NovelToon NovelToon
Sistem Sekretaris Kecil

Sistem Sekretaris Kecil

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: WANA SEBAYA

Citra Lestari terbangun di dunia novel yang penuh intrik dan cinta beracun.
Di sana, sang bintang cantik Shafira Maharani hancur karena pria yang tak pernah setia.
Namun kali ini, Citra Lestari datang bukan untuk menangis — tapi untuk menaklukkan.
Dengan pesona lembut dan kecerdikan tersembunyi, ia perlahan membuat sang taipan bertekuk lutut.
Ketika si libertine mulai menyerahkan hatinya, cinta pun berubah menjadi permainan yang tak bisa dihentikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Mm

Sore itu, Arjuna Pratama secara pribadi mengantar Citra Lestari meninggalkan hotel.

Ia mengemudikan supercar hitam yang elegan, mesinnya menderu halus namun bertenaga. Mobil itu melaju mulus menembus kemacetan kota, menuju kompleks perumahan kelas atas di pusat ibu kota.

seolah jalanan sendiri yang menyingkir untuknya.

Mobil berhenti di depan gedung pencakar langit dengan sistem keamanan berlapis. Apartemen Arjuna terletak di lantai paling atas. Penthouse yang menawarkan privasi mutlak dan pemandangan kota yang menakjubkan.

Saat pintu apartemen terbuka, gaya dekorasi yang sederhana namun mewah langsung menyambut mereka. Dominasi warna hitam, abu-abu, dan nuansa dingin menciptakan atmosfer yang tajam dan maskulin. Garis-garis arsitektur kaku dipadukan dengan marmer dan kaca. Di luar jendela setinggi langit-langit, cakrawala kota terbentang megah—lampu-lampu mulai menyala seiring senja yang turun.

Citra sedikit terkejut. Tempat ini berkali-kali lebih besar dari apartemen sewaannya yang sempit, dan kemewahannya tidak kalah dari sebuah vila pribadi.

Arjuna memegang tangan kecilnya, membawanya berkeliling untuk mengenal lingkungan barunya. Langkah kaki mereka bergema pelan di lantai marmer yang dingin.

Mereka berhenti di depan pintu kamar tidur utama. Arjuna mendorongnya hingga terbuka lebar.

Kamar itu sangat luas, melanjutkan nuansa dingin dari ruang tamu. Tempat tidur king-size dengan kepala ranjang berbahan kulit hitam, lemari walk, closet yang terpisah, dan kamar mandi pribadi dengan bathtub besar. Seluruh ruangan memancarkan aura teratur dan sangat maskulin—persis seperti pemiliknya.

Citra berdiri di ambang pintu, tangannya masih tergenggam erat. Mata almond nya menatap sekeliling ruangan, bibir kecilnya sedikit mengerucut.

"Mulai sekarang, tidurlah di sini," kata Arjuna.

Namun Citra dengan lembut melepaskan genggamannya. Ia mendongak, menatap mata elang pria itu dengan ekspresi memelas.

"Tuan Arjuna... bolehkah saya tidur di kamar tamu?" tanyanya pelan.

Alis Arjuna terangkat tinggi. "Hmm?"

Gadis kecil itu sepertinya sudah tahu persis tombol mana yang harus ditekan. Ia segera mendekat, membisikkan penjelasan dengan suara lembut yang memikat.

"Kamar tidurmu terlalu dingin dan suram,...... Aku sedikit takut..."

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada kesal yang dibuat-buat namun tetap gigih. "Dan saya masih harus pergi bekerja besok. Saya tidak bisa... setiap malam..."

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Wajah kecilnya memerah padam. Namun maknanya tersampaikan dengan sangat jelas...Tenagaku terbatas. Aku masih harus berfungsi sebagai manusia biasa besok pagi.

Arjuna merasa geli.

Dari semua wanita yang pernah mendekatinya, manakah yang tidak bernapas lega saat diberi akses ke tempat tidur utamanya? Manakah yang berani menolak kemewahan dan kedekatannya?

Gadis ini tidak hanya memilih kamar,ia secara implisit juga menolak untuk melayani hasratnya setiap malam.

Citra sedikit meringkuk karena cubitan ringan di pipinya. Matanya yang berkaca-kaca menatap Arjuna tanpa berkata apa-apa, mengawasinya dengan cara yang patuh namun keras kepala.

Arjuna menatap penampilan murni namun memikat itu. Ia mengingat bagaimana ia merawat gadis itu tadi malam,hingga Citra benar-benar kelelahan dan bahkan kesulitan membuka matanya di pagi hari.

Rasa iba muncul di hatinya. Atau mungkin rasa kepemilikan yang baru tumbuh. Ia menarik napas dalam-dalam, menekan kekesalannya, dan akhirnya berkompromi.

"Baiklah. Kamar tamu itu milikmu."

Namun seketika itu juga, ia mendekat. Napasnya yang panas menyembur ke cuping telinga Citra yang sensitif. Suaranya rendah, penuh hasrat, mengandung nada yang tidak bisa ditawar.

"Namun, ingat. Tadi malam hanya dua kali karena kau terlalu lelah. Dan aku... masih belum puas."

Ia sengaja berhenti sejenak, menikmati reaksi Citra...cuping telinganya kini merah padam, bulu matanya bergetar hebat.

"Malam ini..." bisiknya, kata-kata itu hampir tak terdengar namun dampaknya mengguncang. "Kau harus patuh. Biarkan aku melakukan apa pun yang aku inginkan padamu."

Isyarat kepemilikan itu begitu kuat hingga leher putih ramping Citra ikut ternoda kemerahan.

Ia sangat malu hingga ingin membenamkan wajahnya di dada pria itu untuk bersembunyi. Namun di bawah tatapan tajam Arjuna, ia tidak punya pilihan selain mengangguk sedikit.

"...Mm."

Persetujuan yang hampir tak terdengar itu mengandung rasa malu yang tak terhingga—namun juga penerimaan diam-diam.

Di telinga Arjuna Pratama, suara "Mm" kecil itu lebih menggugah hati daripada undangan eksplisit mana pun. Itu adalah tanda penyerahan total.

Ia terkekeh. Suasana hatinya membaik drastis.

Dengan tangan yang masih memegang tangan kecil Citra yang agak dingin, ia berjalan menuju kamar tamu yang relatif lebih kecil namun tetap nyaman. Langkah mereka pelan, tanpa terburu-buru, seolah waktu sendiri yang menyesuaikan diri dengan ritme pria itu.

Saat berjalan, Arjuna melirik sekilas ke arah gadis di sampingnya. Sebuah pertanyaan melayang di benaknya, pelan namun mengganggu.

Mengapa aku begitu cepat melunak setiap kali dia meminta sesuatu?

Ia tidak menemukan jawabannya. Dan untuk saat ini, ia memilih untuk tidak mencarinya.

Melihat Citra berada di wilayahnya di rumahnya, di bawah aturannya,sudah lebih dari cukup.

1
Friska trisna
Tema perjuangan: Bab ini bisa jadi fondasi untuk tema besar — Citra membangun karier dengan usahanya sendiri, meski berada di bayang-bayang kekuasaan Arjuna.
Friska trisna
Bab ini berhasil menunjukkan dinamika pasangan: Citra yang polos dan keras kepala, Arjuna yang arogan tapi luluh oleh ketulusan.Ada keseimbangan antara romansa manis dan ketegangan ringan. Pembaca bisa ikut tersenyum melihat kegembiraan Citra, sekaligus merasa hangat melihat Arjuna akhirnya mendukungnya.
cipung
semangat kak🤭
Ayu Ning
semangat thor
Ayu Ning
secepat itukah,menyerah.
Rahman Hayati
lanjut
Rahman Hayati
baru mampir moga suka
cipung
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!