara satu dari yang lain.
Ia teringat percakapan terakhirnya dengan Radit di ruang kerjanya, sebelum berita lamaran itu tersebar — wajahnya yang berusaha tenang, matanya yang menyimpan sesuatu yang jauh lebih berat dari sekadar kekecewaan.
Sekarang, ia tahu apa yang selama ini menekan pria itu, dan pengetahuan itu, alih-alih meredakan amarahnya, malah menambah lapisan kesedihan baru yang tidak pernah ia duga akan ia rasakan untuk seseorang yang sudah menyakitinya.
Ia berjalan menuju jendela, menatap Jakarta yang perlahan bangun dari tidurnya, lampu-lampu jalan padam satu per satu, digantikan cahaya matahari pagi yang menyusup di antara gedung-gedung tinggi.
Aku harus tetap tenang, ia mengingatkan diri sendiri. Aku nggak boleh bikin keputusan gegabah cuma karena emosi.
Tapi jauh di lubuk hatinya, ia tahu keputusan sebesar ini tidak akan pernah ia ambil secara rasional. Ada terlalu banyak yang dipertaruhkan — bukan cuma keadilan bagi ayahnya, bukan cuma masa depan perusahaan yang telah ia bangun, tapi juga hatinya sendiri, yang entah bagaimana masih terikat pada seseorang yang seharusnya jadi musuh terbesarnya sekarang.
Ia mempertimbangkan beberapa skenario.
Membawa kasus ini ke pengadilan, meski ia tidak yakin masih ada jalur hukum yang bisa menjerat Hartono atas kejahatan yang begitu lama terkubur.
Mengekspos kebenaran itu ke publik, mempermalukan nama Wibowo di hadapan seluruh Jakarta, tapi itu berarti mengorbankan proyek revitalisasi pesisir yang sedang berjalan, menyeret nama Cipta Prada Land ke dalam skandal yang sama sekali bukan kesalahannya.
Atau…
Menggunakan bukti ini sebagai alat negosiasi, memaksa Hartono untuk membayar kompensasi tanpa harus membawa semuanya ke ranah publik.
Setiap opsi punya konsekuensinya masing-masing, dan setiap konsekuensi itu, pada akhirnya, akan menyeret Radit ke dalam pusaran yang sama, tidak peduli seberapa keras ia berusaha untuk memisahkan pria itu dari dosa ayahnya.
Ada juga opsi keempat yang terus muncul di kepalanya, meski ia berusaha menepisnya berkali-kali.
Menunggu.
Menunggu sampai proyek revitalisasi selesai, sampai ia punya lebih banyak bukti, sampai ia yakin langkahnya tidak akan menghancurkan lebih banyak orang.
Tapi menunggu juga berarti membiarkan Hartono terus berjalan bebas, dimana ia mungkin bisa merencanakan hal serupa pada perusahaan lain yang tidak seberuntung dirinya.
Tapi… jika Radit harus terlibat…
Apakah adil jika Kirana harus menghukum seorang anak atas dosa ayahnya?
Pertanyaan itu menghantuinya, meski ia tahu jawabannya tidak sesederhana yang ia harapkan.
...****************...
Ia pergi ke kantor seperti biasa, meski matanya masih terasa berat.
Nadia menyapanya di lorong, sambil berlari kecil untuk menghampiri Kirana, tapi langkahnya berhenti begitu melihat wajah sahabatnya.
“Lu kenapa? Kayak abis begadang semaleman.”
“Nggak bisa merem,” Kirana menjawab singkat.
“Ada apa? Masih soal lamaran Radit?”
Kirana ragu. Bagian dari dirinya ingin menceritakan semuanya — dokumen, nama Hartono, kebenaran yang telah mengubah segalanya dalam semalam. Tapi ia menahan diri, tidak yakin ini saat yang tepat, tidak yakin bagaimana Nadia akan bereaksi kalau tahu betapa besar dan berbahayanya informasi yang baru saja ia temukan.
“Bukan cuma itu,” Kirana akhirnya menjawab, memilih kata-katanya hati-hati. “Ada hal lain yang lagi gua pikirin. Tapi belum bisa gua ceritain sekarang, Nad. Belum siap.”
Nadia menatapnya lama, akhirnya mengangguk. “Oke. Tapi begitu lu siap, cerita, ya? Lu tau kan, gua nggak akan maksa. Tapi jangan tunggu sampai lu nggak sanggup mikul sendiri, Kir.”
“Makasih.” Kirana menjawab sesingkat mungkin, ia terlalu malas untuk berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya untuk saat ini.
Kirana melangkah ke ruang kerjanya, menutup pintu, mencoba menenangkan diri sebelum hari dimulai.
TING!!!
Ponselnya berbunyi di atas meja. Nama pengirim membuat jantungnya seketika berdegup lebih cepat.
*Dimas**: Gua tahu apa yang abis lu temuin. Kita perlu bicara.*
Kirana menatap layar itu lama, bingung dan waspada bercampur jadi satu. Bagaimana Dimas bisa tahu? Tidak ada seorang pun yang tahu soal paket itu selain dirinya sendiri, kecuali siapa pun yang mengirimkannya ke depan pintu apartemennya.
Dimas tahu latar belakang keluarganya luar-dalam. Dimas juga satu-satunya orang selain Nadia yang tahu persis alamat apartemennya. Dan Dimas, sejak pernyataan cintanya ia tolak, punya alasan tersendiri untuk ingin melihat apa pun yang berhubungan dengan keluarga Wibowo hancur di mata Kirana.
Tapi itu cuma dugaan. Tidak ada bukti yang mendukungnya selain rasa curiga yang tiba-tiba muncul di tengah pikirannya yang sudah kacau.
Ia menatap pesan itu berulang kali, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tidak kunjung stabil. Dimas selalu jadi sosok yang begitu bisa ia percaya, sahabat yang menemaninya sejak masa-masa tersulit. Tapi kepercayaan itu kini terasa retak, digantikan pertanyaan yang belum pernah ia lontarkan.
Kirana mengetik balasan singkat, tidak yakin apakah ia benar-benar siap mendengar jawaban yang mungkin akan ia terima.
Oke. Di mana dan kapan?
Lu aja yang tentuin, gua ngikut.
Balasan dari Dimas datang lebih cepat dari yang ia kira.
Kirana memikirkan tempat yang tidak terlalu ramai untuk pertemuan mereka berdua.
Jam 10 pagi, Simetri Coffee.
tapi orang yang pernah memberi luka justru masih selalu memenangkan ruang di hati.
para musuh 💪💪