NovelToon NovelToon
Gadis Pemulung Ibu Dari Anakku

Gadis Pemulung Ibu Dari Anakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: yas23

Rayan Elvaro Wirajaya adalah pewaris tunggal sebuah perusahaan besar di Semarang. Dengan wajah tampan, kekayaan melimpah, dan masa depan yang telah tertata sempurna, hidupnya tampak nyaris tanpa cela. Namun, sebuah malam yang tak pernah ia ingat sepenuhnya menjadi awal dari perubahan besar yang mengguncang kehidupannya.
Di sisi lain, Alya hanyalah seorang gadis pemulung yang berjuang seorang diri menghadapi kerasnya kehidupan. Setiap hari ia bertahan di tengah himpitan kemiskinan, ditemani kenangan pahit yang terus menghantuinya. Dunia seolah tak pernah memberinya kesempatan untuk bermimpi lebih tinggi.
Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kejadian yang tak terduga. Sebuah malam kelam di jalanan sepi mengikat hidup mereka dalam hubungan yang rumit. Rayan tak menyadari apa yang telah terjadi malam itu, tetapi Alya mengingat setiap detiknya bersama air mata, ketakutan, dan luka yang membekas di hati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Usai selesai memandikan Fariz hingga tubuh mungilnya bersih dan segar, pelayan itu mengeringkan rambut bocah tersebut dengan handuk lembut. Setelah memastikan semuanya rapi, ia menatap Alya sambil tersenyum ramah sebelum berkata dengan nada penuh hormat.

"Nyonya, sebaiknya Anda juga beristirahat dan membersihkan diri. Biar Tuan Muda Fariz kami yang temani dulu. Nanti setelah selesai, kami akan mengantarkannya kembali kepada Anda," ucap pelayan itu dengan penuh hormat.

Keraguan sempat menghentikan langkah Alya. Tatapannya tak lepas dari Fariz yang sedang asyik bermain dengan mainan barunya, seolah tak menyadari keadaan di sekelilingnya. Pelayan itu kemudian tersenyum hangat dan memberi isyarat bahwa Fariz akan berada dalam penjagaan mereka. Merasa sedikit lebih tenang, Alya akhirnya menganggukkan kepala. Setelah itu, seorang pelayan lainnya dengan sopan mengajaknya menuju kamar utama.

Pelayan itu berhenti tepat di depan pintu dan tidak melangkah masuk. Kamar tersebut merupakan ruang pribadi milik Tuan Rayan, sehingga hanya pelayan tertentu yang diberi izin untuk membersihkan dan merapikannya. Setelah membukakan pintu, pelayan itu mempersilakan Alya masuk seorang diri. Dengan langkah pelan, Alya memasuki kamar yang begitu luas dan masih terasa asing baginya. Matanya berkeliling mengamati setiap sudut ruangan yang didominasi nuansa warna gelap, dipadukan dengan perabotan mewah yang memancarkan kesan elegan. Kemegahan itu membuat Alya tanpa sadar merasa begitu kecil dan tidak pantas berada di tempat tersebut.

Saat matanya berkeliling mengamati setiap sudut ruangan, suara pintu kamar mandi yang terbuka mendadak menarik perhatiannya. Rayan melangkah keluar dengan sehelai handuk yang melingkar di pinggang. Dada bidangnya masih dipenuhi sisa-sisa air, sementara butiran bening mengalir perlahan mengikuti lekuk tubuhnya. Rambut hitam yang masih basah tampak berantakan, beberapa helainya jatuh menutupi sebagian wajah, memberikan kesan santai sekaligus berwibawa.

Mata Alya langsung membesar karena terkejut. Tanpa berpikir panjang, kedua telapak tangannya buru-buru menutupi wajah yang memerah, sementara sebuah pekikan pelan lolos dari bibirnya sebagai reaksi spontan.

"Astaga...!"

Rayan pun terpaku sesaat. Raut wajahnya memperlihatkan kebingungan ketika menyadari Alya berada di dalam kamar itu. Tanpa membuang waktu, ia mengangkat sebelah tangannya sebagai isyarat agar wanita itu tidak panik, berusaha menunjukkan bahwa ia tidak bermaksud membuatnya terkejut.

"Tenang, jangan panik. Aku keluar sekarang. Kamu pasti ingin mandi, jadi silakan gunakan kamar ini."

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Rayan langsung melangkah menuju walk-in closet. Ia bermaksud mengambil pakaian ganti sebelum kembali keluar dari ruangan itu.

Alya masih dapat merasakan detak jantungnya yang berpacu begitu cepat. Pipinya terasa membara, semburat merah bahkan menjalar hingga ke telinganya. Diliputi rasa gugup yang sulit dijelaskan, ia segera membalikkan badan dan bergegas menuju kamar mandi. Begitu berada di dalam, ia buru-buru menutup pintu rapat, seakan ingin menyembunyikan wajahnya yang masih dipenuhi rasa malu.

Setelah berhasil menenangkan pikirannya, Rayan melangkah menuju walk-in closet. Pintu geser terbuka dengan suara lirih sebelum kembali tertutup di belakangnya. Ia mengembuskan napas panjang, berusaha mencerna kejadian yang baru saja terjadi. Sungguh di luar dugaan, ia mendapati Alya berada di kamarnya. Lebih mengejutkan lagi, wanita itu tampak begitu gugup hingga wajahnya memerah tanpa mampu menyembunyikan kegelisahannya. Sekilas, bayangan ekspresi polos itu kembali terlintas di benaknya. Tanpa sadar, sudut bibir Rayan terangkat membentuk senyum tipis, meski ia segera menepis pikirannya dan berusaha mengalihkan perhatian.

"Sepertinya dia memang masih belum terbiasa," gumam Rayan pelan dengan senyum tipis. Sambil merapikan kemeja santainya, ia memastikan setiap kancing telah terpasang rapi. Setelah penampilannya selesai, Rayan melangkah keluar dari walk-in closet. Sebelum meninggalkan kamar, pandangannya sempat singgah sejenak ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat. Dari balik pintu itu hanya terdengar suara gemericik air yang mengalun pelan, menandakan Alya masih berada di dalam.

Di sisi lain, Alya membiarkan air hangat dari pancuran mengalir membasahi tubuhnya. Uap tipis perlahan memenuhi kamar mandi, sementara pipinya masih menyisakan semburat merah yang belum juga memudar. Berkali-kali ia mengusap wajahnya, menarik napas panjang demi meredakan jantungnya yang masih berdetak tidak beraturan.

"Ya Tuhan... kenapa aku harus melihatnya dalam keadaan seperti itu?" bisiknya lirih, disertai senyum malu yang nyaris tak terlihat.

Semakin berusaha melupakan kejadian beberapa saat lalu, bayangan Rayan justru kembali muncul di benaknya. Wajah pria itu yang tenang dan kemunculannya yang tak terduga membuat Alya kembali salah tingkah. Ia menggeleng pelan, lalu segera mengalihkan perhatian dengan meraih sabun dan sampo, memusatkan pikirannya pada kegiatan mandi agar kegugupan itu perlahan menghilang.

Beberapa menit kemudian, Alya akhirnya selesai membersihkan diri. Setelah mengeringkan tubuhnya, ia berdiri sejenak di balik pintu kamar mandi. Dengan napas tertahan, ia memasang telinga, mencoba menangkap suara dari luar. Keadaan di kamar tampak sunyi. Tak lagi terdengar langkah kaki ataupun aktivitas Rayan. Kesunyian itu membuat Alya mengembuskan napas lega. Setidaknya, ia punya waktu untuk menenangkan diri sebelum kembali keluar dari kamar mandi.

Dengan gerakan perlahan, Alya membuka pintu kamar mandi sedikit demi sedikit, lalu mengintip ke luar untuk memastikan keadaan. Kamar itu sudah lengang. Yang tersisa hanyalah aroma khas parfum Rayan yang masih samar memenuhi ruangan. Merasa sedikit lebih tenang, ia melangkah keluar dengan hati-hati. Handuk yang melilit tubuhnya dipeluk erat, sementara pandangannya menyapu sekeliling kamar, memastikan tak ada siapa pun di sana sebelum ia bergegas menuju pakaian yang telah disiapkan.

Pandangan Alya beralih ke arah walk-in closet. Ia yakin di sanalah pakaian yang tadi disiapkan untuknya berada. Dengan langkah pelan, ia menghampiri ruangan itu, meski rasa canggung masih menyelimuti dirinya. Setiap langkah terasa begitu asing. Ini bukan kamar sederhana yang selama ini menjadi tempatnya beristirahat, melainkan ruang pribadi milik seorang pria dengan kehidupan yang sangat berbeda darinya. Kemewahan di setiap sudut ruangan membuat Alya semakin berhati-hati, seolah takut melakukan kesalahan sekecil apa pun.

Baru saja jemari Alya menyentuh gagang pintu walk-in closet, suara langkah kaki dari luar memecah kesunyian. Belum sempat ia bereaksi, pintu kamar mendadak terbuka dan dua orang pelayan masuk dengan tergesa-gesa. Keduanya melangkah tanpa lebih dulu mengetuk, seolah hal itu sudah menjadi rutinitas mereka saat memasuki kamar tersebut.

Alya sontak tersentak. Matanya membelalak karena kaget, sementara tubuhnya refleks membeku sesaat, sama sekali tidak menyangka akan ada orang lain yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar.

"Eh... kalian kok langsung masuk?" tanya Alya dengan nada gugup. Ucapannya terdengar terbata-bata karena terkejut dengan kemunculan kedua pelayan itu secara tiba-tiba.

Salah seorang pelayan segera menundukkan kepala dengan penuh hormat. Wajahnya tetap tenang, sementara sikapnya menunjukkan rasa segan kepada Alya sebelum ia mulai memberikan penjelasan.

"Maaf atas lancangnya kami, Nyonya," ucap salah satu pelayan dengan sopan. "Tuan Rayan sudah memberi arahan agar kami mendampingi Anda bersiap. Beliau ingin memastikan pakaian dan keperluan Anda tertata dengan baik."

Alya terpaku di tempat. Wajahnya kembali memanas, kali ini bukan karena sisa hangat air yang membasahi kulitnya, melainkan rasa canggung yang tiba-tiba menyeruak. Ia sempat ingin menolak, tetapi dua pelayan itu sudah lebih dulu bergerak cekatan, seolah telah memahami tugas mereka. Dengan penuh kehati-hatian, mereka mengeluarkan gaun tidur berbahan satin yang lembut dari lemari. Setelah itu, salah seorang pelayan mempersilakan Alya duduk di kursi rias yang berada di dalam walk-in closet, sementara yang lain mulai menyiapkan perlengkapan perawatan diri dengan sikap sopan dan profesional.

Dengan gerakan terampil, kedua pelayan itu mengeringkan rambut Alya hingga tidak lagi meneteskan air. Setelah itu, mereka membantunya mengenakan gaun tidur yang terasa halus di kulit, lalu mengoleskan rangkaian perawatan wajah beraroma lembut dengan penuh kehati-hatian. Alya hanya mampu duduk tanpa banyak bicara. Jemarinya menggenggam pelan ujung gaun yang dikenakannya, sementara pandangannya beberapa kali beralih ke cermin di hadapan. Bayangan dirinya yang diperlakukan dengan begitu istimewa membuatnya sulit percaya. Semua perhatian dan pelayanan itu terasa asing, seolah ia mendadak menjadi seorang nyonya di rumah megah yang bahkan belum terasa seperti miliknya.

"Maaf, tidak usah bersusah payah. Biar saya urus sendiri saja," ucapnya dengan suara lembut, nyaris seperti bisikan.

Salah seorang pelayan membalas dengan senyum ramah dan penuh hormat. Sikapnya tetap tenang, seolah telah terbiasa menghadapi penolakan halus.

"Ini memang sudah menjadi tanggung jawab kami, Nyonya. Jadi, izinkan kami membantu. Anda cukup bersantai, selebihnya biar kami yang mengurusnya," ujar salah seorang pelayan dengan senyum sopan.

Alya memilih diam. Perasaannya bercampur menjadi satu; ada rasa kikuk karena belum pernah mengalami perlakuan seperti ini, tetapi juga muncul kehangatan yang menyentuh relung hatinya. Untuk pertama kalinya, ia diperlakukan dengan begitu sopan dan penuh penghargaan. Selama bertahun-tahun, hidupnya diwarnai kesederhanaan dan tatapan meremehkan dari banyak orang. Karena itu, perhatian kecil yang diterimanya sekarang mulai dari sikap ramah hingga pelayanan yang penuh hormat terasa begitu asing. Sesaat, ia seperti sedang melangkah ke dunia yang sama sekali berbeda dari kehidupan yang selama ini dikenalnya.

Begitu semua selesai, salah seorang pelayan menyisir rambut Alya dengan lembut hingga tergerai rapi membingkai bahunya. Sentuhan terakhir diberikan dengan mengoleskan lip balm tipis pada bibirnya, membuat penampilannya tampak lebih segar tanpa kesan berlebihan. Alya memandang pantulan dirinya di cermin cukup lama. Tatapannya dipenuhi rasa tak percaya. Perempuan yang terlihat di hadapannya tampak begitu berbeda dari sosok yang selama ini dikenalnya. Untuk beberapa saat, ia bahkan nyaris tidak yakin bahwa bayangan anggun di cermin itu benar-benar dirinya.

Tatapannya tak lepas dari bayangan di cermin. Ada keraguan yang perlahan menyelinap ke dalam benaknya hingga tanpa sadar ia berbisik pelan dalam hati, "Benarkah aku layak berada di tempat seperti ini?"

Usai memastikan gaun tidurnya terpasang dengan rapi, kedua pelayan itu mundur selangkah. Alya pun bangkit perlahan dan berdiri kaku di depan cermin. Rambutnya yang masih sedikit lembap menjuntai lembut di kedua bahunya, sementara wajahnya terlihat lebih cerah dan terawat setelah rangkaian perawatan singkat yang diberikan. Namun, semua perubahan itu justru membuatnya semakin canggung. Penampilan yang begitu rapi dan anggun terasa asing baginya. Ia hanya bisa meremas jemarinya sendiri dengan gelisah, berdiri mematung sambil kebingungan memikirkan apa yang harus dilakukan berikutnya.

"Nyonya, silakan ikut saya. Tuan Rayan dan tuan muda sudah menunggu Anda di lantai bawah," ujar pelayan itu dengan nada lembut sembari mempersilakan Alya melangkah lebih dulu.

Alya menganggukkan kepala pelan sebelum mengikuti pelayan yang berjalan di depannya. Sesaat setelah mereka keluar, pintu kamar utama ditutup perlahan hingga terdengar bunyi klik yang pelan. Langkah demi langkah membawanya menyusuri lorong megah menuju ruang tamu. Bagi Alya, perjalanan singkat itu terasa begitu asing, seolah ia sedang memasuki dunia yang sama sekali bukan miliknya.

Koridor di lantai dua terbentang luas dalam keheningan yang nyaris tanpa suara. Cahaya temaram dari lampu gantung kristal memancar lembut, memantul di atas lantai marmer yang dipoles hingga berkilau. Di sepanjang dinding, lukisan-lukisan berukuran besar menghiasi ruangan dengan bingkai mewah yang menambah kesan elegan. Kemegahan itu membuat Alya tanpa sadar memperlambat langkahnya. Di tengah suasana yang begitu berkelas, ia merasa begitu mungil dan asing, seolah dirinya tidak benar-benar pantas berada di tempat semewah itu.

Langkah Alya menyusuri koridor berlapis karpet tebal terasa lambat, seolah setiap pijakan membawa beban yang tak terlihat. Gaun satin lembut yang dikenakannya bergoyang pelan mengikuti gerak tubuhnya, menciptakan kesan anggun yang justru membuatnya semakin canggung. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menelan ludah saat seorang pelayan dengan sopan mendorong terbuka pintu besar yang mengarah ke area tangga utama. Pemandangan megah yang terbentang di hadapannya membuat jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.

Tangga spiral itu menjulang dengan kemewahan yang memikat. Anak tangganya dihiasi ukiran kayu berkelas, sementara pegangan beraksen emas memantulkan sinar lampu gantung kristal hingga tampak berkilau. Alya menuruni setiap anak tangga dengan hati-hati, jemarinya mencengkeram pagar seolah mencari ketenangan. Semakin jauh ia melangkah, rasa gugup di dadanya semakin kuat. Ia sadar penampilannya kini sangat berbeda dari biasanya. Dibandingkan kesehariannya yang sederhana, penampilan itu terasa begitu asing, seakan membuatnya menjadi pusat perhatian di rumah megah tersebut.

Pelayan itu berjalan dengan tenang beberapa langkah di belakang Alya, bersiap membantu jika sewaktu-waktu ia kehilangan keseimbangan di tangga. Ketika jarak menuju lantai dasar tinggal beberapa anak tangga lagi, telinganya menangkap suara televisi yang terdengar pelan, disusul gelak tawa mungil Fariz dari arah ruang keluarga. Mendengar suara putranya, ketegangan yang sejak tadi memenuhi dadanya perlahan memudar. Sudut bibir Alya terangkat membentuk senyum tipis, menghadirkan rasa lega di tengah kecanggungan yang masih menyelimutinya.

Sesampainya di lantai dasar, Alya melangkah perlahan melintasi ruang tamu yang begitu luas. Sofa-sofa berukuran besar tersusun rapi, karpet lembut membentang menutupi lantai, sementara jendela-jendela tinggi memantulkan cahaya hangat dari lampu gantung kristal. Kemewahan di sekelilingnya masih terasa asing di matanya. Namun, perhatian Alya seketika teralihkan ketika pandangannya menemukan sosok kecil yang paling ingin ia lihat sejak tadi Fariz.

Pelayan itu kembali membungkukkan badan dengan penuh hormat. Dengan nada lembut dan sikap yang tetap sopan, ia kemudian menyampaikan ucapannya kepada Alya.

"Silakan, Nyonya. Tuan muda sudah menanti kedatangan Anda di ruang keluarga," ucap pelayan itu dengan hormat.

Alya kembali menganggukkan kepala pelan sebelum melangkah menuju ruang keluarga. Baru beberapa langkah memasuki ruangan, Rayan yang tengah bersandar santai di sofa sambil memangku Fariz mengangkat pandangannya. Seketika, gerakannya seolah terhenti. Sorot matanya terpaku pada sosok Alya yang baru saja turun dari tangga, memperhatikannya dalam diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

1
Nurgusnawati Nunung
Babnya panjang yaa.. semangat thor
Nurgusnawati Nunung
kasihan Alya.
Nurgusnawati Nunung
bagus thor ceritanya.
May Satibi Satibi
suka
elief
suka karya nya thor. ceritanya 👍👍
Ratu Anjani
lah kelanjutan ny mana min
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!