NovelToon NovelToon
Cinderella Ubi Rebus

Cinderella Ubi Rebus

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Komedi
Popularitas:435
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Alin, gadis yatim piatu yang dekil dan jerawatan, mendadak punya kekuatan magis: bisa berubah jadi bidadari glowing setiap kali makan ubi rebus! Sialnya, sihir ini punya kedaluwarsa dan luntur tepat tengah malam.

Masalah makin rumit saat Alin tidak sengaja merusak hoodie mahal seharga 8 juta milik Rakha Pratama Bagaskara—kakak kelas arogan yang ternyata tetangga kamar kosnya! Karena tidak bisa ganti rugi, Alin dipaksa menjadi budak pembersih kamar kos Rakha setiap hari.

Tensi makin memanas ketika Rayi Arjuna Bagaskara—kembaran Rakha yang super ramah—mulai gencar mendekati Alin. Sementara Rayi tulus menyukai Alin yang apa adanya, Rakha justru gila-gilaan mengejar sosok "Bidadari Glowing" malam hari, tanpa sadar kalau cewek itu adalah pembantu kosan yang setiap hari ia tindas!

Bagaimana jadinya jika sihir ubi rebus Alin habis tepat tengah malam di dalam kamar kos Rakha?

"Nggak usah panggil gue Kakak. Ntar kalau udah sah, baru lo panggil gue Sayang!" — Rakha.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14. Pertemuan dengan pemilik butik

Dia mirip sekali dengan Alysa... wajahnya, matanya. Tapi tidak mungkin dia adalah anak yang hilang itu, kan? batin wanita itu dengan tatapan sendu yang mendadak meredup.

"Maaf Nak, kalau boleh tahu nama kamu siapa? Sepertinya kamu masih sekolah, umur kamu berapa tahun sekarang?" tanya wanita itu memecah keheningan meja makan.

Alin buru-buru mengelap sudut bibirnya dengan selembar tisu lecek. "Nama aku Alin, Tante. Tahun ini aku baru mau masuk SMA Garuda lewat jalur beasiswa. Umur aku baru lima belas tahun."

"Jangan panggil saya Tante, panggil saja Oma Karin. Sepertinya kamu seumuran dengan cucu saya yang... sudah tidak ada," ucapnya dengan nada suara yang tiba-tiba memberat dipenuhi kedukaan terpendam.

Alin menghentikan kunyahannya sejenak, merasa tidak enak. "Memangnya cucu Oma ke mana? Dan maaf Oma, kalau boleh tahu umur Oma berapa tahun? Menurut aku belum pantas dipanggil Oma loh, soalnya wajah Oma masih kelihatan sangat muda dan cantik."

Wanita bernama Karin itu terkekeh pelan, jari-jarinya yang lentik memainkan sedotan di gelasnya. "Cucu saya hilang 15 tahun yang lalu, dan mungkin... sudah meninggal. Mengenai umur Oma, sebenarnya sudah enam puluh lima tahun. Tapi memang benar, struktur rupa Oma ini dirawat dengan baik jadi awet muda, tidak kelihatan seperti nenek-nenek keriput," ujarnya dengan tingkat kepercayaan diri yang elegan khas sosialita kelas atas.

"Oh begitu ya, Oma," jawab Alin singkat.

Matanya secara tidak sengaja melirik ke arah layar ponsel jadulnya yang retak di sudut meja. Sontak saja ia tersedak kecil. Jarum jam digital di ponselnya menunjukkan pukul 14:15 siang.

"Aduh! Oma, Alin harus buru-buru menghabiskan makanannya!" ucap Alin panik sambil menyuap sisa nasi terakhirnya dengan gerakan super cepat seperti dikejar herder.

"Sepertinya kamu sedang dikejar waktu? Kenapa mendadak panik begitu?" tanya Oma Karin heran melihat perubahan ekspresi Alin yang drastis.

"Iya Oma, lima belas menit lagi Alin harus sudah sampai di tempat kerja. Takut telat satu detik pun, nanti Alin kena omelan badak dari Bu Sinta lagi," jawab Alin sambil kelabakan mengemasi barang-belanjaan buku tulisnya.

Oma Karin mengernyitkan alis sempurnanya yang tertata rapi. "Memangnya anak seumuran kamu sudah bekerja? Lalu orang tua kamu di mana? Kamu kan masih di bawah umur, kok sudah banting tulang mencari uang?"

Alin terdiam seketika. Gerakan tangannya mengunci tas ransel langsung terhenti. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap lantai restoran yang mengkilap dengan sorot mata yang mendadak layu.

"Eumm... anu Oma, Alin tidak punya orang tua lagi. Aku yatim piatu sejak kecil. Aku bekerja mencuci piring di sebuah rumah makan yang terletak tidak jauh dari gang kosan tempat Alin tinggal. Ya harus bagaimana lagi Oma, kalau Alin tidak bekerja keras, Alin nggak bisa makan dan bayar kosan," bisik Alin dengan nada parau yang menusuk hati siapa saja yang mendengarnya.

Mendengar pengakuan jujur itu, jantung Oma Karin merasa seolah diremas oleh tangan tak kasat mata. Ia merasa sangat bersalah dan berdosa telah menanyakan hal sensitif yang membuka luka lama anak itu.

Melihat gadis sekecil dan setulus Alin harus hidup sebatang kara, berjuang mati-matian di kerasnya kota sebesar Jakarta membuat rasa ibanya memuncak ke level tertinggi. Sebuah ide bisnis sekaligus naluri keibuannya tiba-tiba muncul di kepalanya.

"Alin, bagaimana kalau kamu bekerja di butik fashion mewah milik saya sebagai model pemotretan? Kebetulan Oma sedang butuh model remaja untuk lini pakaian wanita terbaru. Sudah hampir setahun ini tidak ada model tetap yang memiliki aura pas... seperti cucu Oma," tawar Oma Karin dengan mata biru yang berbinar-binar penuh harap.

Alin terbelalak sempurna, hampir tidak percaya dengan indra pendengarannya sendiri. "Tapi... tapi aku masih sekolah Oma! Beberapa hari lagi aku sudah harus masuk masa orientasi SMA Garuda. Sepulang sekolah pun Alin harus kerja dari jam tiga sore sampai jam delapan malam di rumah makan Bu Sinta, kecuali hari Minggu. Tapi sebenarnya... Alin memang butuh pekerjaan tambahan pagi hari Oma, uang tabunganku sudah mepet banget. Kalau Oma nggak keberatan sih Alin mau! Besok pagi sampai siang juga aku bisa, sampai beberapa hari ke depan sebelum masuk sekolah."

"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan soal jam kerja itu. Oma sama sekali nggak masalah. Sesi pemotretannya juga hanya sebentar jika kamu pintar berpose, tidak sampai dua jam selesai. Terserah kamunya saja, kalau kamu ada waktu luang di pagi hari, kamu langsung hubungi Oma," jawab Oma Karin santai namun pasti.

"Tapi... aku kan nggak ada bakat jadi model, Oma! Dan ini baru pertama kalinya dalam hidupku. Jalanku aja kadang masih sering tersandung," ujar Alin sambil meremas jari-jarinya, merasa sangsi dan tidak percaya diri dengan penampilan fisiknya yang saat ini menggunakan efek ubi rebus cinderella alias menyembunyikan identitas wajahnya yang jerawatan.

Oma Karin menepuk bahu Alin lembut, mencoba menyalurkan rasa percaya diri. "Kamu tenang saja, nanti Oma akan suruh orang profesional untuk mengajarimu sekaligus menjadi partner kerjamu di studio. Dia sudah bekerja cukup lama dengan Oma, hampir dua tahun ini. Dia juga cucu dari teman dekat Oma sendiri."

"Partnernya... cewek apa cowok, Oma?" tanya Alin polos dengan wajah tanpa dosa.

"Jelas cowoklah! Ngapain Oma repot-repot menyuruhmu jadi model pakaian perempuan sendirian? Dia itu model utama untuk lini pakaian pria di butik Oma. Sayang banget kan kalau wajah kamu yang cantik dan berkarakter seperti itu disia-siakan begitu saja? Mending jadi model papan atas saja di butik Oma," jelas Oma Karin berusaha meyakinkan Alin, matanya meneliti struktur wajah Alin yang ia yakini akan sangat cantik bak bidadari jika memakai pakaian mewah atau di poles sedikit make-up. Oma Karin belum tahu saja kalau wajah Alin bisa berubah jadi dewi dalam semalam.

"Tapi aku kan pendek Oma, tinggi aku cuma 160 senti. Kalau standar model kan harus yang tinggi semampai," sanggah Alin lagi, masih minder.

Oma Karin mencondongkan tubuhnya ke depan meja, lalu berbisik dengan nada menggoda yang sangat mematikan bagi kaum miskin, "Gajinya lumayan besar loh, Alin... Untuk satu kali sesi pemotretan bertema, kamu akan langsung dibayar dua juta rupiah tunai. Apalagi kalau kamu ada waktu tiap hari minggu ini, kan bisa buat tambah tabungan. Masalah tinggi badan, Oma punya trik kamera dan sepatu khusus. Jadi, sekarang pilihan ada di kamu, mau uangnya atau tidak??"

Mata Alin seketika berbinar terang memancarkan kilau dolar mendengar nominal horor tersebut. Dua juta rupiah untuk sekali foto selama dua jam?! Itu setara dengan gajinya mencuci piring selama satu bulan penuh di rumah makan Bu Sinta! Saraf ekonominya langsung menjerit histeris.

"Deal!! Alin mau banget, Oma!!" seru Alin bersemangat.

Oma Karin tersenyum puas penuh kemenangan. Ia segera menyambar ponsel jadul Alin yang retak, lalu mencatatkan nomor telepon pribadinya yang berdigit cantik di sana. "Simpan nomor Oma baik-baik ya, jangan sampai hilang."

"Siap dilaksanakan, Kapten Oma!" seru Alin sambil memberikan gerakan hormat pramuka yang lucu, membuat tawa Oma Karin meledak lepas di dalam restoran.

"Jadi mulai besok pagi Alin bisa langsung datang kerja ke butik tempat Oma??" tanya Alin memastikan, memastikan ini bukan penipuan berkedok agensi model.

"Ya terserah kamu, itu juga kalau kamu ada waktu luang besok pagi. Tapi ingat, sebelum datang kamu harus hubungi nomor Oma dulu! Kamu mengerti, kan?!"

"Siap, mengerti Oma!"

Setelah kesepakatan darurat itu selesai, mereka berdua melangkah keluar dari restoran. Alin yang kini merasa memiliki harapan hidup dan masa depan baru segera berlari kencang menuju halte angkutan umum untuk berangkat kerja mencuci piring. Sementara Oma Karin menaiki taksi Bluebird yang ongkos arlonya telah dibayar di muka secara tunai oleh Alin dari hasil gesek ATM gajinya tadi.

Mereka berpisah di tengah kepulan debu jalanan Jakarta dengan senyuman lebar, masing-masing membawa rahasia takdir dan rencana besar untuk hari esok yang dipastikan tidak akan pernah berjalan biasa saja.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!