Arga Mahendra dikenal sebagai CEO termuda sekaligus paling menyebalkan di kota. Wajahnya tampan, hartanya melimpah, tetapi sifatnya dingin, arogan, dan perfeksionis. Semua orang takut padanya… kecuali satu orang. Namanya Nayla Pramesti. Gadis pemberani yang mulutnya lebih cepat daripada otaknya. Saat pertama kali bertemu, Nayla tanpa sengaja menyiram kopi ke jas mahal Arga. Bukannya minta maaf, ia malah berkata, “Kalau jalan jangan kayak punya trotoar sendiri, Pak CEO.” Sejak hari itu, Arga bersumpah akan membuat hidup Nayla sengsara. Takdir justru mempertemukan mereka lagi ketika Nayla diterima bekerja di perusahaan Arga. Setiap hari kantor berubah menjadi medan perang. Mereka saling mengejek, saling menjahili, dan tak ada yang mau mengalah. Namun di balik pertengkaran itu, Arga mulai melihat sisi lembut Nayla yang selalu disembunyikan di balik sikap bar-barnya. Sementara Nayla mulai menyadari bahwa di balik wajah dingin CEO itu, ada luka masa lalu yang belum sembuh. Saat cinta mulai tumbuh, muncul seorang tunangan pilihan keluarga Arga dan mantan kekasih Nayla yang berniat merebutnya kembali. Akankah dua orang keras kepala ini akhirnya mengakui perasaan mereka, atau justru kehilangan satu sama lain karena gengsi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syah_runi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Akan Menjemputmu
Ruangan itu gelap.
Hanya cahaya dari layar televisi yang menerangi wajah Nayla yang mulai dipenuhi kepanikan.
Di layar, pria paruh baya bernama Lukas Pranata tersenyum dingin.
“Selamat datang, Nayla.”
Nayla mengepalkan kedua tangannya.
“Siapa Anda?”
Lukas tertawa kecil.
“Orang yang sangat membenci Arga Mahendra.”
“Apa urusan saya dengan Anda?”
“Karena kamu…”
“…adalah kelemahan terbesarnya.”
Nayla menggeleng.
“Tidak.”
“Bapak salah.”
“Saya cuma pegawai.”
Lukas tersenyum sinis.
“Kalau memang hanya pegawai…”
“Kenapa Arga rela mempertaruhkan nama perusahaannya demi melindungimu?”
Kalimat itu membuat Nayla terdiam.
Lukas melanjutkan,
“Dia bahkan memutus hubungan bisnis dengan beberapa investor demi menghentikan gosip tentangmu.”
“Menurutmu…”
“Itu perhatian seorang atasan?”
Layar tiba-tiba mati.
Ruangan kembali gelap.
Nayla memeluk dirinya sendiri.
Perasaannya campur aduk.
“Apa benar…”
“Pak Arga melakukan semua itu karena aku?”
Di ballroom seminar…
Arga sudah memeriksa seluruh lantai hotel.
“Nayla!”
Tidak ada jawaban.
Dimas berlari menghampiri.
“Pak!”
“CCTV hotel sudah kami minta.”
“Bagaimana hasilnya?”
Dimas membuka tablet.
Rekaman menunjukkan Nayla keluar dari toilet.
Kemudian seorang pria berseragam petugas hotel menghampirinya.
“Berhenti.”
Video dijeda.
“Perbesar wajahnya.”
Tim IT hotel memperbesar gambar.
Dimas langsung mengenali pria itu.
“Pak…”
“Dia bukan petugas hotel.”
“Lalu siapa?”
“Dia mantan karyawan Skyline Consulting.”
Arga mengepalkan tangannya.
“Lukas.”
Beberapa menit kemudian…
Seluruh pintu keluar hotel ditutup.
Petugas keamanan berjaga di setiap sudut.
Polisi juga mulai berdatangan.
Namun…
Nayla belum ditemukan.
Arga berdiri di ruang kontrol CCTV.
Tatapannya tidak pernah lepas dari layar monitor.
Tiba-tiba…
Salah satu kamera menangkap sesuatu.
Seorang pria mendorong troli laundry menuju lift servis.
Di dalam troli tampak ujung blazer krem.
Blazer yang dipakai Nayla.
“Itu dia!”
Arga langsung berlari.
“Dimas!”
“Ikut saya!”
Sementara itu…
Di dalam troli laundry.
Nayla berusaha menahan napas.
Tangannya terikat.
Mulutnya ditutup kain.
Troli itu terus didorong melewati lorong belakang hotel.
Begitu keluar menuju area parkir bawah tanah…
Sebuah van hitam sudah menunggu.
“Cepat.”
Pria bertopi hitam membuka penutup troli.
Namun tepat saat mereka hendak mengangkat Nayla…
“Tunggu.”
Suara dingin terdengar dari belakang.
Semua orang menoleh.
Arga berdiri beberapa meter dari mereka.
Wajahnya penuh amarah.
“Kalau ingin dia…”
“Lewati aku.”
Pria-pria itu saling berpandangan.
Lalu salah satu dari mereka mengeluarkan batang besi.
“Habisi dia!”
Tiga orang langsung menyerang Arga.
Buk!
Brak!
Arga berhasil menghindari pukulan pertama.
Ia membalas dengan satu tendangan keras hingga salah satu pria terpental mengenai pintu mobil.
Pria kedua mencoba memukul dari belakang.
Namun Arga menangkisnya.
Bugh!
Pukulannya tepat mengenai rahang pria itu.
Sementara itu, Dimas bersama petugas keamanan ikut datang membantu.
Perkelahian berlangsung sengit.
Di tengah kekacauan…
Salah satu pelaku berhasil membuka pintu van.
“Mundur!”
“Kita bawa gadis itu!”
Ia mencoba mendorong troli masuk ke dalam mobil.
“Nggak…”
Nayla berusaha melepaskan ikatan di tangannya.
Air matanya mulai jatuh.
Melihat itu…
Arga langsung berlari.
“NAAYLAAA!”
Dengan seluruh tenaganya, ia menerjang pria yang memegang troli.
Brak!
Pria itu terjatuh.
Troli pun terguling.
Nayla ikut terjatuh ke lantai.
“Ah!”
Arga segera berlutut.
“Nayla!”
Ia melepaskan kain yang menutup mulut Nayla.
“Nggak apa-apa?”
Begitu melihat wajah Arga…
Air mata Nayla langsung pecah.
“Pak…”
“Saya takut…”
Tanpa berpikir panjang…
Nayla memeluk Arga erat-erat.
Tubuhnya gemetar hebat.
Arga membalas pelukan itu.
“Sudah.”
“Aku di sini.”
“Tidak ada yang akan menyakitimu lagi.”
Kalimat itu terdengar begitu lembut.
Begitu tulus.
Bahkan Dimas yang melihat dari kejauhan memilih mengalihkan pandangan, memberi mereka ruang.
Namun…
Di saat semua orang lengah…
Suara tepuk tangan terdengar dari balik bayangan.
“Tepuk… tepuk… tepuk…”
Semua menoleh.
Seorang pria paruh baya keluar dari balik sebuah pilar.
Memakai setelan jas hitam.
Wajahnya tenang.
Matanya penuh kebencian.
Lukas Pranata.
“Bagus sekali.”
“Masih sama seperti dulu.”
“Selalu datang tepat waktu.”
Arga berdiri di depan Nayla.
“Lukas.”
“Sudah lama.”
Lukas tersenyum.
“Kita akhirnya bertemu lagi.”
“Kalau dendammu padaku…”
“Jangan libatkan Nayla.”
Lukas tertawa keras.
“Itulah masalahmu, Arga.”
“Dulu kau menghancurkan hidupku.”
“Sekarang…”
“Aku akan menghancurkan hidupmu.”
Lukas perlahan mengangkat sebuah remote kecil dari sakunya.
Melihat benda itu…
Wajah Arga langsung berubah.
“Jangan…”
Lukas tersenyum lebar.
“Terlambat.”
Ia menekan tombol pada remote tersebut.
Bip…
Suara elektronik menggema di area parkir.
Semua orang saling berpandangan.
“Apa itu?”
Tiba-tiba terdengar suara alarm dari sebuah van hitam yang terparkir hanya beberapa meter dari mereka.
Bip… Bip… Bip…
Arga membelalakkan mata.
“SEMUA MENJAUH DARI MOBIL ITU!”
jd senam jantung🤧