Xue Yao, murid pertama Sekte Yiyuan, kehilangan segalanya ketika Raja Iblis menghancurkan sektenya. Sebagai satu-satunya yang selamat, ia melarikan diri membawa pusaka sekte, Cincin Zhutian, demi membalas dendam.
Namun saat dikepung musuh, ia menghancurkan kultivasi dan memecah kesadarannya sendiri. Takdir justru membuat seluruh serpihan kesadarannya terserap ke dalam Cincin Zhutian dan tersebar ke berbagai dunia. Setelah hampir seratus tahun tertidur, Xue Yao terbangun dan mendapati setiap serpihan hidup dalam penderitaan akibat keterikatan batin yang dapat melahirkan iblis hati.
Kini, dengan kekuatan Cincin Zhutian, ia harus kembali ke setiap dunia untuk menyelamatkan, mengumpulkan, dan menyatukan kembali seluruh serpihan jiwanya. Namun, mampukah Xue Yao mengembalikan dirinya yang utuh... atau justru kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhu Ge Liang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gagalnya Jebakan Pertunangan⁶
Hari kedua.
Di dalam Istana Weiyang, Xue Yao menerima kunjungan Nyonya Ruyue beserta putrinya yang masuk ke istana untuk memberi salam.
Perempuan yang dahulu di kediaman keluarga dalam sandang, pangan, dan tempat tinggal harus selalu melihat ekspresi wajahnya, kini justru telah menjadi Permaisuri Agung Yeguang yang terhormat.
Hal ini membuat hati Nyonya Ruyue terasa amat tidak nyaman. Namun di permukaan, ia tetap harus memasang sikap penuh hormat dan kepatuhan.
Adapun Xue Rou, dibandingkan ibunya, jelas masih terlalu dangkal pengendalian dirinya.
Rasa kesal dan iri di matanya hampir meluap tanpa bisa disembunyikan.
"Adik tampaknya sedang menyimpan kegundahan di hati?" ujar Xue Yao sambil tersenyum tipis. "Mengapa? Apakah pernikahan ini tidak sesuai dengan harapanmu?"
Setelah berkata demikian, Xue Yao tersenyum dengan makna yang dalam.
"Wajar juga. Adik masih muda. Begitu memasuki kediaman, sudah harus bersama lima perempuan cantik yang sama-sama melayani Tuan Muda Cheng. Bahkan salah satunya telah melahirkan putri sulung Tuan Muda Chen. Siapapun berada di posisimu, tentu sulit untuk tidak merasa perih di hati."
Tidak baik.
Hati Nyonya Ruyue langsung berteriak waspada.
Perihal Cheng Zhilan telah memiliki para selir pendamping, ia sebenarnya sudah lama mengetahuinya dari Ayah Xue. Ia bahkan tau bahwa kelima perempuan itu semuanya cantik, lembut, dan pandai mengambil hati.
Namun lalu mengapa?
Dizaman ini, laki-laki mana yang tidak memiliki beberapa perempuan pendamping di sisinya.
Hanya saja, Nyonya Ruyue juga sangat memahami isi hati putrinya.
Putrinya jatuh cinta pada Cheng Zhilan sejak pandangan pertama. Sejak hari ayah dan anak dari keluarga Marques Wu Yuan datang melamar, Xue Rou langsung terpikat olehnya dan berkali-kali memohon agar ia membantu mewujudkan pernikahan ini.
Sebagai seorang ibu yang paling menyayangi putrinya, bagaimana mungkin Nyonya Ruyue menolak?
Lagipula, dalam pandangannya, pernikahan sebaik ini memang sepantasnya jatuh ke tangan putrinya.
Anak perempuan dari perempuan yang meninggal muda itu, mana layak mendapatkannya?
Karena itu, ketika ia mengetahui bahwa Cheng Zhilan juga tampak tidak puas dengan pernikahan ini, ia pun memanfaatkan keadaan, diam-diam membantu Cheng Zhilan, dan menjerat Xue Yao ke dalam rangkaian perhitungan ini.
Hanya saja, mengenai para selir tersebut, ia sama sekali belum pernah memberi tahu Xue Rou, karena talut putrinya akan membuat keributan dan merusak pernikahan yang telah susah payah direncanakan.
Benar saja, begitu mendengar ucapan Xue Yao, Xue Rou langsung tertegun ditempat.
Beberapa saat kemudian, ia menoleh ke arah Nyonya Ruyue.
"Ibu, apa maksudnya?"
Selir? Putri sulung?
Apa artinya semua itu?
Nyonya Ruyue segera menggenggam tangan putrinya, senyum lembut tergantung di wajahnya.
"Yang Mulia Permaisuri hanya bergurau. Adik Rourou-mu ini paling berhati lembut dan tulus. Mana mungkin ia merasa tidak puas hanya karena hal semacam itu? Tuan Muda Cheng bertempur di medan perang, wajar jika ada orang yang melayaninya. Mengenai putra dari para selir itu, setelah Rourou menikah nanti, tentu semuanya akan diperlakukan seperti anak sendiri. Bukankah itu justru akan membawa keharmonisan? Benar begitu, Rourou?"
Xue Rou terdiam cukup lama. Hingga Nyonya Ruyue mempererat genggaman tangannya dengan kuat, barulah ia menjawab lirih, "Benar."
Mengingat kembali saat Xue Rou dengan sengaja datang untuk memamerkan keberhasilannya, setelah Ayah Xue menetapkannya sebagai pengganti dalam pernikahan ini, Xue Yao kini hanya merasa geli.
Kata-kata itu masih terpatri jelas dalam ingatannya.
"Kamu, anak perempuan yang ibu kandungnya meninggal lebih dulu dan membawa sial, bagaimana mungkin layak bersanding dengan keperkasaan Tuan Muda Cheng?"
"Kakak, kamu kurang berbudi sebagai perempuan. Kelak, mungkin hanya bisa menghabiskan hidup di biara. Tenang saja, bila suatu hari nanti aku kembali ke ibu kota, aku pasti akan memberi kakak sedikit jalan hidup."
Namun, hanya dalam itungan hari segalanya telah berubah.
Pernikahan yang mereka rancang dengan penuh perhitungan itu, kini harus mereka tanggung sendiri akibatnya di kemudian hari.
Di dalam kereta yang membawa mereka kembali ke kediaman, Xue Rou meringkuk di sudut, menunduk sambil menangis dalam diam.
Nyonya Ruyue tahu, putrinya paling mengagungkan kisah dalam cerita-cerita yang mengisahkan sepasang kekasih setia seumur hidup. Namun kisah tetaplah kisah. Jika pada akhirnya keluarga Cheng bebar-benar merebut kekuasaan dan menduduki ibu kita, mustahil Cheng Zhilan hanya memiliki satu perempuan di sisinya.
Jika demikian, lebih baik membiasakan diri sejak awal.
Nyonya Ruyue menggenggam tangan Xue Rou dan berbisik pelan, "Rourou anakku, tenanglah. Semua perempuan itu hanyalah bagian dari masa lalu Tuan Muda Cheng. Setelah kamu menikah nanti, ibu akan memberimu sesuatu yang baik, yang akan membuatmu mampu menggenggam hatinya dengan erat."
Barulah hati Xue Rou terasa sedikit tenang.
Ia sepenuhnya mempercayai ibunya.
Ibunya adalah perempuan yang menikah untuk kedua kalinya, namun mampu membuat Ayah Xue, seorang pria dengan kedudukan tinggi dan kekuasaan besar, tergila-gila kepadanya, hingga menyerahkan pengelolaan rumah tangga selama belasan tahun.
Cara dan siasat ibunya, tentu tidak perlu diragukan.
Di tengah persiapan yang dilakukan dengan tergesa dan intens, Upacara Penobatan Permaisuri pun tiba sesuai jadwal, pada tanggal dua belas bulan kelima.
Seharusnya, upacara penobatan Permaisuri membutuhkan persiapan setidaknya setengah tahun.
Namun kali ini, Raja Shezheng memimpin langsung seluruh persiapan. Sehingga dalam waktu kurang dari dua bulan, semuanya telah terselenggara dengan sempurna.
Pada hari upacara penobatan Permaisuri, hanya Xue Yao yang hadir.
Kaisar Zong Huaizhen tetap tidak menampakkan diri.
Ini adalah peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun di bawah tatapan dingin Yelu Yunxiao, para pejabat istana yang semula keberatan pun menundukkan kepala dan menarik kembali pendapat mereka.
Bagaimanapun, Kaisar yang masih begitu muda menetapkan Permaisuri baru saja sudah sangat tidak sesuai tata krama. Kini, satu kejanggalan lagi pun tampaknya tidak lagi menjadi persoalan.
Tanggal dua belas bulan kelima adalah hari yang cerah dan jarang terjadi. Langit bersih dan terang, biru membentang luas, sesekali terdengar kicau burung murai yang nyaring dan merdu.
Di depan Aula Chengtian tempat upacara berlangsung, telah berlutut penuh para pejabat sipil dan militer serta perempuan bangsawan dari keluarga kekaisaran.
Walaupun Yeguang kini tampak seperti bangunan besar yang hampir runtuh, hampir semua orang masih menyimpan rasa takut dan hormat terhadap kekuasaan kekaisaran.
Bagaimanapun, itu adalah Putra Naga Sejati yang menerima mandat dari Langit.
Aula Chengtian berdiri megah, membawa kesan kuno dan agung yang telah terpatri oleh waktu.
Tandu Phoenix yang ditumpangi Xue Yao perlahan mendekat ke tempat itu.
Di keempat sudut tandu, tergantung lonceng-lonceng batu giok yang berbunyi 'ting-ting' ketika tertiup angin, berpadu dalam irama yang nyaring.
Bersamaan dengan suara cambuk upacara yang dipukulkan oleh pejabat ritual, gema itu memenuhi seluruh istana yang luas dan menggugah hati.
Dengan ditopang para pejabat wanita, Xue Yao turun perlahan dari tandu Phoenix.
Ia mengenakan Mahkota Sembilan Naga dan Sembilan Phoenix bertahtakan permata merah yang diwariskan turun temurun kepada Permaisuri Yeguang. Wajahnya dihiasi riasan mutiara dan bunga giok, tubuhnya dibalut jubah berhiaskan motif burung, ditangannya tergenggam tongkat giok upacara.
Ia melangkah perlahan menuju tempat tertinggi di Aula Chengtian.
Karena Kaisar Zong Huaizhen tidak hadir, orang yang membacakan titah kekaisaran dan menyerahkan segel Permaisuri kepada Xue Yao hari itu adalah Yelu Yunxiao sendiri.
Ia berdiri disana mengenakan jubah resmi berwarna hitam legam, posturnya tegap, sikapnya agung dan berwibawa.
Seandainya bukan karena mahkota sembilan untaian mutiara di kepalanya adalah perlengkapan khusus seorang pangeran, siapapun mungkin akan mengira dialah yang seharusnya duduk di singasana tertinggi itu.
"Langit dan bumi telah ditetapkan, yin dan yang saling melengkapi. Tata manusia dijalankan untuk menegakkan hubungan leluhur. Kebajikan Permaisuri sepadan dengan itu, demi mententramkan urusan dalam istana. Oleh sebab itu, putri sulung Adipati Wen Chang'an, Xue Yao, kamu berwatak lembut dan berbudi, berhati penuh kasih dan kebajikan, menerima pertanda keberuntungan dari leluhur, serta rajin dalam tugas pendampingan. Maka dengan titah ini, Raja Shezheng atas nama Kaisar mengangkatmu sebagai Permaisuri. Atas kehendak langit dan sejalan dengan kehendak rakyat, maklumat ini diumumkan ke seluruh penjuru negeri agar diketahui oleh semua."
Titah penobatan itu ditulis sendir oleh Yelu Yunxiao atas nama Kaisar Zong Huaizhen, dan ia pula yang bertindak sebagai pejabat penobatan.
Dapata dikatakan, demi anak yang terlahir dengan kekurangan ini, Yelu Yunxiao telah mempertimbangkan segala sesuatunya dengan amat saksama.
Dan tepat saat Xue Yao berlutut untuk menerima segel Permaisuri, langit di atas Aula Chengtian tiba-tiba memancarkan cahaya keemasan, disusul awan merah yang memenuhi cakrawala.
Di tengah tatapan terbelalak semua orang, bayangan seekor naga tampak samar-samar diantara awan.
Ini... Apakah Dewa Naga telah menampakkan diri?