Yang tak suka, silahkan minggir!
Perceraian tak lantas menyudahi hubungan diantara Bagaspati Samudera dan Adinda Ayuningtyas. Sebab masih ada penghubung diantara mereka, sayangnya penghubung mereka hilang entah kemana.
"Dua tahun belakangan ini, Eyang sakit, Dind. Beliau mau ke Jakarta, dan ingin menginap di rumah kita," kata Bagas.
"Lalu, apa masalahmu? Bukankah Eyang sudah tahu kita berpisah?" sahut Adinda sengit.
"Itulah masalahnya, Ingatan Eyang mulai kacau sejak dokter memvonis beliau menderita demensia. Please, Dind, anggap saja ini permintaan terakhir Eyang pada kita."
Apakah permintaan Eyang Tuti pada Bagas dan Adinda?
Apakah Adinda sanggup menurutinya, sedangkan mereka bukan pasangan halal seperti dulu?
Berhasilkah mereka merajut kembali benang pernikahan yang dulu tercerai berai? Lantas bagaimana nasib putri kecil mereka yang hilang beberapa tahun silam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#31
#31
Sebelum membuka pintu lemari, Dinda menarik dan menghembuskan nafas beberapa kali, kini pintu lemari besar itu telah terbuka, ada apa di dalam sana?
Tak ada yang spesial, hanya baju-baju harian, serta beberapa pakaian kerja resmi, karena Biandra sudah mulai magang di kantor manajemen artis milik Btari yang ia kelola bersama Gunadi Kristanto suaminya.
Biandra suka memadupadankan fashion, lengkap beserta aksesorisnya, lalu mengupload hasil karyanya ke akun instagram pribadinya. Cita-cita nya ada menjadi fashion stylist, maka kantor Btari dan Igun adalah tempat yang pas untuk magang.
Ketika Biandra menceritakan bahwa ia memiliki penggemar fanatik, maka itu bukanlah sesuatu yang mengherankan. Karena sebagus itulah hasil karyanya.
Pandangan Dinda menyapu sekeliling ruangan yang penuh pakaian itu, dari ujung paling atas, hingga ujung paling bawah. Karena tak melihat ada yang aneh dengan lemari pakaian, Dinda berpindah ke lemari tempat menyimpan bed cover dan sprei.
Sepintas tak ada yang istimewa selain hanya tumpukan kain besar dan tebal, sampai Dinda menemukan ada sebuah kotak sepatu yang menyembul di balik tumpukan selimut paling bawah.
“Kotak sepatu? Apa iya, Biandra dengan ceroboh menyimpan sepatu di dalam sini, padahal ia sudah memiliki lemari khusu untuk menyimpan sepatu.” Dinda menggumam, namun tangannya tak berhenti bergerak, ia menyingkirkan selimut tipis yang menyelimuti benda tersebut, lalu mengangkat kotak sepatu itu ke permukaan.
Dinda kembali menarik nafasnya, sebelum benar-benar membuka benda tersebut.
Deretan kotak beludru ada di dalamnya, jika tebakan Dinda benar, kotak-kotak tersebut pastilah berisi perhiasan. Masalahnya kenapa perhiasan di sembunyikan di tempat yang tidak wajar seperti kotak sepatu ini?
Dinda membuka kotak pertama dan yang paling besar, isinya cukup membuat Dinda terbelalak, seperangkat perhiasan seperti yang biasa diberikan sebagai mas kawin dari mempelai pria ke mempelai wanita.
Kotak yang lain pun nyaris serupa, hanya saja terpisah, ada gelang, ada juga cincin, bahkan beberapa bros bunga biasa dipergunakan sebagai hiasan yang menempel di kerah pakaian formal.
Melihat apa yang tersaji di hadapannya kini, Dinda kembali ingat ucapan Biandra, kala itu Dinda menanyakan sikapnya yang selalu tersenyum ceria.
“Ih, Mbak Dinda ini, aku selalu tersenyum karena penggemarku mengirimkan hadiah.”
“Hadiah? Apa?”
“Ra ha si a,” jawab Biandra. “Pokoknya dia spesial.”
Biandra tak mau menyebutkan nama, membuat Dinda curiga, antara Biandra belum tahu siapa pengagum rahasianya, atau sengaja ingin menyembunyikan identitas si pengagum rahasia itu. Semuanya masih misteri.
Di dasar amplop Dinda menemukan sebuah USB, sepertinya isinya bersifat rahasia, hingga Biandra menyembunyikannya di tempat paling bawah.
Dinda mengamati USB tersebut lebih cermat lagi, lalu segera menyembunyikannya di saku pakaian. Sementara ia ingin merahasiakan penemuan ini, setelah jelas siapa si pengagum rahasia ini, barulah Dinda bercerita pada Bagas.
“Apa yang kamu temukan?”
Setelah Dinda membereskan kotak sepatu kembali ke tempatnya, Bagas muncul namun, tetap berdiri di depan pintu.
Dinda tersenyum tipis, lalu menggeleng, memang benar dia belum memperoleh kejelasan, meski sudah ada kecurigaan pada si pengagum rahasia itu.
“Kok, kesini? Harusnya di bawah saja sama Mama.”
Bagas enggan melangkah masuk, dan Dinda tahu persis apa penyebab keengganan itu. Masih ada trauma dan kenangan pahit yang membekas dalam ingatannya, sebab Bagas adalah orang pertama yang menemukan jasad Biandra di dalam kamar ini.
“Ayo, ke bawah, lain kali aku akan kemari lagi.” Dinda menarik lengan Bagas agar menjauh dari kamar penuh kenangan pahit itu.
Tapi Bagas menolak, ia berhenti tiba-tiba sambil berkata. “Bisakah kamu memberiku pelukan sejenak?”
Dinda tak menolak, wanita itu langsung memeluk Bagas dengan erat, membiarkan pria tinggi itu menumpahkan tangis dalam pelukannya. “Aku pun rindu Biandra, aku merindukannya, sama besarnya dengan kerinduanku pada anak kita.”
Dinda memahaminya, sangat-sangat paham, maka dengan lembut, telapak tangannya mengusap punggung Bagas. Tanpa bicara, tapi Bagas tahu, mantan istrinya sedang berusaha menghibur dan menenangkannya.
Sejak lahir Biandra seolah ditakdirkan menjadi kesayangan semua orang, karena gadis itu, memiliki sifat ceria, serta mudah membaur dengan siapa saja. Termasuk Dinda pun sangat menyayangi Biandra sebelum petaka hilangnya Abel, karena setelah peristiwa menyedihkan itu, pikiran Dinda hanya dipenuhi prasangka, serta kemarahan.
•••
Di tempat lain, Dokter Candra sedang istirahat makan siang di cafe rumah sakit, tanpa diduga ia berjumpa dengan pria yang sebelumnya memperingatkan agar tidak membiarkan putrinya mendekati Dinda.
Hah! Ucapan Dokter Angga membuat Dokter Candra gerah, memang siapa yang menginginkannya? Alisha punya mama, jadi tak perlu menarik perhatian wanita lain yang jelas-jelas bukan mamanya.
Tak mau kalah, Dokter Candra membalas dengan kritikan cukup pedas. Bahwa sebaiknya Dokter Angga berhenti memanjakan putrinya, yang mulai terindikasi memiliki sifat tidak sopan. Karena akan sangat berbahaya, bila sifat itu terus menerus diberi pemakluman, bisa-bisa suatu saat hal itu akan berubah menjadi karakter yang sulit untuk dihilangkan.
Balasan dari Dokter Candra itu, rupanya cukup menohok, hingga Dokter Angga menyimpan perasaan dongkol pada wanita yang kini berdiri di hadapannya. Sungguh sial sekali nasibnya, ternyata mereka bekerja di rumah sakit yang sama. Maka tak menutup kemungkinan mereka akan sering berjumpa.
“Permisi, Dok. Saya hanya punya waktu 30 menit untuk istirahat makan siang.”
“Apa urusan nya waktu istirahatmu, denganku?” balas Dokter Angga.
“Anda menghalangi langkahku, Dok.”
Dokter Angga melirik ke belakang Dokter Candra, rupanya ia salah arah antrian, sebab posisinya saat ini, menghalangi pintu keluar, jadi dengan terpaksa Dokter Angga mundur lalu pindah ke barisan paling belakang.
Beberapa saat selepas makan siang berakhir, Dokter Angga menghubungi seseorang di bagian HRD rumah sakit. “Kirimkan padaku, biodata Dokter Candra.”
“Dewi Candra Kirana maksudnya, Dok?”
“Iya, siapalah itu namanya.”
“Baik, Dok, tunggu sebentar.”
Mudah bagi Dokter Angga, sebab ia adalah putra pemilik Rumah Sakit Sentral Kencana.
Tak lama kemudian, pria itu pun mendapatkan apa yang diinginkannya. Nama, alamat, asal, tanggal lahir, riwayat pendidikan dan lain-lain. Tapi ada satu hal yang cukup menarik perhatiannya, yaitu status Dokter Candra, wanita itu, belum menikah, tapi memiliki seorang anak. Jangan-jangan…
Pikiran buruk itu terus mengembara kemana-mana, “Gayanya sungguh seperti wanita ningrat yang mengajarkanku sopan santun, tapi ternyata, kelakuannya sungguh di luar prediksi BMKG,” gerutu Dokter Angga sinis.
•••
Malam harinya, orang itu mondar mandir gelisah di balkon lantai atas rumahnya, kabar tentang kedatangan Dinda ke kamar Biandra membuatnya sedikit khawatir hingga banyak pertanyaan muncul di benaknya.
Apa yang Dinda cari?
Apakah Dinda berhasil menemukan apa yang ia cari?
Dan benda apa yang ditemukan wanita itu?
Seingatnya dulu ia pernah diam-diam masuk ke kamar Biandra, dan membersihkan bukti-bukti mencurigakan yang mungkin tertinggal setelah kepergian Biandra. Tapi Igun belum berhasil menemukan perhiasan-perhiasan yang dihadiahkannya pada Biandra ketika masih berpura-pura menjadi pengagum rahasia adik iparnya itu.
ko ya ikut bahagia
apa lagi yang jemput orang bisa di percaya jadi gasss