"Empat tahun menikah, kau tak kunjung memberikanku keturunan! Sekarang lihatlah, aku memiliki anak dari wanita lain!" sentak sang suami sembari menunjuk wanita yang menghancurkan rumah tangganya.
Perpisahan keduanya, membuat Dinda benar-benar terpuruk. Terutama saat mengetahui suaminya selingkuh, hingga memiliki anak dari hubungan gelapnya.
"Titip putriku, Din. Tiga tahun lagi, aku bakal jemput dia," tutur mantan kekasihnya ditengah badai yang menandaskan rumah tangganya.
Kehidupan Dinda terfokus pada Glenka—bayi 18 bulan yang dititipkan padanya, dan melupakan pengkhianatan sang suami. Hingga pada akhirnya, ia telah menganggap bayi manis itu, selayaknya anak kandung.
Bagaimana kehidupan Dinda dan bayi mungil titipan mantannya? Akankah semua berakhir bahagia? Atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karita Ta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PTM | BAB 22
Ervin masih terpaku di balik kemudi mobilnya. Hujan rintik mulai turun membasahi kaca depan, namun pria itu sama sekali tidak berniat menjalankan mobilnya.
Tatapannya masih lurus ke arah butik, ke arah Dinda. Dan... bayi kecil yang kini tertawa dalam gendongannya.
Entah sejak kapan, senyum seperti itu menghilang dari wajah istrinya. Lebih tepatnya—Ervin yang membuat senyum itu perlahan mati.
Pria itu menelan ludah pahit saat melihat Dinda sibuk mengusap pipi Glenka yang belepotan biskuit. Bahkan wanita itu tertawa kecil ketika bayi tersebut justru menempelkan tangannya ke wajahnya.
Sangat natural, sangat hangat.
Dan pemandangan sederhana itu sukses membuat dada Ervin terasa sesak luar biasa. Karena dulu—Dinda sering membicarakan hal-hal kecil seperti ini.
Tentang bagaimana dirinya ingin punya anak perempuan, tentang bagaimana ia ingin mengikat rambut kecil putrinya nanti, tentang bagaimana rumah mereka akan terasa lebih hidup jika ada suara anak kecil.
Namun semua mimpi itu justru dihancurkan oleh dirinya sendiri.
Brak!
Tanpa sadar, Ervin memukul setir mobil cukup keras. Napasnya memburu, matanya memerah. “Bodoh...” makinya pelan pada diri sendiri.
Sedangkan di luar sana—Dinda masih terlihat tersenyum sambil menggendong bayi itu.
Dan yang paling menyakitkan—Raka terlihat berdiri di samping mereka. Seolah mereka memang sebuah keluarga kecil yang utuh.
“Gue ganggu kerjaan lo, nggak?” tanya Raka pelan setelah mereka duduk di area pantry butik.
“Nggak juga,” jawab Dinda sembari menyuapi Glenka bubur kecil perlahan.
Bayi itu duduk manis di pangkuannya sambil sesekali mengoceh tidak jelas. Lucu sekali.
“Dia doyan makan ternyata,” celetuk Dinda gemas.
Raka tertawa kecil. “Kalau cocok sama makanannya emang lahap.”
Sedangkan Glenka tiba-tiba membuka mulut kecilnya lagi meminta suapan berikutnya.
“Astaga...” Dinda terkekeh geli. “Pinter banget.”
Raka hanya diam memperhatikan. Lagi dan lagi—hatinya terasa aneh melihat interaksi mereka. Karena Dinda terlihat begitu alami bersama Glenka. Tidak canggung, tidak kaku.
Bahkan, putrinya terlihat sangat nyaman.
“Lo suka anak kecil ya?” tanya pria itu tiba-tiba.
Gerakan tangan Dinda sedikit terhenti. Namun wanita itu tetap tersenyum kecil. “Suka," sahutnya mengangguk ringan.
“Dari dulu?” Raka memandanginya lekat.
“Iya.” Jawaban singkat itu terdengar biasa saja.
Namun entah kenapa, Raka bisa merasakan ada luka tersembunyi di baliknya. Dan sebelum pria itu sempat berbicara lagi, suara notifikasi ponsel Dinda terdengar pelan.
Satu pesan masuk.
Mas Ervin.
Aku tunggu depan butik.
Jantung Dinda langsung berdetak tidak nyaman. Seketika senyum di wajah wanita itu sedikit memudar. Sedangkan Raka diam-diam menyadarinya.
“Kamu kenapa?” tanya Raka pelan.
Dinda langsung mematikan layar ponselnya.
“Enggak.”
Namun baru beberapa detik kemudian—salah satu pegawai butik tiba-tiba masuk dengan wajah bingung.
“Mbak Dinda... kayaknya ada yang nyariin.”
“Siapa?” wanita itu sudah menebak sejak awal. Hanya saja, ia berusaha mengulur waktu. Ia terlalu malas menemui suaminya.
“Itu...” wanita tersebut menunjuk ke arah luar kaca butik. “Suami Mbak.”
Seketika suasana mendadak canggung. Raka otomatis menoleh ke arah luar. Dan benar saja—Ervin berdiri di dekat mobilnya dengan tatapan lurus ke arah mereka.
Dinda mematung beberapa saat. Entah kenapa, dirinya mendadak gugup.
Sedangkan Glenka justru sibuk memainkan ujung rambutnya tanpa peduli situasi sekitar.
“Aku keluar bentar,” ujar Dinda pelan.
Namun baru saja dirinya berdiri, jemari kecil Glenka langsung mencengkram bajunya erat.
“Maaa...”
Seketika langkah Dinda terhenti. Dan suara kecil itu—tanpa sadar terdengar sampai ke telinga Ervin yang berdiri tak jauh dari pintu masuk butik.
Deg.
Tubuh pria itu langsung membeku. Sedangkan Dinda terlihat panik sendiri. “Eh sayang...” lirihnya refleks.
Namun Glenka justru mulai merengek kecil ketika Dinda mencoba melepaskan genggamannya. “Aaaa... maaa...”
“Ya Allah...” salah satu pegawai butik langsung gemas sendiri.
Sedangkan Ervin—pria itu justru merasakan dadanya seperti diremas kuat. Karena panggilan sederhana itu terdengar begitu menyakitkan baginya.
Ma.
Sebuah panggilan yang dulu sangat diharapkan hadir dalam rumah tangganya. Dan sekarang—ia mendengarnya dari anak laki-laki lain yang memanggil istrinya.
Raka yang menyadari perubahan wajah Ervin langsung berdiri perlahan.
Tatapan kedua pria itu bertemu untuk pertama kalinya. Dan suasana langsung berubah dingin.
“Lo keluar aja,” ujar Raka pelan pada Dinda. “Glenka biar sama gue dulu.”
Namun anehnya—begitu Raka mencoba menggendong putrinya, Glenka malah mulai menangis. “Huaaa...”
Dinda langsung panik tak karuan. “Sst.. Sst.. Sst... Jangan nangis, okey?” Dan lagi—begitu kembali ke pelukan Dinda, bayi kecil itu langsung diam sambil memeluk leher wanita tersebut erat.
Ruangan mendadak hening. Sedangkan Ervin—ia hanya bisa menatap semua itu dengan hati yang perlahan hancur.
*****
Beberapa menit kemudian, Dinda akhirnya keluar butik menemui suaminya. Sedangkan Ervin, berdiri diam di dekat mobilnya sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana.
Tatapan pria itu langsung jatuh pada Glenka yang masih berada dalam pelukan Dinda.
“Lucu ya,” gumam Ervin pelan. Namun, Dinda tidak langsung menjawab. “Anaknya siapa?” tanya pria itu lagi.
“Anaknya Raka," sahut Dinda singkat.
“Pacar baru kamu?” Ervin berusaha menebak. Kemudian, Dinda langsung mengangkat wajahnya cepat.
“Apa?” sahut Ervin sembari tertawa hambar.
“Maaf. Aku cuma...” pria itu mengusap wajah kasar. “Ah sial, cemburu ternyata sesakit ini."
Kalimat itu sukses membuat Dinda kehilangan kata-kata. Karena selama empat tahun menikah—ia belum pernah melihat Ervin serapuh ini.
“Aku nggak ada hubungan apa-apa sama Raka.” Dinda menundukkan kepalanya.
“Aku tahu.” Ervin menyahuti cepat.
“Terus kenapa ngomong begitu?” Dinda memberanikan diri menatap netra suaminya.
Kemudian dibalas dengan pria itu menatap lurus ke arahnya cukup lama. Sampai akhirnya tersenyum kecil penuh luka.
“Karena aku takut.” Ervin mengakuinya.
Jantung Dinda terasa ngilu mendengarnya.
“Takut apa?” respon wanita itu.
“Aku takut, suatu saat... Kamu beneran bahagia tanpa aku.” Ervin memandang wajah istrinya penuh harap.
Dan untuk pertama kalinya—Dinda tidak mampu membantahnya. Karena perlahan, dirinya memang mulai belajar hidup tanpa Ervin.
“Mas...” lirih wanita itu pelan.
Namun Ervin justru menggeleng kecil. “Aku nggak datang buat ribut, Din." Tatapannya kembali turun pada Glenka yang kini sibuk memainkan kalung kecil Dinda.
“Aku cuma pengen lihat kamu.”
Suasana kembali hening. Sampai akhirnya Ervin berkata pelan—“Kamu cocok gendong bayi.”
Deg.
Dada Dinda langsung terasa sesak. Sedangkan pria itu tertawa kecil hambar. “Dulu kamu sering bilang pengen punya anak perempuan.”
Dan lagi-lagi—kalimat itu sukses menghantam hati Dinda tanpa ampun. Karena semua mimpi itu sekarang terasa sangat jauh.
“Aku nyesel, Din...” lirih Ervin dengan mata memerah. “Setiap lihat kamu sekarang... aku makin sadar kalau aku udah menghancurin orang paling baik di hidup aku.”
Air mata Dinda hampir jatuh saat itu juga.
Namun sebelum suasana semakin emosional—suara kecil Glenka tiba-tiba terdengar lagi.
“Maa...” Bayi itu memeluk leher Dinda erat sambil menyandarkan kepalanya nyaman.
Dan anehnya—untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan ini dimulai, Dinda merasa ada bagian kosong di dalam dirinya yang perlahan terisi kembali.