Bagi Aura, mahasiswa tingkat akhir penerima beasiswa penuh, hidup ini sederhana: belajar keras, lulus cepat, dan dapat kerja bagus demi menyembuhkan ibunya yang sakit. Dunia Aura diatur oleh jadwal kuliah yang ketat dan nilai IPK yang sempurna. Ia menjauhi segala bentuk masalah, termasuk Devan, mahasiswa jurusan hukum yang terkenal arogan, kerap bolos, dan selalu dikelilingi aura berbahaya. Devan adalah definisi nyata dari bad boy kampus yang harus dihindari.
Permusuhan mereka dimulai dari hal sepele—rebutan buku referensi langka di perpustakaan dan insiden kopi tumpah yang membuat Devan bersumpah akan membuat hidup Aura di kampus seperti neraka. Aura menganggap Devan tak lebih dari berandalan kaya yang manja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Penyergapan gudang di Jakarta Barat dan penyerahan barang bukti siber ke Mabes Polri seharusnya mengunci pergerakan Vanguard Maritim di Asia Tenggara untuk selamanya. Namun, dokumen-dokumen hukum internasional yang disusun Aura justru memicu reaksi berantai yang tidak terduga di belahan bumi lain. Di markas besar mereka di Jenewa, para petinggi Vanguard menyadari bahwa eksistensi mereka sebagai sindikat global berada di ambang kehancuran total jika draf investigasi gabungan Interpol dan kejaksaan agung dirilis ke publik.
Bagi korporasi bayangan yang terdesak, opsi terakhir bukanlah mundur, melainkan melakukan amputasi taktis secara radikal. Mereka mengaktifkan "Opsi Ketiga"—sebuah skenario bumi hangus digital yang dirancang untuk menghapus seluruh jejak keterlibatan mereka, sekaligus menarik klan Bratadikara ke dalam pusaran skandal hukum domestik yang tidak bisa diselesaikan di ruang sidang internasional.
Pukul sepuluh pagi, Menara Bratadikara kembali diguncang oleh krisis baru yang datang dari arah yang paling tidak terduga: institusi penegak hukum dalam negeri.
Brak.
Pintu ruang kerja utama di lantai lima puluh lima tidak dibuka oleh Kenzo atau Bram, melainkan oleh deretan pria berjas hitam dengan pin perak khas Satuan Khusus Kejaksaan Agung dan Badan Pemeriksa Keuangan. Mereka melangkah masuk dengan formasi kaku, dipimpin oleh seorang jaksa senior berwajah dingin bernama Abraham Utama—pria yang dikenal sebagai sekutu lama klan Mahendra sebelum faksi tersebut dihancurkan Devan lima tahun lalu.
Aura yang sedang meninjau draf pemulihan aset bersama Devan langsung berdiri tegap. Aura mengancingkan blazer hitamnya, memasang ekspresi profesional terbaiknya sebagai seorang General Counsel.
"Selamat pagi, Tuan-Tuan," sapa Aura, suaranya jernih dan tenang tanpa riak kepanikan sedikit pun. "Saya rasa tidak ada agenda pemeriksaan atau panggilan resmi yang dijadwalkan untuk Bratadikara Group hari ini. Boleh saya lihat surat perintah Anda?"
Jaksa Abraham melangkah maju, meletakkan sebuah map merah tebal bermeterai resmi negara di atas meja marmer. "Nyonya Aura Kirana, kami ke sini bukan untuk meminta klarifikasi bisnis biasa. Kami membawa surat perintah penyitaan darurat dan pembekuan sementara terhadap seluruh aset operasional Gavinandra Legal & Logistics Hub di Pelabuhan Utara."
Devanandra yang sejak tadi duduk bersandar di kursi kebesarannya perlahan bangkit. Gerakannya begitu santai, namun atmosfer di dalam ruangan seketika terasa mencekam. Sepasang mata elangnya mengunci pandangan Abraham dengan intensitas yang membuat dua pengawal di belakang jaksa tersebut reflek memegang sabuk senjata mereka.
"Atas dasar apa, Jaksa Abraham?" tanya Devan, suaranya bergetar rendah, memancarkan ancaman tak kasat mata.
"Atas dasar temuan aliran dana mencurigakan sebesar dua ratus juta dolar yang masuk ke rekening Aura Kirana Foundation dua belas jam yang lalu," jawab Abraham, tatapannya beralih pada Aura. "Dana tersebut terbit dari rekening bank cangkang di Kepulauan Cayman yang tercatat atas nama organisasi pendanaan aktivitas terorisme internasional. Vanguard Maritim baru saja merilis draf pengakuan di Eropa bahwa mereka adalah korban pemerasan hukum oleh Bratadikara Group, dan dana dua ratus juta dolar itu adalah uang tebusan yang Anda peras di Singapura minggu lalu."
Aura sesaat tertegun. Otaknya yang setajam silet langsung memetakan pola serangan baru ini. Ini adalah manipulasi tingkat tinggi. Vanguard sengaja mentransfer uang dari jaringan gelap mereka sendiri ke yayasan filantropi Aura, lalu berpura-pura menjadi korban pemerasan di depan media internasional. Dengan memanfaatkan oknum hukum domestik seperti Abraham yang memiliki dendam masa lalu, mereka berhasil membalikkan posisi Bratadikara dari pelapor menjadi tersangka utama pencucian uang terorisme.
"Mereka memotong jalur legalitas domestik kita, Dev," ucap Aura tiga puluh menit kemudian, setelah berhasil menegosiasikan penundaan penyegelan fisik selama dua puluh empat jam menggunakan celah hukum acara perdata.
Pintu ruang kerja kini telah dikunci rapat dari dalam. Kenzo duduk di depan komputernya dengan jemari yang bergerak secepat kilat, sementara Bram memeriksa setiap sudut ruangan dengan alat pendeteksi penyadap frekuensi radio.
"Jaksa Abraham sengaja menggunakan momentum ini sebelum draf bukti dari siberia yang kita serahkan ke Mabes Polri kemarin sempat divalidasi oleh sistem administrasi," Kenzo menjelaskan tanpa menoleh dari layarnya. "Secara sistem, saat ini yayasan Aura terlihat seperti menerima uang haram secara sadar. Jika media mencium hal ini dalam waktu tiga jam, reputasi Bratadikara Group hancur di bursa saham, dan kita akan kehilangan hak konsesi Pelabuhan Utara."
Devan berjalan mendekati meja Aura, meletakkan kedua telapak tangan besarnya di atas meja kayu mahoni. "Gue bisa memerintahkan tim taktis untuk mengamankan Abraham dan mencari tahu siapa yang membayarnya di dalam negeri, Ra. Kita potong jalurnya dari bawah."
"Jangan, Devan," Aura memegang pergelangan tangan suaminya, menatap langsung ke dalam mata elang Devan dengan ketegasan yang mutlak. "Jika kamu menyentuh seorang jaksa agung senior di tengah penyelidikan resmi, itu akan menjadi konfirmasi bagi publik bahwa kita menggunakan kekerasan untuk menutupi kejahatan. Itu adalah draf skenario yang diinginkan Vanguard. Kita harus mematahkan jebakan ini dengan menggunakan alat yang sama dengan yang mereka gunakan: transparansi hukum siber secara instan."
Aura menoleh ke arah Kenzo. "Ken, apakah lo bisa melacak jalur otentikasi kunci enkripsi privat (private key) dari transfer dua ratus juta dolar itu? Transfer sebesar itu dari Caymans pasti menggunakan protokol kliring khusus yang membutuhkan tanda tangan digital berlapis."
Kenzo menghentikan gerakannya, sebuah senyuman miring mulai terukir di wajahnya yang lelah. "Bisa, Ra. Dan tebak siapa yang menandatangani otoritas transfer itu? Bukan eksekutif Vanguard yang ada di Jenewa, tapi sebuah akun master tersembunyi yang lokasinya terlacak sedang aktif di sebuah hotel mewah di kawasan Segitiga Emas Jakarta saat ini. Dalang internasionalnya ada di kota ini, mengendalikan Abraham secara langsung."
Siang itu, hujan gerimis mulai membasahi kaca-kaca gedung tinggi di kawasan Sudirman. Di dalam kamar griya tawang lantai teratas Hotel Regent, seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan setelan jas khas Eropa duduk di depan tiga layar monitor besar yang menampilkan pergerakan saham Bratadikara Group yang mulai menunjukkan grafik penurunan. Ia adalah Marcus Vance, kepala operasi taktis wilayah Asia untuk Vanguard Maritim.
"Jaksa Abraham sudah berada di lokasi?" tanya Marcus melalui telepon satelitnya.
"Sudah, Tuan Vance. Proses pembekuan aset akan selesai sebelum jam bursa ditutup," jawab sebuah suara di seberang telepon.
Marcus tersenyum puas, meneguk wiski di gelasnya. Namun, senyumannya tidak bertahan lebih dari tiga detik.
Bzzzzt... Klik.
Seluruh layar monitor di depannya mendadak mati, berganti dengan logo timbangan hukum berwarna hitam keperakan—lambang baru dari klan Bratadikara. Pintu kamar hotel yang dilapisi sistem kunci elektronik digital berbunyi bip dua kali, lalu terbuka secara perlahan secara otomatis.
Sosok Devanandra melangkah masuk terlebih dahulu. Jaket taktis hitamnya tampak sedikit basah oleh air hujan, dan tatapan matanya begitu dingin, memancarkan aura kematian yang nyata. Di sampingnya, Aura Kirana berjalan dengan langkah anggun namun mantap, membawa sebuah sabak digital yang menampilkan manifes data kliring bank yang baru saja diretas oleh Kenzo.
Bram dan dua pengawal bersenjata lengkap langsung menutup pintu hotel dari dalam, mengunci Marcus di dalam ruangannya sendiri.
"Bagaimana Anda bisa... sistem keamanan hotel ini..." Marcus gagap, menjatuhkan gelas wiskinya hingga pecah berantakan di atas karpet.
"Sistem keamanan hotel Anda menggunakan enkripsi Aegis-7, Tuan Vance," Aura bersuara, melangkah mendekati meja kerja Marcus dengan ketenangan seorang jaksa penuntut umum di ruang sidang mahkamah. "Sistem yang sama yang saya nyatakan usang di Singapura minggu lalu. Asisten taktis kami hanya butuh waktu sembilan puluh detik untuk mengambil alih seluruh kendali gedung ini."
Aura meletakkan sabak digitalnya di depan Marcus. Layar itu menampilkan draf bukti transfer dua ratus juta dolar, lengkap dengan log aktivitas biometrik sidik jari dan verifikasi wajah Marcus yang dilakukan dari dalam kamar hotel tersebut tiga jam lalu.
"Ini adalah bukti orisinal bahwa transfer tersebut adalah tindakan fabrikasi sepihak yang Anda lakukan untuk menjebak yayasan saya," kata Aura, matanya menatap tajam pria Eropa di hadapannya. "Secara hukum perbankan internasional pasal tiga puluh dua, dokumen ini sudah lebih dari cukup untuk membuat Anda diekstradisi atas tuduhan sabotase keuangan dan konspirasi kriminal tingkat tinggi."
Marcus mencoba meraih laci mejanya, di mana sebuah pistol Glock tersembunyi, namun sebelum jarinya sempat menyentuh gagang kayu meja, Devanandra telah bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
Brak!
Tangan kanan Devan mencengkeram leher Marcus, menekannya kuat-kuat ke atas meja marmer hingga pria asing itu terengah-engah menahan sakit. Urat-urat di lengan bertato Devan menegang keras, memancarkan kemarahan seorang ayah yang ruang privasi keluarganya telah diusik berturut-turut.
"Jangan pernah mencoba bergerak, jika lo masih ingin melihat matahari terbit besok pagi," bisik Devan, suaranya begitu rendah dan tajam, mengirimkan getaran ketakutan yang murni ke dalam tulang belakang Marcus. "Istri gue sudah membawa draf hukumnya ke sini. Tugas lo sekarang adalah menandatangani draf pengakuan dosa lo, atau gue yang akan menulis draf kematian lo di kamar ini sekarang juga."
Pukul empat sore, di lobi utama Menara Bratadikara, Jaksa Abraham bersama timnya sedang bersiap untuk memasang garis penyegelan resmi di pintu masuk divisi logistik. Media massa mulai berdatangan, kamera-kamera jurnalis telah terpasang, siap menyiarkan jatuhnya dinasti Bratadikara.
Namun, sebelum Abraham sempat membacakan surat perintahnya di depan kamera, sebuah siaran langsung mendadak memotong seluruh frekuensi televisi nasional dan internasional.
Layar menampilkan wajah Marcus Vance yang duduk di dalam ruang interogasi resmi Mabes Polri, didampingi oleh Kepala Divisi Hubungan Internasional kepolisian. Dengan suara bergetar dan wajah pucat, Marcus membacakan draf pengakuan resmi mengenai seluruh konspirasi yang dilakukan Vanguard Maritim—termasuk manipulasi manifes nuklir di Selat Malaka dan transfer dana palsu senilai dua ratus juta dolar ke yayasan Aura Kirana untuk menjebak klan Bratadikara.
Marcus juga menyebutkan secara spesifik nama Jaksa Abraham Utama sebagai oknum domestik yang menerima suap sebesar lima juta dolar untuk mempercepat proses pembekuan aset ilegal tersebut.
Wajah Jaksa Abraham seketika berubah menjadi seputih kertas. Surat perintah di tangannya terlepas, jatuh ke atas lantai marmer lobi. Sebelum ia sempat berbalik untuk melarikan diri, empat petugas dari Divisi Profesi dan Pengamanan Internal Kejaksaan Agung yang baru saja tiba langsung menghadang langkahnya, memasangkan borgol besi di kedua pergelangan tangannya di depan ratusan sorot kamera wartawan.
Dari atas balkon lantai mezanin lobi, Devan dan Aura berdiri berdampingan, menyaksikan runtuhnya konspirasi musuh dengan ketenangan dua penguasa sejati. Aura melingkarkan tangannya di lengan kokoh Devan, merasakan ketegangan di tubuh suaminya akhirnya mencair sepenuhnya.
"Skenario yang sempurna, Good Girl," bisik Devan, menumpu dagunya di puncak kepala Aura, menikmati kemenangan bersih yang kembali mereka raih tanpa perlu menumpahkan darah di ruang publik.
"Hukum selalu menemukan jalannya, Devanandra, selama kita tahu bagaimana cara menulis drafnya dengan benar," jawab Aura sambil tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu tegap Devan.
Di bawah sana, kilatan lampu kamera wartawan kini beralih menatap ke atas, mengabadikan sosok pasangan penguasa Menara Bratadikara yang berdiri tegak di atas ketinggian Jakarta—sebuah pembuktian mutlak bahwa aliansi antara kekuatan perlindungan tanpa batas dan kecerdasan hukum yang agung tidak akan pernah bisa digoyahkan oleh labirin konspirasi mana pun di dunia ini.