Wan Yiran berjuang melepaskan rantai emas yang mengikat tangan dan kakinya. Kondisi Wan Yiran yang sedang tidak berdaya membuat Putra Mahkota Kong Welan segera membaca mantra Penghancur Jiwa hingga panah emas muncul dari tangannya, hanya butuh beberapa detik hingga panah itu melesat cepat menancap di Jantung Wan Yiran.
Wan Yiran terjatuh di tanah dalam kondisi sekarat, matanya hanya menatap pria yang dicintainya Jendral Muda Lin Haoran, namun sorot mata pria itu sama sekali tidak menunjukkan raut iba padanya.
Yiran kehilangan kedua orang tua dan kakaknya yang dihukum mati oleh kaisar karena kasus pembunuhan yang dilakukan keluarganya. Kini Wan Yiran juga harus mati mengenaskan karena rasa dendam di hatinya yang membawa dirinya menjadi wanita iblis.
~Wan Yiran terbangun dan menyadari semua yang ia lalui hanyalah mimpi. Mimpi yang membawa tekad Yiran untuk memperbaiki dirinya, merubah nasibnya dan melepaskan cinta serta ambisinya. Wan Yiran harus melalui perjalanan yang tidak mudah~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riana Luzi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takdir Kita Berlawanan
Su Yimin terlihat sedang sibuk mencuci beberapa pakaian bersama Yao pelayannya. Ia mencuci di samping sumur batu yang berada di belakang kediaman keluarga Wan.
"Bagaimana keadaannya," tanya Yimin pada pelayannya Yao.
Yao yang sedang sibuk menjemur pakaian langsung berpaling menatap Yimin, setelah mendengar pertanyaan majikannya itu.
"Nona Wan sepertinya sudah baik-baik saja Nona. Dia mulai terlihat sibuk di tokonya beberapa hari ini."
"Syukurlah," gumam Yimin.
"Anda sepertinya akhir-akhir ini mulai memikirkan Nona Wan," ujar Yao.
Yimin menunduk berusaha memikirkan apa yang ia rasakan selama beberapa bulan ini, "aku mungkin sedikit bimbang akhir-akhir ini Yao. Tapi apapun hal baik yang Wan Yiran lakukan itu tidak bisa menebus penderitaan yang aku alami selama ini".
"Syukurlah Nona. Saya kira anda mulai luluh dengan sikap Nona Wan Yiran yang tiba-tiba berubah baik selama beberapa bulan ini."
Sebelum Yimin membalas perkataan Yao, ia langsung terdiam saat melihat Yiran yang berjalan ke arahnya bersama pelayannya Li Ara yang memegang sebuah kotak.
"Apalagi yang ingin kamu lakukan?" tanya Su Yimin setelah Wan Yiran berdiri di hadapannya.
"Aku ingin berbicara denganmu."
Yimin tetap sibuk mencuci pakaiannya, "aku sedang sibuk saat ini. Jika kamu masih tetap ingin bicara denganku, tunggu hingga pekerjaanku selesai," ucap Yimin.
Wan Yiran memilih mengangguk tanpa menjawab perkataan Su Yimin. Ia berpaling kemudian duduk di batu yang berjarak beberapa meter dari sumur tempat Su Yimin mencuci.
Yimin tidak lagi menghiraukan Wan Yiran, ia memilih melanjutkan kegiatannya mencuci. Jika hal yang ingin dibicarakan sepupunya itu sangat penting, Yimin yakin ia pasti akan menunggu.
Setelah 20 menit Yimin dan Yao akhirnya menyelesaikan pekerjaan mereka mencuci pakaian. Yiran langsung bangun dari duduknya dan berjalan mendekati Su Yimin.
"Semua pekerjaanmu sepertinya sudah selesai. Apa kita bisa berbicara sekarang?" tanya Yiran.
"Kita bisa berbicara di tempatku," jawab Su Yimin sambil berjalan duluan menuju kamarnya.
Yiran langsung berjalan mengikuti Su Yimin, ia juga tidak lupa memberi kode pada Li Ara untuk mengikutinya.
Sampai di dalam kamar Su Yimin, dua saudara sepupu itu langsung duduk di kursi yang ada di dalam kamar Su Yimin. Wan Yiran menatap Li Ara menyuruh pelayannya itu untuk meletakkan kotak yang ia pegang di atas meja.
Su Yimin menatap penasaran pada kotak di hadapannya tapi ia memilih tetap diam. Menunggu Wan Yiran yang memulai pembicaraan.
"Aku ingin bicara berdua saja," pinta Wan Yiran.
Su Yimin memandang Yao pelayannya untuk menunggu di luar. Yao mengangguk kemudian berjalan keluar kamar Su Yimin bersama Li Ara.
"Hanya ada kita berdua saat ini. Apa kamu sudah bisa mengatakannya sekarang?" tanya Su Yimin yang mulai sedikit penasaran tentang apa yang ingin disampaikan Wan Yiran.
Yiran segera mendorong kotak yang berada di atas meja lebih dekat ke arah Su Yimin, "periksalah dahulu isi kotak ini," pinta Yiran.
Su Yimin memandang ragu kotak di hadapannya, kemudian dengan perlahan ia mulai membuka kotak tersebut. Betapa kagetnya ia saat melihat isi di dalam kotak itu. Untuk lebih memastikan penglihatannya Su Yimin mengangkat semua yang ada di dalam kotak untuk ia periksa satu persatu.
"Ini semua?" tanya Su Yimin dengan tatapan bingung ke arah Wan Yiran.
"Ini semua adalah akte kepemilikan, laporan keuangan serta stempel resmi dari semua bisnis Ibumu," ujar Wan Yiran.
"Kenapa kamu memberikan semua ini padaku? Sebenarnya apa tujuanmu Wan Yiran?" tanya Su Yimin.
"Aku tahu apa yang membuatmu tetap bertahan di kediaman keluarga Wan selama ini Su Yimin. Dari dulu kamu bisa saja pergi dari kediaman keluargaku, apalagi perlakuanku selama ini membuatmu tersiksa. Tapi, jika kamu pergi bukankah akan sulit bagimu untuk membantu Li Haoran dan Putra Mahkota menyelidiki kasus kematian keluargamu."
Su Yimin mengepalkan tangannya kuat. Wajahnya menatap tajam pada Wan Yiran.
"Ternyata selama ini kamu mengetahui perbuatan keluargamu. Aku pikir walau kamu memiliki sifat semena-mena dan sombong, kamu tetap satu-satunya orang yang tidak ada hubungannya dengan kejahatan keluargamu," ujar Su Yimin.
"Aku memang sebelumnya sama sekali tidak mengetahui perbuatan keluargaku awalnya. Aku baru mengetahuinya beberapa bulan ini."
Su Yimin tersenyum sinis mendengar jawaban Wan Yiran, "lalu mengapa kamu menyerahkan semua bisnis ibuku padaku kembali. Apa kamu ingin aku melupakan semua kejahatan keluargamu pada keluargaku dengan ini?" tanya Yimin kesal.
Wan Yiran menggeleng, "semua yang kulakukan beberapa bulan ini, termasuk mengembalikan hak mu ini sama sekali tidak bisa membayar perbuatan keluargaku. Rasa sakit yang kamu rasakan karena kehilangan orang tua dan semua saudaramu tidak bisa dibayar dengan harta sebanyak apapun".
"Tentu saja Wan Yiran. Bagaimanapun permintaan maafmu, itu tidak akan bisa membuatku melupakan rasa sakitku. Aku tidak akan pernah memaafkan keluargamu."
Wan Yiran mengangguk paham, "meminta maaf memang terkadang lebih mudah dibandingkan memberi maaf. Aku tidak akan memaksamu untu memberikan maaf pada keluargaku. Aku akan memastikan satu hal, rasa kehilangan yang kamu rasakan akan dirasakan juga oleh keluargaku nanti. Bukankah itu hukuman yang sepadan bagi mereka".
Su Yimin menatap bingung Wan Yiran, tidak mengerti maksud dari perkataan sepupunya ini, "sebenarnya apa maksud dari perkataanmu Wan Yiran? berhenti bertele-tele." desak Su Yimin.
"Kamu akan mengetahuinya besok. Semua yang aku katakan hari ini kamu akan memahaminya di hari esok."
Yiran kemudian berdiri dan berjalan menuju pintu kamar Su Yimin. Sebelum membuka pintu ia kembali berbalik menatap Su Yimin, "Aku tidak bisa meminta maaf untuk kesalahan yang dilakukan keluargaku, tapi aku ingin meminta maaf untuk perlakuanku padamu selama ini, aku mengakui semua itu murni karena rasa iri hati. Kamu tidak perlu memberikan maaf jika itu terasa berat, aku hanya mengharapkan kebahagiaanmu dan Lin Haoran".
Setelah mengatakan itu Yiran langsung membuka pintu dan keluar dari kamar Su Yimin. Di luar Li Ara sudah menunggunya.
"Minta kusir menyiapkan kereta kudaku. Masih ada satu orang lagi yang harus kutemui hari ini," perintah Wan Yiran pada Li Ara.
"Baik Nona," jawab Li Ara.
...****...
Kong Welan sedang berdiri di pinggir tebing. Tempatnya berdiri saat ini adalah tempat dimana ia menjemput Wan Yiran waktu itu. Ia menatap langit sore yang terlihat berwarna oranye cerah.
"Salam Yang Mulia."
Kong Welan segera berbalik saat mendengar suara itu. Ia menemukan Wan Yiran yang sudah berdiri di belakangnya.
"Apa anda sudah menunggu lama Yang Mulia? maaf membuat anda menunggu," ujar Wan Yiran sambil menunduk hormat pada Kong Welan.
"Aku baru saja tiba, belum menunggu terlalu lama. Jadi, apa yang membuatmu meminta bertemu denganku di sini?" tanya Kong Welan.
Wan Yiran segera mengeluarkan sebuah amplop kemudian ia serahkan pada Putra Mahkota Kong Welan.
"Apa ini?" tanya Kong Welan sambil menatap bingung pada amplop yang diberikan Wan Yiran padanya.
"Bantu saya untuk menyerahkan surat itu pada Master Wu guru anda. Surat itu berisi informasi yang ingin saya sampaikan padanya waktu itu."
Kong Welan semakin dibuat bingung oleh gadis di hadapannya ini, "bukankah kamu bersih keras ingin pergi ke kuil Sanja waktu itu karena ingin menyampaikan secara langsung pada Guruku. Kenapa kamu tiba-tiba berubah pikiran dan memberikan surat ini?"
Wan Yiran berpaling menatap langit, "terkadang apa yang kita rencanakan tidak selalu harus sesuai harapan kita," Wan Yiran kemudian kembali menatap Putra Mahkota Kong Welan, "saya takut sudah tidak punya kesempatan untuk menyampaikannya secara langsung. Jadi saya putuskan untuk memberikan surat ini saja,"
"Aku masih tetap tidak mengerti, Kenapa tiba-tiba kamu berubah pikiran?" tanya Kong Welan kebingungan.
Wan Yiran tersenyum kecil memperhatikan wajah kebingungan Putra Mahkota, "sepertinya bagaimanapun anda mengawasi saya, menempatkan berbagai mata-mata dan mengetahui semua tindakan saya selama ini. Anda tetap tidak bisa mengerti jalan pikiran saya," ejek Wan Yiran.
"Tindakan yang kamu lakukan selalu tak terduga. Itu yang membuatku tidak bisa membaca pikiranmu Wan Yiran," ujar Putra Mahkota.
Wan Yiran seketika mengubah ekspresi wajahnya menjadi datar menatap Putra Mahkota Kong Welan, "berhenti mencoba mengerti jalan pikiranku Yang Mulia, sampai kapanpun anda tidak akan pernah menemukan jawabannya".
"Aku tahu. Karena memang tidak ada yang bisa menebaknya sampai kapanpun."
Wan Yiran menghembuskan nafasnya berusaha menahan rasa sesak yang tiba-tiba ia rasakan di dadanya.
"Saya ingin mengucapkan terimakasih pada anda Yang Mulia. Walau anda sering mengawasi pergerakan dan tindakan saya, tapi anda juga selalu membantu saya di saat kesulitan. Namun bisakah anda berhenti bersikap baik pada saya?"
"Aku benar-benar tidak mengerti maksud perkataanmu Wan Yiran."
Wan Yiran tersenyum, "semoga anda benar-benar tidak mengerti maksud perkataan saya, semoga saja kebaikan anda selama ini memang sesuatu yang tidak disengaja. Karena jika anda bersikap baik pada saya karena suatu alasan, maka saya tidak bisa menerimanya Yang Mulia".
"Kenapa kamu tidak bisa menerimanya? Apa yang salah?" tanya Kong Welan mendesak.
"Karena kita memiliki takdir yang berlawanan Yang Mulia. Bagaimanapun hubungan kita di masa depan, hanya akan ada konflik di antara kita."
"Apa maksudmu Wan Yiran? Kamu berkata seakan-akan kamu melakukan sebuah kejahatan besar saat ini hingga kita harus berkonflik."
"Anda mungkin saat ini tidak mengerti perkataan saya. Tapi anda akan mengerti semuanya di masa depan Yang Mulia, atau mungkin guru anda Master Wu akan memberikan jawabannya pada anda nanti."
"Berhenti berputar-putar Wan Yiran. Apa begitu sulit untukmu mengatakan sesuatu dengan jelas?" tanya Putra Mahkota Kong Welan dengan nada kesal.
"Maaf Yang Mulia, hanya ini yang bisa saya katakan saat ini. Beberapa hal yang saya lakukan saat ini anda akan mengerti besok," Wan Yiran kemudian memandang sekitar, "malam sudah akan tiba, saya harus kembali ke kediaman. Saya mohon pamit Yang Mulia".
Tanpa menunggu jawaban Putra Mahkota, Wan Yiran berbalik dan berjalan menjauhi pria itu menuju kereta kudanya. Selama perjalanan Wan Yiran menyentuh dadanya berusaha menahan sesak yang ia rasakan.
Bukan saatnya bagi hatimu untuk lemah Wan Yiran, batin Wan Yiran mengingatkan dirinya.
tapi bagus si ceritanya 👍