Bandung tidak pernah ramah bagi kantong seorang perantau. Di usianya yang menginjak 23 tahun, Yasita Humaira harus memutar otak setiap akhir bulan. Demi mengirimkan rupiah untuk Ayah dan Ibunya di kampung, dia rela menahan lapar dan berhemat sedemikian rupa. Yasita sadar diri; dia bukan wanita sholeha, bukan pula muslimah taat yang rajin beribadah. Shalatnya masih bolong-bolong, penampilannya biasa saja. Jauh dari kata sempurna.
Beruntung, di kota ini dia memiliki Zulaikha—sahabat dekat seumuran yang bak langit dan bumi dengannya. Zulaikha adalah definisi wanita idaman: keturunan Arab-Indonesia dengan mata tajam yang indah, selalu anggun dengan gamis dan hijab lebar yang menjuntai. Tak hanya cantik, Zulaikha adalah putri dari pemilik Mandra Bros J, raksasa industri pakaian muslimah dan perhiasan emas tempat Yasita mengadu nasib. Namun persahabatan itu putus ketika sebuah Tawaran Dari Umi laila Ibu Zulaikha memintanya menjadi istri kedua Ayah Zulaikha yaitu Jalal Ash-Siddiq....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
"Sayang!"
Panggilan bernada rendah dan dalam dari Jalal seketika menghentikan obrolanku dengan keempat teman SMA-ku. Mitha, Rere, Juli, dan Dea serentak menoleh ke arah sumber suara, tepat di mana sosok suamiku yang bertubuh jangkung dan berwajah bule sedang melangkah tegap menghampiri meja kami.
Wajah keempat temanku seketika membelalak terkejut. Mereka secara berbarengan langsung melempar pandangan ke arahku dengan mata melotot, seolah-olah sedang berteriak lewat tatapan mata, 'Heh! Ini suamimu?!'
Aku menatap mereka bergantian, lalu menganggukkan kepala samar sembari menyunggingkan senyum penuh arti. Sengaja kulirik sekilas meja di depan kami; Sela dan Yanti tampak melongo syok dengan wajah yang mendadak pucat pasi. Gosip murahan mereka tentang "gadis simpanan yang dibuang" seketika runtuh total malam ini.
Dea spontan bertepuk tangan pelan tanpa suara karena gemas, sedangkan Mitha dan yang lainnya kompak memberikan dua jempol tangan ke arahku dengan raut wajah kagum luar biasa.
"Dahsyat betul kau, Ces! Pulang-pulang dari rantau langsung bawa suami bule ganteng begini..." puji Mitha setengah berbisik, matanya berbinar-binar.
"Om, Tante... beruntung betul kasihan Yasita ini. Kalau saya yang dapat suami bule begini, tidak akan saya izinkan dia keluar rumah, kupajang saja di dalam kamar," seloroh Mitha bercanda yang langsung disambut tawa renyah oleh Bapak dan Mama.
Setelah puas menggoda, keempat teman lamaku itu akhirnya berpamitan padaku dan kedua orang tuaku. Kepada Jalal, mereka hanya menganggukkan kepala dengan sopan dan ramah sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan warung.
Jalal menarik kursi kayu di sampingku lalu duduk dengan tenang. "Siapa, Sayang?" tanya Jalal penasaran sembari memandangi punggung empat wanita yang baru saja pergi.
"Teman sekolah dulu waktu SMA, Pak," jawabku lembut.
Pria itu mengangguk-angguk paham. Tak berselang lama, pesanan empat mangkuk coto Makassar yang masih mengepulkan asap hangat beserta satu porsi nasi goreng suwir ayam pesanan Jayan akhirnya tiba di atas meja. Tanpa menunggu lebih lama lagi, kami sekeluarga segera menyantap makanan hangat itu dengan nikmat di tengah riuhnya suasana warung.
Waktu menunjukkan tepat pukul sepuluh malam ketika mobil SUV hitam milik Jalal kembali memasuki halaman rumah kami. Huh... lelah sekali rasanya sekujur badan ini setelah seharian beraktivitas. Jayan sendiri sudah tertidur sangat lelap dalam dekapanku sejak mobil masih melaju di jalan raya tadi.
Dengan gerakan yang teramat pelan dan hati-hati agar tidak membangunkannya, aku mengangkat tubuh gempal Jayan ke dalam gendonganku. Aku membawanya melangkah masuk ke dalam rumah menuju kamar tidur, diikuti oleh Jalal yang berjalan pelan di belakangku sembari membawakan tas selempang milikku.
Aku merebahkan tubuh mungil putra kami di atas ranjang kasur kapuk, lalu menyelimutinya dengan kain sarung tipis. Jalal berdiri di sisi ranjang, memandangi wajah damai putranya yang sedang terlelap sebelum akhirnya beralih menatapku.
"Yas, saya mau salat Isya dulu. Bisa minta tolong siapkan tempat salatnya di kamar ini?" tanyanya dengan suara pelan dan lembut agar tidak mengusik tidur Jayan.
Aku mendongak lalu menganggukkan kepalaku dengan senyuman tulus. "Iya, Pak. Tunggu sebentar, biar saya ambilkan sajadah dan sarung bersihnya dulu di lemari," jawabku lirih sembari bersiap melangkah.
Aku dengan telaten menyiapkan sajadah dan kain sarung bersih untuk Jalal di dalam kamar. Tak lama setelahnya, aku melangkah keluar menuju kamar mandi yang terletak di bagian belakang rumah. Tepat di ambang pintu, aku berpapasan dengan Jalal yang rupanya baru saja selesai membersihkan diri.
"Yas? Mau masuk ke dalam?" tanya Jalal lembut begitu melihatku berdiri di depannya.
Aku menatap wajahnya sejenak. "Iya, Pak. Sajadah sama sarung bersihnya sudah saya taruh di pinggir ranjang," ucapku pelan.
Dari jarak sedekat ini, aku terpaku memandangi sisa-sisa tetesan air wudu yang masih membasahi wajah tampan suamiku. MasyaAllah... aura wajahnya terasa begitu menyejukkan hati.
"Eh, Yas? Kalau begitu saya duluan ke kamar, ya," ucap Jalal membuyarkan lamunanku.
Aku tersentak, lalu mengangguk kikuk sebelum bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Setelah menyelesaikan urusanku dan mencuci muka, aku berjalan kembali menuju kamar. Begitu membuka pintu, ku dapati suamiku sudah mengenakan sarung pemberianku dan sedang tampak sangat khusyuk menunaikan ibadah salat Isya.
Sembari menunggunya selesai, aku duduk tenang di pinggir ranjang kasur kapuk. Karena malam semakin larut, aku memutuskan untuk mulai menurunkan dan memasang jaring kelambu di sekeliling ranjang. Rumah panggung di kampung kalau malam hari memang sering banyak nyamuk, dan aku tidak mau kulit mulus anakku bentol-bentol karena digigit nyamuk nanti. Setelah kelambu terpasang rapi, aku merebahkan diriku di samping Jayan.
Saat aku sedang asyik memeluk dan mengelus lengan putra kecilku, sebuah suara rendah memecah keheningan kamar.
"Sayang? Sudah tidur, ya?" tanya Jalal dari luar jaring kelambu.
"Belum, Pak," jawabku lirih.
Pria itu tersenyum tipis. Dia melipat sajadah dan melepas sarung salatnya dengan rapi, lalu menatapku seolah meminta izin apakah dia boleh ikut naik ke atas ranjang.
"Bapak ini... Ayo masuk ke dalam," jawabku menyuruhnya mendekat.
Jalal perlahan memasukkan tubuh besarnya ke dalam kekangan kelambu, membuat ranjang kapuk kami berderit pelan. Dia merebahkan tubuh tegapnya tepat di belakang punggungku yang sedang menghadap ke arah Jayan.
"Yas..." panggilnya pelan, embusan napas hangatnya menerpa tengkukku.
"Hmmm," ucapku hanya berdehem pelan sebagai sahutan.
Pria bertubuh matang itu tidak berkata apa-apa lagi. Namun, lengan kekar dan kokohnya langsung bergerak melingkar erat di pinggang dasterku, menarik tubuhku merapat tanpa jarak ke dadanya yang bidang. Detik itu juga, aku bisa merasakan debaran jantungku sendiri yang tiba-tiba berdetak dengan sangat hebat.
'Betul ya kata Bapak tadi di dermaga... Kalau orang sedang jatuh cinta, jantungnya memang bisa berdetak sekeras ini,' batinku bersorak pelan dalam hati.
Didorong oleh rasa rindu yang membuncah, aku perlahan membalikkan tubuhku agar bisa menatap wajahnya secara langsung. Di dalam remangnya lampu kamar, netra biru milik Jalal menatapku dengan binar damba yang teramat tulus dan mendalam.
"Sayang... Boleh saya...?"
Belum sempat Jalal menyelesaikan kalimatnya, aku sudah bergerak lebih dulu memajukan wajahku dan membungkam bibirnya dengan sebuah ciuman manis. Jalal sempat terdiam sesaat karena terkejut dengan inisiatifku. Namun, tak butuh waktu lama bagi pria dewasa itu untuk membalas lumatan di bibirku dengan tidak kalah dalam.
Pagutan bibir kami menyatu erat dalam ritme yang awalnya lambat dan lembut, namun lama-kelamaan berubah menjadi semakin dalam, panas, dan menuntut jalinan yang lebih jauh.
"Yas... apa boleh saya menyentuhmu malam ini?" tanyanya berbisik parau di sela-sela ciuman kami yang menjalar ke leher.
Aku hanya bisa berdehem pelan dan menganggukkan kepala, memasrahkan seluruh jiwa dan ragaku pada suamiku. Dengan gerakan yang teramat lembut dan penuh kehati-hatian, jemari besar Jalal membuka satu per satu pakaian yang melekat di tubuhku, sebelum akhirnya dia dengan cepat menanggalkan pakaian miliknya sendiri.
Tanpa melepaskan pagutan bibir kami yang semakin intens, Jalal perlahan-lahan membenamkan seluruh kejantanannya masuk ke dalam diriku. Rasa sesak yang teramat padat seketika menghantam pertahananku. Setetes air mata dari rasa yang campur aduk—antara haru, bahagia, dan cinta—perlahan mengalir keluar dari sudut mataku.
Seolah mengerti dengan gejolak emosi yang kurasakan, Jalal menjeda gerakannya. Dia menunduk, dengan lembut mengecupi sisa air mata di pipi dan seluruh permukaan wajahku, sementara bagian bawah tubuhnya masih tertanam aktif di dalam kehangatan tubuhku. Pria itu bergerak dengan sangat hati-hati, ritmenya teratur, penuh kasih sayang, dan sama sekali tidak ada unsur kekerasan ataupun ketergesa-gesaan di dalamnya.
Perlakuan lembutnya malam ini sungguh berbanding terbalik dengan malam pertama kami tiga tahun lalu yang menyakitkan. Kali ini, kami benar-benar sedang memadu kasih bersama, saling bertukar rasa dan kerinduan yang terpendam. Untuk kedua kalinya kami bersatu, namun kali ini bukan hanya Jalal saja yang merasakan kenikmatan tiada tara, aku pun merasakan hal yang sama indahnya.
Hingga akhirnya, sebuah lenguhan rendah dan seksi menggema tepat di lubang telingaku, disusul oleh erangan berat dari bibir suamiku. "Saya sudah sampai, Yas... Saya keluarkan di dalam, ya!" ucap Jalal dengan suara serak yang memohon.
Aku tidak bisa berkata-kata lagi, hanya bisa mengangguk pasrah sembari mengeratkan pelukan lenganku pada pundak tegapnya. Detik berikutnya, aku bisa merasakan cairan hangat miliknya menyembur dan mengalir deras, membanjiri bagian terdalam dari rahimku, mengunci penyatuan suci kami di keheningan malam pedesaan.