NovelToon NovelToon
LETNAN CANTIK ITU MILIKKU

LETNAN CANTIK ITU MILIKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Menikahi tentara
Popularitas:23.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mutia Kim

Sequel dari TERIKAT PERNIKAHAN DENGAN KAPTEN CANTIK❗

Kaluna Seraphina Wijaya adalah seorang anggota Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad) sekaligus dokter militer yang bercita-cita mengikuti jejak almarhum mamanya sebagai prajurit TNI.

Ia dijodohkan dengan putra dari sahabat orang tuanya, namun ia menolaknya hingga terjadi pertentangan dengan papanya.

Akhirnya, Kaluna menerima perjodohan itu dengan syarat, ia tetap diizinkan menjalankan tugas di Papua.

Di Papua, Kaluna bertemu dengan seorang Kapten bernama Kalvin Natha Wiratama. Di tengah tugas dan kerasnya medan penugasan, perasaan mulai tumbuh di antara mereka.

Namun, ketika Kaluna dihadapkan pada pilihan antara pria yang dijodohkan dengannya dan pria pilihan hatinya sendiri, mampukah ia tetap bertahan pada keputusan keluarga, atau justru memilih cinta yang benar-benar diinginkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terperangkap

“Hati-hati bawa mobilnya, Vin!” ucap Nakara menginterupsi.

Setelah mendengar kabar dari Anton bahwa dia kehilangan jejak Kaluna dan Safira, membuat Kalvin kalap. Pria itu mengemudikan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata, tanpa memperdulikan keselamatan dirinya sendiri.

Bahkan peringatan sahabatnya pun tidak digubris. Dia hanya ingin segera menemukan keberadaan Kaluna dan Safira. Entah perasaan apa yang ia rasakan, namun hatinya benar-benar tidak tenang.

“Di mana Anton, Ka?” tanya Kalvin kemudian.

Nakara menyebutkan titik lokasi tempat Anton berada. Ia sudah meminta Anton untuk menunggu di sana agar mereka tidak saling mencari, sambil terus berusaha menghubungi Kaluna dan Safira.

“Hah... kenapa juga harus mereka dikirim ke sana sih?” protes Kalvin lagi. Sepanjang perjalanan sudah tidak terhitung berapa kali ia mengucapkan hal yang sama.

Nakara sampai bingung menanggapinya.

Di sisi lain, Safira dan Kaluna mulai tidak tenang. Jalanan yang mereka lewati terasa asing. Ditambah lagi ponsel mereka masih tidak memiliki sinyal.

Namun Kaluna sempat mengirim lokasi mereka, berharap pesan itu bisa diterima Anton agar mudah melacak posisi mereka.

“Kak Yohanes, ini masih lama ya?” tanya Safira khawatir.

“Lumayan,” jawab Yohanes singkat.

“Bukannya tadi kalian melewati jalan ini juga? Kenapa masih bingung?” tanya Yohanes.

“I-iya, tadi kami agak mengantuk jadi tidak terlalu memperhatikan,” jelas Safira.

Mobil itu melaju cukup cepat. Setelah melewati hutan-hutan rindang, akhirnya mereka menemukan perkampungan, namun rumah satu dengan lainnya berjauhan. Kaluna kembali mengeluarkan ponselnya, berharap ada sinyal di wilayah itu.

Sementara itu, Anton mulai sedikit lega ketika pesan dari Kaluna mulai terkirim. Begitu juga pesan balasannya. Kaluna mengirim titik lokasi mereka.

Awalnya Anton merasa tenang karena bisa segera menyusul, namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Ia mulai menyadari bahwa Kaluna dan Safira justru masuk lebih jauh ke area pedalaman hutan.

“Sialan, ke mana orang itu membawa Kaluna dan Safira?” umpat Anton panik. Ia bergegas menghubungi Kaluna sebelum ponsel wanita itu tak bisa lagi dihubungi.

Panggilan itu berlangsung cukup lama sampai akhirnya Kaluna menjawab panggilannya.

“Halo, mas sopir,” sapa Kaluna dari seberang telepon pura-pura memanggil Anton dengan sebutan sopir agar Yohanes tidak curiga.

“Halo Letda Kaluna, kalian di mana? Kalian baik-baik saja kan?” tanya Anton panik.

“A- iya, kami baik-baik saja. Maaf, kami sudah kembali ke kota lebih dulu,” jawab Kaluna.

Anton sangat memahami makna tersirat dari perkataan Kaluna.

“Letda Kaluna, jangan lanjutkan perjalanan kalian. Jika menemukan kampung, segera berhenti. Jalan yang kalian lewati itu menuju pedalaman hutan, bukan menuju kota,” pinta Anton.

Deg!

Sekujur tubuh Kaluna merinding. Entah mengapa, kali ini ia merasa sangat takut. Kaluna melirik Yohanes yang masih berbincang dengan Safira. Laki-laki itu terlihat seperti pria baik-baik, namun siapa sangka justru dia bisa membawa mereka ke mana saja.

“Oh begitu ya, Pak. Kalau begitu kami akan menunggu di perkampungan yang kami lewati ya. Supaya Bapak tidak rugi, nanti saya akan share lokasi kami,” ucap Kaluna setenang mungkin.

“Iya, sebentar lagi Kapten Kalvin dan Lettu Nakara datang, kami akan menjemput kalian,” sahut Anton seraya memutus panggilan itu. Ia sangat berharap Kaluna tidak semakin jauh dibawa oleh orang itu.

“Siapa yang telepon?” tanya Yohanes ramah.

“Driver dari penginapan, Kak. Dia mau menjemput kami di sini. Bisakah kami turun di sini saja?” pinta Kaluna.

Sejenak Yohanes terdiam, lalu menatap Kaluna dan Safira sejenak. “Bisa saja sih, tapi ini kampung rawan. Kalau di kampung depan saja bagaimana?” tawarnya.

Perkataan Yohanes semakin membuat Kaluna waspada, seakan ada rencana yang sedang disembunyikan.

“Tidak apa-apa, Kak. Tapi kampungnya tidak jauh lagi kan?” tanya Safira ikut menimpali.

“Tidak, hanya beberapa kilometer lagi,” jawab Yohanes meyakinkan.

Kaluna menggenggam tangan Safira. Telapak tangan Kaluna berkeringat, membuat Safira langsung sadar ada sesuatu yang tidak beres.

Namun mereka tetap berusaha tenang dan mengikuti komando Kaluna agar Yohanes tidak curiga.

Ketegangan semakin terasa ketika Yohanes menerima panggilan telepon.

“Sebentar lagi saya sampai, tunggu saja di sana! Hari ini ikannya segar-segar, dan pastinya lebih menggiurkan dari sebelumnya.”

Percakapan itu terdengar ambigu dan mencurigakan bagi Kaluna dan Safira.

Pikiran Kaluna mulai tidak tenang. Ia mencoba mengirim pesan ke Anton, namun sinyal kembali hilang.

“Ini air mineral kalau haus, belum diminum,” kata Yohanes sambil menyodorkan botol air setelah menutup telepon.

Safira menerimanya dengan ragu, tanpa langsung meminumnya. Saat ini mereka harus tetap waspada.

“Apa kampung terdekat masih lama, Kak?” tanya Kaluna.

“Tidak, sebentar lagi,” jawab Yohanes.

Setengah jam sudah Yohanes mengemudikan mobil. Namun hingga kini Kaluna belum juga melihat ada perkampungan yang mereka lewati.

Rasa khawatir semakin menjadi ketika mobil itu memasuki jalanan sempit bertanah merah di tengah perkebunan.

“Lho Kak, kok masuk sini?” tanya Safira. Pandangannya menilik kiri dan kanan, perkebunan sawit dengan rerumputan rimbun yang mereka lewati.

Sementara Yohanes tak menyahut, tetap anteng duduk di balik kemudi. Bibirnya bersiul-siul sambil menghisap sebatang rokok.

“Kami turun di sini saja!” pinta Kaluna sambil mencoba membuka pintu di sisinya, namun sialnya Yohanes sudah menguncinya.

“Mau ke mana? Di sini bahaya, banyak hewan buas,” ucap Yohanes santai. Pria itu menghembuskan asap rokok ke depan wajah Safira, membuat wanita itu terbatuk-batuk.

Sikap kurang ajarnya membuat Kaluna geram. Sopan santun yang sedari tadi ia perlihatkan berubah dalam sekejap.

“Turunkan kami di sini!” tekan Kaluna. Ia bisa saja melompat dari jendela mobil itu, namun bagaimana dengan Safira yang duduk tepat di sisi Yohanes.

“Tenang, sebentar lagi kita sampai. Kalian sudah datang jauh-jauh dari kota, masa tidak mau melihat tempat yang indah?” tawar Yohanes dengan senyum menyebalkan.

“Sialan, kamu mengerjai kami?” tuduh Safira kesal.

Yohanes tak menanggapi. Pria itu justru mengerlingkan mata ke arah depan mereka. Terlihat dua mobil jip dengan beberapa pria bertubuh tinggi tegap berjajar rapi di sana.

Kaluna menelan ludah. Mobil itu sama persis dengan yang pernah ia lihat saat menemani Kapten Kalvin memantau pergerakan penyelundupan senjata ilegal. Itu berarti Yohanes adalah bagian dari komplotan itu.

“Ayo turun, nona-nona!” Yohanes menghentikan mobil, lalu turun seraya menyambar kunci.

“Lun... gimana ini?” keringat mulai membasahi dahi Safira. Wanita itu ketakutan luar biasa. Mereka memang bisa berkelahi, tapi tidak mungkin dua wanita melawan enam pria bertubuh jauh lebih besar.

“Tenang, Fir! Kita turun dan cari celah untuk kembali ke jalan besar. Aku sudah kirim titik lokasi ke Sertu Anton. Semoga dia segera menemukan kita,” ucap Kaluna menenangkan.

Seorang pria membuka pintu di sisi Kaluna, lalu tersenyum kearahnya. “Wow, barang yang kalian bawa ini asli segar-segar, Han,” serunya.

Ucapan itu membuat Kaluna jijik. Wanita itu sengaja membuka pintu dengan keras hingga pria tersebut terhuyung ke belakang.

“Kurang ajar...” maki salah satu dari mereka.

1
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
ya iya ya, kan dia lari, makanya yaa lari seakan ngikutin
ginevra
hmmm.... bisa dimaklumi sih pak... tapi anakmu juga punya kehidupannya sendiri.
Aii Flow🌷
Curiga bakal rebutan sama adeknya nanti. Kaluna lagi nugas sama adek nya🤭😄😄
Lenny Utami
semangat Luna...
Lenny Utami
emang bapak pernah bertanya perasaan kaluna g mn?
Lenny Utami
sabar ya lun..
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
nah kan...iyaa kan, kan kaluna pengen dia resign
Nurul
kabar baik
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
safira pasti kaget dengar omongan seperti itu
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
cuma cuci mata aja gpp kali Lun. 😄😄
mama Al
kan kamu yang ngikutin Kalvin.
nyasar kan?🤣🤣🤣
mama Al
sepertinya ada saingan Kaluna
ginevra
maklum sih papahnya kayak gitu, tapi ini semua kan demi cita-cita anaknya... longgarin sikit lah
Aii Flow🌷
Kalau kumpul sama cewek, kayaknya Anton cocok. Suka gosip😄
Keonho
dipindahin juga nanti ada percintaan di Papua /Facepalm/
Keonho
awokawok
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
Thor buat catatan kaki untuk istilah-istilah yang mungkin masih awam untuk beberapa pembaca
suo hayato
jujur paling malas sih bicarain soal nikah
رزقي سانتوسو
om...? umur berapa itu pak/Curse/
رزقي سانتوسو
waduh🗿
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!