NovelToon NovelToon
Pegasus From Diamond Planet

Pegasus From Diamond Planet

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:388
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Saat Planet Diamond runtuh menjadi abu akibat amukan monster legendaris Typhon, sebuah pengorbanan darah terakhir mengirim dua benih harapan ke Planet Bumi. Namun, badai dimensi memisahkan takdir mereka secara kejam.
Alan, bocah Pegasus berusia tujuh tahun yang cerdas, terdampar di danau sebuah kastil kuno. Ia ditemukan oleh Jacob, sang Raja Vampir penguasa malam yang mematikan. Di dunia yang dipenuhi predator berdarah dingin, Alan harus bertahan hidup, menyembunyikan sayapnya, dan tumbuh bersama seorang Pangeran Vampir misterius.
Sementara itu, di belahan kota seberang, seorang bayi perempuan berambut seputih salju terlahir dari kristal pualam ajaib di tengah hutan. Dirawat oleh sepasang petani miskin yang menamainya White Crystal, bayi itu menyembunyikan rahasia besar: setiap kali kulitnya menyentuh air, udara musim panas mendadak membeku menjadi es.
Dua penyintas terakhir. Dua klan bumi yang saling bertolak belakang—Vampir yang dingin dan Petani yang naif.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3. Ledakan Misterius di Tengah Hutan

Di sudut terpencil planet Bumi, terasing dari hiruk-pikuk teknologi modern, berdiri sebuah kota kecil bernama Arcania. Kota ini seolah tenggelam dalam ketenangan masa lalu; dikelilingi oleh hamparan perkebunan yang hijau, ladang-ladang subur, dan dibentengi oleh hutan lebat purba yang keindahannya menyimpan misteri karena jarang dijamah manusia.

Di tepian bukit yang berbatasan langsung dengan vegetasi liar hutan tersebut, sebuah rumah kayu sederhana berlantai dua berdiri dengan kokoh. Di sanalah Lucas dan Sarah menghabiskan hari-hari mereka. Sebagai sepasang petani sayuran, peluh dan tawa mereka telah menyatu dengan tanah ladang yang mereka garap setiap hari.

"Sayang, istirahatlah dulu. Matahari sudah tepat di atas kepala, ayo makan siang!" seru Sarah dari bawah naungan sebatang pohon maple tua yang rindang di tengah ladang.

Wanita paruh baya itu menyeka keringat di dahinya dengan ujung celemek, lalu mulai menata rantang anyaman bambu di atas kain jarik yang digelar di rumput.

Lucas, yang sedang membersihkan sisa-sisa tanah pada cangkulnya, mendongak dan tersenyum lebar. "Iya, perutku juga sudah berdemo sejak tadi."

Siang itu, hasil panen mereka sangat melimpah. Keranjang-keranjang kayu di dekat mereka sudah penuh sesak oleh tomat-tomat merah yang segar dan kentang yang baru digali.

Lucas berjalan mendekat, membasuh tangan dan wajahnya dengan air dari kendi, lalu duduk di samping istrinya.

Meskipun pernikahan mereka telah menginjak usia lima belas tahun, kehangatan di antara keduanya tidak pernah memudar. Namun, di balik tawa dan obrolan ringan mereka, ada satu ruang sunyi yang tak pernah benar-benar terisi.

Lima belas tahun tanpa tangisan bayi di rumah mereka yang sepi. Setiap kali melihat anak-anak warga desa bermain di pasar, ada binar kerinduan yang tertahan di sepasang mata Sarah, sesuatu yang Lucas sadari namun jarang ia bahas agar tidak melukai hati istrinya.

"Makanannya enak sekali, Sarah. Roti isi ini selalu terasa berbeda jika kau yang membuatnya," puji Lucas setelah gigitan pertama, mencoba mencairkan keheningan batin yang sempat melintas.

Sarah tertawa kecil, pipinya merona merah menahan gemas. "Hentikan bualanmu, Lucas. Ini hanya roti lapis dengan selai dan ham tipis. Kau selalu berlebihan."

"Bagi pria lain mungkin ini biasa, tapi bagiku, apa pun yang keluar dari tanganmu adalah hidangan terbaik di Arcania," goda Lucas sembari mengedipkan sebelah matanya.

"Kau memang pandai mengapresiasi makanan, tetapi kau jauh lebih pandai merayuku saat lelah," balas Sarah seraya mencubit pelan lengan suaminya, membuat tawa mereka berderai di bawah teduhnya daun maple.

Usai menyantap bekal, sisa waktu siang itu mereka gunakan untuk menyelesaikan baris terakhir ladang kentang. Urusan memetik tomat telah tuntas sebelum jam makan siang tadi.

Lucas kembali mengayunkan sekop kecilnya ke dalam tanah gembur. Namun, saat ujung besi sekopnya menghantam lapisan tanah yang lebih dalam, pria itu mendadak membeku.

Dari telapak tangannya yang menempel pada gagang sekop, ia merasakan sebuah getaran halus. Getaran itu bukan berasal dari alatnya, melainkan dari dalam dada bumi yang mereka pijak.

Lucas menegakkan punggung, menoleh ke sekeliling dengan dahi berkerut. Angin yang semula berembus sepoi-sepoi tiba-tiba berubah menjadi pusaran kasar. Daun-daun pohon maple di atas mereka bergeser liar, memunculkan suara gemerisik yang bising.

"Sarah... apa kau merasakannya?" bisik Lucas, matanya menyipit menatap lurus ke arah vegetasi hutan lebat di perbatasan ladang mereka.

Pohon-pohon raksasa di dalam hutan itu mulai bergoyang hebat, seolah ada sesuatu yang besar sedang menerobos dari atas angkasa.

Sarah yang sedang memasukkan kentang ke dalam karung goni menghentikan kegiatannya. Wajahnya seketika pias melihat debu-debu ladang mulai beterbangan membentuk pusaran kecil. "Ya Tuhan, Lucas... apa ini? Apa akan ada badai besar? Langit mendadak menjadi sangat gelap."

"Ini bukan badai biasa," Lucas melemparkan sekopnya ke tanah. Instingnya sebagai pria yang hidup dekat dengan alam mendadak berteriak bahaya. "Kita harus pergi dari sini sekarang. Tinggalkan semuanya, Sarah!"

"Tapi bagaimana dengan karung-karung kentang ini? Ini hasil kerja keras kita seminggu ini!" bantah Sarah, mencoba menarik karung goni yang berat itu dengan panik.

"Persetan dengan kentang, Sarah! Keselamatan kita jauh lebih penting!" bentak Lucas, suaranya meninggi akibat kepanikan yang kian mencengkeram dada.

Lucas menyambar pergelangan tangan istrinya dengan erat, menarik wanita itu untuk berlari meninggalkan area ladang menuju bukit tempat rumah mereka berada.

BOOM!

Belum sempat kaki mereka menapak ke pekarangan rumah, sebuah dentuman supranatural memekakkan telinga merobek langit Arcania. Suara itu begitu dahsyat, bukan seperti petir, melainkan seperti sebuah ledakan meriam raksasa yang dijatuhkan dari atmosfer.

Tekanan udaranya bahkan membuat Lucas dan Sarah terdorong ke depan, nyaris jatuh tersungkur di atas jalan setapak berbatu.

Keduanya menoleh ke belakang serentak dengan napas memburu. Dari arah jantung hutan lebat di dekat ladang mereka, sebuah gelombang kejut menyapu dahan-dahan pohon, disusul oleh kilatan cahaya putih benderang yang sempat membutakan mata selama beberapa detik sebelum akhirnya menyusut menjadi kepulan asap kelabu yang membubung tinggi ke angkasa.

"Suara apa itu, Lucas? Demi Tuhan, tempat jatuh itu... itu sangat dekat dengan ladang kita!" jerit Sarah, tubuhnya gemetar hebat dalam dekapan Lucas.

"Aku tidak tahu, Sarah... aku tidak tahu," gumam Lucas dengan tatapan terpaku pada asap yang terus menggulung di atas pucuk pepohonan. "Ayo, masuk ke rumah dulu!"

Mereka berlari sekuat tenaga meniti anak tangga, membuka pintu kayu rumah mereka dengan tergesa-gesa, lalu menguncinya dari dalam dari balik jeruji slot besi.

Keduanya bersandar pada pintu, mencoba menenangkan detak jantung yang berpacu liar layaknya genderang perang.

Setelah beberapa menit berlalu dalam keheningan yang mencekam, Lucas memberanikan diri berjalan mendekati jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah hutan. Ia menyibak sedikit tirai kain kumal milik mereka.

"Bagaimana di luar, Lucas? Apakah badainya sudah reda?" tanya Sarah yang mengekor di belakang, mencengkeram ujung kemeja suaminya.

"Aneh sekali... anginnya lenyap total dalam sekejap," jawab Lucas dengan kening berkerut dalam. "Lihat itu, Sarah. Tidak ada tanda-tanda kerusakan akibat angin badai di sekitar rumah kita. Tapi asap di tengah hutan itu... warnanya tidak hitam seperti kebakaran hutan biasa. Asap itu berwarna perak redup."

Sarah ikut mengintip dari balik bahu suaminya. Matanya menyipit melihat kepulan asap misterius yang perlahan mulai menipis di balik lebatnya vegetasi Arcania. "Apa mungkin ada meteor jatuh? Atau... pesawat yang celaka?"

Lucas menggeleng pelan, rasa penasaran yang teramat besar perlahan-lahan mulai mengikis rasa takut di dalam diri pria itu. "Bagaimana kalau kita pergi ke sana untuk memastikannya? Siapa tahu ada orang yang membutuhkan pertolongan di dalam sana."

Mendengar itu, Sarah langsung mundur selangkah dan melayangkan pelototan tajam. Wajahnya mengeras dengan kedua tangan tersemat di pinggang. "Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu, Lucas?! Aku tidak akan membiarkanmu masuk ke hutan terkutuk itu! Kau tahu sendiri cerita-cerita dari tetua desa, hutan itu penuh dengan binatang buas dan hal-hal mistis yang tidak bisa dijelaskan! Tak ada satu pun warga Arcania yang berani menginjakkan kaki ke sana setelah matahari melewati ubun-ubun!"

"Tenanglah, Sarah. Jangan marah dulu, aku hanya berasumsi," ucap Lucas defensif, seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal untuk meredakan ketegangan istrinya.

Sarah tidak menyahut lagi. Dia mengembuskan napas panjang dengan gusar, membalikkan badan, lalu melangkah menuju kamar mandi di lantai bawah untuk membasuh wajahnya yang kotor oleh debu ladang.

Melihat istrinya telah menghilang di balik pintu kamar mandi, Lucas kembali menatap jendela. Di kejauhan, asap keperakan itu mulai menipis, menyisakan pendaran cahaya redup yang seolah memanggil-manggil jiwanya.

Rasa penasaran pria itu telah mencapai puncaknya, mengalahkan segala logikanya sebagai petani biasa. Jika ada seseorang—atau sesuatu—yang celaka di dalam sana akibat kecelakaan aneh tadi, dia tidak akan bisa tidur tenang seumur hidup karena mengabaikannya.

Dengan langkah yang sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara di atas lantai kayu, Lucas mengendap-endap menuju pintu depan. Dia memutar kunci dengan perlahan, membuka celah pintu sekadar cukup untuk tubuhnya lolos, lalu menutupnya kembali tanpa suara.

Begitu kakinya menyentuk rumput pekarangan, Lucas berlari kecil memotong jalur ladang, langsung menerobos masuk ke dalam kegelapan Hutan Arcania yang ditakuti.

Suasana di dalam hutan terasa sangat asing pasca-ledakan tadi. Burung-burung tidak lagi berkicau, dan hewan-hewan liar tampaknya telah melarikan diri jauh-jauh karena ketakutan.

Lucas membelah semak-semak berduri, melompati akar-akar pohon purba yang melintang, mengikuti arah pendaran cahaya yang kian jelas di depan mata.

Setelah lima belas menit berjalan menembus keheningan yang mencekam, Lucas akhirnya tiba di sebuah area terbuka di tengah hutan. Langkah kakinya mendadak terhenti di balik sebuah pohon besar. Matanya membelalak takjub.

"Asapnya sudah hilang... tapi, apa ini?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!