Ada alasan kenapa banyak orang menyebutnya Perfect Husband.
Leo J memiliki semua yang diimpikan seorang wanita. Ia setia, bertanggung jawab dan mencintai istrinya dengan cara yang membuat siapa pun iri.
Namun, cinta itu tidak pernah sederhana.
Leo J mencintai dengan cara yang berlebihan. Terlalu melindungi, terlalu posesif, terlalu takut kehilangan. Hingga terkadang, cintanya itu terasa menyesakkan.
Di masa lalu, pria yang kini begitu memuja istrinya itu... pernah mencintai wanita lain hingga rela memberikan seluruh dunianya.
Pada suatu hari, mereka dipertemukan dalam satu meja. Keheningan berubah menjadi sesak ketika Leo J menatap wanita yang pernah menjadi alasan hidupnya.
"Sekarang, Leo ada di depanmu, Kiara. Apa yang ingin kau katakan padanya?"
Yuna mengizinkan mereka berbicara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berlibur
Pagi hari. Di rumah Leo J.
Leo turun ke bawah setelah beberapa menit di ruang kerja. Ada Yuna dan pangeran kecil di ruang tengah.
“Yuk, sarapan,” ajaknya langsung. Si kecil menatapnya. Dia memindai penampilan Daddy dari bawah hingga atas.
“Apakah hari ini Daddy libur?” tanyanya penasaran. Menemukan Leo yang tidak memakai baju kantor di pagi hari membuatnya berfikir jika mungkin hari ini Daddy libur. Tapi dia tidak ingin senang dulu, jadi dia memutuskan untuk bertanya.
Yuna yang mendengar pertanyaan Arai langsung menatap Leo. Dia juga menunggu jawaban. Apakah hari ini Daddy libur. Sungguh tidak lembur seperti biasanya.
Leo tersenyum mendengar pertanyaan dan tatapan dua malaikatnya.
“Bagaimana jika kita sarapan dulu. Setelah sarapan, Daddy akan menjawabnya,” jawab Leo.
“Tidak.” Yuna dan Arai menjawab dengan kompak. Membuat Leo tertawa kecil.
“Kalian sangat kompak,” ucap Leo.
“Apakah hari ini Daddy libur?” si kecil mengulang pertanyaannya. Pertanyaan yang mendapat dukungan dari Mommy.
Leo menatap putra dan istrinya secara bergantian dan kemudian ia mengangguk pelan. “Iya,” jawabnya.
Jawaban yang membuat Arai dan Yuna tersenyum lebar dengan bahagia. Mereka berdua melakukan toss dan kemudian menyerbu Daddy. Si kecil melompat dan Leo langsung menggendongnya. Sementara Yuna langsung memeluk Leo.
“Saaaayang, Daddy,” ucap si kecil. Dia memberi hadiah ciuman manis di pipi Leo.
“Daddy terbaik,” tambah Yuna memujinya. Dia juga memberi hadiah ciuman manis di pipi Leo.
Leo tersenyum lebar dengan kebahagiaan. Dia membalas ciuman mereka berdua.
“Ayo kita sarapan,” ajak Leo. Ajakan yang kali ini mereka setujui.
Setelah sarapan selesai. Leo mengajak mereka ke mobil.
“Kita kemana, Daddy?” tanya si kecil. Pertanyaan yang lagi-lagi disetujui Mommy. Sepertinya si kecil lebih tidak sabaran daripada dia. Si kecil lebih cepat bereaksi tentang sesuatu.
“Ke kastil,” jawab Leo. Jawaban yang lagi-lagi membuat Arai dan Yuna bersorak senang dan kembali memberinya hadiah di pipi.
Mobil melaju dengan sedang. Leo sudah mewanti-wanti pada Albar untuk membawa mobil dengan benar dan halus.
Sepanjang perjalanan, mereka terus bercanda. Si kecil begitu bersemangat untuk bercerita.
Sesampainya di kastil. Mereka disambut pelayan yang berjejer di jalanan setapak yang menuju pintu utama. Masing-masing mereka membawa dua balon.
“Daddy apakah ada permainan hari ini?” si kecil langsung bertanya lagi.
“Sepertinya ada kejutan yang seru,” sambung Yuna.
Leo mengangguk. “Siapa yang ingin bermain lebih dulu?” tanyanya.
“Sebuah permainan harus dimulai dengan suit, Daddy,” jawab si kecil.
“Oke. Permainan ini untuk kalian berdua,” jawab Leo. Yuna dan Arai mengangguk. Mereka berdua kemudian suit.
“Gunting batu kertas.”
Si kecil yang lebih dulu. Dia memecahkan balon itu dan kemudian mengambil gulungan kertas yang tersembunyi di dalamnya. Dia memberikan gulungan kertas itu pada Leo. Dan Leo memeragakan apa yang tertulis di kertas itu. Leo mengacak rambutnya, memiringkan sedikit kepalanya dan kemudian menjulurkan lidahnya.
“Albert Einstein,” jawab si kecil dengan cepat.
“Benar,” Leo memberinya jempol dan Yuna memberinya tepuk tangan. “Ambil hadiah berwarna silver,” ucap Leo. Si kecil membalik badan dan mengambil kotak berwarna siver yang pelayan bawa.
Pelan, dia membukanya. Dan ia bersorak bahagia. Sebuah jam tangan limited edition yang super canggih.
“Yeyy,” soraknya. Dia melangkah pada Leo. “Terima kasih, Daddy,” ucapnya bahagia.
Leo mengulurkan tangan dan mengusap rambutnya penuh kasih. “Sama-sama, Sayang,” jawab Leo. “Sekarang giliran Mommy,” ucap Leo.
“Siap,” jawab Yuna. Dia kemudian memecahkan satu belon dan mengambil kertas di dalamnya kemudian memberikannya pada Leo.
“Uhum,” Leo berdehem sebelum memberikan pertanyaan. Kemudian ia membawa kedua tangannya ke atas dan menyatukannya, bagian jarinya melengkung membentuk waru.
“Aku mencintaimu,” tebak Yuna.
“Aku juga mencintaimu, Mom,” jawab Leo dengan senyum lebar. Membuat si kecil dan semua pelayan tersenyum lebar.
“Oooo, manisnya, Daddy,” ucap Yuna dengan rona dikedua pipinya. Dia melangkah menuju Leo dan memeluknya.
“Kenapa datang memelukku. Apa kau tidak ingin mengambil hadiah?” tanya Leo.
“Hadiahnya kamu saja, Daddy,” jawab Yuna dengan gemas. Dia mendongak menatap mata Leo. Laki-laki itu mengalihkan pandangan sejenak untuk menahan senyumnya. 'Tentu saja,' batinnya dalam hati.
Kemudian ia mengulurkan tangan isyarat jika pelayan harus mendekat padanya untuk memberikan hadiah pada Yuna.
Yuna melepaskan pelukannya dan menerima hadiah itu. Pelan, dia membukanya. Sebuah kunci mobil. Yuna langsung membawa pandangannya pada Leo. Laki-laki itu mengangguk.
“Mobilmu sudah tidak nyaman digunakan jadi kau harus menggunakan yang baru,” jawab Leo menjelaskan.
Yuna tersenyum. Mobil itu bahkan baru di beli satu tahun yang lalu dan saat ini, Tuan suami menggantinya lagi. Tentang hal-hal semacam ini, Yuna tidak akan membantahnya karena percuma.
“Terima kasih, Daddy,” ucapnya.
Leo mengangguk dan mengusap rambutnya penuh kasih. Lalu mereka memulai permainan kembali. Dan mereka akan mendapat hadiah yang luar biasa setelah bisa menebak permainan itu.
Hari yang begitu menyenangkan.
Setelah permainan usai. Si kecil langsung ke pantai dengan ditemani pelayan. Sementara Leo dan Yuna memilih beristirahat terlebih dahulu.
“Mom, aku adalah hadiah utama untukmu,” ucap Leo setelah mereka sampai di kamar. Ia memeluk pinggang Yuna.
Yuna menatapnya dan memiliki firasat buruk tentang ucapan Leo. Belum sempat ia menjawab, ciuman manis mendarat di bibirnya. Tangan Leo bahkan langsung menaikkan sedikit bajunya. Mengusap halus perut Yuna.
“Daddy, kita bahkan baru sampai. Bukankah kau bilang jika kita beristirahat dulu,” ucap Yuna setelah ia mampu menghentikan ciuman Leo. Dia menyembunyikan wajahnya di dada Leo. Jika tidak begitu, Leo pasti akan menciumnya lagi tanpa ampun.
“Bukankah kau yang memintanya, Momm?”
“Iya. Tapi bukan sesuatu yang harus terjadi di atas ranjang,” jawab Yuna.
“Kita bisa melakukannya di atas sofa,” sahut Leo segera setengah bercanda. Dari pinggang Yuna, tangannya bergerak turun kebawah.
“Ouhh, Dadd,” Yuna menjerit rendah karena remasan tangan Leo.
“Jadi kau ingin di sofa, atau di kamar mandi, hmm?” Leo menunduk mencium telinganya. Membuat Yuna sedikit mengangkat wajahnya.
“Bukan itu maksudku,” jawab Yuna.
“Lalu?”
Yuna mengambil nafas dan mendongak menatapnya. “Bisakah kita melakukannya nanti malam saja, Dadd,” Yuna mencoba menawarnya.
Leo mengangkat Yuna dengan sangat hati-hati. Menggendongnya di depan. Satu tangan menopang pahanya, sementara tangan yang lain menjaga punggungnya agar tetap nyaman. Tak sekali pun ia membiarkan perut istrinya tertekan.
Yuna spontan melingkarkan kedua tangannya di leher Leo, sementara kedua kakinya mengapit pinggang pria itu dengan longgar.
“Kenapa. Apa kau lelah saat ini?” tanya Leo. Dia melangkah ke arah ranjang.
“Rasanya aku sangat ngantuk,” jawab Yuna. Leo mencium hidung mancung Yuna lalu membawa wanita itu ke atas tempat tidur mereka. Dia merebahkan Yuna dengan hati-hati. Posisi ini, membuat Leo langsung berada tepat di atas tubuh Yuna. Dia menopang tubuhnya dengan kedua lengannya.
“Kau marah padaku?” tanya Yuna pelan. Ia mengusap pipi Leo.
“Kapan aku marah tentang itu?” Leo membalik pertanyaan.
Yuna menggeleng. “Tidak. Kau tidak pernah marah tentang hal itu. Kamu selalu memahamiku dan mau mengerti. Terima kasih, Daddy,” jawab Yuna.
Leo merebahkan dirinya di samping Yuna dan memeluknya.
“Tidurlah,” ucapnya.
Yuna mengangguk pelan dan kemudian ia memejamkan matanya.
“Aku mencintaimu, Daddy,” gumam Yuna pelan. Dia sudah dibatas kesadaran.
Leo tersenyum dan mencium keningnya. Yuna benar-benar langsung tertidur. Leo melihat jam di tangannya. Pukul setengah sebelas siang. Apakah sekarang Yuna memang lebih sering lelah dan mengantuk? Batinnya.
Belakangan dia terlalu sibuk, dia tidak bisa menemani Yuna ke kelas kehamilan dan dia bahkan hingga tidak tahu apa yang Yuna rasakan. Yuna tidak pernah mengeluh dan Leo lupa untuk menanyakannya.
Leo menatap wajah Yuna yang tertidur pulas. Begitu cantik. Ia mengusap rambut Yuna penuh kasih dan meninggalkan ciuman kecil di kening istrinya. Begitu entah berapa kali.
“Maaf aku sudah begitu sibuk, Momm,” ucap Leo.
______
boleh request gk kak... kpan² klo kiara ketemu yuna pas ada leo juga,pasti seru..