NovelToon NovelToon
Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2.1M
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Kiara Valeska Pratama, desainer muda berbakat lulusan terbaik Jakarta tak pernah menyangka hidup glamornya akan runtuh hanya karena satu kata, perjodohan. Dijodohkan dengan anak Pak Kades dari desa pelosok, Kiara memilih kabur ke Bali dan mengabaikan hari pernikahannya sendiri.

Baginya, menikah dengan pria kampungan yang hidup di desa kumuh adalah mimpi buruk terbesar. Namun, Kiara tak tahu satu hal. Pria desa yang ia remehkan itu adalah Alvar Pramesa, dokter obgyn lulusan terbaik luar negeri yang meninggalkan karier gemilang demi kembali ke desa, merawat orang tuanya dan mengabdi pada tanah kelahirannya. Pernikahan tanpa kehadiran pengantin wanita menjadi awal dari konflik, gengsi, dan benturan dua dunia yang bertolak belakang. Gadis kota yang keras kepala dan pria desa yang tenang namun tegas, dipaksa hidup dalam satu atap.


Akankah cinta tumbuh dari perjodohan yang penuh luka dan salah paham?
Atau justru ego Kiara akan menghancurkan ikatan yang terlanjur terjalin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Kiara terbangun lebih dulu. Bukan karena suara alarm, bukan pula karena cahaya matahari yang menyelinap lewat celah gorden. Dia terbangun karena perasaan asing yang hangat dan nyeri pada tubuhnya. Dadanya terasa ringan, seolah ada beban lama yang diam-diam dilepas semalam.

Kiara tak langsung membuka mata.

Beberapa detik, Kiara hanya mendengarkan napas di sampingnya. Teratur, dan dalam, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat ketika ia menyadari, Alvar masih di sini.

Pelan-pelan, Kiara membuka mata.

Cahaya pagi jatuh lembut ke wajah Alvar yang tertidur menghadapnya. Pria itu tampak berbeda saat tidur. Tidak dingin, tidak kaku, garis wajahnya terlihat lebih lembut, alisnya tak lagi berkerut seperti biasanya. Kiara menelan ludah, lalu tanpa sadar tersenyum.

'Ini beneran ya … bukan mimpi.'

Tangannya bergerak pelan, hampir tanpa suara, merapikan ujung selimut yang sedikit bergeser. Saat itulah Alvar bergumam kecil, lalu membuka mata.

Tatapan mereka bertemu, Kiara refleks menarik tangannya, wajahnya langsung memanas.

 “A-aku … aku mau bangun,” katanya gugup, suara terdengar lebih kecil dari biasanya.

Alvar mengedip, seolah masih menyesuaikan diri dengan pagi. Lalu senyum tipis terbit di sudut bibirnya, senyum yang berbeda.

“Pagi,” ucapnya pelan. Satu kata itu membuat Kiara ingin bersembunyi di balik selimut.

“P-pagi,” balas Kiara cepat, lalu berdeham. “Aku mau … ke kamar mandi.”

Kiara mencoba bangun, tapi pergelangan tangannya tertahan lembut.

“Kiara,” panggil Alvar, suaranya rendah dan tenang. Tidak menahan, hanya meminta. Saat Kiara menoleh, Alvar sudah duduk bersandar, menatapnya dengan mata yang sama sekali tak asing lagi.

“Kamu baik-baik aja?” tanyanya sungguh-sungguh.

Pertanyaan sederhana itu membuat Kiara terdiam. Lalu, ia mengangguk pelan.

“Baik,” jawabnya jujur.

“Lebih dari baik.” Kiara tersenyum malu.

Alvar tersenyum kali ini jelas merujuk pada kejadian tadi malam.

“Syukurlah.”

Keheningan kembali jatuh, kali ini canggung tapi manis. Kiara menunduk, memainkan ujung selimut. Alvar memperhatikannya, lalu berdehem kecil.

“Kamu … mau mandi duluan?” tanyanya, mencoba terdengar santai.

Kiara mengangguk cepat. “Iya.”

Kiara berdiri terlalu cepat, nyaris tersandung karpet. Alvar refleks meraih pinggangnya sebentar untuk menahan. Mata mereka kembali bertemu, Kiara langsung membeku.

“Ma—makasih,” katanya cepat, lalu buru-buru masuk kamar mandi tanpa berani menoleh lagi.

Di balik pintu, Kiara menutup wajahnya dengan kedua tangan. Pipinya panas, jantungnya berisik. Dia menatap bayangannya di cermin, rambut sedikit berantakan, mata masih mengantuk, tapi ada sesuatu yang berbeda di sana.

Sementara itu, di kamar, Alvar tersenyum kecil sendirian. Dia mengusap wajahnya, lalu menatap sekeliling kamar Kiara. Kamar itu kini terasa berbeda baginya, bukan sekadar ruangan penuh kenangan lama, tapi tempat di mana sesuatu yang baru mulai tumbuh.

Beberapa menit kemudian, Kiara keluar dengan rambut masih setengah basah, mengenakan pakaian rumah yang sederhana. Alvar berdiri dari tepi tempat tidur.

“Gantian aku,” katanya.

“Handuknya … yang kemarin,” ucap Kiara sambil menunjuk lemari kecil, lalu berhenti. “Eh—yang bersih maksudnya.”

Alvar terkekeh pelan. “Aku tahu.”

Saat Alvar masuk kamar mandi, Kiara duduk di tepi ranjang. Tangannya meraih ponsel, tapi tak benar-benar dibuka. Pikirannya melayang ke tatapan Alvar pagi ini, ke caranya bertanya apakah ia baik-baik saja.

Tak lama, ketukan pelan terdengar di pintu.

“Kiara,” suara Melati terdengar.

“Sarapan sudah siap.”

Kiara bangkit.

“Iya, Ma.”

Alvar keluar tak lama kemudian. Rambutnya masih sedikit basah, kemejanya rapi. Ia menoleh ke Kiara, lalu mengulurkan tangan tanpa berkata apa-apa.

Kiara ragu sepersekian detik lalu menggenggamnya.

Di meja makan, suasana terasa lebih hangat dari biasanya. Tuan Rahmat tersenyum melihat mereka duduk bersebelahan. Melati memperhatikan dari balik cangkir teh, lalu berdeham kecil.

“Kalian kelihatan … lebih segar,” katanya sambil tersenyum penuh arti.

Kiara hampir tersedak.

Alvar menoleh, lalu menjawab tenang, “Tidurnya cukup, Ma.”

Kiara menunduk, senyum kecil tak bisa disembunyikan.

Saat tangan Alvar menyentuh punggung tangannya di bawah meja, sekadar sentuhan singkat Kiara menoleh, dan mereka saling tersenyum kecil. Tak ada kata, tapi ada pemahaman yang diam-diam lahir di sana.

“Kalau kamu sudah di Jakarta, Alvar, Papa harap kamu bisa mulai bekerja,” ujarnya.

“Ilmu kamu sayang kalau tidak dipakai.”

Alvar meletakkan sendoknya perlahan. Ia tidak langsung menjawab, justru melirik ke arah Kiara yang duduk di sampingnya. Tatapan itu singkat, tapi sarat makna.

“Maaf, Pa,” kata Alvar akhirnya, suaranya tenang.

“Aku belum mau memegang ibu bersalin sebelum istriku.”

Kalimat itu membuat Kiara sedikit tersentak. Dia refleks menoleh, lalu tanpa sadar menyela.

“Tapi kamu pernah membantunya, Mas.”

Sekonyong-konyong suasana jadi hening. Semua mata tertuju padanya. Kiara langsung menyesal. Pipinya memanas, ia buru-buru menunduk.

“Maksud aku—” ia menarik napas kecil, mencoba menata kata-kata.

“Mas Alvar pernah bantu waktu di desa,” lanjutnya cepat, jelas menahan malu. Ia bisa merasakan tatapan Alvar, juga sorot mata Melati yang seolah membaca sesuatu yang lain dari ucapannya.

Alvar tersenyum tipis. Bukan senyum mengejek, melainkan senyum yang menenangkan.

“Aku tidak memegangnya, Pa,” jelasnya. “Aku hanya memantau. Yang menangani langsung Dokter Hesti.”

“Oh begitu,” Rahmat mengangguk pelan, lalu berpikir sejenak.

“Kalau begitu, tidak perlu memegang persalinan dulu. Kamu buka praktik pemeriksaan kehamilan saja. Papa bisa rekrut bidan dan dokter kandungan lain. Untuk bersalin, pasien bisa dirujuk ke rumah sakit. Papa punya kenalan kalau kamu mau.”

Alvar terdiam, dia kembali melirik Kiara, lebih lama kali ini.

Pandangannya membuat Kiara gugup. Seolah-olah keputusan besar itu kini juga berada di tangannya.

“Aku belum bisa putuskan segera, Pa,” ucap Alvar akhirnya.

“Sekarang aku sudah punya istri. Apa pun yang ingin aku lakukan, aku akan berdiskusi dulu dengan Kiara.”

Ucapan itu membuat Melati mengangkat alis, lalu menoleh ke putrinya.

“Nah, Kiara lihat! Harusnya sebelum jadi karyawan Darius kamu tanya dulu sama Alvar.”

“Ma…” Kiara merengek pelan, nada suaranya terdengar kecil dan manja tanpa ia sadari.

Alvar langsung menimpali, “Nggak apa-apa, Ma. Aku yang akan antar Kiara kerja nanti.” Ia menoleh ke Kiara, senyumnya lembut. “Lagipula Kiara cuma bantu, kan? Begitu desainnya selesai, dia juga nggak akan kerja lagi.”

“Mas…” Kiara berbisik, separuh kaget, separuh tersipu.

“Kita bicarakan nanti,” balas Alvar pelan, hanya untuknya.

Di seberang meja, Tuan Rahmat memperhatikan mereka dengan senyum samar. Ada sesuatu yang membuat dadanya terasa lega. Ia melihat bagaimana Alvar tidak memaksakan kehendak, tapi juga tidak melepas tanggung jawab.

Begitu selesai makan, Kiara bersiap ke kantor.

Mobil melaju pelan meninggalkan halaman rumah Pratama. Pagi itu Jakarta belum terlalu padat, udara masih menyisakan sisa hujan semalam. Di dalam mobil, suasana justru terasa lebih sunyi daripada jalanan di luar.

Alvar menyetir dengan satu tangan, satunya lagi bertumpu santai di setir. Sesekali ia melirik Kiara dari sudut matanya. Senyum kecil muncul tanpa sadar.

“Kiara,” panggilnya pelan.

“Hm?” Kiara menoleh, lalu buru-buru kembali menatap ke depan ketika mata mereka bertemu terlalu lama.

“Kamu kenapa?” tanya Alvar, pura-pura polos.

“Kenapa apa?” jawab Kiara cepat.

“Kok dari tadi diam.”

Kiara mendengus pelan. “Biasa aja.”

Alvar tertawa kecil. “Semalam juga kamu bilang biasa aja.”

Kiara langsung menoleh tajam. “Mas!”

Alvar menahan senyum. “Iya, iya. Aku fokus nyetir.”

“Ternyata…” ia berhenti sejenak, lalu melirik Alvar sekilas, “pria desa yang dingin, cuek, pendiam itu bisa protektif … dan agresif juga, ya.”

Alvar langsung mengangkat alis, lalu menoleh sebentar ke arahnya.

“Oh?”

Kiara menggigit bibir, merasa terlalu jujur. “Aku cuma komentar.”

Mobil melambat di lampu merah. Alvar memanfaatkan momen itu, menatap Kiara lebih jelas. Tatapannya tidak lagi dingin seperti dulu ada kehangatan, juga godaan yang terang-terangan.

“Tapi kamu suka, kan?” ujarnya tenang.

Kiara terdiam.

Alvar tersenyum miring.

“Semalam,” lanjutnya santai, “banyak sekali lukisan desain yang kamu buat di punggungku.”

“Mas Alvar!” Kiara sontak memukul lengan Alvar, tidak keras, lebih ke refleks karena malu.

Alvar tertawa kecil, suara rendahnya memenuhi kabin mobil.

“Tenang, aku pegang setir kok.”

“Kamu tuh—” Kiara kehabisan kata. Ia kembali memalingkan wajah ke jendela, tapi kali ini bibirnya melengkung tanpa sadar.

“Kenapa?” goda Alvar.

“Nyebelin,” jawab Kiara pelan.

“Tapi kamu senyum.”

Kiara tidak membantah.

Lampu hijau menyala, mobil kembali melaju. Di antara bunyi klakson dan hiruk-pikuk kota, ada sesuatu yang berubah di antara mereka bukan lagi canggung karena terpaksa, melainkan canggung karena mulai peduli.

Begitu mobil berhenti di depan gedung perusahaan, Kiara langsung membuka sabuk pengamannya dan turun. Gerakannya sedikit terburu-buru, seolah ingin menyembunyikan sesuatu, padahal justru itulah yang membuatnya terlihat berbeda.

“Mas, kamu pulang aja,” katanya sambil menutup pintu mobil.

Alvar ikut turun, bersandar santai di pintu mobil. “Nggak.”

Kiara menoleh. “Kenapa nggak?”

“Aku tunggu di sini.”

“Mas,” Kiara menghela napas kecil, “aku cuma kerja sekitar satu jam. Nanti jam makan siang aku udah balik.”

Alvar melirik jam tangannya. “Sekarang jam sepuluh.”

“Ya, sekitar jam sebelas atau setengah dua belas aku selesai.”

Alvar mengangguk pelan, lalu menatap Kiara dari ujung kepala sampai kaki. Ada senyum kecil yang tak bisa ia sembunyikan.

“Semangat,” ucapnya singkat.

Kiara terdiam, lalu balas tersenyum. Senyum yang berbeda, yang lebih lembut.

“Iya.”

Sebelum berbalik pergi, Alvar menambahkan pelan, “Jangan capek-capek.”

Kiara mengangguk lagi, kali ini tanpa menatapnya, takut pipinya makin memanas. Ia melangkah cepat menuju pintu masuk, jantungnya berdebar aneh.

Baru beberapa langkah masuk ke lobi, suara ceria itu menyapanya.

“Kiara!”

Delia berdiri dengan tas di bahu, matanya menyipit penuh selidik.

“Kamu tuh kenapa sih hari ini?”

Kiara berhenti. “Kenapa?”

“Beda,” Delia mendekat, memutar Kiara pelan seperti menilai. “Auranya beda. Senyum kamu juga beda.”

Kiara refleks tersenyum, lalu buru-buru menunduk. “Biasa aja.”

“Bohong.” Delia menyeringai. “Kamu kelihatan … bahagia.”

Kiara spontan menarik tangan Delia. “Udah ah, masuk. Banyak orang lihatin kita.”

Delia tertawa kecil, membiarkan dirinya diseret.

“Fix,” katanya pelan tapi menggoda, “ada sesuatu yang terjadi semalam.”

Kiara tak menjawab. Tapi cara ia menggenggam tangan Delia sedikit lebih erat dan senyum malu-malu yang tak hilang dari wajahnya sudah cukup menjadi jawaban.

Alvar masih bersandar di mobilnya, tatapannya sesekali mengarah ke pintu lobi tempat Kiara menghilang.

Tiba-tiba ponselnya berdering, nama Ibu muncul di layar.

Alvar langsung mengangkatnya. “Iya, Bu?”

Suara di seberang terdengar gemetar, napas ibunya tak beraturan.

[Var … gudang bawang kita … kebakar tadi malam.]

Tubuh Alvar menegang seketika.

“Apa?” suaranya turun, berat. “Kebakar gimana, Bu?”

[Api dari belakang gudang. Warga udah bantu padamkan, tapi … hampir semua habis. Bawang yang mau dikirim minggu ini … habis, Var.]

Tangan Alvar mengepal kuat, rahangnya mengeras. Gudang itu, hasil kerja keras berbulan-bulan, tumpuan hidup banyak orang desa.

“Bu tenang dulu,” katanya menahan emosi. “Sekarang kondisinya gimana? Ada yang luka?”

[Alhamdulillah nggak ada korban. Tapi … kerugiannya besar, Var.]

Alvar menutup mata sejenak, napasnya berat, dadanya terasa sesak.

Di kepalanya, bayangan wajah Kiara yang tadi tersenyum masih jelas dan kini bertabrakan dengan kenyataan pahit dari desa.

“Aku urus,” ucapnya akhirnya, tegas meski suaranya tertahan.

“Aku nggak akan lepas tangan.”

Telepon terputus.

1
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
tapi emang harusnya gini ga sih kan logika nya yg makan adalah konsumen harusnya dikasihin yg sesuai pesanan konsumen kok jd nurutin orang lain tanpa konfirmasi 😌
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
naahhh wkwk
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
ini kagak ada cctv nya di ruangan kerja pribadi? harusnya kalo level manager yg nanganin proyek ada ya slnya buat jaga2 kalo ada kejadian begini hehe
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
orang stress nya ilang satu tumbuh satu lagi 🤣
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
ini jatohnya apa sih? stress? depresi atau apa? tapi aku bingung lho kok bisa orang dengan gangguan kejiwaan gini dia lolos sekolah jd dokter kandungan 🤔 emang selama proses belajar mengajar sampe sumpah dokter ga ada psikotes nya ya? kok bisa ngelolosin orang sakit jiwa 😌
Soleh Sudarna
tuu kaaannn.. beneran gillaa.. sedeng.. sableng.. sinting.. eddaann.. 😠😡😡
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
beneran stress ternyata, slnya patah hati nya sampe ngebunuh orang 😩
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
bukan apa ya tp kayak pantes aja si pradi akhir hidupnya ngenes, si bahrul juga wkwk ternyata makan hasil uang orang 🙂
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
inilah kalo siluman ular sm siluman lipan di satukan wkwk tp aku suka keributan ini, pengen tau di antara sesama siluman siapa yg menang 🤣
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kaaan wkwk perempuan ini bikin repot, harusnya dr awal gausah segala acara ngeboncengin dan berusaha cari tau dr ini orang, salah strategi kan 🙂
Soleh Sudarna
dr hesti terbangsat.. iblizz gila 😡😡😡
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kok bisa ga kepikiran ngabarin isteri nya, aku ga di kabarin suami ku dia udah sampe kantor apa belum ada tantrum 🙏🙂
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
better di bakar sih wkwk
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kalo gua mah ga ridho gua tarik kalung nya 🤣😂
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kok bisa hamil duluan jd kebanggaan sih wkwk padahal itu top tier aib bikin malu keluarga selain jd gundik/pelakor 😂 slnya di bahas nya sepanjang segala abad sm ibu2 satu kampung 😅
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
buset 10 ga bayar sewa tanah jatohnya gatau diri sih 🙂 bukan apa ya tp takutnya dia aja ga menuhin kewajiban dia, sama aja mencurangi hak orang lain trus gara2 ngasih makan keluarga nya dr cara begini si supradi jd begitu kelakuannya, suka KDRT 😅
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
mungkin aku jahat tp aku ga suka kalo situasi alvar terjadi di kenyataan, niat nya mungkin baik ya belain mantan dr kdrt atau apalah tp kalo bikin berantem sama pasangan kita sekarang aku mending di bilang jahat gapapa deh slnya kelakuan nya si hesti juga begini, niat alvar nolong tp di tanggap nya masih ada rasa jd ya repot sih kataku mending manggil warga aja kalo mau nolongin ramean 🙏🏻
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
penasaran banget sama pencetus mitos ini, pengen nanya slnya dia awalnya mencetuskan ini dr mana 🙏🙂 slnya bingung sm korelasi hamil sm ngelayat, nanti giliran ga ngelayat di omongin juga di bilang suami berduka kok isterinya ga ikut ☺️
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢: aku malah baru tau ada mitos ini kak 😅
total 2 replies
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
ini buat dokter hesti: wleeeeek 😛😛😛
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
ya kata gua juga lu aneh, kenal enggak deket apalagi tp nyeritain kisah cinta dokter (yg mungkin dia tau kiara isteri nya alvar) kayak buat apa coba? 🤷🏻‍♀️ gua kalo jd pasien biasa aja kayak hah lu stress tiba2 ngomong gini, mau itu mantan pacarnya kek mantan isteri nya kek bodo amat 🙏🙂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!