Karin mengabdikan seluruh hidupnya untuk mendukung suaminya Dimas menuju kesusksesan. Setelah berada di puncak kesuksesan, Suaminya justru mengkhianatinya dengan membawa pulang wanita muda dengan berniat untuk di jadikannya istri kedua. Lebih menyakitkan nya lagi keluarga suaminya ikut mendukung dan bahkan merendahkanya. Seolah pengorbanannya selama bertahun-tahun tidaklah berarti.
Saat nyawanya berakhir karena ulah sang pelakor. Karin terbangun kembali di masa lalu tepat saat Suaminya membawa wanita itu kerumahnya. Di beri kesempatan kedua Karin berubah menjadi wanita kuat dan bersumpah akan membalas rasa sakitnya di kehidupan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Keesokan paginya, suasana rumah keluarga Dimas sudah terlihat lebih sibuk dibanding biasanya. Beberapa pelayan mondar-mandir membawa kotak-kotak hadiah, sementara Bi Wati berdiri di ruang tamu sambil memeriksa daftar barang yang akan dibawa. Di atas meja sudah tersusun beberapa rangkaian bunga, amplop donasi, dan kotak beludru berisi perhiasan milik Bu Ratna. Semua orang tampak bekerja tergesa-gesa, seolah sedang mempersiapkan sesuatu yang penting.
Dari lantai dua, Vina turun dengan langkah ringan. Wajahnya terlihat cerah, bahkan senyum di bibirnya tak pernah hilang sejak tadi. Rambutnya sudah ditata rapi, kukunya baru selesai dipoles, dan ia sesekali membuka ponselnya untuk melihat foto gaun yang akan dikenakannya malam nanti.
"Bu, nanti kita berangkat jam berapa?" tanyanya sambil menghampiri Bu Ratna.
"Sekitar jam enam. Jangan sampai terlambat. Banyak pengusaha besar yang hadir malam ini, jadi semuanya harus terlihat sempurna," jawab Bu Ratna tanpa mengalihkan pandangannya dari daftar yang sedang diperiksa.
Vina mengangguk antusias. "Kalau begitu nanti sore aku tinggal ganti gaun saja. Untung semalam sudah selesai di-press."
"Tentu. Pakai gaun merah marun yang kemarin. Warna itu paling cocok denganmu," sahut Bu Ratna sambil tersenyum puas.
Percakapan mereka terhenti ketika suara langkah kaki terdengar dari arah tangga.
Karin berjalan turun dengan tenang mengenakan blus putih gading yang dipadukan rok hijau sage. Penampilannya sederhana, tetapi justru memancarkan kesan anggun dan berkelas. Riasan tipis di wajahnya membuat kecantikannya semakin menonjol. Baik Bu Ratna maupun Vina sama-sama terdiam beberapa saat. Mereka tidak menyangka perempuan yang selama ini selalu tampil seadanya kini berubah begitu drastis.
Namun keterkejutan itu hanya berlangsung sesaat. Bu Ratna segera memasang kembali wajah datarnya.
"Karin, hari ini kamu tidak usah keluar rumah."
Karin menghentikan langkahnya, lalu menatap ibu mertuanya dengan tenang. "Memangnya kenapa?"
"Tidak ada alasan khusus. Pokoknya tetap di rumah saja."
Karin tersenyum kecil. "Aneh. Biasanya Ibu tidak pernah melarangku keluar. Kalau hari ini tiba-tiba melarang, berarti ada sesuatu yang sedang disembunyikan dariku."
Bu Ratna mendecakkan lidah. "Kamu terlalu banyak berpikir."
"Benarkah?" tanya Karin pelan.
Tatapannya kemudian menyapu seluruh ruang tamu. Kotak-kotak hadiah yang tersusun rapi, bunga yang sudah dipersiapkan, hingga wajah Vina yang sama sekali tidak bisa menyembunyikan antusiasmenya, semuanya terlihat begitu familiar.
Dalam sekejap, ingatan dari kehidupan sebelumnya kembali memenuhi kepalanya.
Hari itu...
Hari ketika Dimas mengatakan ada acara amal yang mendadak sehingga ia tidak sempat mengajaknya ikut.
Padahal kenyataannya tidak demikian. Tidak ada acara yang mendadak. Semua persiapan sudah dilakukan sejak jauh-jauh hari.
Gaun Vina sudah disiapkan, rambutnya sudah ditata, bahkan hadiah dan perlengkapan acara sudah dikemas sejak pagi seperti yang terjadi saat ini.
Dulu ia begitu mudah percaya pada alasan Dimas. Ia bahkan merasa bersalah karena mengira dirinya memang tidak pantas menghadiri acara bergengsi seperti itu.
Kini, melihat semua yang ada di hadapannya, Karin justru ingin menertawakan kebodohannya sendiri.
Jadi selama ini... aku memang sengaja tidak diberi tahu.
Bukan karena waktunya mepet.
Bukan karena tidak sempat bersiap.
Melainkan karena sejak awal mereka memang tidak pernah berniat mengajaknya.
Karin menarik napas pelan, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sulit diartikan.
Kalau begitu... kali ini aku yang akan membuat rencana kalian berantakan.
Menjelang sore...
Suasana rumah kembali berubah ramai. Beberapa pelayan mulai menyiapkan pakaian Bu Ratna, sementara Bi Wati sibuk memastikan semua barang yang akan dibawa ke acara malam itu tidak ada yang tertinggal.
Tak lama kemudian, suara mesin mobil terdengar dari halaman depan.
Beberapa detik kemudian, Dimas masuk ke dalam rumah dengan langkah tergesa. Jas kerjanya masih melekat di tubuh, sementara dasinya tampak sedikit longgar seolah ia pulang terburu-buru dari kantor. Begitu melihat Karin sedang duduk santai di ruang keluarga sambil membaca majalah, langkahnya sempat terhenti.
"Kamu belum pergi?" tanyanya spontan.
Karin mengangkat wajah dan menatap suaminya dengan heran.
"Pergi ke mana?"
Dimas tampak salah tingkah. Ia baru sadar telah salah bicara.
"Maksudku... kamu tidak ada rencana keluar hari ini?"
Karin tersenyum tipis.
"Tidak. Memangnya kenapa?"
Sebelum Dimas sempat menjawab, Bu Ratna buru-buru menyela.
"Dimas, cepat naik dan bersiap. Nanti kita terlambat."
"Iya, Bu."
Namun pandangan Dimas beberapa kali masih melirik ke arah Karin. Dalam hati, ia berharap istrinya tidak mengetahui acara malam itu.
Karin memperhatikan semua itu tanpa berkata apa-apa. Ia justru semakin yakin mereka sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
Beberapa saat kemudian, Karin meletakkan majalah yang sedang dibacanya.
"Ngomong-ngomong... sepertinya hari ini rumah ramai sekali. Ada acara penting?"
Suasana ruang tamu mendadak hening.
Dimas dan Bu Ratna saling bertukar pandang hanya dalam hitungan detik.
"Oh... tidak ada apa-apa," jawab Bu Ratna sambil tersenyum tipis. "Hanya urusan yayasan."
"Yayasan?" ulang Karin.
"Iya. Hanya pertemuan kecil."
Karin mengangguk pelan, seolah mempercayai penjelasan itu.
"Kalau begitu kenapa hadiah, bunga, dan amplop donasi sudah dipersiapkan sejak pagi? Bukankah untuk acara kecil persiapannya tidak sebanyak ini?"
Pertanyaan itu membuat Bu Ratna kehilangan senyum.
Dimas segera mengambil alih pembicaraan.
"Ini hanya formalitas perusahaan."
"Begitu, ya?" sahut Karin sambil mengangguk.
Tak seorang pun menyadari bahwa di balik senyumnya, Karin sedang mengamati setiap perubahan ekspresi mereka.
Mereka berbohong.
Dan mereka bahkan tidak pandai menyembunyikannya.
Saat itulah ponsel Dimas yang tergeletak di atas meja tiba-tiba bergetar.
Layar ponselnya menyala. Sebuah notifikasi pesan muncul dari panitia acara.
"Selamat sore, Pak Dimas. Kami mengingatkan kembali Gala Charity Night akan dimulai pukul 19.00. Mohon hadir tiga puluh menit lebih awal untuk sesi penyambutan tamu VIP."
Belum sempat Dimas meraih ponselnya, mata Karin lebih dulu menangkap isi pesan yang terpampang jelas di layar.
Sudut bibirnya perlahan terangkat.
Gala Charity Night...
Benar.
Tidak ada yang berubah.
Acara itu tetap berlangsung pada hari yang sama seperti di kehidupan sebelumnya.
Bedanya...
Kali ini ia sudah mengetahui semuanya lebih dulu.
Dalam hati, Karin mulai menyusun rencananya.
Silakan saja mereka terus berpura-pura tidak mengajaknya.
Tapi Malam itu ia akan datang dengan caranya sendiri.