Aryo Pradana adalah seorang pengusaha sukses, namun sayang berada di puncak pencapaian dengan bergelimang harta tak lantas membuatnya jadi suami bersyukur. Ia memilih mengkhianati Sekar—istri setianya yang berasal dari garis keturunan dukun terkuat di sebuah desa terpencil asal Banyuwangi.
Demi ambisi dan gairah, Aryo menikah siri dengan Maya, gadis kota, muda, namun ambisius. Alih-alih meratap dan menangisi nasibnya, Sekar yang mengetahui pengkhianatan ini justru memilih mundur dengan keheningan yang mematikan.
Ketika Maya mulai mengandung anak Aryo dan menuntut posisi sebagai istri sah satu-satunya, teror gaib yang legendaris, Santet Pring Sedapur, mulai dikirimkan.
Di balik keputusasaan Aryo untuk menyelamatkan istri mudanya, ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa satu-satunya cara menghentikan teror ini adalah menyerahkan kembali jiwanya pada Sekar—atau mati bersama seluruh keturunannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 - Puncak Bulan Suro
Berita tentang hancurnya reputasi Aryo sebagai konglomerat yang menggunakan pesugihan menyebar luas bak air bah yang tak terbendung sejak kematian Hendra dan Pak Mansur. Namun, Aryo tidak lagi peduli pada harga saham atau nama baiknya. Hidupnya kini telah menyusut menjadi labirin ketakutan yang sempit.
Kini, Aryo merasa benar-benar terpuruk dan dihadapkan pada jalan buntu. Emosinya kian tidak stabil. Teror gaib tiada henti meski ia telah kembali ke rumah mewahnya di Pondok Indah. Justru teror telah bergeser ke arah lain.
Sumpah darah Pring Sedapur tidak hanya mengincar inti rumpun pengkhianat, melainkan mulai merembet memotong semua simpul manusia yang pernah memuluskan jalan bagi penderitaan Sekar.
Menjelang subuh, dengan sisa tenaga yang hampir habis, Aryo menyeret Maya ke kamar utama lantai dua. Ia sengaja meliburkan dua pembantunya. Aryo tidak ingin kondisi mengerikan Maya sampai diketahui oleh orang lain selain Danu.
Kamar mewah yang semula terbakar itu kini hanya diperbaiki seadanya. Bukan karena Aryo kekurangan uang, melainkan karena para tukang menolak melanjutkan pekerjaan setelah beberapa dari mereka mengalami kecelakaan aneh—mulai dari paku yang menembus telapak tangan sendiri hingga suara tangisan wanita dari balik tembok yang gosong.
"Apa yang harus kulakaun sekarang, Maya. Pagi tadi Danu oergi dan sampai sekarang dia belum kembali," bisik Aryo parau.
Ia berbicara pada Maya yang terbaring kaku bak mayat hidup. Sisa-sisa darah tampak mengering di pipinya.
Drrrttt ... drtttt ....
Ponsel Aryo begetar seiring dengan masuknya sebuah pesan video singkat dari nomor yang sangat ia kenal: Baskoro, pengacara pribadi sekaligus sahabatnya yang menyusun dokumen perceraian sepihak dengan Sekar serta mengatur saksi untuk pernikahan sirinya dengan Maya.
"Bas ...." Suara Aryo tercekat di tenggorokan. Jantungnya bertalu cepat, lalu membuka video itu.
Video itu berdurasi 29 detik, direkam dengan kamera depan yang bergoyang tidak stabil. Di dalam kamar apartemennya yang mewah di kawasan Mega Kuningan, Baskoro terlihat sedang terduduk di lantai, mencengkeram lehernya sendiri yang tampak membengkak ganjil.
Dari sela-sela bibirnya yang membiru, mencuat ujung sebilah paku usuk sepanjang sepuluh sentimeter yang menembus lidahnya dari bawah rahang. Di latar belakang video, terdengar suara gerisik dedaunan bambu yang sangat bising.
Video mati. Detik berikutnya, sebuah pesan teks masuk dari istri Baskoro.
Baskoro baru saja meninggal di ambulans. Dokter bilang dia tersedak benda tajam secara mendadak saat tidur. Ini pasti ulahmu. Kamu apakan suamiku? Kamu pembunuh!
Dada Aryo mendadak sesak. Dengan tangan gemetar hebat, ia buru-buru menekan nomor Danu. Begitu tersambung, ia menjerit histeris,
"Mas Danu, cepat kembali, Mas! Baskoro ... Baskoro sudah mati!" jerit Aryo.
"Sudah seharusnya. Siapa pun yang memuluskan jalan bagi penderitaan Sekar adalah simpul dari kutukan ini, Pak Aryo," ucap Danu datar, matanya tetap tertuju pada jalanan sore yang berkabut. "Siapa lagi orang yang terlibat dengan perselingkuhan Anda?"
"Hendra, Pak Mansur, Baskoro ...."
Belum sempat Aryo menyelesaikan kalimatnya, layar gawai itu kembali berkedip. Kali ini sebuah tautan berita online lokal dikirimkan oleh grup korporatnya.
"Sebentar." Aryo menarik ponsel, lalu memeriksa notifikasi tersebut.
Kebakaran Misterius di Kawasan Puncak: Sebuah Vila Eksklusif Hangus Terbakar Subuh tadi, Pemilik Rumah Ditemukan Tewas Terjepit di Bawah Reruntuhan Tiang Jati. Pemilik vila itu adalah Farhan.
Saksi mata di sekitar lokasi kejadian menyatakan bahwa sebelum api berkobar, mereka mendengar suara dentuman keras mirip bambu yang pecah berulang kali dari dalam bangunan, meskipun tidak ada pohon bambu satu pun di sekitar properti tersebut.
Sumpah gaib dari Alas Purwo sedang melakukan pembersihan total. Siapa pun yang memberikan kesaksian palsu dan membantu Aryo mencampakkan Sekar dianggap telah ikut menandatangani kontrak kutukan tersebut. Mereka yang bungkam dan menerima uang tutup mulut dari Aryo kini dibungkam secara permanen oleh alam gaib.
"Mereka semua mati, Mas ... mereka yang membantu saya menyingkirkan Sekar ...." Aryo menangis parau, memukul-mukul kepalanya. "Kutukan ini tidak mau menyisakan siapa pun!"
Danu terkekeh kecil di seberang telepon.
"Hukum adat spiritual tidak mengenal istilah kompromi atau pihak ketiga, Pak Aryo," Danu membelokkan setir SUV-nya memasuki area perumahan Pondok Indah yang sepi. "Dalam mistisisme Jawa kuno, saksi pengkhianatan dinilai sama buruknya dengan pelaku utama. Mereka dianggap ikut memotong aliran energi murni keluarga Ki Demang demi keuntungan materi yang Anda berikan."
Danu mengerem mobil dengan sentakan keras tepat di depan pintu gerbang rumah Aryo. Rumah mewah itu tak terlihat seperti hunian manusia. Hawa di sekitarnya benar-benar dingin dan suram.
"Kita hanya punya waktu kurang dari tiga puluh menit sebelum saksi terakhir—yaitu Anda sendiri dan Maya—dijemput oleh sisa energi yang merambat dari runtuhnya simpul-simpul ini," kata Danu sambil membuka sabuk pengamannya. "Siap-siap Pak Aryo, kita harus segera membawa Maya."
Klik! Sambungan telepon terputus.
Sore menjelang malam, kegelapan runtuh di atas ibu kota dengan kepekatan yang tidak wajar. Langit di atas Pondok Indah seolah tertutup oleh kubah tak kasat mata berwarna hitam legam, menelan seluruh cahaya bintang dan pendar lampu jalanan elit di sekitarnya.
Ini adalah malam puncak bulan Suro, waktu di mana gerbang pembatas antara tanah murni Blambangan dan tanah luar terbuka lebar, mengizinkan kekuatan penuh Santet Pring Sedapur untuk melakukan eksekusi final.
Hawa sedingin es makam menusuk tulang begitu Danu melintasi halaman. Seluruh tanaman hias mahal di pekarangan telah mati membusuk, sementara dari dalam sela-sela pagar besi tempa, muncul ratusan tunas bambu hitam (pring petung) yang tumbuh liar dalam waktu beberapa jam, mengunci akses keluar-masuk rumah mewah tersebut layaknya jeruji penjara alami.
Di dalam kamar, Maya terbaring kaku di atas rajang jarahannya. Tubuhnya sudah tidak lagi memiliki kelenturan manusia. Kedua kaki dan tangannya telah menekuk kaku ke belakang, membentuk formasi busur yang dipaksa menyerupai anyaman pelepah bambu kering yang mati.
Wajahnya yang robek horizontal tertutup topeng darah hitam yang mengering, sementara sepasang matanya menatap kosong ke atas tanpa berkedip.
Srekk ... srekk ... srekk ....
Suara gesekan dedaunan bambu kering bergema dari empat sudut ruangan dengan volume yang memekakkan telinga, bersahut-sahutan dengan suara tabuhan kendang gaib yang berdegup lambat tiba-toba terdengar ... tung ... takk ... gung ...
"Mas Danu ... tolong, Mas ... energinya pekat sekali ... saya tidak bisa bernapas ...." Aryo jatuh berlutut, memegangi dadanya yang terasa seperti dihantam oleh sebongkah batu jati yang besar. Oksigen di dalam ruangan itu seolah lenyap, digantikan oleh uap anyir kembang kantil yang membakar tenggorokan.
Danu berdiri di tengah ruangan, mantel cokelatnya berkibar pelan ditiup angin gaib yang berputar statis. Ia merogoh tas kulit buayanya, mengeluarkan sebuah obor kuno kecil terbuat dari bambu kuning yang diisi minyak misik hitam, lalu menyulutnya dengan pemantik kuningan tuanya.
Wushhh!
Nyala api hijau kebiruan berkobar dari ujung obor, menjadi satu-satunya sumber cahaya yang memotong kegelapan mistis di kamar itu.
Di bawah pendar api tersebut, Danu bisa melihat dengan jelas bahwa kabut hitam pekat yang mengepung rumah itu membentuk siluet ribuan pasang tangan kurus kering dengan kuku-kuku tajam yang sedang mencakar-cakar dinding marmer dari luar kaca jendela.
"Kekuatan Alas Purwo sudah mengunci rumah ini, Pak Aryo," Danu berteriak di tengah gemuruh suara angin dan gesekan bambu. "Malam puncak Suro adalah malam penagihan utang darah. Seluruh simpul gaib yang pernah melindungimu di kota ini sudah runtuh total bersama matinya saksi-saksimu!"
Tiba-tiba, dari arah luar jendela besar yang menghadap ke halaman belakang, kabut hitam itu memadat, membentuk sosok raksasa seorang wanita berkonde besar dengan kebaya beludru hitam yang melayang kaku di udara. Wajah Sekar tampak bersinar pucat di balik kaca, menatap lurus ke arah Aryo dengan pandangan mata penuh penghakiman mutlak.
Brakkk!!!
Kaca jendela tebal rumah mewah itu pecah berantakan dihantam angin badai hitam. Bersamaan dengan itu, tubuh Maya yang kaku di lantai mendadak melayang naik setinggi dua meter, dikelilingi oleh ribuan jarum dan paku berkarat yang melayang-layang liar di sekeliling raganya seperti koloni lebah besi yang siap menghunjam masuk.
"Waktu kita habis," Danu menghantamkan pangkal obor bambu kuningnya ke lantai marmer hingga memancarkan percikan api perlindungan terakhir. "Kita tidak bisa bertahan di Jakarta lagi. Tarik tubuh istrimu, Pak Aryo! Malam ini juga, sebelum fajar Suro berakhir, kita harus menembus kepungan energi hitam ini dan lari ke lereng Gunung Salak untuk menemui petapa tua itu, atau kalian berdua akan membusuk di dalam rumah mewah ini sebagai korban tumbal sumpah darah yang kalian langgar sendiri!"
"Pe-petapa?" lirih Aryo. "Tidak, aku punya tujuan lain." Pria itu mulai bertekad.
Seseorang yang bisa memutus santett Pring sedapur Ki demangkah ??
Dia tidak mau "menjatuhkan" dirinya di hadapan Sekar.
tapi ....
pada akhirnya azab yang akan memaksa dia untuk "jatuh" ..... sejatuh jatuhnya
dasar laki laki tidak tau diri
Rumah Sekar? atau
alas Purwo?
Aryo yang berbuat
tapi Maya yang menanggung siksa jiwa dan raga atas ulah Aryo.
Aryo menderita dan hampir gila dengan menyaksikan semua penderitaan Maya yang terkena santett Pring Sedapurr
Maya sudah hampir menjadi Pring/bambu yang kering dan mati .