Aku hanya ingin memiliki keluarga. Namun, takdir justru menyeretku ke dalam cinta yang mustahil. Terjebak di antara pria yang kucintai dan kakak angkat yang diam-diam menginginkanku, aku dipaksa menghadapi rahasia kelam yang selama bertahun-tahun disembunyikan. Saat kebenaran terungkap, bukan hanya hatiku yang hancur, tetapi seluruh hidupku ikut berubah. Akankah cinta menjadi penyelamat... atau justru awal dari kehancuranku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andinirhein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saat Kebenaran Terungkap.
Aku memandangi seluruh dinding kamar Hwi Sol oppa. Semua dinding itu dipenuhi foto-fotoku yang ditempel dengan rapi. Mulai dari foto saat aku masih kecil hingga sekarang, saat aku sudah dewasa. Semuanya tersusun dengan begitu teratur.
Aku berusaha mencerna semua yang baru saja kutemukan. Seketika tubuhku terasa lemas. Aku memilih duduk di kursi yang berada di samping meja kerja oppa.
Aku ingin berpikir positif. Aku ingin menganggap semua ini hanya kesalahpahaman. Namun, aku tidak bisa. Pikiranku sudah terlanjur dipenuhi berbagai dugaan yang bahkan tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Terlebih lagi setelah aku membaca satu per satu buku yang tampaknya merupakan buku harian rahasia milik oppa.
Beberapa buku harian tergeletak di atas meja kerjanya. Buku-buku yang belum pernah kulihat sebelumnya. Kata demi kata, kalimat demi kalimat, hingga halaman demi halaman berhasil membuat bulu kudukku meremang.
Dan sampailah aku pada sebuah tulisan yang menghancurkan hatiku.
"Aku tahu, Tuhan. Perasaan ini adalah perasaan yang salah. Sebuah perasaan yang seharusnya tidak kumiliki sebagai seorang kakak.
Namun, aku tidak bisa terus-menerus menyangkalnya. Semakin aku mencoba mengabaikannya, semakin besar pula rasa ini tumbuh.
Meskipun aku tahu Seolhwa bukan adik kandungku, aku tetap merasa bersalah. Aku sangat menyayanginya.
Ketika ia mengatakan bahwa ia mencintai pria lain, hatiku hancur. Saat pria itu datang menemuiku, aku hanya bisa mengusirnya dan menolak hubungan mereka.
Aku sadar aku telah bersikap egois. Aku hanya memikirkan perasaanku sendiri.
Namun aku juga sadar, aku akan menjadi kakak yang lebih jahat jika aku tidak membiarkan Seolhwa bahagia dengan pilihannya.
Karena itu, dengan berat hati aku menyetujui hubungan mereka.
Tuhan... aku hanya ingin Seolhwa bahagia, meskipun kebahagiaannya bukan bersamaku.
Aku berharap perasaan terlarang ini akan tetap menjadi rahasia yang tidak pernah diketahui Seolhwa. Bahkan sampai aku mati."
B-Bagaimana mungkin...?
Bagaimana mungkin semua ini bisa terjadi?
Tangisku pecah begitu saja.
Kalau aku bukan adik kandung oppa...
Kalau aku bukan anak kandung eomma dan appa...
Lalu siapa keluarga kandungku yang sebenarnya?
Aku menangis tersedu-sedu hingga sebuah panggilan telepon menghentikanku.
Nama Hwi Sol oppa muncul di layar ponselku.
Dengan susah payah aku menenangkan diri sebelum menjawab panggilannya.
Oppa menanyakan apakah aku sudah sampai di rumah. Ia juga mengatakan bahwa malam ini ia akan pulang lebih larut karena harus menyelesaikan pekerjaan kantor yang menumpuk.
Entah mengapa, setelah mendengar itu, aku sedikit lega.
Setidaknya aku masih memiliki waktu untuk membaca buku harian lainnya tanpa diketahui olehnya.
Aku kembali membuka buku-buku yang tersisa.
Perhatianku tertuju pada sebuah buku yang terlihat lebih usang dibanding yang lain. Setelah membukanya, aku menyadari bahwa itu adalah buku harian pertama Hwi Sol oppa saat masih duduk di bangku sekolah dasar.
Dan sekali lagi, sebuah kebenaran terungkap.
Ternyata orang tua kandungku memang menitipkanku di panti asuhan sejak aku masih bayi.
Eomma dan appa yang mengadopsiku. Mereka sengaja mencari seorang anak perempuan untuk menjadi teman bagi putra pertama mereka, yaitu Hwi Sol oppa.
Mereka tidak pernah memberitahukan hal itu kepada oppa.
Namun tanpa sengaja, oppa pernah mendengar pembicaraan mereka dan mengetahui bahwa aku bukan adik kandungnya.
Meski begitu, rasa sayangnya padaku tidak pernah berubah.
Sejak kecil, ia selalu mengatakan bahwa aku adalah adik perempuan satu-satunya yang paling ia sayangi.
Namun sekarang aku tidak tahu lagi.
Apakah rasa sayang itu benar-benar kasih sayang seorang kakak kepada adiknya...
Ataukah perasaan seorang pria kepada wanita yang telah dicintainya diam-diam selama bertahun-tahun?
Sejak malam itu, aku memutuskan untuk berpura-pura tidak mengetahui apa pun.
Aku tidak akan memberitahu Hwi Sol oppa bahwa aku sudah mengetahui semuanya.
Aku tahu, rahasia ini juga pasti menyakitinya.
Karena itulah aku tetap bersikap seperti biasa di hadapannya.
Saat ini fokusku terbagi menjadi dua.
Pertama, mencari tahu siapa orang tua kandungku.
Kedua, menjaga perasaan Hwi Sol oppa agar ia tidak semakin terluka karena kedekatanku dengan Eun Dam.
Bagaimanapun juga, aku tidak bisa sepenuhnya menyalahkannya.
Situasi ini sulit bagi kami berdua.
Bukan hanya aku yang terluka.
Hwi Sol oppa pun sama.
"Seolhwa, makan dulu, sayang. Nanti supnya keburu dingin."
Suara oppa membuyarkan lamunanku pagi itu.
Hari ini ia membuatkan sup jagung hangat dan segelas susu pisang kesukaanku.
Rasanya begitu aneh.
Aku tahu pria yang duduk di hadapanku saat ini mencintaiku lebih dalam daripada yang pernah kubayangkan.
Namun aku hanya bisa berpura-pura tidak mengetahui isi hatinya.
Aku menyuapkan sesendok sup ke mulutku sambil sesekali melirik wajahnya.
Meski ada sedikit kecanggungan, aku berusaha bersikap senormal mungkin.
Aku tidak ingin membuatnya curiga.
Aku juga tidak ingin menjauhinya.
Karena aku tahu itu hanya akan semakin menyakitinya.
"Bagaimana pekerjaan oppa? Apakah berjalan lancar?" tanyaku.
"Sedikit ada kendala. Akhir-akhir ini oppa mungkin akan sering pulang larut malam. Tidak apa-apa kalau oppa tidak bisa menjemputmu?" tanyanya.
"Tentu tidak apa-apa. Aku bisa pulang naik taksi sendiri. Yang penting oppa fokus bekerja dan jangan sampai telat makan. Sesibuk apa pun, oppa harus tetap menjaga kesehatan."
Senyum hangat muncul di wajahnya.
"Baik, Tuan Putri."
Ia mencubit pelan hidungku.
Hari itu aku lebih banyak melamun.
Aku duduk di dekat jendela toko sambil memandangi jalanan yang ramai oleh orang-orang yang berlalu-lalang.
Pikiranku dipenuhi berbagai pertanyaan tentang takdir yang sedang kujalani.
Sampai tiba-tiba seseorang sudah duduk tepat di depanku.
Aku tersentak.
"Eun Dam? Sejak kapan kamu datang?"
"Kurang lebih tiga menit yang lalu," jawabnya sambil tertawa kecil.
"Lalu kenapa kamu melamun sampai tidak menyadari keberadaanku?"
Aku tersenyum canggung.
"Tidak ada apa-apa."
Kemudian aku mengalihkan pembicaraan.
"Oh ya, bagaimana kakimu?"
"Kadang masih terasa nyeri, tapi aku baik-baik saja."
Ia tersenyum lembut.
"Besok sore, apa kamu bisa menemaniku ke rumah sakit untuk terapi? Kalau kamu tidak sibuk."
"Tentu saja bisa. Aku akan menemanimu."
"Terima kasih."
"Kamu ke sini naik apa?" tanyaku lagi.
"Aku diantar temanku. Kebetulan sejak pagi ada urusan dengannya, lalu aku mampir ke sini untuk menemuimu."
Aku dan Eun Dam mengobrol cukup lama.
Rasanya nyaman berada di dekatnya.
Ia selalu berhasil membuatku tertawa dengan lelucon-lelucon sederhana meskipun terkadang terdengar garing.
Sore harinya, setelah pulang bekerja, aku langsung menuju rumah.
Mulai hari ini aku bertekad mencari tahu siapa orang tua kandungku.
Langkah pertama yang harus kulakukan adalah mencari informasi mengenai panti asuhan tempat aku dulu tinggal.
Untungnya eomma adalah orang yang sangat rapi dalam menyimpan dokumen-dokumen penting.
Aku membuka laci lemari di kamarnya dan mulai mencari satu per satu berkas yang tersimpan di dalamnya.
Hampir empat puluh menit aku membongkar berbagai dokumen.
Sampai akhirnya aku menemukan satu lembar berkas yang selama ini kucari.
Surat perjanjian adopsi.
Jantungku berdegup kencang saat membacanya.
Di sana tertulis nama panti asuhan tempat aku dititipkan sejak bayi.
Panti asuhan itu berada di Yongsan-gu, masih berada di wilayah Seoul.
Perjalanan dari pusat kota Seoul menuju Yongsan-gu hanya membutuhkan waktu beberapa menit dengan kereta bawah tanah.
Keesokan paginya, seperti biasa, Hwi Sol oppa mengantarkanku bekerja.
Namun kali ini aku berbohong.
Aku sengaja berpura-pura akan menghabiskan hari di toko agar ia tidak curiga.
Setelah mobil oppa menghilang dari pandangan, aku segera keluar dan mencari taksi.
Tujuanku hanya satu.
Yongsan-gu.
Tempat yang mungkin akan mengungkap siapa diriku sebenarnya.