Vonis dokter menjadi titik balik dalam hidup Zulfa dimana dirinya hanya bisa memiliki anak melalui program bayi tabung. Di tengah harapan yang rapuh, sang ibu mertua yang selama ini tampak penuh dukungan, diam-diam menyusun rencana yang mengguncang, ia menyuruh Arslan, putra semata wayangnya, untuk berselingkuh.
Arslan menolak keras tunduk pada keinginan ibunya. Ia tetap berdiri di sisi sang istri, menguatkan setiap langkah Zulfa meski harapan berkali-kali runtuh. Namun, konflik tak berhenti di sana. Sang ibu sengaja menghadirkan masa lalu Arslan ke permukaan, mengancam keutuhan rumah tangga yang mereka bangun dengan susah payah.
Di tengah tekanan, air mata, dan kegagalan program bayi tabung yang terus menerpa, Zulfa dihadapkan pada pilihan paling sulit dalam hidupnya, antara terus berjuang atau berhenti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vitamaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siasat buruk di mulai
"Pokoknya kamu harus pulang ke Jakarta."
Dari sudut ruangan, suara Tante Yevi terdengar tegas, nyaris meledak. Amarahnya jelas terasa, bahkan hanya lewat sambungan telepon.
"Ingat, Fath... kamu itu sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain Tante," lanjutnya tanpa jeda. "Siapa yang akan menjaga kamu kalau terjadi sesuatu? Tunangan kamu saja sudah mengkhianati kamu."
Nada suaranya semakin mengeras.
"Pokoknya kamu harus pulang. Dan terima tawaran kerja itu!"
Tak ada ruang untuk bantahan.
Fathiya terdiam di seberang. Ia bahkan tak sempat menyela. Ada sesuatu yang terasa janggal—selama bertahun-tahun ia tinggal jauh dari Indonesia, Tante Yevi tak pernah benar-benar menunjukkan kepedulian seperti ini.
Kenapa sekarang jadi begitu peduli ...?
Panggilan itu berakhir.
Fathiya menarik napas panjang, lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku jas dokternya. Ia sadar, waktunya sudah habis. Pasien-pasien sudah menunggu.
Ia bergegas menuju ruang praktik.
Namun langkahnya terhenti.
Tatkala seseorang berdiri di hadapannya.
Dennis.
Laki-laki itu kembali muncul—seolah tak pernah lelah mengejar.
"Kita belum selesai, Fath," ucapnya, suaranya rendah namun penuh tekanan. "Masih banyak yang harus aku jelaskan."
Fathiya menatapnya dingin.
"Kamu nggak lihat aku lagi buru-buru? Pasienku sudah menunggu," balasnya tegas, berusaha menghindari percakapan yang tak ia inginkan.
Dennis tak bergeming.
"Kalau begitu, setelah kamu selesai praktik kita harus bertemu."
Fathiya menghela napas panjang. Lelah—bukan hanya secara fisik, tapi juga batin. Ia tak tahu lagi bagaimana cara menghindari pria yang telah menghancurkan hatinya.
"Apa lagi yang mau kamu bicarakan?" suaranya melemah, namun tetap tegas. "Aku sudah memaafkan kamu. Buatku, semuanya sudah selesai."
Ia menatap Dennis lurus.
"Kamu hanya perlu bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu lakukan. Nikahi wanita itu... dan hiduplah bahagia dengannya. Dia akan melahirkan anakmu."
Ada getir yang tak bisa disembunyikan di balik kalimatnya.
Fathiya tak pernah membayangkan—pria yang selama ini ia cintai, yang ia percaya sepenuh hati... justru mengkhianatinya dengan cara yang paling menyakitkan.
Secara diam-diam, Dennis menjalin hubungan terlarang dengan pasiennya sendiri. Dengan dalih terapi, batas itu dilanggar—hingga akhirnya mereka terjerumus dalam hubungan yang salah... dan menciptakan benih haram di dalam rahim wanita itu.
Air mata hampir jatuh lagi.
Namun Fathiya menahannya.
Ia tak ingin terlihat lemah di hadapan pria itu.
Dalam diam, sebuah keputusan mulai menguat di dalam dirinya.
Mungkin ia memang harus kembali ke Jakarta.
Memulai semuanya dari awal.
Menjauh dari masa lalu yang terus mengejarnya.
Karena di sini bukan hanya hatinya yang terluka.
Ada perempuan lain yang menangis, menuntut tanggung jawab dari pria yang sama.
Dan Fathiya tidak ingin terus menjadi bagian dari luka itu.
***
Di sebuah restoran mewah di pusat kota Jakarta. Farah sudah duduk lebih dulu. Penampilannya sederhana namun elegan. Sesekali ia melirik ke arah pintu masuk, menunggu dengan sabar—atau mungkin penuh rencana.
Tak lama kemudian, Yevi datang.
"Akhirnya kamu datang juga," sambut Farah dengan senyum hangat yang menyimpan arti. "Bagaimana hasilnya? Fathiya mau pulang ke Jakarta, kan? Dia mau menerima tawaran kerja itu?"
Nada suaranya terdengar santai, namun terselip tekanan yang sulit disembunyikan.
Yevi menarik kursi dan duduk di hadapannya.
"Kamu tenang saja, Mbak. Fathiya sudah menuruti permintaan saya. Dia akan segera pulang ke Jakarta dan tinggal bersama saya lagi."
Senyum Farah langsung mengembang.
"Bagus." Ia mengangguk pelan. "Kalau begitu, kita bisa mulai menyusun rencana."
Ia sedikit mencondongkan tubuhnya, suaranya merendah, namun penuh ambisi.
"Pokoknya aku ingin Arslan dan Fathiya terjebak dalam cinta lama yang bersemi kembali. Bagaimanapun caranya... mereka harus bisa dipersatukan lagi."
Ada kilat tekad di matanya.
Namun, Farah menangkap sesuatu di wajah Yevi—keraguan.
"Kamu kenapa kelihatan gelisah?" tanyanya.
Yevi menghela napas panjang.
"Soalnya kita ini seperti sedang merusak rumah tangga orang. Aku jadi agak takut dan ragu, Mbak."
Farah tersenyum tipis, hampir sinis.
"Rumah tangga siapa yang kita rusak?" balasnya tenang. "Arslan dan Zulfa?"
Ia menggeleng pelan.
"Saya tidak akan menyuruh Arslan menceraikan Zulfa. Saya hanya ingin Fathiya bisa melahirkan anak dari Arslan. Itu saja. Karna Zulfa sudah tidak bisa di harapkan."
Kalimatnya terdengar dingin, tanpa beban.
"Syukur-syukur," lanjutnya, "kalau Zulfa sadar diri dan memilih pergi lebih dulu. Membiarkan Arslan kembali pada Fathiya."
Yevi terdiam. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
Ia menghela napas berat.
"Kadang aku masih kesal dengan keputusan Fathiya dulu," gumamnya. "Dia lebih memilih melanjutkan kuliah kedokterannya ketimbang Arslan."
Nada suaranya berubah getir. "Benar-benar wanita bodoh!!" gerutunya dalam hati.
"Dan lihat sekarang dia justru terjebak dalam hubungan rumit dengan dokter tak bertanggung jawab itu. Disakiti, dikhianati bahkan nyaris dicampakkan."
Farah mengangkat bahu ringan.
"Sudahlah. Mungkin memang ini jalannya, Jalan yang akhirnya akan mempersatukan Arslan dan Fathiya kembali." Ucapnya tenang
Ia berhenti sejenak, lalu menyeruput jus di hadapannya.
"Yang penting sekarang Fathiya mau kembali."
Namun sesaat kemudian, raut wajah Farah berubah sedikit serius.
"Tapi bagaimana kalau Fathiya menolak bekerja sama dengan kita?"
Kekhawatiran itu akhirnya terucap.
Yevi tersenyum tipis—senyum yang menyimpan keyakinan, sekaligus sesuatu yang gelap.
"Tenang saja, Mbak. Itu urusan saya."
Ia menatap lurus, penuh arti.
"Fathiya punya banyak utang budi pada saya dan ini saatnya dia membalas semuanya."
Senyum sinis Yevi mengembang pelan.
Seolah ia sudah memegang kendali atas langkah keponakannya.
***
Sore itu, langit tampak muram. Awan kelabu menggantung rendah, seolah mencerminkan suasana hati Fathiya yang sudah resmi mengundurkan diri dari rumah sakit yang sudah bertahun-tahun menjadi sumber kehidupannya. Keputusannya sudah bulat untuk kembali ke Jakarta. Ia pun tak bisa lagi menolak tatkala Dennis memaksanya untuk bertemu untuk yang terakhir kalinya sebelum ia kembali ke Jakarta.
Ia berdiri di depan sebuah kafe kecil—tempat yang dulu sering mereka datangi bersama.
Tempat yang kini terasa asing.
Dennis sudah menunggu di dalam.
Begitu Fathiya melangkah masuk, pria itu langsung berdiri. Wajahnya terlihat lelah, matanya menyimpan penyesalan yang tak selesai.
"Kamu datang." ucapnya pelan.
Fathiya hanya mengangguk singkat, lalu duduk tanpa banyak kata.
Beberapa detik berlalu dalam diam yang canggung.
"Apa yang mau kamu jelaskan lagi?" tanya Fathiya akhirnya, suaranya datar.
Dennis menunduk, jemarinya saling bertaut.
"Aku salah..." ucapnya lirih. "Aku benar-benar salah, Fath."
Fathiya tersenyum tipis—senyum yang lebih terasa seperti luka.
"kalimat itu lagi." Fathiya memutar mata malas.
Dennis mengangkat kepala.
"Aku nggak pernah berniat menyakiti kamu."
"Tapi kamu tetap melakukannya," potong Fathiya cepat.
Sunyi kembali jatuh di antara mereka.
"Aku khilaf..." lanjut Dennis, suaranya melemah. "Semua terjadi begitu saja. Aku nggak tahu kapan semuanya jadi sejauh itu."
Fathiya menatapnya lama.
"Atau kamu memang tidak pernah berusaha menghentikannya?" tanyanya pelan, namun menusuk.
Dennis terdiam.
Dan diamnya sudah cukup menjadi jawaban.
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Fathiya, namun ia menahannya.
"Kamu tahu nggak..." suaranya bergetar, "yang paling menyakitkan itu bukan karena kamu memilih perempuan lain."
Dennis menatapnya, tak berani menyela.
"Tapi karena kamu melakukannya di belakangku sambil tetap membuatku percaya kalau kamu mencintaiku."
Satu tetes air mata akhirnya jatuh.
Dennis menunduk dalam.
"Aku minta maaf."
Fathiya menggeleng pelan.
"Sekalipun aku sudah memaafkanmu tapi tetap tidak mengubah apa pun."
Ia menarik napas panjang, mencoba menguatkan dirinya.
"aku tetap nggak bisa kembali padamu."
Dennis langsung mengangkat wajahnya.
"Fath, kita bisa memperbaiki ini—"
"Memperbaiki apa?" potong Fathiya, suaranya mulai meninggi. "Anak itu akan lahir, Dennis. Dan itu tanggung jawab kamu."
Kalimat itu menghantam.
"Aku nggak bisa bersaing dengan masa depan yang sudah kamu ciptakan sendiri."
Hening.
Dennis menggenggam tangannya sendiri erat.
"Aku masih mencintai kamu..." ucapnya lirih.
Fathiya memejamkan mata sesaat.
"Sayangnya... itu sudah tidak cukup."
Perlahan, ia berdiri.
"Kita selesai sampai di sini."
Dennis ikut berdiri, panik.
"Fath, tolong jangan pergi gitu saja."
Langkah Fathiya terhenti sejenak.
Namun ia tak menoleh.
"Mulai sekarang hiduplah dengan pilihanmu," ucapnya pelan. "Dan jangan pernah datang lagi ke hidupku."
Kali ini, ia melangkah pergi.
Tanpa menoleh.
Tanpa ragu.
Dan tanpa menyisakan apa pun.
Di luar, hujan mulai turun.
Fathiya berjalan menembus rintiknya.
Air yang jatuh di wajahnya bercampur dengan air mata—yang akhirnya tak lagi bisa ia tahan.
Namun di balik semua itu ada satu hal yang pasti.
Ia telah memilih untuk pergi.
Dan kali ini benar-benar pergi.
Fathiya bergegas menuju bandara untuk mengejar penerbangan ke Jakarta. Gara-gara pertemuannya dengan Dennis ia nyaris ketinggalan pesawat.
***