Rosa Evalina, hanya seorang anak pelayan yang menggantikan Ibunya menjadi pelayan di rumah keluarga Hartanto. Lalu, tiba-tiba anak dari majikannya meminta dia untuk menggantikannya dalam sebuah perjodohan. Tidak bisa menolak, akhirnya dia terjebak dalam permainan sandiwàra ini.
"Seharusnya aku tidak pernah jatuh cinta padamu, karena nyatanya kamu tetap tidak akan di takdirkan untukku"
Sementara Albyan Danuel, seorang pria tampan yang sudah matang. Memiliki pribadi yang hangat, lembut dan sopan. Dia yang tidak pernah mengenal cinta, akhirnya menemukan perempuan yang membuatnya nyaman. Namun, apa yang akan terjadi ketika dia tahu jika perempuan itu hanyalah seseorang yang bersandiwara?
Bisakah mereka bersama dalam kisah yang berliku, tentang cinta yang dimulai dari sandiwara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecelakaan Yang Direncana
Byan baru saja turun ke Lobby Perusahaan bersama Bara, melihat beberapa karyawan berada di depan Lobby membuatnya merasa heran. Bara juga ikut bingung dengan beberapa orang yang berkumpul disana.
Saat berhenti disana, Byan sekilas melihat tas yang di pegang seorang karyawan wanita yang seperti tidak asing baginya. Seperti pernah beberapa kali melihat tas kecil itu.
"Ada apa kalian berdiri disini? Bukannya sudah jam pulang kerja? Apa kalian sedang lembur?" tanya Bara.
"Bukan Tuan, tadi ada yang tertabrak motor disana"
Byan dan Bara seketika melihat ke arah jalanan depan Perusahaan mereka. Melihat ada dua orang polisi disana yang seperti sedang mengamati kejadian.
"Iya, tabrak lari. Sekarang masih di selidiki sama polisi siapa yang sudah melakukan tabrak lari ini"
Byan mengambil ponselnya dari saku jas, dia sudah membeli ponsel baru dan mengaktifkan kembali nomor ponsel yang lama, karena disana banyak nomor orang-orang penting yang berkaitan dengan pekerjaan. Entah kenapa sejak pagi memang perasaannya sudah tidak enak, dan ketika sekarang mendengar kabar kecelakaan ini, pikiran Byan langsung tertuju pada Eva.
Saat dia menghubungi Eva, suara dering ponsel yang nyaring terdengar diantara mereka semua. Deg... Jantung Byan langsung berdebar kencang, dia menatap ke arah tas kecil yang di pegang seseorang itu. Byan berjalan ke arah karyawan wanita yang juga terlihat kaget dengan suara dering ponsel itu. Dia merogoh tas di tangannya, mengambil ponsel itu dan melihat nama 'Mas Bi' yang tertera di layar ponsel. Seketika dia menatap ke arah Byan yang berdiri di depannya dengan ponsel di menempel di telinga kiri.
"Berikan ponsel itu padaku? Katakan siapa yang kecelakaan tadi?" tanya Byan, jantungnya sudah hampir berhenti berdetak. Melihat ponsel Eva yang sekarang berada di tangannya.
"Karyawan Devisi Keuangan, Eva"
Deg... Byan benar-benar hampir jatuh jika tidak sempat mengendalikan dirinya. Lalu dia mengambil tas kecil di tangan karyawan perempuan itu yang ternyata tas milik Eva.
"Bi, sebaiknya kita pergi ke rumah sakit sekarang" ucap Bara sambil menatap karyawan wanita itu yang kebingungan dengan ekspresi Byan. "Dibawa ke rumah sakit mana?"
Setelah mengetahui Eva di bawa ke rumah sakit mana, Bara dan Byan langsung pergi. Kali ini Bara yang mengemudi, melihat Byan yang sudah tidak mungkin mengemudi.
"Kau tenang saja dulu, semoga Eva tidak kenapa-napa"
Saat sampai di Rumah Sakit, Byan langsung keluar dari mobil dan berlari melewati lorong rumah sakit. Bertanya pada perawat disana tentang pasien kecelakaan di depan Perusahaannya. Lalu segera pergi ke ruangan gawat darurat. Byan terhenti disana, melihat Laila yang sudah duduk menunggu di kursi tunggu.
"Bagaimana keadaannya?"
Laila menggeleng pelan. "Dokter belum keluar, tadi saat aku kesini Eva sudah di bawa ke dalam ruangan, jadi aku tidak sempat melihat keadaannya"
Byan mengusap wajah kasar, dia bersandar di dinding dekat pintu ruangan. Membenturkan pelan kepalanya ke dinding, pikirannya sudah kemana-mana sekarang.
"Laila, kenapa kamu bisa tahu kalau Eva kecelakaan?" tanya Bara, dia kira belum ada orang terdekat Eva yang tahu tentang kecelakaan ini.
"Tadi aku menelepon Eva, lalu saat ada yang menerima telepon itu, seseorang mengatakan 'Dia akan mati'. Aku terkejut dengan ucapan itu, sampai akhirnya ada suara lain yang mengatakan jika Eva kecelaan dan akan di bawa ke rumah sakit ini"
Byan langsung menoleh pada Laila, menatapnya lekat. "Suara itu apa perempuan atau laki-laki?"
"Perempuan, aku yakin itu suara perempuan"
Tatapan Byan berubah tajam, wajahnya dingin. Kedua tangannya sudah mengepal erat di sisi tubuhnya. "Sepertinya kecelakaan ini memang di sengaja seseorang!"
Bara mengangguk menyetujui, dia juga berpikiran hal yang sama dengan Byan saat ini. "Apa kau mencurigai seseorang Bi?"
Dengan bola mata yang menatap tajam, ekspresi wajah yang dingin, Byan berucap. "Aku rasa ini adalah ulah orang tuaku, mereka bisa melakukan apa saja pada apa yang tidak sesuai keinginannya"
"Hah?" Laila langsung berdiri dari duduknya, menatap Byan dengan kaget. "Om dan Tante apa sampai melakukan hal seperti ini hanya untuk membuat kalian berpisah?"
"Kita belum tahu, sebaiknya kita cari tahu dulu siapa sebenarnya yang sudah melakukan ini" ucap Bara, menutup asumsi Laila yang tentu gadis itu belum sepenuhnya tahu bagaimana keluarga mereka.
Beberapa saat kemudian, Dokter dan perawat keluar dari ruangan. "Untuk keluarga pasien apa sudah disini?"
"Saya Dok, bagaimana keadaannya?"
"Apa anda saudaranya, Tuan?"
"Saya suaminya, bagaimana keadaannya?"
Laila dan Bara sampai saling melirik kaget saat mendengar Byan mengaku sebagai suami Eva. Tapi karena tahu jika pria itu sedang begitu panik dan cemas, maka mereka sama sekali tidak berniat ikut menimpali ucapan Byan.
"Pasien sudah melewati masa kritisnya, pendarahan di kepalanya berhasil di hentikan. Hanya saja sebelah kakinya mengalami pergeseran tulang, dan harus di operasi segera. Namun tidak bisa langsung sekarang, menunggu kondisi pasien stabil dulu"
Byan mengangguk, saat perawat mendorong brangkar keluar dari ruangan, Eva masih terbaring lemah tidak sadarkan diri. Membuat Byan langsung meraih wajahnya pelan, mengecup pipinya lembut.
"Kamu harus bertahan Sayang" bisiknya di telinga Eva.
"Pindahkan ke ruangan VVIP ya Dok" ucap Bara.
"Ah, baik-baik Tuan"
Bara mendekati Byan, menepuk bahunya pelan. "Aku yang urus administrasinya dulu. Kau ikuti saja Eva, kalau nanti dia sadar pasti akan mencarimu"
Byan menganguk pelan. "Terima kasih Bar"
"Ya"
Byan mengikuti brangkar itu ke ruangan VVIP yang di siapkan oleh para petugas rumah sakit. Melihat Eva yang masih terbaring lemah di atas ranjang pasien, dengan kepala yang di perban, tangan yang penuh luka, kaki yang masih di pasang gifs. Byan menghela napas pelan melihat keadaan wanitanya ini.
Berdiri di samping ranjang pasien, menghembuskan napas berat saat melihat kondisi wanitanya sekarang. Dunia seakan runtuh, menghimpit dirinya yang hampir kehilangan oksigen. Semakin sesak dadanya, dengan jantung yang berdebar hampir tak beraturan lagi.
"Sayang, maaf karena aku tidak menjagamu sampai kau mengalami kecelakaan ini"
Byan memegang tangan Eva dengan lembut, mengecup punggung tangannya. Air mata menetes mengenai punggung tangan Eva. Byan bahkan terisak dalam ruangan ini. Begitu takut dia kehilangan wanita yang memberikan warna baru dalam hidupnya. Wanita yang sudah memberikan pandangan berbeda pada kehidupan dan cinta.
"Sayang, tolong tetap bertahan ya. Kita akan menikah setelah kamu sadar, kamu janji akan memberikan jawaban padaku tentang ajakan menikah itu. Hiks.."
Laila yang berdiri di ambang pintu, terdiam dengan tangan masih memegang gagang pintu. Mendengar tangisan Byan yang nyata, bahkan suaranya terdengar sangat lirih dan tercekat.
"Dia benar-benar mencintai Eva dengan tulus. Semoga saja mereka bisa bersama" gumamnya lirih, lalu menutup lagi pintu ruangan. Membiarkan Byan mempunyai waktu lebih lama bersama dengan Eva. Semoga itu bisa lebih cepat membuat Eva sadar.
Bersambung
Satu bab dulu gengs... Authornya gak enak badan.
minta maaf gak segampang itu, istri saudaranya di jadikan pembantu dan menjadi alat untuk mengancam saudaranya sendiri hanya untuk menguasai harta warisan 😡
tetap semangat 🤗