Mengandung adegan dewasa, jadi mohon bijaklah dalam membaca ya ...!
Menceritakan tentang ketidak percayaan diri mengundang pernikahan yang tanpa diduga, pernikahan paksa dengan CEO Tampan yang posesif bernama, Xander.
Xander merasa sudah jatuh hati kepada seorang wanita cantik bernama, Sasya. Tetapi, akibat ketidak jujuran sang kakak, Sasya menjadi terjebak dalam ikatan yang tidak diinginkannya, sebab yang harus menikah dengan Xander adalah kakaknya yang bernama Rasya, bukan dengan dirinya.
Naas-nya, Sasya terpaksa menjalani pernikahan dengan Xander dan harus memutuskan hubungan dengan kekasihnya, akibat adanya ancaman.
Bagaimanakah cerita selanjutnya dari Sasya dan Xander?
Ikuti terus alur cerita selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Menik Kumalasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 21 (Keputusan Sudah Bulat)
Hari sudah menjelang malam, tetapi Sasya tak kunjung pulang.
"Rasya, kenapa adik kamu belum pulang juga?" tanya Sita.
"Mungkin dia lagi belajar bareng sama teman-temannya, Ma!" sahut Rasya.
"Mama kawatir kalau dia kenapa-napa!" Sambil memikirkan Rasya beberapa hari yang lalu ketika Rasya di culik.
"Mama jangan berpikir yang tidak-tidak ya, Sasya pasti akan baik baik saja Ma," ucap Rasya menenangkan mamanya.
Sasya yang sudah tak berdaya menahan sakit di punggungnya, ia mulai bangkit dan mengambil ponselnya di dalam tas. Ia mulai meminta bantuan kepada temannya.
"Hallo Sya, ada apa kok tiba-tiba telpon?" ucap Ceysa menerima panggilan Sasya.
"To... Tolong aku!" ucapnya sangat lemah.
"Ya ampun Sya, loe kenapa? Sekarang loe ada dimana?" Langsung panik seketika.
"Kampus belakang sekolah!" jawab Sasya terpotong potong karena menahan rasa sakitnya.
"Baiklah, gue langsung kesana!" seru Ceysa. Dan tak lupa ia menghubungi Ani dan Belva terlebih dahulu. Tetapi ketika menghubungi Belva tak kunjung di angkat juga.
Ternyata si Belva sedang bermantap-mantap ria bersama Brylle di hotel. Ya... Artinya urusan yang ia maksud adalah berkencan dan bersenang senang dengan pacarnya Brylle.
Lalu Ceysa dan Ani langsung ke gudang belakang kampus, tanpa ada Belva yang tak kunjung mengangkat telfon dari ceysa.
Ketika mereka sampai di kampus, mereka berdua langsung bersamaan menuju ke gudang belakang kampus.
"Loe yakin Sasya ada disana? Tempat gudang itu jarang banget di datangi seseorang, Cey!" ucap Ani yang ingin memastikan.
"Gue yakin banget An, soalnya Sasya sendiri yang bilang ke gue. Apalagi suara dia kayak sedang merintih kesakitan gitu!" terang Ceysa sambil berjalan cepat bersama Ani.
Ketika sudah berada di depan pintu gudang, mereka langsung membuka pintu tersebut yang tidak di kunci. Lalu mereka langsung terkejut melihat Sasya sudah terkapar lemah di dalamnya.
"OMG! Sasya!!" teriak Ani kencang karena terkejut.
Ceysa yang melihat pakaian Sasya bagian belakang robek dan terlihat lukanya, ia langsung menutupi dengan jaket serta bergegas menolongnya.
"Apakah kita menghubungi Sadam terlebih dahulu? Agar ia bisa membantu kita?" tanya Ani ke Ceysa.
Sasya pun langsung mencegahnya. "Jangan beritahu kesiapapun termasuk keluargaku," ucap Sasya.
"Baiklah, kalau gitu ayo kerumah gue!" ucap Ceysa.
Ketika sudah berada di kamar Ceysa, mereka berdua mengobati Sasya.
"Cey, loe ada di dalam?" suara Belva tiba-tiba yang sudah berada di balik pintu kamar Ceysa. Belva yang sudah bersenang senang dengan Brylle tadi, ia sempat melihat ponsel menunjukkan ada notif Ceysa yang menghubunginya beberapa kali. Ketika ia menghubungi balik malah tidak kunjung di angkat. Jadi ia langsung saja kerumah Ceysa, takut kalau ada apa-apa.
Mendengar suara Belva yang mengetuk pintu kamarnya, lalu Ceysa segera membukakan pintu untuknya.
"Ya ampun, Sasya!!" ucap Belva terkejut, karena melihat Sasya berada di dalam kamar Ceysa yang penuh luka-luka bagian belakang badannya.
"Ayo langsung cerita ke kita, sebenarnya ada apa ini?" tanya Ceysa setelah mengobati Sasya.
Lalu ia menceritakan semua kejadian yang telah dialami mulai dari penculikan beberapa hari serta kejadian yang baru menimpanya saat ini.
"Jadi mulai sekarang, tolong bantu gue ngejauhin Sadam ya...! Dan jangan bilang ke siapapun tentang hal ini, termasuk Sadam dan keluarga ku," pinta Sasya kepada teman-temannya.
"Tapi loe kan bisa balas si Yama itu Sya! Biar gue yang bantuin loe, atau kita lapor ke polisi," sahut Ceysa yang tidak terima sahabatnya di pukuli.
"Jangan, kumohon! Aku tidak akan membuat masalah semakin besar. Biarkan saja, toh yang ia harapkan hanyalah Sadam. Aku baik baik saja, dan hanya perlu menjauhi Sadam," ucap Sasya lalu tersenyum ke teman-temannya.
"Ya ampun Sya... Kenapa loe baik banget sih? Jadi orang jangan terlalu baik deh!" seru Ani yang kawatir ke Sasya.
"Kalian jangan terlalu memikirkan aku, dan aku juga meminta kalian untuk tetap menjaga hubungan baik dengan pacar kalian masing-masing. Kalian hanya cukup membantuku untuk menjauhkan aku dengan Sadam," ucap Sasya panjang lebar, sambil meneteskan air mata.
"Seharusnya kamu jangan menyiksa kamu serta hati kamu sendiri deh Sya. Kami tau kalau kamu sudah sangat menyayangi Sadam, jangan lakuin itu Sya," ucap Belva menasehati Sasya.
"Keputusanku sudah bulat!" seru Sasya. "Ceysa, aku ingin tinggal bersamamu untuk beberapa hari. Nanti aku akan menelpon Mama aku, agar ia tidak mengkawatirkanku!" ucapnya lagi.
"Baiklah Sya, kita akan menerima keputusan dari loe. Kita juga akan bantu loe," sahut Ani dan disetujui oleh Ceysa dan Belva.
"Terimakasih, kalian memang sahabat-sahabatku yang paling baik," ucap Sasya tersenyum lalu merangkul semua sahabatnya.
smoga seru.
Vote Done.
Semangat