Gisella terbangun dalam tubuh seorang wanita figuran dengan nama yang sama di dalam sebuah novel roman. Sialnya, momen transmigrasinya terjadi tepat saat sang suami, Adrian Arthur—seorang profesor riset jenius berusia 27 tahun yang dingin dan kaku—menyodorkan surat cerai di atas meja.
Mampukah Gisella mengubah takdir kematian tragisnya dan bertahan di samping sang profesor jenius, ataukah waktu satu bulan itu akan tetap menjadi akhir dari kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 13: Detak Jantung yang Salah Arah
Sentuhan ujung jari Adrian di dagunya terasa seperti aliran listrik bertegangan rendah yang melumpuhkan kemampuan retorika Gisella.
Di dalam kamar nomor dua yang sunyi ini, aroma lavender yang menenangkan mendadak kalah pekat oleh aroma maskulin kayu cendana dan mint dari tubuh Adrian.
Jarak di antara mereka begitu terkikis hingga Gisella bisa melihat pantulan dirinya sendiri di dalam manik mata elang sang profesor yang dalam dan gelap.
Pertanyaan Adrian bergema seperti vonis hakim:
"Mengapa seorang wanita yang bersikeras meminta cerai dalam waktu tiga puluh hari justru bertingkah seolah dia ingin bersamaku selamanya?"*l
Gisella menelan ludah dengan susah payah.
Di dunia aslinya, dia adalah seorang manajer humas handal yang bisa menjinakkan krisis komunikasi korporat terbesar sekalipun dalam hitungan menit.
Namun menghadapi tatapan intens Adrian Arthur, seluruh naskah taktis di kepalanya mendadak menguap, menyisakan kekosongan yang berbahaya.
"Adrian..."
Gisella membuka suara, mencoba mencari pijakan untuk egonya yang mulai goyah.
Dia mengulurkan tangan, memegang pergelangan tangan Adrian perlahan untuk menjauhkan jari pria itu dari dagunya.
Kulit mereka bersentuhan, dan hangatnya tangan Adrian justru membuat konsentrasinya semakin buyar.
"Kau... kau salah membaca variabel emosi itu."
"Benarkah?"
Adrian tidak menarik tangannya.
Dia justru menurunkan jarinya dari dagu Gisella, namun tetap membiarkan telapak tangannya berada di dekat leher jenjang wanita itu, merasakan denyut nadi Gisella di pergelangan tangan yang dia pegang berpacu dengan kecepatan yang tidak normal.
"Lalu kenapa nadimu berdetak secepat ini, Gisella? Apakah analisis data bawah sadarmu juga sedang memprediksi bahaya lain di kamar ini?"
Gisella menarik napas dalam-dalam, memaksa jantungnya untuk melambat, meskipun itu adalah usaha yang sia-sia.
Dia menatap lurus ke dalam sepasang mata di balik kacamata perak itu, mencoba mengembalikan tameng rasionalitasnya.
"Nadiku berdetak cepat karena kau mengintimidasiku secara fisik, Profesor,"
jawab Gisella, kembali menggunakan panggilan formalnya untuk menciptakan jarak psikologis.
"Aku peduli padamu dan Valerie karena aku adalah manusia yang memiliki moral. Bahkan jika orang asing sekalipun yang berada di ambang kecelakaan itu, aku akan melakukan hal yang sama untuk menahan mereka. Apakah menurutmu aku begitu kejam hingga tega membiarkan suami legal dan adik iparku berjalan menuju maut hanya karena kita akan bercerai satu bulan lagi?"
Gisella mundur satu langkah, memaksa Adrian untuk melepaskan genggaman tangannya.
Langkah mundur itu memberikan ruang bagi paru-parunya untuk menghirup udara segar yang bebas dari aroma tubuh Adrian.
"Kematian atau kegagalan risetmu tidak akan menguntungkanku sama sekali,"
lanjut Gisella, suaranya kini terdengar lebih stabil dan tegas.
"Aku ingin keluar dari rumah ini dengan kepala tegak, membawa akta cerai yang sah, dan memulai hidup baruku dengan tenang tanpa rasa bersalah. Jika terjadi sesuatu yang buruk padamu sebelum kontrak tiga puluh hari kita selesai, akulah orang pertama yang akan dituduh oleh publik dan keluargamu. Jadi, anggap saja semua tindakanku adalah bagian dari strategi egoisku untuk memastikan jalanku menuju kebebasan tetap bersih."
Adrian berdiri bergeming di tempatnya.
Dia memperhatikan setiap kata yang keluar dari bibir Gisella.
Penjelasan wanita itu sangat egois, sangat transaksional, dan sangat masuk akal bagi seseorang yang ingin memutuskan hubungan.
Namun, Adrian bukan pria bodoh yang bisa di kelabuhi oleh kata-kata yang tersusun rapi.
Dia melihat kilat kepanikan yang tersembunyi di balik ketegasan mata cokelat Gisella—sebuah kepanikan yang bukan karena takut rencana cerainya gagal, melainkan ketakutan karena perasaannya sendiri mulai terseret terlalu jauh.
"Strategi egois yang sangat altruistik,"
sindir Adrian dengan nada rendah, seulas senyuman tipis yang sulit diartikan terukir di sudut bibirnya.
Pria itu menurunkan tangannya ke dalam saku celana kainnya, memberikan ruang yang diminta Gisella.
"Kau pandai sekali bersilat lidah, Gisella. Jika kau menggunakan kemampuan retorika ini enam bulan lalu, mungkin pernikahan kita tidak akan terasa seperti neraka yang dingin."
Gisella mengalihkan pandangannya ke arah jendela, enggan menatap senyuman Adrian yang entah mengapa terlihat sangat menawan malam ini.
"Masa lalu tidak bisa diubah, Adrian. Yang bisa kita lakukan adalah menyelesaikan masa sekarang dengan baik."
"Kau benar,"
ucap Adrian, nadanya kembali mendatar dan formal, pertanda sang profesor telah memasang kembali topeng kaku yang biasa dia kenakan di depan publik.
Dia berjalan menuju pintu kamar nomor dua, namun menghentikan langkahnya tepat sebelum memutar kenop pintu. Dia menoleh sedikit ke arah Gisella.
"Mulai besok, batasan diet yang kau buat akan tetap ku jalankan. Dan... lagu piano yang kau mainkan tadi sore, pastikan itu menjadi rutinitas harian mu. Aku butuh ketenangan itu untuk menyelesaikan sisa risetku dalam tiga minggu ke depan."
Gisella tertegun, lalu mengangguk pelan.
"Mengerti, Profesor. Selamat malam."
"Selamat malam, Gisella. Jaga detak jantungmu agar tidak salah arah lagi," ucap Adrian sebagai kalimat penutup yang sarat akan sindiran sensual, sebelum akhirnya melangkah keluar dan menutup pintu kamar dengan rapat.
"Brak."
Begitu pintu tertutup, Gisella langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur empuk berukuran king size miliknya.
Dia menarik bantal, menutupi wajahnya, dan berteriak tanpa suara di balik bantal tersebut.
"Sial! Sial! Sialan kau, Adrian Arthur!"
rutuk Gisella pada diri sendiri dengan kaki yang menendang-nendang udara karena frustrasi.
Dada Gisella masih bergemuruh hebat. Telapak tangannya terasa hangat di tempat Adrian menyentuhnya tadi.
Sebagai seorang wanita dewasa yang rasional, dia tahu persis apa arti dari gejala fisik yang dia rasakan barusan.
Itu bukan sekadar ketakutan karena diintimidasi. Itu adalah ketertarikan emosional dan fisik yang nyata.
Gisella berguling, menatap langit-langit kamarnya yang sepi dengan perasaan campur aduk.
"Ini salah. Ini sangat salah arah,"
bisik Gisella pada kesunyian kamar.
"Aku berada di sini untuk menghindari akhir yang tragis, bukan untuk jatuh cinta pada karakter utama pria yang ditakdirkan untuk menderita dalam plot novel ini. Hubungan ini memiliki tanggal kedaluwarsa yang jelas: tiga puluh hari. Jika aku membiarkan detak jantung ini terus berjalan ke arahnya, akulah yang akan hancur saat waktu itu tiba."
Sementara itu, di kamar seberang koridor—kamar nomor satu yang luas dan maskulin—Adrian Arthur berdiri di balkon kamarnya, menatap hamparan taman mawar di bawah yang diterangi cahaya bulan perak.
Angin malam yang dingin berembus menerpa kemejanya, namun tidak mampu mendinginkan gejolak asing yang membakar dadanya.
Adrian mengangkat tangan kanannya, menatap telapak tangannya yang beberapa menit lalu sempat menyentuh dagu dan memegang pergelangan tangan Gisella.
Kulit wanita itu terasa sangat lembut, berbeda dengan bayangannya tentang Gisella yang kasar dan penuh duri.
Selama enam bulan pernikahan mereka, Adrian selalu memandang Gisella sebagai kewajiban yang menjengkelkan, sebuah harga mahal yang harus dia bayar demi memenuhi janji terakhir kakeknya.
Dia tidak pernah peduli apa yang dilakukan wanita itu, dengan siapa dia menghabiskan uang, atau seberapa sering dia berteriak histeris di rumah ini.
Bagi Adrian, Gisella hanyalah kebisingan latar belakang yang tidak penting dalam hidupnya yang berfokus pada sains.
Namun sekarang, dalam kurun waktu kurang dari satu minggu, "kebisingan" itu telah berubah menjadi melodi piano yang menenangkan, makanan sehat yang memulihkan fisiknya, dan sepasang mata jernih yang menyelamatkan nyawanya dari maut.
"Siapa kau sebenarnya, Gisella?"
gumam Adrian pada kegelapan malam, suaranya sarat akan rasa frustrasi yang intelektual.
Sebagai seorang ilmuwan, Adrian membenci hal-hal yang tidak bisa dia jelaskan dengan rumus, logika, atau data empiris.
Perubahan Gisella menantang seluruh hukum alam yang dia ketahui.
Tetapi yang lebih mengganggu pikirannya adalah fakta bahwa dia... menyukai perubahan ini.
Dia menyukai bagaimana wanita itu menentangnya di dapur, dia menyukai bagaimana wanita itu merawatnya saat dia rapuh, dan dia menyukai bagaimana detak jantung wanita itu berpacu cepat saat dia berada di dekatnya.
Adrian mengepalkan tangannya kuat-kuat, lalu mengembuskan napas panjang yang terasa berat.
"Satu bulan..." bisik Adrian pada angin malam.
"Kau meminta waktu satu bulan untuk membuktikan dirimu sebelum bercerai, Gisella. Mari kita lihat, apakah dalam sisa waktu yang singkat ini kau bisa mempertahankan tameng strategimu, atau akulah yang akan membongkar seluruh rahasiamu dan menahan mu di rumah ini untuk selamanya."
Malam itu, di ujung koridor lantai dua kediaman Arthur, dua buah kamar yang saling berhadapan menyimpan dua detak jantung yang sama-sama telah kehilangan arah kompasnya.
Permainan catur di antara sang profesor dan sang transmigran tidak lagi sekadar tentang bertahan hidup atau takdir tragis, melainkan telah bergeser menjadi pertarungan ego dan rasa yang mulai tumbuh liar di luar kendali mereka.
ditunggu updatenya
pengen tau pasti tentang cinta Mereka...