Karena kepergian Jelita, Amora terpaksa menggantikan posisi sang kakak sebagai pengantin dalam pernikahan yang sejatinya ditujukan untuk Jelita dan Razka.
"Tidak ada pilihan lain. Aku harus menyelamatkan nama baik keluarga Atmojo."
Amora tidak ada pilhan lain selain menikah dengan laki-laki yang seharusnya menjadi suami dari kakaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Dwi Febriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Menjadi Teman
Amora mulai membereskan meja makan seorang diri. Ia mengangkat satu per satu peralatan makan ke dapur, lalu menyalakan keran wastafel. Air mengalir membasahi piring-piring yang kotor, diiringi suara spons yang bergesekan dengan permukaannya. Kesunyian apartemen seakan hanya ditemani bunyi air dan dentingan kecil peralatan makan yang sedang ia cuci.
Amora melakukan semua itu tanpa mengeluh sedikit pun. Baginya, merapikan rumah dan membersihkan dapur justru menjadi cara sederhana untuk ia menenangkan hati. Kesibukan kecil itu membuat pikirannya tidak terlalu larut memikirkan hubungan canggung yang masih membentang di antara dirinya dan sang suami.
Setelah dapur kembali bersih dan semua peralatan tersusun rapi di rak, Amora mengeringkan tangannya menggunakan lap kecil. Ia lalu melangkah ke ruang keluarga dan menjatuhkan tubuhnya perlahan ke atas sofa.
Remote televisi diambil, kemudian layar besar di depannya menyala. Sebuah acara hiburan memenuhi ruangan dengan suara tawa para pembawa acara. Meski demikian, perhatian Amora tidak benar-benar tertuju ke sana. Tatapannya sesekali kosong, seolah pikirannya sedang berada di tempat lain.
Beberapa saat berselang, pintu kamar kembali terbuka. Atharazka keluar dengan penampilan yang jauh lebih santai. Rambutnya masih tampak sedikit basah setelah keramas, sementara kaus abu-abu polos dan celana panjang hitam yang dikenakannya membuat kesan formal yang sejak pagi melekat padanya menghilang. Aroma sabun bercampur parfum yang lembut ikut memenuhi ruangan.
Sekilas, pandangan mereka bertemu. Tidak ada senyum ataupun sapaan. Atharazka berjalan menuju sofa dan memilih duduk di sisi lain, menyisakan jarak yang cukup di antara mereka. Tangannya meraih remote yang berada di atas meja, lalu mengganti saluran televisi sebelum akhirnya membiarkan sebuah acara berita tetap menyala.
Ruangan kembali tenggelam dalam keheningan. Suara penyiar televisi menjadi satu-satunya percakapan yang terdengar, ditemani detak jam dinding yang berjalan pelan.
Sesekali Amora mencuri pandang ke arah Atharazka. Pria itu tampak duduk santai dengan tubuh bersandar, matanya tertuju pada layar televisi tanpa banyak perubahan ekspresi.
Di sisi lain, Atharazka tanpa sadar juga sempat melirik Amora dari sudut matanya. Perempuan itu duduk dengan kedua tangan bertumpu di atas pangkuan. Cahaya televisi memantulkan sinar lembut pada wajahnya yang terlihat tenang. Tidak ada kegelisahan yang ditunjukkan, hanya kesunyian yang dibagi bersama.
Tidak satu pun dari mereka mencoba membuka percakapan. Namun anehnya, malam itu keheningan terasa lebih nyaman dibanding hari sebelumnya.
Mungkin karena perlahan mereka mulai terbiasa berada di bawah atap yang sama. Atau mungkin, tanpa disadari keduanya, kehadiran masing-masing sudah tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang asing.
Hening itu akhirnya pecah ketika Amora menarik napas pelan, mengumpulkan keberanian.
"Mas Razka..." panggilnya hati-hati.
Pria itu mengalihkan pandangan dari televisi dan menatap Amora.
"Ada apa?" tanyanya datar.
Amora menggenggam jemarinya sendiri beberapa saat sebelum kembali bersuara.
"Ada sesuatu yang pengen aku bicarakan sama Mas."
Amora mengembuskan napas perlahan. Jemarinya saling bertaut di atas pangkuan, berusaha meredakan rasa gugup yang sejak tadi memenuhi dadanya. Berkali-kali ia menyusun kalimat dalam pikirannya, tetapi tetap saja ia khawatir ucapannya justru membuat suasana menjadi semakin canggung.
"Aku pengen ngobrol sedikit... tentang kita."
Kalimat itu membuat suasana ruang keluarga seolah semakin sunyi. Volume televisi yang kecil hanya menjadi latar suara, sementara keduanya tenggelam dalam percakapan yang terasa lebih penting.
"Mau ngobrol apa?" Tanya Atharazka yang kini benar-benar memusatkan perhatiannya pada Amora.
Amora menarik nafas mengumpulkan keberanian.
"Mas sadar, kan kalau sejak menikah kita hampir enggak pernah benar-benar ngobrol berdua?" ucapnya hati-hati. "Aku paham pernikahan ini bukan sesuatu yang kita rencanakan bersama. Bahkan bukan juga pernikahan yang kita inginkan. Kita juga belum saling mengenal dengan baik. Tapi kalau setiap hari kita terus saling diam, rasanya kita berdua jadi semakin terasa asing."
Atharazka tidak menyela. Ia hanya mendengarkan dengan tenang, membiarkan Amora mengutarakan seluruh isi pikirannya.
Melihat tidak ada penolakan, Amora melanjutkan perkataannya.
"Aku enggak berharap hubungan kita akan berubah seperti pasangan pada umumnya," katanya sambil tersenyum tipis. "Aku cuma merass, mungkin kita bisa memulai hubungan kita dari hal yang paling sederhana?"
Atharazka mengangkat sedikit alisnya.
"Maksudnya?"
Amora menarik napas pelan.
"Kita berteman."
Jawaban itu membuat Atharazka terdiam beberapa saat.
"Teman?" ulangnya singkat.
Amora mengangguk.
"Iya. Menurut aku itu lebih mudah dijalani daripada memaksakan buat kelihatan kaya pasangan. Seenggaknya kita bisa saling menyapa, ngobrol kalau memang perlu, atau makan bersama sesekali. Jadi suasananya enggak sekaku sekarang."
Ia menundukkan pandangan sejenak.
"Aku cuma merasa kurang nyaman kalau kita tinggal serumah, tapi rasanya kaya orang asing aja."
Ucapan terakhir itu terdengar begitu jujur hingga membuat Atharazka ikut terdiam lebih lama. Tatapannya beralih ke layar televisi yang masih menyala, lalu kembali kepada Amora. Ada sesuatu yang sedang dipikirkannya. Beberapa detik kemudian, ia mengembuskan napas pelan.
"Kalau itu yang kamu mau," ucapnya akhirnya. "Aku enggak keberatan."
Amora mendongak.
"Beneran?"
Atharazka mengangguk kecil.
"Kita berhubungan sebagai teman."
Jawabannya memang singkat, tetap terdengar datar seperti biasanya. Namun bagi Amora, persetujuan itu sudah cukup membuat hatinya terasa jauh lebih ringan.
Senyum tulus pun perlahan menghiasi wajahnya.
"Makasih ya, Mas."
Atharazka membalas dengan anggukan kecil sebelum kembali bersandar di sofa.
"Jujur," katanya beberapa saat kemudian, "aku juga enggak suka kalau suasana di rumah terus berasa canggung."
Amora menatapnya tanpa berkedip.
"Jadi nanti kalau memang ada yang mau kamh bicarakan, bilang saja. Enggak usah sungkan."
Kalimat itu membuat senyum Amora semakin lebar.
"Iya, Mas."
Percakapan mereka berakhir di sana. Tidak ada pembicaraan panjang setelahnya. Mereka kembali menontkn televisi yang masih menyala, menikmati keheningan yang kini terasa jauh lebih santai dibanding sebelumnya.
Di dalam hati, Amora merasa lega. Ia tidak pernah berharap hubungan mereka berubah dalam semalam. Baginya, kesediaan Atharazka membuka sedikit ruang untuk berkomunikasi sudah menjadi awal yang baik.
Sementara itu, Atharazka diam-diam melirik perempuan di sampingnya.
Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, ia menyadari bahwa tinggal bersama Amora mungkin tidak akan sesulit yang selama ini ia bayangkan.
Malam itu tidak menghadirkan perubahan yang besar. Namun sebuah kesepakatan telah tercipta.
Mereka mungkin belum menjadi pasangan yang sesungguhnya. Tapi setidaknya, mulai hari itu, mereka bukan lagi dua orang asing yang sekadar berbagi atap, melainkan dua teman yang mungkin secara perlahan akan belajar mengenal satu sama lain.
.
.
.
Jangan lupa like dan komen nya yaa🫶
Aku suka banget bacain komen temen-temen🥰
Dan kalau boleh, jangan lupa vote bintang 5 nya🥳🫶
Terima Kasih 🥰❤️
crt2 yg lain nya aku msh nunggu kelanjutan nya lho... 🥰🥰🥰