Di siang hari, Rania adalah sekretaris magang yang paling menyedihkan. Berkacamata bulat, rambut di Cepol asal dan baju yang kedodoran selalu menjadi makanan empuk sang CEO perusahaan yang tampan namun berdarah dingin, perfeksionis dan tak memiliki belas kasihan.
Namun, demi melunasi hutang ibunya yang menumpuk, Rania dengan ikhlas menjalani hidupnya di bawah tekanan bahkan Rania rela melakukan pekerjaan lainnya yang cukup ekstrem di malam hari.
Dengan berubah menjadi sosok gadis bernama "milky" bermata abu-abu yang imut dan kostum gotik yang menggemaskan di sebuah Dark Moon Maid Cafe.
Petaka berawal ketika seorang pelanggan VVIP misterius bermasker hitam datang dan memesan tempat khusus bersamanya.
Begitu pria itu membuka suara, Rania nyaris terkena serangan jantung.
Pria yang meminta pelayanan imut bermantra 'Moe-moe Kyun' tidak lain adalah bosnya sendiri di kantor yang paling dia benci !
Untungnya, Arkan bosnya sama sekali tidak mengenalinya.
baca ceritanya untuk lanjut🫶🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Pahlawan Bermasker
...Suara bariton yang berat dan dingin itu bergema di udara, seketika membekukan kebisingan di sekitar meja nomor empat....
... Kehadiran sosok itu begitu menyita perhatian sekitar, membuat suasana yang semula santai menjadi tegang....
...Milky menoleh dengan tatapan liar, sepasang mata abu-abunya melebar dalam campuran rasa syok dan lega yang luar biasa....
... Di sana, berdiri tegak Arkananta Narendra....
... Malam ini, ia kembali mengenakan penyamaran VVIP-nya, sebuah topi fedora hitam yang diturunkan sedikit untuk menutupi dahi, serta masker kain hitam pekat yang menyembunyikan separuh wajah tampannya. ...
...Namun, sepasang mata elang di balik bayangan topi itu tidak bisa berbohong....
... Sepasang mata itu kini berkilat penuh amarah yang berkobar, memancarkan aura gelap yang siap mencabik siapa saja yang berani mengusik miliknya....
...Tuan Danu, yang otaknya sudah tumpah oleh alkohol, mendongak dengan pandangan buram dan kesal....
... "Hah?! Siapa lo berani-beraninya ikut campur?! Nggak usah sok jadi pahlawan kesiangan pake masker segala lo! Pergi gak—"...
...Belum sempat pria mabuk itu menyelesaikan kalimat makiannya, Arkan sudah melangkah maju....
... Gerakannya begitu cepat, presisi, dan berbahaya bak seekor predator yang menerkam mangsa....
...Sret!...
...Tangan kanan Arkan yang kokoh, yang dihiasi jam tangan safir hitam yang berkilau dingin, melesat maju. ...
...Dengan akurasi yang menakutkan, jemari panjangnya mencengkeram pergelangan tangan gempal Tuan Danu tepat di bagian urat nadi yang sedang menjepit pergelangan tangan Milky....
..."A-akh!" Tuan Danu memekik kesakitan seketika....
...Arkan tidak hanya sekadar memegang, ia meremas pergelangan tangan pria gempal itu dengan kekuatan yang luar biasa besar. ...
...Tekanan dari jemari Arkan begitu kuat hingga terdengar bunyi gemertak halus dari sendi-sendi tulang Tuan Danu yang dipaksa meregang....
... Rasa sakit yang luar biasa menusuk itu seketika memaksa cengkeraman Tuan Danu pada tangan Milky terlepas total....
...Milky terhuyung mundur satu langkah, langsung memeluk pergelangan tangannya sendiri yang kini tampak memerah akibat jepitan kasar sebelumnya....
... Napasnya tersengal-sengal, matanya tak mampu beralih dari punggung tegap Arkan yang kini berdiri kokoh di depannya, bertindak sebagai perisai raksasa yang memisahkan dirinya dari ancaman Tuan Danu....
..."L-lepasin! Sialan, tangan gue bisa patah!!" Tuan Danu berteriak histeris, wajah gempalnya yang tadi merah karena mabuk kini berubah pucat pasi akibat rasa sakit yang mendera....
... Ia mencoba bangkit dari kursi, namun dengan satu sentakan tangan kiri Arkan yang menekan bahunya, pria gempal itu kembali terhempas jatuh ke sofa dengan tidak berdaya....
...Arkan mencondongkan tubuh tegapnya ke depan, mendekatkan wajah bermaskernya tepat di depan wajah Tuan Danu. ...
...Sepasang mata elangnya menyipit begitu tajam, memancarkan kilat haus darah yang sangat pekat....
..."Dengar baik-baik, makhluk tidak berguna," ucap Arkan, suara baritonnya yang rendah dan berat berbisik tepat di telinga Tuan Danu, namun nadanya begitu menekan hingga sanggup membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya meremang hebat....
... "Uang receh Anda yang kotor itu tidak akan pernah bisa membeli apa pun di tempat ini. Dan jika sekali lagi saya melihat tangan menjijikkan Anda menyentuh sehelai kain pun dari pelayan ini... saya pastikan besok pagi perusahaan Anda akan rata dengan tanah, dan Anda akan memohon di jalanan hanya untuk membeli sepotong roti. Paham?"...
...Ancaman itu tidak terdengar seperti gertakan sambal. ...
...Nada suara Arkan penuh akan kuasa dari seorang penguasa tertinggi yang terbiasa mematikan hidup orang banyak hanya dengan satu jentikan jari....
... Kejam, dingin, dan tanpa ampun....
... Sifat tiran kantornya malam ini berubah menjadi naluri protektif yang luar biasa posesif dan mengerikan....
...Tuan Danu menelan ludah dengan susah payah, rasa mabuknya seketika menguap digantikan oleh ketakutan yang luar biasa besar. ...
...Pria gempal itu mengangguk-angguk dengan gemetar hebat, air mata panik mulai menggenang di sudut matanya....
... "I-iya, Mas... ampun, Mas! S-saya khilaf!"...
...Arkan menyentak tangan Tuan Danu dengan kasar, melemparkannya hingga membentur meja....
... "Ambil uang sampah Anda, dan angkat kaki dari kastel ini sebelum saya kehilangan sisa kesabaran saya."...
...Tanpa membuang waktu satu detik pun, Tuan Danu menyambar seikat uang tunainya dengan tangan yang gemetar, lalu bangkit berdiri dan berlari tunggang-langgang keluar dari pintu kafe, hampir saja menabrak Manajer Tedi yang baru saja datang membawa petugas keamanan dengan wajah panik....
...Suasana di area meja nomor empat perlahan mulai mengendur, meskipun para pelanggan di meja lain masih berbisik-bisik tegang melihat peristiwa yang baru saja terjadi....
...Arkan menarik napas panjang di balik masker hitamnya, mencoba meredakan sisa-sisa amarah yang membuat dadanya naik-turun dengan drastis. ...
...Ia perlahan memutar tubuhnya, menghadap ke arah Milky yang masih berdiri terpaku di tempatnya....
...Deg. Deg. Deg....
...Jantung Rania berdegup begitu kencang, menciptakan debaran yang kian liar di dalam dadanya. ...
...Namun kali ini, debaran itu bukan lagi karena rasa takut atau panik akibat penyamarannya yang terancam....
... Debaran ini... adalah debaran asing karena rasa terpesona yang teramat sangat....
...Di balik lensa kontak abu-abunya, Milky menatap sosok bermasker di hadapannya dengan pandangan yang linglung. ...
...Di siang hari, pria ini adalah monster kejam yang menguras habis energinya dengan jebakan lembur. ...
...Tetapi malam ini, di saat dirinya berada di titik paling rapuh, dihinakan, dan terdesak sebagai seorang pelayan kafe, pria yang sama menjelma menjadi seorang pahlawan yang berdiri di garis paling depan untuk melindunginya tanpa keraguan sedikit pun. ...
...Kekuatan fisiknya, kuasanya, dan tatapan matanya yang begitu protektif... entah mengapa terlihat begitu luar biasa menawan dan maskulin di mata Rania....
..."Kamu... tidak apa-apa?"...
...Pertanyaan itu memecah lamunan Milky....
... Suara bariton Arkan tidak lagi terdengar mengerikan seperti saat mengancam Tuan Danu tadi, suaranya kini merendah, penuh akan nada kecemasan yang tulus dan canggung....
...Arkan melangkah mendekat, mengulurkan tangan kanannya yang panjang secara perlahan, seolah takut akan mengejutkan pelayan imut di depannya....
... Jemari tangannya yang bersih menyentuh pergelangan tangan Milky yang memerah dengan sangat lembut, memastikannya dengan hati-hati sangat berbeda seratus delapan puluh derajat dari cengkeraman mautnya pada Tuan Danu beberapa saat lalu....
...Melihat kulit putih Milky yang dihiasi rona merah akibat jepitan kasar tadi, rahang Arkan kembali mengeras di balik maskernya. ...
...Ada rasa sesal dan amarah yang bergejolak di dalam dadanya karena ia terlambat datang dan membiarkan pelayan imutnya terluka....
...Milky menarik napas dalam-dalam, mengunci seluruh gejolak emosi "Rania" yang membingungkan rapat-rapat, lalu perlahan mengulas senyum imut yang paling manis, meski sepasang mata abu-abunya masih menyisakan binar air mata yang berkilau....
..."M-Milky... Milky tidak apa-apa, Tuan Besar yang agung," ucap Milky dengan nada melengking imutnya yang kembali bergetar, memberikan pose menangkupkan kedua tangan di depan dada....
... "Sihir perlindungan dari Tuan Besar tadi sangat, sangat hebat! Tuan Besar seperti ksatria kegelapan yang turun dari langit untuk menyelamatkan kelinci kecil yang malang... Terima kasih banyak ya, Tuan Besar~ Unyu... 💖"...
...Mendengar ucapan imut dan melihat binar mata penuh kekaguman dari Milky, seluruh emosi Arkan runtuh dalam sekejap....
... Sifat gengsi dan tsundere-nya kembali mengambil alih kendali tubuhnya....
...Arkan seketika melepaskan pegangan tangannya pada pergelangan tangan Milky dengan gerakan yang kikuk....
... Ia buru-buru memalingkan wajahnya yang kini sudah merona merah padam hingga ke leher, menutupi setengah wajah bermaskernya dengan tangan kanan untuk menyembunyikan rasa salah tingkahnya yang luar biasa canggung....
... Kedua daun telinganya yang bersih tampak memerah seperti kepiting rebus di balik rambut hitamnya yang rapi....
..."D-dasar bodoh," gumam Arkan dengan suara baritonnya yang serak dan ketus, mencoba menutupi detak jantungnya sendiri yang kini ikut berpacu liar karena kedekatan mereka....
... "Lain kali kalau ada orang cacat mental seperti itu lagi, langsung tendang saja. Jangan cuma merengek tidak berdaya seperti itu. Membuat saya repot saja."...
...Arkan berbalik dengan gerakan yang kaku, melangkah menuju tangga lantai dua dengan langkah yang sengaja dicepatkan. ...
..."Ikut saya ke ruangan VVIP sekarang juga. Saya butuh teh hangat untuk menenangkan suasana hati saya yang memburuk akibat makhluk tadi."...
...Milky menatap punggung tegap sang ksatria tsundere yang sedang berjalan menjauh dengan langkah kaku karena malu....
... Seulas senyuman yang sangat tulus, senyuman yang tidak lagi berupa topeng kepalsuan, perlahan terukir indah di bibirnya. ...
...Rasa lelah malam ini seolah sirna, digantikan oleh rasa hangat asing yang kian mengakar kuat di dalam sudut hatinya yang paling dalam....